Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
I Know, and I Love You



"Kirain udah tidur di kamar bawah." Celetuk Rena setelah Alby masuk ke dalam kamarnya, setelah ia menutup pintu dengan suasana yang tak enak hati. Karena Alby begitu lama kembali masuk ke dalam kamarnya.


Tadi saat Rena mengatakan ingin memberi kejutan, Alby justru terdiam mematung di pinggir ranjang, dengan pandangan melongo, sampai Rena masuk ke dalam kamar mandi. Lelaki itu justru menghabiskan waktunya untuk berdiam, menebak apa kejutan dari istrinya. Sampai akhirnya Rena hampir selesai, Alby baru sadar dan buru-buru keluar dari kamarnya seraya mengambil pakaian ganti untuk mandi di kamar bawah.


Ia merutuki kebodohannya, yang begitu lama membuang waktunya, padahal sebelumnya ia sendiri yang begitu mendambakan hal ini. Alby menoleh ke arah ranjang yang sudah terlihat rapi dan bersih kembali. Alby mengira Rena sudah merapikan barang-barang pemberiannya. Memangnya seberapa lama sebenarnya dirinya menghabiskan waktu untuk melamun, hingga Rena sudah berganti pakaian.


Eh?


Memangnya apa yang Rena pakai sekarang? Alby membulatkan matanya, menatap Rena dengan pandang penuh, seakan kedua matanya hendak meloncat keluar. Dan tak sadar ia menelan ludahnya berkali-kali.


"Sayang, ka-kamu pakai baju itu dari tadi?" Lelaki itu memilih mengabaikan perkataan istrinya. Karena ia tau jika ditanggapi semua tak akan ada habisnya.


Lingerie merah menyala ketat dengan bahan tipis dan berpotongan dada yang rendah itu memang terlihat sangat pas dan panas ketika dikenakan oleh Rena.


Bahkan Alby yang saat itu masih berdiri di ambang pintu dapat melihat dua titik yang terlihat jelas di dada gadis itu. Hah, masih gadis? Karena sampai detik ini, ia belum berhasil merenggutnya.


"Gak usah alasan. Pakai ganti topik!" Tegas Rena. Kesal karena sang suami tak kunjung memberi jawaban.


"Hemm. Nanti kalau ada nyamuk masuk lalu gigit kamu gimana?" goda Alby. Bahkan dengan sengaja lelaki itu kini justru telah membuka kaosnya, hingga memperlihatkan dada sixpack miliknya, membuat Rena memilih memalingkan wajahnya.


"Abang tadi mandi di kamar mandi bawah kok."


Rena yang semula duduk di atas ranjangnya, kini bangun dan menuju meja riasnya, melihat pantulan dirinya dan sang suami dari cermin besar itu.


"Masa sampai segitu lamanya. Aku aja udah selesai dari tadi," omelnya.


Alby terdiam, sejenak ia merasa malu telah membuat istrinya menunggu lama. Kini, Alby bergerak mendekati Rena dan memeluk istrinya itu dari belakang, sambil membenamkan hidungnya di ceruk leher sang istri.


"Maafin Abang ya. Jujur Abang gak berniat membuat kamu menunggu, tadi itu Abang baru keluar dari kamar ini, saat kamu hampir selesai mandi. Maafin ya sayang?"


"Oke dimaafkan."


Rena menjawab ucapan suaminya dengan cepat. Hal itu spontan membuat Alby menaikkan tangannya, yang semula melingkar di perutnya, kini tubuh Rena dibalikkan ke arah tubuhnya. Rena tersenyum lalu melingkarkan tangannya di leher sang suami.


"Lupakan. Aku tidak ingin ada hal yang merusak momen kita saat ini."


Alby tersenyum lalu merengkuh pinggang istrinya, membuat Rena mendekat ke arahnya.


"I know, and i love you."


"I love you more," balas Rena.


