Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Baper Jadi Lapar



Kini, Alby mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, berkali-kali lelaki itu terus menarik nafasnya. Berusaha mengenyahkan kenangan buruk yang papa kandungnya ciptakan. Saat itu ia masih terlalu dini, namun rasanya luka itu begitu menganga. Bahkan ia masih ingat bagaimana ibunya berhari-hari menghabiskan waktunya untuk menangis. Sampai suatu hari entah bagaimana Soraya memutuskan untuk pergi dari rumahnya tanpa menunggu Galih pulang, sekaligus menggugatnya. Karena Soraya tak ingin menjadi madu, sekalipun Galih selalu mengatakan di pesan yang di kirim, bahwa lelaki itu terpaksa melakukan pernikahan itu karena di bawah ancaman sang ayah. Soraya tak peduli, baginya yang namanya pengkhianatan tak dapat ia maafkan.


Alby kembali menghela nafasnya, membuat Rena yang saat itu bersandar pada bahunya dan berselonjor di ranjang pun mengangkat wajahnya menatap suaminya. Ia yakin ada sesuatu yang tengah menganggu pikiran suaminya. Bahkan Rena melihat wajah suaminya yang nampak merah seperti menahan amarah.


"Pinggang aku pegel, Bang. Keberatan gak kalau aku minta pijitin?" pinta Rena.


Perempuan itu lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. Dengan posisi tubuh menyamping, agar Alby mudah memijatnya.


Sebenarnya ia tak sepenuhnya bohong, ia bisa merasakan pegal pada pinggangnya biasanya karena mau datang bulan juga. Selain itu ia juga ingin mengalihkan pikiran suaminya yang ia yakini saat ini tengah mengganggunya. Meski entah apapun itu.


"Sepertinya aku mau datang bulan bang."


Rena kembali berucap, membuat Alby menghela nafasnya dan kembali melabuhkan pijatannya dari pinggang lalu ke punggung istrinya dengan lembut.


"Ini mah bukan di pijat bang. Namanya dielus-elus. Aku lihat muka Abang tuh merah kaya marah, orang kalau marah kan biasanya kasar. Ini kok lembut banget, kaya waktu Abang dorong mbak Miranda itu loh," keluh Rena.


"Abang harus bisa kontrol emosi kalau lagi sama kamu, Re. Sekalipun Abang sangat marah, pantang bagi Abang untuk melakukan kekerasan pada perempuan yang Abang cintai."


Rena tersenyum, memejamkan matanya menikmati pijatan tangan sang suami yang mulai teratur, tak selembut tadi, yang pasti itu lebih berasa. Rena merasa nyaman sekali.


Sebenarnya tadi ia sudah tidur di kamar Misel, tapi entah bagaimana ia bangun dan menyadari ia ketiduran di kamar putrinya, Rena berlalu ke kamarnya. Namun, sampai di kamar ia tak mendapati suaminya di sana. Ketika membuka pintu balkon kamarnya, ia melihat suaminya tengah berada di bawah bersama ibu mertuanya. Rena merasa heran melihat gelagat suaminya yang begitu marah, karena ia tau suaminya tipikal lelaki yang emosional. Rena buru-buru turun ke bawah menghampirinya.


"Aku tidak tau apa yang terjadi pada Abang dan ibu. Tapi satu hal yang pasti, Abang harus pandai mengatur emosi saat berbicara dengan ibu. Rena gak mau melihat ibu menangis."


Gerakan tangan Alby terhenti. Dan Rena lalu berbalik perlahan, kemudian bangkit dari pangkuan sang suami.


"Ibu bertemu dengan Ayah, Re."


"Bang?"


"Abang marah, Re. Kenapa Ibu masih mau menemuinya, padahal lelaki itu seorang pengkhianat. Dia pernah menghancurkan ibu sehancur-hancurnya," jelas Alby.


Rena menatap suaminya dengan sendu, ia paham bahwa suaminya kembali merasa terluka. Dan permasalahan sang ayah mertuanya pun ia tau, karena sebelum Soraya sudah menceritakan masa lalunya.


