Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Istri Apa Mantan



Mendengarnya tentu membuat Miko terkejut. Ia kembali mengingat bagaimana dulu Hira begitu kekeh minta putus dengannya dengan alasan akan menikah karena dijodohkan. Bahkan ia mengatakan akan pindah dari negara ini. Lalu sekarang tiba-tiba perempuan itu muncul di hadapannya. Maksudnya apa?


Ah tidak! Miko menggelengkan kepalanya. Mengenyahkan segala kemungkinan dugaannya. Ia pikir sudah tidak patut ia merasa penasaran dengan kehadiran Hira. Apapun alasannya ia harus menjaga jarak dari Hira. Keadaan sekarang sudah berbeda. Ada hati yang harus di jaga yaitu Miranda–istri tercintanya, yang saat ini tengah mengandung ketiga buah hatinya. Miko harus ingat sebentar lagi ia akan menjadi seorang Papa. Menjadi orang tua sepenuhnya.


“Mik, sebenarnya i–itu a–aku....” Hira berbicara dengan gugup. Dan Miko hanya mengangkat kedua alisnya.


“Apa yang terjadi sayang? Kok kata Miko kamu sudah menikah,” ujar Pak Yusuf tak mengerti.


“Oh tidak apa-apa, Pak. Sebenarnya mungkin waktu itu saya yang salah dengar, waktu Nona Hira ini berpamitan pada saya untuk pindah kampus.” Miko berbicara dengan tenang. Yanto yang berada di sisinya merasa sedikit aneh, ia merasa ada sesuatu. Namun, ia memilih bungkam untuk saat ini.


“Pa sebenarnya tuh–”


“Papa??” seorang anak kecil perempuan dengan rambut di kuncir dua ekor kuda, masih memakai seragam sekolah TK, berlari ke arah mereka.


Miko menoleh tersenyum mendapati anak tirinya menghampiri dirinya, ia segera merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan Misel. “ Hai, sayang?” sambutnya seraya mengusap punggung Misel, lalu melepaskannya. Ia membingkai wajah putri sambungnya itu.


Aksi keduanya tak lepas dari tatapan Hira. Perempuan itu begitu bingung melihat interaksi Miko dengan anak itu. Hira mencoba mengingat raut wajah anak kecil itu.


“Dengan siapa kemari?” tanya Miko kemudian.


Misel menunjuk ke arah meja yang tak jauh darinya. Di mana Miranda tengah duduk seorang diri di sana. Lelaki itu pun mengalihkan tatapannya, terlihat sang istri tersenyum sambil melambaikan tangannya. Manis sekali. Bahkan di saat seperti ini, Miranda begitu menghargai waktu suaminya tengah bekerja. Bisa saja ia langsung menghampirinya tapi perempuan itu lebih memilih meja yang lain.


“Mau makan siang ya?” tanyanya lagi.


Misel menggeleng. “Bukan. Mama bilang ingin membeli novel baru. Katanya Mama jenuh di rumah terus di kurung sama Papa. Jadinya, ia sekalian mampir di toko buku samping, Misel juga dibelikan buku dongeng baru. Ehh pas mau pulang, Mama haus. Saat tadi Mama pesan minuman, Misel lihat Papa di sini. Ya udah Misel berlari kesini deh. Mama sempat gak ngebolehin, katanya takut ganggu Papa,” tuturnya.


Miko terkekeh kecil. “Mamamu memang begitu sayang. Padahal mana ada disamperin orang tersayang kok ganggu. Papa malah senang kok.”


“Papa? Mama?” gumam Hira tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Dia siapa, nak Miko? Putrimu?” tanya Pak Yusuf yang sejak tadi merasa penasaran dengan interaksi keduanya.


Miko menoleh lalu mengangguk. “Iya!”


“Bukannya dia putrinya Pak Alby ya?” tanya Hira yang sudah mengingat siapa Misel.


Miko mengangguk. “Iya putri kandungnya Pak Alby. Tapi, putri saya juga. Kan saya menikah dengan Mamanya, artinya anak mantan istrinya Pak Alby kan jadi anak saya juga,” jelasnya.


Hira terperangah, terkejut mendengar kenyataan yang ia dengar. Mulutnya terbuka secelah. Merasa semua yang ia dengar hanyalah mimpi. “Ja–jadi kamu sudah menikah?" tanyanya gugup.


“Iya. Lihat istri saya juga ada di sini,” tunjuk Miko pada perempuan yang tengah duduk di kursi tak jauh darinya.


