
Setengah hari ini Ryan menuruti keinginan istrinya untuk membeli poster tentang BTS. Ketika istrinya bertanya perihal ketampanan pria-pria itu, ia hanya memilih mengangguk pasrah, meski dalam hati ia merasa kesal lantaran mendengar istrinya memuji ketampanan pria lain, dan lucunya ia bertanya dengannya. Bukankah itu seperti tak menjaga perasaannya.
Kini sepanjang jalan menuju rumah, Alena terus mengoceh seraya memperlihatkan poster-poster yang barusan ia beli.
“Beli sebanyak itu mau buat apa sih sayang?” tanya Ryan seraya menoleh sekilas ke arah istrinya.
“Di pajanglah Masry, di kamar kita.”
“Ngapain?” tukas Ryan, merasa kesal membayangkan kala tengah berada di kamar harus menatap orang-orang itu.
“Ihh Masry ini gimana. Tentu saja untuk dilihat, kan aku lagi hamil. Biar nanti anak kita juga tampan kaya pria ini."
“Sayang, dia kan anakku. Ya nanti kalau emang anaknya laki-laki ya tampannya nurun dari aku lah, masa dari jongkok sih,” dengus Ryan makin lama ia juga kesal akan tingkah istrinya yang absurd itu. Enak saja bibit siapa yang tumbuh, malah minta ketampanannya mirip pria lain. Apa kata dunia?
“Tuh kan Masry gitu aja ngomel-ngomel. Apa susahnya sih bilang iya. Aku juga tahu ini anaknya Masry, tapi gak gitu juga tanggapannya. Anggap saja ini itu aku lagi ngidam. Masih untung aku masih menerima nego dari Masry kan gantiin hadirin BTS dengan poster, di bandingkan aku maksa Masry manggil mereka ke sini, atau pergi ke Korea demi bertemu mereka. Begitu katanya ngaku dewasa.” Alena berdecak seraya melipatkan tangannya di dada. Ryan melongo salah tingkah. “Pokoknya aku sebel sama Masry. Malam ini aku gak mau tidur seranjang dengan Masry,” sambungnya mengancam.
“Aduh sayang mana bisa begitu. Nanti kalau anak kita rindu Papinya gimana?” bujuk Ryan.
“Mana ada? Gak usah ngerayu.”
“Contohnya kaya kamu butuh sesuatu gitu pas tengah malam. Atau kamu kembali merasa mual, siapa yang mijitin kamu coba.” Ryan berusaha merayu istrinya.
“Gampang. Berarti nanti malam aku tidak sama Mama Elena saja. Dia pasti mau kan di dalam ada cucunya,” ucapnya seraya mengusap perutnya yang masih terlihat datar.
“Duh sayang jangan gitu deh. Masa kamu mau buat Mama sama Papa tidur terpisah. Itu gak baik,” tutur Ryan.
“Ah udahlah Masry ini banyak alasan. Udah pokoknya Masry malam tidur di luar, aku lagi sebal gak mau dekat-dekat,” tegas Alena tanpa ingin ditolak.
‘Ya ampun nak–nak, gitu banget kamu sama Papi. Masih di dalam perut aja udah begitu, mau jadi saingan gitu,’ gumamnya.
Ryan memilih diam, karena ia tahu jika semakin banyak berbicara istrinya tidak akan ada hentinya mengomel. Mobil memasuki pelataran rumah Anggara yang terlihat megah. Begitu mobil berhenti Alena langsung membuka pintu dan turun dari sana.
“Udah sana, Masry kan harus kembali ke rumah sakit,” usir Alena kala melihat sang suami justru ikut turun.
“Ya nanti sayang, mau antar kamu masuk dulu,” sahut Ryan seraya menggandeng istrinya masuk. Meski Alena mencebik kesal, Ryan berkali-kali menghela nafas, ia sama sekali tidak menyukai sifat istrinya yang begitu kesal terhadapnya itu, meskipun dokter mengatakan ini pengaruh hormon kehamilan.
