
Dua bulan kemudian.
Rena dan Alby sudah menjalani rutinitas seperti biasanya. Misel pun sudah kembali seperti sedia kala, sekolah dan bermain. Rena dan Alby bersyukur bisa melewati permasalahannya sampai tahap itu. Hingga kini mereka tak pernah mendapatkan kabar soal Miranda yang mendekam di penjara. Ardan hanya mengatakan untuk tak perlu khawatir, karena Miranda telah menerima balasannya.
Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari. Rena mengerjapkan kedua matanya, menoleh ke arah samping di mana sang suami masih tertidur dengan lelapnya. Tersenyum, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Rena beranjak dari ranjang, dan berlalu ke kamar mandi setelah sebelumnya mengambil sesuatu dalam laci.
Lima belas menit kemudian, Rena mendesah kecewa kala menatap benda pipih yang kini berada di tangannya. Salah satu tangannya meraba perutnya yang masih datar. Ia mengusap sudut matanya yang basah, mendadak ia menjadi semelow itu melihat hasil tes pack yang ia genggam, yang tak sesuai harapannya. Satu Minggu ia sudah telat datang bulan, ia pikir ada kemungkinan dia hamil. Ternyata semua hanyalah angannya saja, karena tes pack itu menunjukkan hasilnya yang hanya garis satu.
"Maaf ya bang," ucapnya lirih.
Semenjak pertengkaran dengan sang suami kala itu, Rena memang sudah tak meminum pil penunda kehamilan lagi. Tapi Rena justru mengganti isinya dengan vitamin. Ia pikir jika nanti hamil ia akan memberi kejutan untuk sang suami. Namun, ternyata harapannya belum terpenuhi sampai detik ini. Apakah ini balasan? Karena dulu ia pernah mengatakan pada Alby, jika ia tak ingin hamil. Lalu, di saat dirinya sudah mengharapkan penghuni di rahimnya, tak kunjung datang. Padahal Rena sudah memastikan kondisi rahimnya sehat, ia sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan.
Tok! Tok!
"Re?"
Ketukan pintu dan panggilan dari sang suami terdengar. Rena masih mencoba menarik nafasnya, menetralkan perasaannya.
"Re? Buka dong. Kamu mandi apa ngapain sih? Tumben pintunya dikunci segala. Perut Abang udah mulas ini, Re."
"Iya sebentar bang!" teriak Rena. Perempuan itu buru-buru membuang hasil tes kehamilan itu ke tong sampah. Lalu, menyalakan kran air dan mencuci tangannya, tak lupa membasuh mukanya. Setelahnya ia berlalu membuka pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka, Alby menatap istrinya heran.
"Kenapa bang?" tanya Rena.
"Abang kirain mandi, soalnya lama banget di kamar mandi," ujar Alby heran yang melihat istrinya masih keluar dari kamar mandi menggunakan piyama seperti semalam.
"Oh ini aku juga mulas bang. Ya udah Abang buruan masuk!"
Alby langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Rena berlalu mulai menyiapkan pakaian kerja sang suami. Kemudian berlalu ke kamar Misel memastikan putrinya itu sudah bangun apa belum. Setelahnya, ia berlalu turun ke bawah menuju dapur. Moodnya yang kurang bagus, ia pikir bisa melarikannya ke dapur dengan memasak.
Alby yang baru selesai membersihkan diri. Menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel seraya mengusap rambutnya menggunakan handuk kecil ditangannya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada benda kecil yang berada di tong sampah. Alby mengambil benda itu lalu melihatnya.
"Kok ada test pack kehamilan hasilnya negatif," gumam Alby. Ia kembali mengingat wajah istrinya yang tampak sendu saat keluar dari kamar mandi. Jadi, semua karena ini. Alby terdiam sesaat pikirannya mendadak bingung. Bukankah selama ini Rena selalu minum pil penunda kehamilan. Kenapa tiba-tiba ia melakukan tes kehamilan. Ini aneh menurutnya.
Lelaki itu buru-buru keluar dari kamar mandi. Tapi saat di kamar ia tidak juga mendapati istrinya. Ia pun buru-buru memakai pakaiannya.
Rena tengah membuat telor mata sapi untuk Misel. Tapi ia terus terdiam melamun, sesekali menghela nafasnya berat.
