
"Lho kok kalian bisa kaget gitu? Emang udah pernah ketemu ya?" tanya Rena heran saat melihat keduanya sama-sama terkejut.
"Tidak!" jawab Miko dan Miranda bebarengan.
Rena dan Alena melongo melihat kekompakan keduanya.
"Emm... Maksudnya, ini lho Re. Dia ini cowok yang tadi ku ceritakan sama kamu. Cowok gila yang mau bunuh diri di jembatan penyebrangan," ujar Miranda menjelaskan. Ya, kemarin malam yang menarik tangan Miko dari pagar pembatas besi itu Miranda. Saat itu kebetulan ia tengah keluar mencari makan. Karena merasa bosan di apartemen ia pun melakukan jalan santai pada malam hari. Namun, tak ia duga ketika ia tengah membeli nasi goreng di pinggir jalan, matanya menangkap sosok orang yang berdiri di atas jembatan penyebrangan dengan merentangkan kedua tangannya. Karena merasa kalut, Miranda langsung berlari naik ke atas, dan menarik lelaki itu, sambil ngomel-ngomel.
"Mbak, aku tuh gak gila ya. Kan aku udah bilang kemarin kalau aku tuh gak mau bunuh diri, cuma cari angin!" bantah Miko tak terima.
Otak Alena langsung ngelage, tadi bilangnya gak kenal, terus tiba-tiba cerita kejadian kemarin. Ini yang benar yang mana sih? Pikir Alena.
"Wahh parah! Kau patah hati masa sampai mikir mau bunuh diri sih?" timpal Alena seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Heh Ikan Lele! Dibilang aku gak mau bunuh diri, orang aku cuma cari angin di sana. Tiba-tiba gak ada badai gak ada hujan, mbak ini datang narik tanganku, sambil ngomel-ngomel nuduh aku mau bunuh diri. Untung saat itu keadaan lagi sepi," ujar Miko mengingat kejadian semalam, di mana Miranda tiba-tiba menarik tangannya untuk turun dari pagar besi. "Iya kan mbak. Aku udah jelasin!" sambung Miko menoleh ke arah Miranda.
Perempuan yang masih memegang baki itu mengangguk. "Iya Re. Dia udah jelasin kok. Aku saja yang kemarin salah sangka," sahutnya.
Rena menghela nafasnya lega, begitupun dengan Miko.
"Ya udah kalian lanjutin dulu. Aku mau balik ke belakang!" sambung Miranda. Namun, Rena justru memegang tangan perempuan itu.
"Mbak sini aja, gabung sama kita!" pintanya seraya menoleh ke arah dua sahabatnya. Miko dan Alena hanya mengangguk setuju.
"Gak usah. Aku mau temanin Misel main," tolak Miranda. Pun demikian, ia merasa tak enak hati untuk bergabung dengan teman-teman Rena, kedatangannya kesana murni untuk bermain dengan Misel bukan untuk yang lain.
Sepeninggal Miranda, ketiganya masih terdiam. Miko terus menatap berlalu Miranda dari sana, hal itu membuat Alena memicingkan matanya.
"Jangan bilang kamu jadi nargetin Mamanya Misel ya Miko!" celetuk Alena kemudian, membuat Miko menoleh dan berdecak.
"Ck! sembarangan aja ini anak kalau ngomong!" sergahnya sambil melemparkan bantal sofa pada tubuh Alena.
"Gak kena, wekkk!" Alena menjulurkan lidahnya. "Aku kan hafal banget matamu yang jelalatan itu lho," lanjutnya.
Rena hanya tertawa, begitulah keduanya kalau udah bersama.
"Aku cuma lagi mikir. Itu perempuan benar-benar udah tobat apa gimana? Bukannya dulu dia seorang model ya? Kok penampilannya biasa aja sekarang," kata Miko heran.
Rena menghela nafasnya sebelum kemudian ia berkata. "Iya benarlah. Manusia itu kan tidak luput dari kesalahan. Semua orang berhak untuk berubah. Aku percaya kok dia perempuan yang baik. Kalau soal model... Yang aku tau, dia udah gak bisa jadi model semenjak masuk ke dalam penjara."
"Suaminya? Waktu itu kamu bilang dia punya suami kan?" Miko memajukan tubuhnya, sementara salah satu tangannya memangku dagunya. Tampaknya ia semakin tertarik mendengarnya.
