Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Hobi Baru



Hari terus berlalu. Baik Rena maupun Alby semakin sibuk. Alby yang disibukkan dengan pekerjaannya, bahkan ia jadi sering pulang pergi ke luar kota. Sementara Rena semakin sibuk menjelang sidang skripsinya.


Galih pun sudah pulih, dan kembali ke rumah bersama Soraya. Bahkan keduanya sudah kembali melakukan pernikahan. Alby merasa lega karena kini ibunya di rumah sudah tak lagi merasa kesepian.


Setelah belajar sebentar, Rena pun merebahkan tubuhnya di pangkuan sang suami yang kini tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya di laptop.


"Kenapa ini?" tanya Alby yang merasa aneh tingkah istrinya.


Rena menggeleng justru memainkan kancing kemeja suaminya. Membuat Alby harus menahan nafasnya kuat-kuat. Emang tubuhnya itu baperan banget, baru disentuh dikit sama istrinya responnya langsung jauh, dan fokusnya langsung buyar.


"Kamu gugup ya mikirin buat besok?" tanya Alby lagi sambil mengusap kepala istrinya.


Rena mengangguk, sambil membenamkan kepalanya di perut sixpack suaminya itu. "Iya bang. Gugup, ngeri-ngeri sedap gitu."


"Semangat dong sayang. Tinggal selangkah lagi kamu lulus," jawab Alby memberi istrinya semangat.


Rena mengangkat sedikit wajahnya tersenyum pada suaminya, kemudian ia kembali membenamkan kepalanya. Bahkan ia kembali memainkan kancing baju suaminya, membukanya secara pelan.


"Re?"


"Hem."


"Kamu mau ngapain?" tanya Alby heran.


"Cuma mau usap-usap perut Abang. Gak tau suka aja. Udah Abang lanjutin aja kerjanya," ujar Rena.


Alby menghela nafasnya. Gimana mau lanjut, kalau perbuatan istrinya itu justru mengusik miliknya yang lain, hingga membuat dirinya tak lagi bisa konsentrasi.


"Kamu ini aneh banget sih. Ini namanya nyiksa Abang sayang," ujar Alby penuh penekanan. Percayalah saat ini lelaki itu tengah menahan dirinya mati-matian untuk tak menerkam istrinya saat itu juga.


Mendengarnya Rena langsung mencebik kesal, kemudian langsung bangun dari pangkuan sang suami.


"Kok bangun?" tanya Alby bingung.


"Udah gak mood. Abang marah-marah, aku kesel," celetuk Rena seraya bangkit dari tempat duduknya, merangkak naik ke atas ranjang, tak lupa perempuan itu menarik selimutnya hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya.


Alby menggaruk tengkuknya, ia jadi bingung beberapa hari ini tingkah istrinya itu aneh. Gampang sekali badmood, padahal sebelumnya Rena tipikal perempuan yang sabar.


'Kebanyakan mikirin skripsi kali ya jadi begitu,' gumam Alby.


Alby berniat untuk kembali meneruskan kerjaannya. Namun, melihat sikap istrinya membuat ia menjadi kehilangan mood, bagaimana jika acaranya ngambeknya mempengaruhi sidangnya besok. Tidak! Alby harus bisa membuat mood istrinya kembali baik.


Akhirnya, Alby pun menutup laptopnya dan berniat menghampiri istrinya. Tak lupa sebelumnya ia membuka piyama atasnya. Kemudian, ia pun merangkak naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya di sisi istrinya.


"Sayang?" panggil Alby seraya mengguncang pelan tubuh Rena. Namun, Rena tetap diam acuh.


"Ayo katanya mau usap-usap perut Abang. Ini Abang udah buka baju lho, kamu bisa usap-usap sepuasnya, bisa tiduran juga malah," lanjut Alby kemudian berusaha membujuk. Bahkan ia sampai memeluk istrinya dari belakang.


Rena yang sejak tadi diam, mulai bergerak memberontak. "Ih minggir. Sesak tau Abang peluk-peluk gitu!" omel Rena sambil membuka selimutnya. Kemudian, berbalik menghadap suaminya.


"Ngapain jadi gak pake baju gitu? Mau pamer?" cetus Rena, wajahnya masih kesal.


Alby menghela nafasnya. "Ini lho Abang kan udah buka baju. Sengaja biar kamu bisa usap-usap lagi. Ayo Abang udah siap kok, mau diusap-usap apa buat kamu tidur juga boleh kok," bujuk Alby.


"Aku udah gak mau," jawab Rena kesal.


