
"Aku serius, Le. Gak bercanda, aku sadar kalau sebenarnya aku juga sayang sama kamu. Aku cemburu dan gak suka saat kamu dengan Dokter Ryan. Hira juga memintaku untuk mengejar cinta aku. Jadi, bisakah kau menerima perasaanku. Aku gak mau kehilangan kamu, Le."
Alena menatap lelaki di depannya dengan tatapan tak percaya. Apa maksudnya? Miko baru patah hati kemudian mendatangi dirinya, lalu mengutarakan maksudnya, dengan iming-iming perasaan cinta. Apakah itu artinya lelaki itu berniat menjadikan dirinya pelarian.
"Kau gila. Kau itu baru putus, lalu tiba-tiba kau datang mengatakan kau mencintaiku. Ku pikir kau sudah tidak waras," sergah Alena.
"Aku sadar mengatakan hal ini, Le. Bukan bercanda ataupun menjadikan dirimu sebagai pelarian. Aku sadar sepenuhnya, Le. Jadi, maukah kamu-"
Prak!!
Keduanya menoleh secara bersamaan. Alena terkejut mendapati Dokter Ryan tengah berdiri tak jauh darinya, sebuket bunga mawar yang semula ia genggam pun telah jatuh. Pandangan matanya terlihat kecewa.
"Maaf aku menganggu," ucap Dokter Ryan lirih. Lelaki itu memilih berbalik melangkah pergi.
'Ternyata harapanku sia-sia, aku kembali patah hati,' gumam Dokter Ryan dalam hati, rasanya pedih.
Sementara itu, Alena yang masih berdiri di hadapan Miko. Dan terus didesak Miko minta jawaban.
"Tidak bisa Miko, hatiku sudah dimiliki lelaki lain," ucap Alena dengan lantang. Hal itu berhasil menghentikan langkah Dokter Ryan yang baru sampai di ujung pintu gerbang.
"Alena?" seru Miko sambil beranjak berdiri. "Siapa?" sambungnya.
"Aku mencintai lelaki yang selama ini ada untukku. Lelaki yang selama ini mencoba bersabar, mencurahkan cinta dan kasih sayangnya untukku. Aku mencintainya Miko, dan aku tidak mau kehilangannya. Ku akui dulu aku sempat mencintaimu, tapi berkat kehadirannya perlahan rasaku padamu mulai mengikis dan lenyap," ujar Alena.
Miko tersenyum getir. "Siapa dia Alena?" desak Miko.
Alena menatap punggung tubuh Dokter Ryan yang masih bertahan di depan pintu gerbang, lelaki itu sama sekali tidak berniat untuk berbalik. Apakah kode yang Alena berikan tak juga membuatnya mengerti.
Sementara itu, Dokter Ryan memang memilih bergeming dari tempatnya, karena ia tidak ingin merasa percaya diri. Siapa tahu bukan dirinyalah yang dimaksud perempuan itu, meski dalam hati ia sangat berharap jika itu dirinya.
Di saat otaknya tengah membuana berperang dengan batin dan pikirannya. Tubuhnya hampir terhuyung ke depan, ketika tiba-tiba tubuh mungil seseorang menubruk dirinya kemudian mendekapnya dari belakang. Kedua tangan ringkih dan lembut itu kini melingkar di perut lelaki itu.
"Pak Dokter mau ke mana? Mau pergi gitu aja tanpa aku gitu. Pak Dokter juga udah gak peduli lagi sama aku ya?" cecar Alena.
Lelaki itu melepaskan dekapan Alena, kemudian berbalik. "Alena?" panggilnya lirih.
"Aku-"
"Aku mencintai Pak Dokter," ucap Alena memotong ucapan Dokter Ryan dengan cepat, kemudian kembali menghambur memeluknya dengan erat.
Mengurai dekapannya lelaki itu menatap wajah Alena, mencari kebohongan yang sama sekali tak ia temukan di sana. "Kamu serius?"
"Serius lah. Memangnya Pak Dokter mau aku bercanda?" Alena mencebik kesal. Sudah lari-lari kemudian mendekap tubuh kekasihnya dari belakang, ala-ala film India malah dikira bercanda. Ingatkan adegan Kajol yang berlari memeluk Shah Rukh Khan saat mau bernyanyi lagu 'Tujhe Dekha To Yeh Jaana Sanam'. Ya, begitulah gambarannya, bedanya Kajol memakai sari India, dia memakai gaun. Mereka berlari di kebun bunga, Alena berlari di depan halaman rumahnya. Bukankah harusnya terkesan sweet dan meyakinkan. Kenapa lelaki itu masih meragukannya.