"Bang, sudah ku katakan jangan berbicara menggunakan otot. Gunakan akalmu bang. Kamu bisa berbicara dengan ibu secara baik-baik, tanpa harus memotongnya dengan kaitan masa lalu. Seperti apapun mantan suami ibu, dia tetaplah ayah kandungmu. Aku tidak ingin kamu menyesal. Jika dulu dia jahat, kamu pun tidak boleh menjadi orang yang jahat. Ingatlah saat ini kamupun seorang Ayah, dan suami," ucap Rena lembut sambil menyentuh wajah putih suaminya. Mengusapnya lalu turun ke arah rahang.


"Coba bang kamu bayangin kalau anak kamu nanti benci kamu juga gimana?" seru Rena lagi dengan mimik wajah yang lucu. Hal itu membuat Alby mulai terkekeh.


"Hemm, tapi Abang nyakitin ibu. Aku gak suka Abang marah-marah, Abang tuh jelek kalau marah kaya Monster."


Alby melototkan matanya mendengar dirinya di samakan Monster. Sementara Rena tertawa kecil melihatnya.


"Jelek banget sih."


"Makanya Abang jangan marah-marah!"


"Iya nanti Abang minta maaf sama ibu. Dan bicara baik-baik dengannya. Hemm Istri siapa sih ini, kok pintar banget nasehatinnya?" Ucap Alby gemas seraya menjawil hidung istrinya.


"Istrinya Alby," sahut Rena sambil tertawa.


"Aku ambilin minum dulu ya buat abang, biar gak tegang," sambungnya. Perempuan itu berniat untuk bangkit dari tempatnya. Namun, dengan cepat Alby kembali menarik tangan istrinya. "Di sini saja, Re. Abang gak haus," pintanya membuat Rena menurut. Perempuan itu merebahkan tubuhnya di ranjang, Alby pun melakukan hal yang sama. Kemudian keduanya sibuk dengan pemikirannya masing. Rena tak mengerti apa yang tengah suaminya pikirkan. Perempuan itu mengubah posisinya menyamping, menatap wajah suaminya, yang menurutnya semakin tampan setiap harinya. Rena merasa selalu jatuh cinta padanya.


Alby melirik ke arah istrinya yang tengah tersenyum sendiri saat menatap dirinya. "Kenapa hanya dilihat? Di sentuh juga dong?"


"Hah?" Rena mengerjap bingung.


Alby langsung mengubah posisinya menjadi menyamping saling berhadapan dengan istrinya. Kemudian ia mengambil tangan istrinya untuk ia letakkan di pipinya.


"Seperti ini," ujar Alby menuntun tangan istrinya untuk terus mengusap wajahnya turun ke rahang, lalu ke dada, kemudian ke perut dan bagian bawah perutnya yang memang sudah tampak menonjol.


"Abang?!" Pekik Rena baru menyadari bahwa suaminya tengah modus, membuat Alby tertawa. Perempuan itu buru-buru menarik tangannya, namun sialnya Alby justru menahannya.


"Tanggung jawab Re. Untuk tidurkan dia, kamu sih udah pegang-pegang."


"CK! Baperan banget sih. Suruh tidur sendiri lah bang. Udah gede juga!" omel Rena.


"Iya gede, karena kamu pegang-pegang. Ayo lah sayang?" pinta Alby.


Rena menggeleng. "Gak ah. Aku ngan- emmmmhhhhh." Belum sempat Rena melanjutkan ucapannya. Alby lebih dulu membungkam bibir istrinya dengan ciumannya. Rena berusaha memberontak, karena ia merasa hampir kehabisan nafas.


"Abang ih!" decak Rena kala suaminya telah melepaskan pangutan bibirnya. Nafasnya masih memburu. "Bang?"


"Hem... Sebentar saja sayang. Dia udah terlanjur baper terus jadi lapar. Kasihani dikit ya?" ujar Alby kembali melanjutkan niatnya, tanpa menunggu persetujuan istrinya. Lelaki itu langsung memasukkan tangannya di balik piyama istrinya, meraba dari perut hingga ke da da yang masih terbungkus rapi. Alby menarik sedikit tubuh istrinya hingga menjadi miring, kemudian meraba bagian punggungnya demi melepaskan penahan ke dua bukit kembar istrinya. Rena hanya diam pasrah menikmati segala sentuhan suaminya. Lelaki itu memang paling pandai menggodanya, agar hasrat istrinya pun juga ikut bangkit. Alby mulai melepaskan satu persatu kancing piyama istrinya.