“Bagaimana Yan?” tanya Elena begitu keduanya tiba di dalam, tampak perempuan yang tadi begitu fokus menatap televisi kini beralih menoleh ke arahnya. Ryan membuka tas istrinya, mengambil foto hasil USG, kemudian memberikannya pada Elena.
“Ini ma.”
Begitu menerima dan melihat foto itu, Elena nampak terkejut, dan berbinar bahagia. “Mama mau cucu lagi Yan?” tanyanya tak percaya.
“Iya Ma. Alena hamil.”
Elena langsung beranjak memeluk menantunya dengan haru. “Makasih ya sayang, Mama senang banget. Akhirnya doa Mama terkabul juga, pengen punya cucu dari kalian.”
“Iya Ma.”
“Duh ma. Syukurannya ma nanti aja kalau usia kandungan Alena udah empat bulan apa tujuh bulan,” ujar Ryan.
“Suka-suka Mama lah. Sudah sana anterin Alena ke kamar, pokoknya dia gak boleh kecapean, gak boleh ngapa-ngapain. Awas saja Yan, kalau kamu ajak dia bergadang. Puasa dulu itu jarum suntiknya.”
Ryan menurut meski begitu ia bersungut, bagaimana bisa ia di minta puasa sembilan bulan. Kalau dulu sebelum menikah jelas ia bisa, tapi sekarang mana tahan. Rasanya ia perlu kembali berkonsultasi pada Dokter Eli, dokter kandungan yang memeriksa Alena tadi. Meskipun ia sendiri bahwa tidak masalah asalkan berhubungan tidak terlalu sering, dan dengan posisi yang aman selama tidak membahayakan janin. Tapi lebih jelasnya ia tetap harus berkonsultasi. Sekarang iyain aja perkataan Mamanya, biar gak jadi panjang lebar.
“Masry jangan naik tangga,” tolak Alena ketika sang suami menggiringnya untuk naik tangga.
“Oh iya. Kamu lagi hamil ya sayang, kalau gitu besok kamarnya kita pindah aja ya di kamar bawah,” tutur Ryan.
Alena menggeleng. “Bukan begitu.”
“Terus?”
“Aku pengen naik lift, terus pencet-pencet sampai bunyi Ting gitu,” pinta Alena.
Ryan melongo mendengar keinginan istrinya yang menurutnya aneh seperti anak kecil. “Ya udah ayo.”
Ryan mengurungkan niatnya naik tangga, menggiring istrinya menuju pintu lift. Sampai di sana Alena begitu girang menekan tombol angka, kemudian masuk menekan tombol penutup. Ketika pintu tiba di lantai dua harusnya ia keluar. Namun, ia tetap berdiam diri.
“Ayo sayang keluar, kenapa malah diam aja sih,” ujar Ryan heran.
“Sekali lagi boleh gak sih Masry. Kita turun ke bawah terus naik lagi,” pintanya.
“Ngapain?” sahut Ryan heran. Namun, bukannya menjawab Alena justru menunduk dengan wajah muram, seraya mengusap perutnya.
“Ya udah ayo tutup. Kita ke bawah lagi terus naik kamu harus segera istirahat.”
“Beneran?”
“Hem...” Ryan heran perkara naik lift aja istrinya begitu senang. Padahal sebelum hamil, Alena lebih suka berjalan menggunakan tangga.
Setelah berulang kali naik turun lift, dan di rasa Alena sudah puas. Perempuan itu baru mau diajak keluar dari sana. Ryan benar-benar mengantarkan istrinya untuk istirahat.
“Masry poster aku mana?” tanya Alena.
Ryan yang tengah menarik selimut untuk istrinya terdiam sesaat. “Ketinggalan di mobil ya. Ya udah nanti sekalian kalau Mas udah pulang dari rumah sakit ya bawa ke dalamnya.”
“Ih mana bisa begitu aku mau melihat posternya. Aku akan harus sering natap itu poster, biar anak kita nanti tampannya kaya mereka Masry.”
“Sayang kan aku Papinya, ya kamu natap foto aku lah noh di atas nakas kan ada,” ujar Ryan.
“Gak mau. Masry jahat.”
“Oke–oke Mas ambilin.” Pada akhirnya meksipun merasa kesal Ryan tetap kalah.