
Rena menelan ludahnya melihat tatapan Alby yang begitu tajam.
"Bang, kok begitu amat sih lihat akunya?" tanya Rena meringis takut. Tapi, meski begitu ia mendekati suaminya lalu memegang lengannya.
"Abang udah makan?" tanyanya kemudian.
"Belum!" jawab Alby cuek.
"Oh jadi kesini tadi mau nyamperin aku ngajak makan siang bareng ya!" ucap Rena yang baru sadar.
"Ya, dan ternyata kamu malah asyik-asyikan makan sama Dokter Ryan. Calon suami? Dih calon suami apaan, seenaknya aja klaim bini orang," gurutu Alby. Rasanya kesal sekali kala mengingat ucapan Suster Santi tadi.
"Abang ngomong apaan sih? Suami Rena kan Abang. Oh ya tadi aku emang makan siang sama dokter Ryan, dia ngajak aku bang traktir juga. Tapi, aku lupa gak bawa ponsel. Maaf ya bang."
Alby melirik ke arah istrinya, perempuan itu menatapnya dengan senyum harap. "Ya udah masih ada waktu lima belas menit, Ayuk aku temenin Abang makan yuk!" ajaknya kemudian.
Alby menggeleng seraya pasang mode ngambek, "udah gak selera!"
Rena menghela nafasnya, tau bahwa saat ini suaminya itu pasti tengah kesal dan cemburu. "Jangan cemburu gitu lah bang. Aku sama Dokter Ryan itu tidak ada apa-apa. Kami hanya rekan kerja, masa Abang gak percaya sih sama Rena."
"Aku bukannya gak percaya sama kamu, tapi aku justru gak percaya sama lelaki itu. Jelas-jelas dia menaruh rasa padamu. Kenapa kamu masih aja dekat-dekat dengannya," omel Alby yang membuat Rena terdiam berfikir.
"Jangan-jangan emang kamu senang lagi dekat dengannya. Belakangan kamu juga mulai lalai kan balas pesanku. Mentang-mentang banyak fans di sini," cibir Alby kemudian. Entahlah, rasanya saat ini ia tak pandai memfilter ucapannya.
"Maksud Abang apa sih? Rena gak ngerti? Aku bukannya sengaja gak balas chat Abang, tapi emang aku belum ada kesempatan buat balas," pungkas Rena, pasalnya kesibukannya di rumah sakit saat ini emang jauh lebih padat.
"Bukannya belum ada kesempatan. Tapi emang kamunya gak menyempatkan!" sergah Alby.
"Bang?"
"Sudahlah, mendadak selera makanku pun sudah hilang. Istriku ternyata lebih suka makan bersama lelaki lain, dibandingkan menunggu suaminya." Alby berlalu meninggalkan Rena begitu saja, tanpa pamit ataupun mengecup pipi istrinya seperti biasanya yang ia lakukan.
Rena terdiam mematung, rasanya ia belum pernah lihat sang suami sampai sekesal itu. Ia masih betah memandang punggung suaminya yang perlahan menjauh, berharap sang suami akan menoleh, tapi hasilnya nihil. Rena menunduk sedih.
Apakah seberat ini rumah tangga? Bahkan hal sepele saja bisa jadi sebuah perdebatan. Rena menghela nafasnya, berharap kemarahan sang suami itu hanya untuk sesaat saja. Pasalnya jika terlalu lama, itu akan membuat otak Rena tak dapat berkonsentrasi. Rena tau belakangan sang suami sering mengatakan untuk tak terlalu dekat dengan Dokter Ryan. Tapi bagaimana bisa ia tidak dekat dengan lelaki itu, sementara dirinya melakukan masa koas dengan cara mendampingi lelaki itu saat melakukan operasi.
Jika sudah begini? Haruskah Rena menyerah. Tapi sayang sekali, semua hanya tinggal sebentar lagi. Dan lagi sebelumnya Alby pun telah sepakat untuk tak melarangnya berkarir. Rena merasa tak melalaikan tugasnya sebagai seorang istri maupun ibu. Pagi hari pun sebelum berangkat kerja ia pun menyempatkan mengantar Misel ke sekolah, meski siangnya ia tak bisa menjemput. Paling hanya meminta sopir rumah untuk menjemputnya. Memang akhir-akhir ini ia kerap pulang lebih telat dari biasanya. Tidak bisakah Alby bersabar sedikit.
