
Alby memijat kepalanya yang terasa pening. Semalam ia tak begitu dapat memejamkan matanya, setelah mendengar obrolannya dengan Rena. Rasa khawatir itu memuncak. Ya setelah pulang dari pasar malam, perempuan itu menceritakan segala kejadian yang beberapa kali membuatnya merasa gelisah. Di mulai dari kejadian di restoran, hingga kejadian kemarin saat di sekolah Misel. Perasaan khawatir itu mulai mengusik dirinya.
"Abang pernah gak kepikiran kalau nanti Mbak Miranda itu bakal kembali, kemudian berusaha mengambil apa yang pernah ia miliki?" tanya Rena tiba-tiba.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya balik Alby yang cukup terkejut mendengar perkataan istrinya.
"Hanya ingin bertanya. Terserah Abang mau jawab apa gak."
Alby menghela nafasnya berat, lalu tersenyum penuh arti. "Memang apa yang pernah ia miliki. Hingga membuat ia terpikirkan untuk kembali dan mengambil miliknya. Dia tidak pernah memiliki apapun, selain sebuah kenangan buruk. Dan itu sudah ku kubur dalam-dalam."
Rena tersenyum, sepenuh hati ia percaya pada sang suami. "Itu Abang. Bagaimana dengan Misel?"
"Maksudmu?"
"Bila tiba masanya Misel mengetahui kebenarannya tentang ibunya. Apakah ia akan dibawa olehnya."
Pias, wajah Alby langsung berubah masam, tak menyukai perkataan Rena. "Tidak akan! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Re. Lagian untuk apa tiba-tiba kau membahas perempuan itu, ini membuat mood ku jelek."
"Aku memang pernah bertemu langsung dengan ibu kandung Misel sebelumnya. Tapi, entah kenapa sejak kejadian di toilet restoran, saat itu aku tak sengaja menabrak tubuh seorang perempuan, ketika tatapan mata kami bertemu aku terkejut bang. Bola mata itu begitu mirip dengan Misel. Selain itu wajahnya juga ada sedikit kemiripan darinya."
Alby terdiam sedikit tersentak mendengar cerita Rena. "Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?"
"Tadinya ku pikir itu hanya alibi ku saja, tapi tadi pagi saat aku menjemput Misel. Anak itu berlari ke arahku dengan ketakutan, ia bilang seorang perempuan memaksa dirinya untuk menerima coklat dan permen. Tapi ketika aku berusaha mencarinya tidak ada orang itu. Entah kenapa firasat ku mengatakan jika itu ibunya Misel bang. Aku takut bang... Mendengar ceritamu jika kehadiran Misel saja dulu tak diinginkan olehnya. Lantas tujuan apakah jika ia kembali mendekati Misel. Mungkinkah ia ingin membuat putri kita celaka bang."
Kini, Alby menyentak nafasnya. Sudah dua jam yang lalu ia berdiam diri di ruang kerjanya. Tapi, tak sedikitpun ia menyentuh berkas atau membuka laptop miliknya seperti biasanya. Alby terlalu larut dalam lamunannya tentang obrolannya dengan istrinya.
Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Alby begitu pintu ruangannya diketuk dari luar.
Ceklek!
Angel seorang karyawan yang berada dalam bagian humas masuk dengan sopan. Hari ini ia sengaja menggantikan posisi Milea untuk sementara, karena perempuan itu sedang meminta libur selama tiga hari. "Pak, ada tamu untuk anda," ucapnya.
"Siapa?"
"Perempuan, dia tidak mengatakan identitasnya. Ia hanya bilang kemari karena ada perlu dengan anda."
Alby terdiam sesaat, mencoba menebak tamu yang Angel maksud. Seingatnya ia jarang mempunyai klayen seorang perempuan.
"Baiklah suruh dia masuk!" titah Alby kemudian.
"Baik Tuan!" Angel membungkuk dan pamit dengan hormat.