Alby memicingkan matanya. "Yakin gak mau?" godanya yang dibalas helaan nafas kasar oleh istrinya.


"Ya udah Abang pake baju lagi aja deh. Lagian juga ini kerasa dingin," sambungnya kemudian.


CK!


Rena berdecak sambil memanyunkan bibirnya ke depan, ia sedikit menggeser tubuhnya mendekati suaminya. "Jangan lah. Rena kekepin deh Abang biar gak dingin," ujar Rena membuat Alby tergelak.


"Dasar labil tadi bilangnya gak mau, ini malah mau ngekepin," sahut Alby sambil mengusap kepala istrinya menggunakan sebelah tangannya, sementara Rena mulai beraksi mengusap-usap perut suaminya. Membuat Alby menahan nafasnya, rasanya kepalanya menjadi pusing.


"Sayang?" panggil Alby.


"Hem."


"Apaan sih. Abang tuh berisik!" omel Rena.


Alby meneguk ludahnya, perasaan dia salah mulu. "Re, asli Abang dah gak kuat!"


"Ya udah lambaikan tangan," jawab Rena asal.


"Nyelup sebentar boleh ya sayang?" bujuknya membuat Rena menghentikan gerakan tangannya. Kemudian, mendongak menatap wajah suaminya.


"Oh Abang mau teh celup. Tunggu sebentar Rena buatin ya. Kebetulan kan Abang baru bawa produk teh baru dari kantor," sahut Rena membuat Alby melongo, kan jadi salah tanggap.


Rena menyibak selimutnya berniat untuk beranjak ke dapur. Namun, belum sempat ia menjuntaikan kakinya ke lantai, tangannya sudah ditarik oleh suaminya. Kemudian, langsung dikukung tubuhnya oleh sang suami.


"Abang?!!" pekik Rena.


Dan belum sempat Rena kembali protes, sang suami langsung menyambar bibirnya secara cepat. Membuat Rena kelabakan, seketika ia pun jadi paham nyelup yang dimaksud suaminya itu apa? Bukan teh melainkan nyelup bagian yang bawah.


Kalau sudah begini siapa yang salah? Kan dirinya yang memang lebih dulu membangunkan singa yang sedang tidur. Jadi, Rena hanya diam pasrah saat sang suami menguasai tubuhnya dalam membawanya ke surga dunia.


****


Rena keluar dari kampusnya dengan wajah berbinar bahagia. Karena hari ini telah lancar menjalankan sidang skripsinya. Akhirnya usahanya tidak sia-sia.


Rena berniat untuk mencari teman-teman seangkatannya. Mau berbagi kebahagiaannya. Namun, bunyi telpon dalam ponselnya mengurungkan niatnya.


"Ya bang?" sahut Rena.


"Di mana sayang? Abang udah di depan ini," ujar Alby.


Rena tersenyum mendengar sang suami ternyata menjemputnya, padahal ia bilang sedang sibuk. "Iya aku kesana bang," jawab Rena sambil menutup ponselnya.


Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sesaat Rena menatap ke awan, langit terlihat cerah pada siang hari itu. Matahari bahkan sinarnya sangat menyengat, sesaat Rena merasa pusing. Namun, karena rasa bahagia dan lega ia mengesampingkan perasaannya itu.


Dengan senyum mengembang Rena melangkah keluar berniat menghampiri sang suami.


"Rena?" Alena berteriak memanggil dirinya. Namun, Rena yang terus berlari tak mendengarkan panggilan Alena.


Alena memilih mengikuti langkah perempuan itu keluar.


"Abang?" Rena tersenyum. Di samping mobil suaminya sudah berdiri dengan membawa buket bunga Lily. Bunga kesukaannya. Alby merentangkan kedua tangannya, meminta istrinya untuk memeluk dirinya.


Rena berniat melangkah meskipun ia merasa kepalanya terasa aneh.


"Sayang?" panggil Alby khawatir.


Rena menggeleng, kemudian meneruskan langkahnya menghambur memeluk sang suami.


"Selamat ya," ucap Alby.


"Makasih Abang. Semua juga berkat dukungan Abang," sahut Rena sambil mengurai dekapannya.


Mengecup pipi istrinya dengan sayang, kemudian Alby menyerahkan buket bunga itu pada istrinya. Rena menerimanya dan tersenyum.


Setelahnya, seperti biasanya Rena akan menghirup aroma bunga itu. Namun, tiba-tiba Rena justru merasa sangat pusing, hingga perlahan pandangannya menggelap dan...


Brugh!!


"Sayang?!"


"Rena?!


Rena terjatuh pingsan, beruntung Alby sigap menopang tubuhnya.