Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Hadiah



"Sendiri," jawabnya dengan senyum getir. Tangannya sibuk mengusap-usap kepala Misel yang saat ini posisinya anak itu tengah tiduran di pangkuannya.


"Putriku yang di sana sudah meninggal, dan suamiku juga menceraikan ku, Re." Miranda melanjutkan ucapannya.


Rena terkejut mendengarnya, rasanya pasti hancur sekali kehilangan orang terdekatnya dalam waktu bersamaan.


"Aku turut berduka cita mbak," balas Rena.


Miranda hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Aku sudah ikhlas, Re. Ku pikir ini mungkin balasan dari perbuatan jahat ku dulu. Karena itu aku berniat kembali untuk menebus waktu ku yang hilang bersama Misel."


Rena menatap ke arah Miranda. Perempuan itu tampak lebih kurus dari terakhir ia lihat.


"Baguslah kalau kamu sudah sadar," timpal Alby.


"Bang?"


"Iya, iya sayang. Abang keluar dulu ya," pamit Alby berlalu pergi. Rasanya kalau berhadapan dengan Miranda itu ia menjadi darah tinggi, jadi mending menghindar.


Miranda menatap Misel yang tertidur di pangkuannya, ia segera memindahkan anak itu ke sofa. Kemudian, Miranda beranjak dari sana mendekati Rena, ia duduk di sisi perempuan itu.


"Kamu sakit apa, Re? Pasti kelelahan ya mikirin skripsi, kerja belum lagi harus urus Misel," ucap Miranda di kalimat yang terakhir ada rasa tak enak untuk ia ucapkan.


Rena tersenyum mengerti maksud perempuan itu. "Misel itu anak yang nurut kok, tidak pernah membuat aku kelelahan. Aku hanya perlu sedikit istirahat karena dokter mengatakan aku tengah mengandung."


Miranda langsung tersenyum senang mendengarnya. Kenapa ia melupakan ucapan Misel tadi kalau ia akan mempunyai adik. "Selamat Re. Aku turut senang, Misel pasti sangat senang mendengarnya."


Rena mengangguk mengucapkan terimakasih, dan menceritakan bagaimana tadi ia bisa pingsan di kampus.


"Kamu kan Dokter. Meskipun bukan spesialis kandungan, kok bisa gak ngerasa kalau kamu lagi hamil gitu Re?" tanya Miranda penasaran.


"Aku gak ngerasa ada yang aneh mbak. Cuma aku memang sudah telat datang bulan. Sebelumnya aku sering cek pake testpack hasilnya selalu negatif, makanya ketika saat ini aku telat aku hanya berpikir mungkin aku terlalu stress mikirin skripsi, belum lagi kan aku juga sering bergadang," jelas Rena.


"Apapun itu yang penting semoga kamu dan bayimu selalu sehat," sahut Miranda perempuan itu beranjak menarik koper dan membukanya, mengambil sesuatu bungkusan dari sana. "Aku punya sesuatu buat kamu, Re. Ini buatan aku sendiri," seru Miranda memberikan suatu kotak pada Rena.


"Gak perlu repot-repot begini. Mbak bisa pulang dengan selamat, Misel senang aku juga senang," sahut Rena karena mengingat Misel beberapa kali merengek meminta menghubungi perempuan itu.


"Itu gak seberapa kok Re. Aku ikhlas, anggap saja ini hadiah untuk kamu, dan juga ucapan terimakasih dari aku. Nanti dipakai saat kamu wisuda ya," ucap Miranda.


"Duh aku jadi penasaran isinya apa sih?"


"Buka aja," titah Miranda.


Rena mengangguk, dan dengan pelan membuka kotak itu. Ia terkejut melihat stelan kebaya di dalamnya.


"Wahh ini sangat bagus. Mbak buat sendiri?"


Miranda mengangguk. "Iya aku beli bahannya waktu itu di sini. Sengaja mau buat kamu. Tadinya aku pikir kalau aku tidak kembali aku akan mengirimkannya saja. Tapi, karena rumah tanggaku sudah tak terselamatkan, aku memutuskan kembali dan memberikannya sendiri."


Rena masih mengusap-usap kebaya itu. "Bagus banget mbak. Mbak kenapa gak jadi desainer aja sih," celetuk Rena.


Miranda menghela nafasnya, dan hanya tersenyum getir. Dirinya pun masih bingung harus bekerja apa nanti. Sementara tabungannya pun kian hari menipis. Apalagi untuk membuka usaha. Layaknya sebuah sampah, Damian menceraikan dirinya tanpa harta gono-gini. Tapi, ia bisa apa.