Ciuman terus menuntut tanpa jeda. Seolah sudah tidak sabar dengan rasa apa yang ada di depannya. Ketika Alby sejenak melepaskannya ciumannya, demi membuat Rena dapat menghirup oksigen yang banyak. Mata Alby berkabut seolah tak sabar memangsa yang kini dalam kuasanya tersebut.


"Mau lihat apa yang selama ini aku tutupi dari orang-orang? Dan hanya akan aku berikan pada suamiku?" Rena menatap sang suami dengan pandangan menggoda.


Alby tentu tahu apa yang dimaksud gadis itu. Alby meraba bagian tubuh sang istri dari mulai pinggang hingga ke da danya lalu ke punggungnya, membuat Rena tertawa. Karena Alby tak kunjung menemukan resleting dari lingerie yang dikenakan olehnya, Rena semakin terkikik geli.


"Ini yang kamu bilang kejutan?" sergah Alby kesal, dan Rena justru semakin tertawa


"Anda harus lebih jeli lagi mencarinya Pak Alby."


Sreeeekkkkk!


"Abang ihh."


Rena melongo ketika dengan mudahnya Alby merobek bagian belakang gaun transparan tersebut, hingga dengan mudahnya teronggok di lantai begitu saja. Gaun mahal yang sengaja ia beli demi menyenangkan suaminya, justru hanya beberapa saat saja terpakai.


"Besok-besok jangan pakai yang ribet begini!"


"Ya lebih gak ribet lagi jika aku tanpa busana sekalian."


"Itu lebih bagus, Abang tinggal tancap gas saja, seperti ini," ucap Alby seraya mene lusuri bahu Rena yang terbuka dengan bibirnya. Rena merasa seluruh tubuhnya meremang, lalu berbalik lagi hingga tubuhnya yang kini hanya mengenakan kain segitiga tipis berwarna merah senada dengan gaun lingerie sebelumnya di bagian paling penting terlihat jelas di mata suaminya. Rena tersenyum puas mana kala melihat wajah suaminya seperti seekor singa yang kelaparan.


"Abang suka?" tanya Rena manja. Alby menggelengkan kepalanya, membuat Rena mengerutkan keningnya. Menurut beberapa artikel yang ia baca, suami sangat suka dengan bagian tertentu tubuh istrinya, apalagi sikap keagresifan.


"Belum! Sampai aku bisa melihat semuanya." Alby menjawab dengan cepat. Sesaat kemudian Rena hendak kembali membuka mulutnya, tetapi tubuhnya kembali direngkuh oleh sang suami. Dan lelaki itu kembali menyatukan bibirnya, memangutnya secara lembut, kemudian saling meng hi sap, dan mem be lit. Lalu dengan pelan keduanya melangkah menuju tempat tidur. Alby mendorong tubuh istrinya dengan pelan, hingga terjatuh dengan posisi yang Alby sendiri tidak mengerti. Terlihat nakal dan menggoda.


Meski ia sendiri pernah menikah sebelumnya, tapi mantan istrinya dulu tak pernah seperti Rena. Dulu saat malam pertama dengan mantan istrinya, perempuan itu terlihat malu-malu. Sedangkan Rena? Hah, Alby tak pernah menduga jika perempuan itu jauh lebih berani dari perkiraannya. Sebagai lelaki normal, Alby tentu sangat menyukai hal ini. Apapun tentang Rena, ia pasti akan menyukainya.


Kini Alby menelan ludahnya, merasa penasaran isi di balik kain segitiga itu. Hingga tanpa persetujuan istrinya, tangannya telah sampai di kedua pinggul Rena. Lalu menurunkannya perlahan, dan membuang kain tipis itu ke sembarang arah.


"Cantik, indah, dan sempurna!" pujinya saat melihat tubuh Rena tak berbalut apapun, membuat sang istri tersipu malu.


,


,


,


ternyata tak cukup 1 bab guys