Rena menghela nafasnya, membawa kakinya melangkah duduk di kursi, menikmati beberapa detik sebelum kembali bekerja.
"Dokter Rena?" panggil Suster Santi.
Rena mengangkat wajahnya, "ya?"
"Dokter kenapa lesu gitu?" tanyanya.
Rena menggeleng.
Rena terkesiap tak mengerti. "Maksudnya?"
"Itu loh Dokter laki-laki yang tadi sempat debat dengan Dokter tadi. Maaf aku sempat menguping sekilas perdebatan kalian."
"Oh.. iya tapi dia-"
"Saya tau, laki-laki itu tadi kekeh kan maksa dokter. Ngaku-ngaku jadi suaminya. Emang dasar Om-om tidak tau diri. Padahal saya sudah bilang jika Dokter itu calon istrinya Dokter Ryan, kok dia ya ngeyel dan kekeh nunggu dokter, saya kira tadi sudah pergi!" Suster Santi berkata menggebu-gebu seolah sudah melakukan kebenaran.
"Hah??" Rena terkejut, mulutnya seketika menganga. Pantas saja suaminya begitu terlihat marah. Pikiran dan badan rasanya sudah lelah, di tambah kabar panas seperti itu.
"Iya begitu Dokter. Saya juga menjelaskan jika orang seperti dia itu banyak, yang datang ngaku-ngaku sebagai suami, kadang calon suami, atau pacarnya dokter. Kan memang benar fans Dokter itu banyak, bahkan banyak pasien yang datang tidak sakit tapi minta diperiksa hanya karena ingin melihat dokter." Rena semakin menepuk keningnya ketika mendengar ucapan Suster Santi. "Ya sudah dokter saya mau kasih berkas ini dulu ke Dokter Ryan," lanjutnya.
"Suster Santi?" panggil Rena membuat Suster Santi menoleh.
"Ya, Dok!"
"Saya hanya ingin mengatakan, jika saya bukan calon istrinya Dokter Ryan."
Suster Santi terkekeh, "ah saya gak percaya. Orang kalian begitu dekat kok, bahkan Dokter-dokter yang lain saja sering mengatakan kalian itu pasangan yang serasi. Apalagi melihat kedekatan Dokter Rena dan Dokter Ryan. Sudahlah Dokter Rena tidak usah merasa malu begitu sama saya." Pungkasnya seraya berlalu pergi.
Suster Santi menggelengkan kepalanya, "Dokter Rena itu emang pemalu ya. Pura-pura gak ada apa-apa sama Dokter Ryan. Padahal kalaupun ngaku juga pasti banyak yang dukung mereka," gumamnya.
****
Menjelang malam Rena baru membereskan barang-barangnya termasuk jas dokter yang dipakainya. Sebelum keluar dari ruangannya, Rena mengambil ponselnya memeriksanya. Lalu ia menghela nafas pelan.
"Duhh, kan beneran Abang kayaknya kesal beneran deh sama aku. Biasanya sebelum aku pulang banyak chat aku. Kok ini kosong," dumelnya.
Menyimpan kembali ponselnya, lalu keluar dari ruangannya. Rena berjalan ke parkiran dengan cepat, ia pikir ia harus cepat sampai rumah. Rasanya Rena sama sekali tidak tenang mengingat suaminya tengah marah.
"Perasaan dia udah tua ya. Kok masih suka ngambek. Dihh, apa bedanya sama Misel. Ternyata usia gak menjamin kedewasaan," monolog Rena selama dalam perjalanan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah yang cepat.
Brukk!!
"Aduhh!" pekik Rena ketika tubuhnya tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
"Sorry! Apakah sakit Re?"
Rena mengangkat wajahnya dan mendapati Dokter Ryan berada di depannya dengan wajah cemas.
"Biar aku periksa Re?" Pintanya kemudian seraya mengulurkan tangannya hendak memeriksa kening Rena. Seketika Rena jadi ingat jika suaminya tengah kesal dengannya karena lelaki itu.
"Tidak usah dokter Ryan aku buru-buru harus pulang." Rena berlalu pergi meninggalkan Dokter Ryan dengan cepat.