"Makasih Alena. Aku juga mencintaimu," sahut Dokter Ryan seraya menarik kembali Alena kembali dalam dekapannya. Tak lupa mengecup pucuk kepalanya gadis itu. "Wangi sekali," bisiknya kemudian.
"Ehem!" Miko berdehem keras. Namun, tetap tak didengarkan oleh keduanya.
"Udah gih adegan peluk-pelukannya. Gak kasihan apa ada jomblo di sini," ujar Miko yang entah sejak kapan lelaki itu sudah berada di dekatnya.
"Cemburu? Makan tuh cemburu?" ejek Alena. Namun, tak urung ia pun mengurai dekapannya.
"Kagak. Orang tadi aku cuma becanda. Sebenarnya aku sengaja ngomong begitu, biar kamu ngomong jujur perasaan kamu itu. Aku juga tau kalau Dokter Ryan mau kemari, orang aku lihat mobil di tengah jalan, ternyata orangnya lagi membeli bunga!" kata Miko menjelaskan. "Aku cuma gak mau aja kamu menggantung perasaan Dokter Ryan, Le. Kaya yang aku lakuin ke Hira, akhirnya aku kan nyesel. Aku gak mau itu terjadi juga sama kamu. Karena semua orang juga punya batas kesabaran untuk menunggu," sambungnya.
"Setan! Ya itu derita mu," sindir Alena seraya mengumpat kesal.
"Alena! Language please?" tegur Dokter Ryan, membuat Alena menutup mulutnya.
Miko tertawa. "Ya omelin aja, Pak. Dia sering ngomong begitu," ucapnya semakin mengompori membuat Alena melototkan kedua matanya.
Miko memicingkan kedua matanya, sedikit tertawa karena gelagat Alena itu seperti tengah mengancam dirinya. "Iya Pak Dokter. Udah biasa kok, biarin aja. Aku gak baper," sahut Miko membenarkan perkataan Alena, membuat perempuan itu menghela nafas lega.
"Kau mau ke mana?" tanya Alena.
"Pulang. Kalau aku di sini terus kasihan kau tidak jadi pergi, aku juga malas nonton adegan live peluk-pelukan."
"Iri ya?" ejek Alena.
"CK! Mau cari jodoh di jalanan kali aja nemu," jawab Miko.
"Amin."
Miko menghela nafasnya. Kemudian menoleh ke arah Dokter Ryan. "Jaga Alena dengan baik ya Pak Dokter. Dia salah satu sahabat terbaik ku. Jangan buat menangis," pinta Miko.
Dokter Ryan mengangguk. "Tentu. Saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuknya."
"Aduh, meleleh aku Es Kiko mendengarnya!"
"Ya, kau kan mirip lilin mati lampu jadi kena api meleleh," celetuk Miko kemudian, seraya berlalu pergi karena melihat wajah Alena yang sudah memerah.
"Miko set-"
"Alena?"
"Eh ya Pak Dokter. Gak jadi kok, buat nanti aja umpatannya." Alena mengurungkan niatnya untuk mengumpat Miko dengan kesal.
"Ya udah kita masuk dulu yuk. Aku mau pamitan dulu sama orang tua kamu. Kan mau bawa anaknya pergi," ujar Dokter Ryan. Alena mengangguk, dan Dokter Ryan menautkan jemarinya pada gadis itu seraya melangkah masuk.
Sementara itu, Miko masih setia mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibu kota. Meratapi nasibnya yang sendiri tanpa kekasih, kedua sahabatnya bahkan sudah memiliki tambatan hati. Sedangkan ia terus patah hati.
"Langsung nikah aja kali ya, gak usah pacaran biar gak patah hati!" celetuk Miko kemudian. Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan keluar dari sana.
Lelaki itu melihat jembatan penyebrangan, ia pikir akan sangat menyenangkan jika ia berdiri di sana. Belum lagi di bawahnya terdapat sungai.
Miko melangkah naik ke atas sana. Kondisi jembatan saat itu terlihat sepi.
"Wahh bagus juga anginnya di sini. Karena jomblo ya udahlah berpelukan sama angin," gumamnya sendiri.
Miko merentangkan kedua tangannya. Merasa kurang puas, ia menaikkan kakinya di pembatas besi, kemudian ia kembali merentangkan kedua tangannya. Namun, tiba-tiba ia terkejut mendapati tubuhnya di tarik kuat oleh seseorang.
"Kamu gila ya? Mau bunuh diri?!" suara perempuan mengomeli dirinya.
.
.
.
.
.
Aduh leganya, leganya berhasil menyelesaikan perasaan Alena dan Pak Dokter. Padahal ni ya kalau Alena sama Miko. Pak Dokter mau aku pungut 😂😂
Gantengnya kaya gini siapa yang mau nolak coba?😂ðŸ¤