Alena hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu sambil terus memakan kue buatan Miranda.
"Dah cerai!"
"What??" pekik Miko terkejut.
"Kaya toa mulutnya ih teriak-teriak, bisa tuli ntar telingaku," kata Alena kesal.
Miko hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sambil mendengarkan cerita Rena, alasan Miranda dan suaminya bercerai.
"Wahh parah itu laki-laki ya. Masa suami kok begitu. Memangnya siapa yang bisa mencegah kematian," geram Miko sok bijak.
"Halah, kemarin waktu Mbak Miranda masih jadi orang jahat. Udah kaya apa kamu menghujatnya," cibir Alena.
"Seperti apa kata Rena bahwa manusia itu kan-"
Miko mengambil teh dalam cangkir, mengangkatnya kemudian menyeruputnya tanpa mengecek dulu suhu dalam teh itu.
"Uhuk! Aduh panas banget!" lelaki itu sontak langsung tersedak sambil menjulurkan lidahnya karena kepanasan.
Alena sontak terbahak melihatnya. Melihat kaos lelaki itu jadi basah, karena tertumpahan teh tadi.
"Ya ampun Miko, aku lupa ngasih tau kalau teh nya masih panas," sesal Rena.
"Gak apa-apa kok Re. Aku juga yang kurang hati-hati," sahut Miko sambil berdiri. "Re, pinjem kamar mandi ya. Aku kebelet soalnya!" sambungnya.
Rena mengangguk dan menunjuk arah toilet rumahnya.
Miko beranjak menuju dapur, ia melihat Miranda tengah membersihkan peralatan dapur, mungkin bekas membuat kue tadi.
"Toilet di mana ya Mbak?" tanya Miko begitu di depan Miranda.
Miranda mengangkat wajahnya, kemudian memutar kepalanya seraya menunjuk ke arah toilet yang berada dalam dapur itu tanpa suara. Setelahnya ia kembali fokus pada aktivitasnya.
"Bisu apa ya? Nunjuk-nunjuk doang tidak bersuara," gerutu Miko sambil masuk ke dalam kamar mandi. Miranda yang sekilas mendengar ucapan Miko, hanya menggelengkan kepalanya, tak perduli.
"Mama, katanya mau temanin Misel bermain." Misel muncul-muncul tiba menarik-narik pakaian Miranda.
"Sebentar sayang. Mama selesaikan ini dulu," ujar Miranda.
"Ayo Ma!" rengek Misel.
Miranda buru-buru menyelesaikan aktivitasnya, setelahnya mencuci tangannya. Misel menarik tangannya ke bagian samping rumah, pintu yang langsung menuju area kolam renang. Di teras sana Misel mulai bermain. Miranda dengan telaten dan sabar menemani.
"Ihh leganya!" seru Miko sambil mengusap perutnya.
"Mama...." Teriakan dan tawa yang berasal dari samping membuat Miko merasa penasaran. Bukannya kembali ke ruang tamu, ia malah membuka pintu samping dapur itu.
Dari ambang pintu ia melihat Miranda dan Misel tengah bermain di kolam renang. Kadang kala tertawa kadang saling menyipratkan air.
Dia diceraikan suaminya, karena dianggap telah membunuh putrinya, hanya karena ia tak berhasil membawa Misel saat itu.
Perkataan Rena tadi terngiang.
"Ya ampun, apaan sih! Kok aku jadi respect gini. Bukannya wajar, dia kan dulu jahat," gumamnya pada diri sendiri. Namun, matanya masih terus tertuju pada dua orang yang masih asyik bermain air di kolam renang.
"Paman Miko, lagi ngapain?!" panggil Misel setengah berteriak. Hal itu membuat Miko tersentak kaget, karena terpergok. Ia pun menatap Miranda yang dalam keadaan basah kuyup, tapi perempuan hanya terdiam tanpa suara.
"Ini Paman habis dari toilet, terus mau balik ke depan eh malah nyasar sini. Maaf ya ganggu Misel," kilah Miko.
"Oh kirain mau ikutan berenang," pungkas Misel, membuat Miko melongo dan menatap ke arah keduanya.
.
.
.
.
Tadinya mau update satu bab aja. Karena RL hari ini lagi sibuk. Tapi, akhirnya ada juga waktu luang nulis, jadi tetap Doble deh..☺️