
Alby mengunci tubuh istrinya menggunakan kedua tangannya di sisi tubuh perempuan itu. Bahkan ia berhasil melucuti satu persatu pakaian atas istrinya. Membuat tubuh bagian atas Rena terekspos dengan jelas, karena tanpa kain penghalang apapun. Dengan cepat Alby mulai mengecupi, dimulai dari rahang, leher, turun menuju pundak, dan berhenti tepat di depan kedua gundukan sintal yang semakin terlihat membesar itu.
“Dari dulu, aku paling suka bagian ini,” ujar Alby di sela-sela kegiatannya me ngu lum pucuk da da istrinya. Hal itu berhasil membuat Rena bergerak bak cacing kepanasan. Hingga Rena sudah tak bisa menahan suaranya de sa hannya. Suara itu berhasil ia keluarkan bersamaan dengan kenikmatan permainan yang sang suami ciptakan.
Ini benar-benar gila! Rena bahkan bisa berpikir dirinya baru sepuluh hari melahirkan. Dan malam sebelumnya keduanya sudah melakukan adegan once again. Namun, kenapa ia merasa seperti sudah lama sekali tidak melakukannya. Sepertinya virus mesum Alby menular ke dirinya.
“Ba–bang.... Ahh.. emhh..”
“Pelan-pelan, Re. Nanti Mommy dengar,” pinta Alby.
Rena hanya tertawa. Hingga Alby meraih bibir perempuan itu, memangutnya secara lembut, hingga Rena berhasil menyambut baik ciuman sang saumi. Keduanya saling beradu decapan, lilitan hingga bertukar saliva.
Tubuh Alby kian terasa meremang, hingga menarik tubuhnya, menjauhkan diri dari sang istri.
“Aduh sayang, gimana ini?” kata Alby bingung.
“Kenapa?” tanya Rena.
“Anu sayang... Itu milik Abang bangun lagi.”
Rena merenggut, paham sekali memang tubuh suaminya itu baperan sekali. Melihat wajah frustasi Alby, Rena jadi tidak tega. “Ya udah, aku bantu pakai tangan ya, Bang.”
Alby merenggut. “Lama! Dan rasanya itu juga gak enak.”
“Terus pakai apa? Sabun aja,”
Alby berdecak. “Mulut sayang. Mau gak?” tawar Alby hati-hati. Karena selama ini Rena memang tak pernah mau bila mana sang suami menawarkan permainan seperti itu. Rena selalu menolak.
Kini Rena terdiam, merasa bingung. Sebenarnya ia sendiri merasa berat, tapi melihat wajah frustasi sang suami ia menjadi tidak tega.
“Tapi hanya sebentar ya Bang,” balas Rena.
Alby langsung berseru senang. Lantas ia turun dari ranjang. Membuka resleting celananya, dan mengeluarkan miliknya, yang memang sejak tadi sudah merasa pengap dan memberontak ingin keluar.
Pelan Rena mengurut benda tegang milik suaminya. Tangan lembut istrinya yang tengah bermain-main di sana, membuat Alby menahan suaranya, karena rasanya terlalu nikmat.
Lalu, kedua matanya terpejam ketika sang istri berhasil memasukkan miliknya ke dalam mulutnya. Salah satu tangannya, mendorong kepala istrinya, hingga menciptakan kenikmatan lain yang selama ini tidak ia dapatkan.
Alby merasa gila dan tak mengerti. Mengapa tubuh istrinya itu layaknya candu. Hal inilah yang sejak tadi ia takutkan. Bila bersentuhan atau melihat tubuh istrinya yang terlihat menggoda.
Tak hanya kenikmatan yang ia dapatkan. Rena bahkan berhasil membuatnya merasa menjadi seorang suami yang sangat bahagia.
Beberapa detik kemudian, Alby merasa tubuhnya hendak meledak, hampir mencapai puncak pelepasan. Namun, ketukan pintu membuatnya terkejut, hingga Rena melepaskan permainannya secara tiba-tiba.
“Al, Re. Udah belum, jangan lama-lama. Ini Alka kayaknya udah ngantuk.”
Lantas dengan cepat, Alby langsung menggendong istrinya. Membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan air hangat, tentunya dengan dibantu oleh sang suami. Rena belum bisa sepenuhnya melakukannya sendiri, mengingat ia baru saja melahirkan.