Hira tersenyum masam. Raut wajahnya langsung berubah sendu. Perubahan itu tak luput dari tatapan Yanto dan Pak Yusuf.


“Papa ayo dong anterin kami pulang. Mama bilang mau ke rumah Bunda lihat dedek Alka,” ajak Misel.


“Iya sayang. ” Miko menoleh ke arah rekan kerjanya itu. “Pak Yusuf saya permisi duluan ya mau antar anak dan istrinya saya dulu. Kebetulan istri saya lagi hamil, jadi gak mungkin saya suruh nyetir sendiri,” sambungnya.


“Iya nak Miko. Hati-hati, semoga persalinannya nanti lancar.”


“Amin!”


Usai kepergian keduanya, Pak Yusuf menatap ke arah putrinya. “Ada yang kamu sembunyikan dari Papa, Zahira?"


“Miko itu, mantan kekasihku Pa,” jawab Hira.


“Oh laki-laki yang dulu kamu ceritakan ke Papa itu?” tanya Pak Yusuf tenang.


Hira mengangguk, seraya menatap berlalunya lelaki itu. “Iya. Aku pikir akan mudah melupakan dia. Tapi ternyata–”


“Lupakan!” sela Pak Yusuf cepat.


Zahira menoleh terkejut akan reaksi Papanya, “Pa?”


Lelaki itu menggeleng. “Dengan kamu mencoba ikhlas. Percayalah kamu pasti akan mendapatkan lelaki yang lebih baik. Jangan kotori hatimu demi menjadi perusak rumah tangga orang lain. Sesungguhnya, Papa sangat membenci pelakor.”


“Pa–”


“Cukup, hidup Papa yang hancur karena kelakuan Mamamu yang merusak rumah tangga orang lain, Hira. Dan Papa tidak ingin kamu menuruni sifatnya itu. Jika sampai kau melakukannya, tidak akan ada kata maaf dari Papa.”


“Baik, Pa. Hira akan berusaha,” jawabnya pasrah.


🦋🦋🦋


“Kenapa tadi gak nyamperin aja ke meja, sayang?” tanya Miko begitu mereka tengah berada di dalam mobil.


Miranda tersenyum. “Kamu kan lagi kerja. Aku gak mau ganggu.”


“Udah selesai. Tadi itu hanya tinggal mengobrol santai,”


Yanto hanya menyimak di depan sambil fokus menyetir. Misel yang berada di sisinya menoleh ke belakang, lalu berkata, “Papa, Tante tadi itukan yang dulu pernah ke rumah sakit, jenguk Misel dengan Papa kan?”


Miko menelan ludahnya, kala mendengar pertanyaan putrinya. Melirik ke arah Miranda, yang juga menatapnya penuh selidik ke arahnya.


“Siapa Misel? Teman Papa ya?”


“Tapi mereka dekat. Aku dan Bunda bahkan sering lihat Papa dulu jalan bareng sama dia,” terang Misel sambil mencoba berfikir mengingat kejadian dulu, tak tanggung-tanggung anak itu mengetuk-etuk kepalanya, seakan tengah meminta memorinya untuk keluar semua.


“Oh mantan,” sahut Miranda yang kini mengerti maksud putrinya.


“Sayang–” rengek Miko, takut bila mana Miranda marah.


“Mantan yang buat kamu mau bunuh diri itu ya?” ejek Miranda seraya melipatkan kedua tangannya di dada. “Ciee reunian sama mantan, pantesan mukanya berbinar bahagia gitu,” sambungnya.


“Sayang, ihh aku tuh dulu gak mau bunuh diri. Kamu kok gak percaya banget. Lagian tadi itu aku mewakili Papa. Bukan reuni sayang, mas gak percaya sih,” protes Miko.


Miranda rasanya ingin tertawa mendengarnya. Melihat bagaimana suaminya itu menganggapnya begitu serius. Padahal tanpa Miko bercerita, ia sudah tahu. Miranda sudah tahu masa lalu Miko, termasuk gadis yang berada di depan suaminya tadi. Tentunya semua info yang ia dengar, ia dapatkan dari Alena.


Lalu, ketika melihat mereka membicarakan seputar bisnis. Haruskah Miranda marah? Oh tentu tidak. Dia adalah perempuan dengan pemikiran dewasa. Sepenuhnya ia percaya dengan suaminya. Tak mungkin Miko akan berpaling pada perempuan lain.