"Akan aku pikirkan nanti, Re." Hanya itu yang mampu ia ucapkan saat ini.


****


Miko mengusap wajahnya dengan gerakan kasar bercampur frustasi. Ia telah berusaha mengejar Hira. Namun, usahanya pun sia-sia. Gadis itu tetap kekeh pada pendiriannya.


Inikah sebuah karma yang ia terima, ketika ia merasa telah menyia-nyiakan orang yang tulus padanya.


Miko mengangkat wajahnya ketika mengingat nama sahabatnya itu. Getaran aneh memang kerap ia rasa, apalagi kala mengingat adegan dalam bioskop, di mana Dokter Ryan dengan berani mencium sahabatnya itu. Lelaki itu mengatakan jika dirinya adalah calon suami Alena. Rasanya Miko masih tak percaya.


Bangun dari tempatnya, Miko mengambil kunci mobilnya di atas nakas, dan berlalu keluar.


Sementara itu, Alena nampak cantik dalam balutan dress berwarna biru laut. Rambutnya dibiarkan tergerai seraya diberi hiasan berwarna silver. Malam ini, ia akan menghadiri acara makan malam di rumah Dokter Ryan.


"Sudah cantik kakak," puji Sena. Gadis itu memang paling aktif kalau urusan mendadani Alena.


"Hemm... Aku memang sejak dulu sudah cantik," sahut Alena dengan percaya diri.


Sena hanya mengangguk pasrah, biarlah untuk malam ini ia tidak akan merusak mood kakak sepupunya itu.


"Suara mobil. Itu Kak Ryan kali," ujar Sena ketika mendengar deru mobil di luar.


"Bukan kali. Masa cepat banget, perasaan Pak Dokter baru bilang mau jalan tadi," sahut Alena heran.


"Lah terus siapa yang datang? Ya udah mending kita cek aja deh kak," kata Sena. Alena hanya mengangguk dan keluar dari kamarnya.


Turun ke bawah, Alena melangkah mendekati pintu rumahnya.


Ceklek!!


Seorang pria dengan balutan jaket navy tengah berdiri di depan rumahnya dengan posisi membelakangi.


"Maaf, siapa ya?" tanya Alena.


Pria itu memutar tubuhnya, membuat kedua mata Alena membeliak.


"Miko?" ucapnya lirih. Ia merasa bingung untuk apa malam-malam laki-laki itu datang ke rumahnya.


Sementara, Miko masih terdiam mata yang terus memandang ke arah Alena. Perempuan itu nampak sangat cantik, hingga membuat jantungnya berdebar.


"Ada apa? Tumben kamu malam-malam datang kemari?" tanya Alena berusaha sebiasa mungkin. Meski saat itu ia merasa gugup. Menurutnya tatapan Miko padanya saat ini terlihat aneh.


Dan tanpa disangka lelaki itu langsung menghambur memeluk Alena, membuat perempuan itu terkejut. "Jangan tinggalkan aku, Le."


Sementara, tak jauh dari tempatnya Dokter Ryan melihat adegan keduanya. Lelaki itu tersenyum getir, tangannya menggenggam sebuket bunga mawar yang ia bawa, lalu meremasnya. Ia ingin berbalik meninggalkan tempat itu, tapi sisi hatinya menahannya.


"Lepas ih!" Alena memberontak melepaskan pelukan Miko. Seiring dengan nafasnya yang memburu, perempuan itu menatap lelaki dihadapannya dengan kesal, hingga tak mengetahui bahwa ada sosok lain yang melihatnya.


"Kamu ini apa-apaan sih main peluk-peluk aja," celetuk Alena.


"Ya, maaf Re. Namanya juga spontan."


"Lagian ngapain sih datang pake acara menye-menye kaya orang patah hati," celetuk Alena.


Miko menghela nafasnya lemah. Kemudian mendudukan dirinya di bangku teras rumah Alena. "Emang!"


Alena melongo.


"Aku baru putus sama Hira. Dia ninggalin aku karena mau nikah sama laki-laki lain."


Alena masih terdiam menatap lelaki itu dengan pandangan tak percaya. "Terus kenapa kamu datang kemari?"


"Aku udah kehilangan Hira. Aku gak mau kehilangan kamu, Le. Bukannya kamu dulu itu suka sama aku Le," tanya Miko dengan sendu.


"Sinting!" celetuk Alena. Ia kira Miko itu hanya bercanda. Namun, tak disangka lelaki itu kini berlutut di hadapannya.