Bu Surti tengah meracik bahan-bahan yang akan di masak di meja. Tiba-tiba tercium aroma gosong.
Bi Surti baru akan berucap, tapi tiba-tiba Alby datang langsung mematikan kompornya.
Ceklek!
"Abang?"
"Kamu mau masak apa mau buat dapur kebakaran Re?" ujar Alby pada istrinya
"Aku-"
"Lihat telornya," titah Alby membuat Rena mengalihkan pandangannya ke arah telor yang berada di atas teflon.
Matanya membeliak. "Kok warnanya jadi gelap gini?" ringisnya.
Rena hanya menurut saat suaminya kembali menyeretnya ke kamar, dan mendudukkannya di atas ranjang. Lelaki itu beralih mengambil sesuatu di atas meja, lalu menunjukkannya pada istrinya.
"Ini apa sayang?" tanyanya.
Rena terkejut, mengulurkan tangannya mengambil benda pipih itu. "Alat tes kehamilan lah bang."
Alby menghela nafasnya, lalu mendudukan dirinya di sisi istrinya. "Abang tau, Re. Ini test pack, maksud abang kenapa kamu melakukan tes kehamilan? Bukankah selama ini kamu mengkonsumsi pil penunda kehamilan, pastilah hasilnya negatif."
Rena menggeleng. "Aku tidak pernah meminumnya lagi bang, sejak aku bertengkar sama Abang waktu itu."
"Lalu? Yang kamu minum?"
"Vitamin!" jawabnya membuat Alby melongo. "Re?"
Rena mengangguk. "Iya vitamin. Vitamin penyubur kandungan maksudnya agar aku cepat hamil, tapi ternyata." Rena tak lagi melanjutkan ucapannya ia menghela nafasnya.
"Kamu gak ngomong apa-apa sama Abang?" Alby mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Rena memainkan kukunya. "Niatnya aku pengen buat kejutan buat Abang gitu kalau program aku berhasil. Akhir-akhir ini aku sering telat datang bulan, aku sering cek ternyata hasilnya negatif terus bang. Padahal aku juga udah melakukan tes rahim, semua baik-baik aja bang. Kok aku belum hamil juga ya? Maafin Rena ya bang?"
Alby mengusap wajahnya. "Kamu masih kepikiran pertengkaran kita waktu itu ya?"
"Enggak bang. Cuma dari sana aku sadar bang. Aku juga pengen punya anak, dan lagi Misel pasti senang punya adik. Ada temannya. Kayaknya ini hukuman buat aku ya bang, karena waktu itu udah berniat nunda, dan ngomong gak enak ke Abang, jadinya gini deh," ucap Rena sedih.
Alby menoleh ke arah istrinya, lalu membawa kepalanya untuk ia sandarkan di pundaknya. "Kita masih banyak waktu, Re. Udah jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja seperti air mengalir, kamu fokusin skripsi kamu dulu, biar cepat lulus."
"Tapi katanya Abang udah tua?" seru Rena.
"Re!" geram Alby.
"Hemm."
"Yang tua kan usia Abang. Tapi energi Abang masih kaya anak muda kok."
"Masa sih?"
Alby berdecak langsung bangkit dan mengukung tubuh istrinya di bawah tubuhnya, membuat Rena spontan kaget.
"Mau bukti?" tantang Alby.
Rena tergelak, menepuk lengan suaminya, dan menggeleng. "Bangun bang. Udah siang juga, itu Abang juga udah rapi gitu."
"Gak apa-apa. Bisa mandi lagi, air masih banyak," ujar Alby seraya menurunkan kepalanya menjangkau bibir istrinya. Di saat bibirnya hampir menempel pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Tok! Tok!
"Bunda. Aku mau minta dikepang sama bunda?" ucap Misel.
Rena mendorong tubuh sang suami. "Minggir ih!"
Alby menggulingkan tubuhnya ke samping. "Anak itu emang hoby ganggu. Benar kata kamu kita emang harus segera punya anak lagi, biar dia ada mainan baru."
"Abang? Anak kok disamakan mainan!" Rena bangkit dari ranjang berdecak tak suka.
Alby hanya tertawa kecil. "Kamu bebas sekarang. Tapi nanti malam Abang sikat kamu habis sayang," ancamnya.