“Sayang, kok air susunya jadi keluar terus ya?” tanya Alby saat tengah membersihkan bagian da da istrinya. Bahkan tak tanggung-tanggung lelaki itu justru semakin betah bermain di area sana.
“Abang ih. Mommy udah nunggu loh,” protes Rena kala sang suami justru semakin menggoda dengan cara me mi Lin titik miliknya.
“Habis menggoda sayang.” Alby me re mas gemas gundukan itu. “Tapi, makasih ya tadi sayang. Besok lagi kalau gak keluar. Bilang saja sama Abang. Abang siaga bantu pijat plus-plus,” sambungnya. Membuat wajah Rena bersemu, namun tak urung mencebik kesal.
“Kenapa sih harus dibahas lagi,” protes Rena.
Alby terkekeh paham jika istrinya malu. “Tapi sekarang air susu kamu udah banyak sayang. Udah bisa dong beri susu Alka nanti. Gimana rasanya?”
“Iya bang. Makasih ya, ini juga kan karena dibantu Abang.”
Alby merasa lega melihat istrinya sudah kembali seperti semula, tak sedikit-sedikit menangis, mengomel. Ternyata berhubungan dengan sang pasangan itu bisa menjadi solusi.
“Lumayan. Tapi nanti akan cepat pulih kok bang,” balas Rena tak ingin membuatnya khawatir.
Alby mengangguk, mengecup pelan bekas operasi Caesar itu. “Makasih ya, udah berjuang demi buah hati kita.”
Rena terharu. “iya bang.”
Alby beranjak mengambil handuk, membalutkannya ke tubuh istrinya. Setelahnya, ia membawa keluar dari kamar mandi. Mendudukkan Rena di atas ranjang.
Alby berlalu ke lemari mengganti pakaiannya, setelah selesai ia pun mengambilkan pakaian istrinya. Tak lupa membantu memakainya. Bahkan lelaki itu tidak merasa jijik, ketika membantu sang istri memakaikan pem balut.
“Cantiknya istriku aku,” puji Alby ketika selesai membantu istrinya berpakaian, tak lupa menyisir rambutnya, membuat Rena bersemu. “Harusnya ini di keringkan sayang.”
“Nanti aja bang. Keburu Alka nangis, kasihan Mommy. Kayaknya dia juga mau pulang,” seru Rena.
Alby mengangguk pasrah. “Sayang, besok lagi ya.”
“Apaan?”
“Yang kaya tadi.” Alby mengerlingkan matanya. Membuat Rena seketika paham apa yang di maksud suaminya.
“Itu maunya Abang,” dengusnya.
“Kamu juga menikmati kok,” bela Alby.
Rena menghela nafasnya. Kalau bukan perkara kasihan sama suaminya, Rena juga tidak ingin melakukan hal itu. “Sabarlah bang. Tunggu aku selesai, nanti boleh kok minta apa aja,” ujar Rena.
“Benar?”
“Iya Bang. Ya udah, aku mau buka pintu buat Mommy kasihan.” Rena hendak beranjak dari ranjangnya. Namun, Alby menahannya.
“Udah, biar Abang saja.”
Lelaki itu beranjak membukakan pintu. Dinda menghela nafasnya, menggelengkan kepalanya, melihat rambut putrinya yang basah, seketika ia pun paham apa yang terjadi.
“Ini lho. Ayah dan Bundamu, Ka, tega banget buat Grandma nunggu lama di depan pintu,” sindir Dinda.
Alby menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Anu mom tadi itu–”
“Mommy tahu. Kamu emang gak sabaran,” cibir Dinda.
“Ingat lho Al, belum boleh,” sambungnya mengingatkan.
“Iya Mom. Tadi itu kan aku cuma–”
“Cuma pijat plus-plus!” potong Dinda seraya menahan tawanya, karena menantunya itu terlihat malu. Dinda berlalu membaringkan Alka di ranjangnya.
“Ya udah Mommy pulang dulu ya,” ujar Dinda.
“Kok gak nginep aja Mom?” tanya Alby.
“Gak lah. Daddy sudah nunggu di bawah tuh,” ujar Dinda.
Rena menghela nafasnya, paham bagaimana Daddy-nya itu memang paling tidak bisa jauh dari Mommy-nya.
“Ya udah. Mommy hati-hati. Makasih ya,” kata Rena.
“Ya sayang. Kamu jangan banyak pikiran,” pesannya.