Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Semakin Galak



“Iya keluar masuk sayang. Gimana sih istri Abang yang makin galak ini,” ledeknya.


Rena memutar bola matanya jengah, heran kenapa semakin hari tingkat kemesuman sang suami itu terus bertambah. “Abang ih ngomongin itu mulu. Malu tahu bang,” protes Rena.


“Kenapa harus malu sih kita kan suami istri. Wajarkan kita ngomongin begini, kecuali kalau kamu ngomongnya ke orang-orang.”


“Tetap saja malu bang, jangan dibahas terus sih.”


Alby melipat tangannya di dada menatap istrinya. “Kamu pelepasan mencapai puncak kenikmatan, tanpa sehelai benangpun, di depan Abang aja udah biasa. Mata kamu merem melek keenakan aja, aku udah hafal. Ini bahas ginian doang, kamu udah bilang malu,” sungut Alby.


“Abang ya ampun!” jerit Rena yang semakin tak karuan mendengar ucapan suaminya pagi ini. “Udah sana berangkat, itu Misel udah nunggu nanti keburu telat. Aku mau mandi ni bang, nanti keburu Alka bangun. Siang nanti juga akan ada Alena dan mbak Miranda berkunjung,” usirnya.


Alby merenggut. “Iya sayang. Heran deh semakin hari kamu kok semakin galak. Bahas begituan aja malu, padahal dulu kamu tuh paling suka kalau Abang ajakin polos-polosan. Malah minta nambah terus,” gerutunya sambil berjalan ke luar.


Alby terus menggerutu sepanjang jalan keluar hingga tiba di depan mobil. Namun, ancaman sang istri kemudian membuat ia terperangah.


“Awas ya, Bang. Gak aku kasih, kalau Abang minta lagi kaya semalam.”


Alby menelan ludahnya, ingin berbalik merayu istrinya tapi waktu sudah tidak cukup. Apalagi putrinya sudah merengek cepat berangkat. Membuka pintu mobil, Alby mendudukkan dirinya di kursi kemudi. Menoleh ke arah Misel yang duduk di belakang kursi kemudi dengan tenang.


“Sudah siap sayang?” tanya Alby.


“Udah dari tadi. Ayah tuh lama banget, Misel sampai semutan nunggunya,” protesnya.


Alby terkekeh. “Maaf sayang. Biasanya itu Bundamu...”


“Bunda ngomel-ngomel lagi,” celetuk Misel. Alby hanya mengangguk sambil melajukan mobilnya meninggalkan kediamannya.


“Hemm... Pasti karena Ayah terus buat Bunda marah,” sambungnya membuat Alby melongo. Ia pikir Misel akan membelanya.


”Kok Ayah sih?” protes Alby.


Misel melipatkan tangannya di dada. “Iya, kalau pagi tuh sekarang Bunda ngomel-ngomel, karena Ayah itu tidak mandiri. Dasi aja minta dicarikan sama Bunda, minta dipasangin lah.”


Alby hanya nyengir kaku mendengar ucapan putrinya, seperti tengah membela Bundanya. Ia sampai merasa heran, Misel begitu menyayangi Rena.


“Terus tadi itu apa? Bunda sampai berteriak gak akan kasih lagi kalau Ayah minta. Emang Ayah minta apa?” sambungnya bertanya.


“Susu,” jawab Alby spontan.


“Susu? Bukannya Ayah itu gak doyan susu ya,” ujar Misel yang tahu kebiasaan Ayahnya.


Alby meneguk ludahnya, bingung bagaimana ia harus meralat ucapannya tadi. Ia merutuki diri yang bisa-bisanya kelepasan bicara. Kalau Rena tahu pasti udah ngomel panjang kali lebar, bahkan ia berani bertaruh satu halaman buku tidak akan cukup untuk menceritakan Omelan istrinya.


Misel mengangguk, tanpa sadar mobil sang Ayah sudah tiba di depan sekolahnya. “Ya udah nanti biar Misel aja yang kasih susu buat Ayah, kalau Bunda gak mau kasih,” ucap Misel membuat Alby melongo.


“Hah? Maksudnya?”


“Iya nanti Misel belikan Ayah susu kotak di kantin. Buat nemenin Ayah bergadang. Biar Bunda gak marah-marah lagi. Ayah gak perlu minta susu sama Bunda. Lagian kata Nany Ratri persediaan susu kotak di kulkas juga habis. Kebetulan tadi Bunda kasih uang saku lumayan, nanti Misel belikan susu kotak buat Ayah. Yang penting Ayah jangan buat Bunda marah-marah terus. Kasihan Bunda kan capek,” tutur Misel bak anak dewasa menceramahi Ayahnya.


Alby menjatuhkan kepalanya di kemudi, mendengar penuturan putrinya. Ya ampun! Susu kotak? Jadi geli sendiri membayangkan dirinya minum susu kotak. Tapi, daripada jadi panjang, lebih baik ia iyakan saja.


“Iya sayang. Makasih ya. Udah sampai, sana masuk,” ujar Alby.


Misel mengangguk, menyalami sang Ayah dengan takjim, sebelum kemudian berlalu pergi ke luar. Ia berlari masuk ke kelasnya. Melihat punggung putrinya sudah tak terlihat, Alby segera memacu mobilnya ke kantor, meninggalkan area sekolah putrinya.


🦋🦋🦋


Alena sudah tiba di rumah Rena dengan di antar oleh sopir, karena Ryan memang tidak memperbolehkan sang istri membawa mobil seorang diri.


“Alka i'm comming. Mami datang ini nak,” teriak Alena begitu masuk ke dalam rumah Rena.


“Mami-mami, Mami apaan? Mami girang!” omel Rena begitu keluar dari kamar tamu dengan mendorong stroller putranya.


“Mami mertua, Re. Masa cantik gini kok disamakan sama Tante genit sih,” protes Alena seraya mendudukan dirinya di sofa, kemudian tangannya hendak meraih pipi Alka. Namun, secepat kilat Rena menepisnya.


“Cuci tangan dulu,” titahnya dengan kedua mata yang melotot ke arahnya.


Alena menarik kembali tangannya, kemudian beranjak. “Gini amat punya calon besan. Mau apa-apa harus cuci tangan dulu. Gak sekalian ini muka cuci juga.”


“Bukan begitu, Le. Kulit bayi itu sensitif. Aku hanya jaga-jaga saja. Kelak kalau kamu udah punya bayi rasain sendiri deh,” bela Rena.


“Kamu sama kaya Marsy, Re. Aku aja sampai pusing,” dengusnya. Namun, tak urung ia pun berlalu ke dapur mencuci tangannya di wastafel. Setelahnya kembali ke ruang tamu.


“Sama apaan?”


“Suka yang bersih.”


Rena hanya mengangguk. Perempuan dengan balutan daster rumahan itu menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. “Kok mbak Miranda belum datang?” tanyanya.


“Kayaknya sih sekalian mau jemput Misel dulu deh,” tebak Alena.


Rena mengangguk. “Duh tapi kan dia lagi hamil begitu. Emang si Miko ngebolehin dia bawa mobil apa?”


“Bawa sopir lah, Re. Si Miko itu bucin akut mana boleh istrinya melakukan hal yang bahaya. Kalau aja ada nyamuk hinggap gigit mbak Miranda tuh ya, kalau bisa dia bakal hukum juga tuh nyamuk,” kata Alena yang berhasil membuat Rena tertawa. Tapi memang apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar, Miko itu begitu posesif pada istrinya. Mungkin karena dulu dapetin Miranda itu juga tidak mudah, makanya ia menjaga banget.