Setelah berlalunya Angel. Alby mencoba mulai membuka laptop miliknya. Ia pikir tidak akan berguna jika ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun. Jika ucapan Rena benar adanya, ia hanya harus menempatkan beberapa pengawas untuk menjaga Misel terhindar dari bahaya.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, sosok perempuan cantik berambut pirang melangkah masuk dengan anggun.
Alby mengangkat wajahnya, menatap ke arah sumber suara. Detik berikutnya ia terbelalak, melihat perempuan yang menyebabkan luka dihatinya itu kini melangkah ke arahnya. Miranda? Ya perempuan kembali datang menemuinya entah untuk tujuan apa. Saat ini kebencian telah melekat dalam diri Alby untuk perempuan itu.
"Jangan mendekat!!" sergah Alby seraya mengangkat tangannya, meminta Miranda untuk berhenti.
"Al.. aku hanya-"
"Tutup mulutmu. Aku tidak menginginkan sepatah katapun keluar dari mulutmu. Karena setiap kata yang kau lontarkan, akan menambah kebencianku padamu!"
Jleb!
Miranda memalingkan mukanya, wajahnya berubah muram. Mendapati lelaki yang dulu sangat mencintainya kini justru teramat membencinya.
"Aku kembali."
"Aku tidak memintamu untuk kembali!" sarkas Alby, yang kembali membuat perempuan cantik di depannya terhenyak. "Bahkan sekalipun kau menghilang, dan musnah dari muka bumi ini aku tidak akan peduli!" tambahnya kemudian.
Miranda tertunduk sedih, ia tersenyum getir. "Tapi Misel membutuhkan diriku," belanya.
Alby tertawa mendengarnya, merasa lucu dengan ucapan Miranda. Lelaki itu menatap mantan istrinya dengan tatapan tajam. "Siapa bilang?" tanyanya marah.
"Aku."
"Bahkan sejak ia lahir ke muka bumi ini sampai kini ia berusia hampir lima tahun, tak pernah ia bertanya siapa ibunya. Dan perlu kamu ketahui sebelum dia mengetahui kebenarannya, aku sudah mengatakannya lebih dulu, bahwa ibu kandungnya telah tiada!" ejek Alby yang tak sepenuhnya benar. Karena Misel pernah menanyakan perihal ibu kandungnya tepat di ulang tahunnya yang ke empat tahun kemarin, hingga membuatnya nekat berbohong menunjukkan foto Rena.
"Tega kau, Al. Aku ibunya, aku ini masih hidup, untuk apa kau katakan jika aku sudah mati!" teriak Miranda meraung, suaranya bahkan memenuhi ruangan itu.
"Karena bagiku dan putriku, kau memang sudah mati!" pungkasnya.
Miranda meluruhkan tubuhnya ke lantai, seiring dengan tangisnya yang menggema. Alby hanya terdiam acuh, bahkan sekalipun perempuan itu menangis darah, tak akan hatinya kembali melunak.
"Pergilah! Karena aku dan Misel tidak membutuhkanmu," usir Alby muak.
Miranda mengusap air matanya, kembali berdiri menatap Alby dengan pandangan melas. "Tolong Al. Ijinkan aku untuk menemui putriku. Aku sungguh menyesal, biarkan aku menebus kesalahanku sebagai seorang ibu!" Miranda melangkah mendekati Alby dengan cepat, dan hendak memegang lengannya. Tapi secepat kilat Alby menepisnya. "Jangan menyentuhku, Nona Miranda. Tanganmu itu terlalu berharga untuk menyentuh lelaki yang tak berpunya seperti diriku ini."
"Oke. Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi, tolong Al ijinkan aku menemui Misel!"
"Tidak akan! Bahkan berani seujung kuku pun kau menyentuh putriku, aku akan memberi pelajaran yang akan membuatmu mengingatnya sepanjang hidupmu!" ancam Alby.
"Al? Kenapa kau tega sekali. Aku datang baik-baik, dengan maksud yang baik. Tak ku sangka kau sangat sombong!" sergah Miranda.
"Menghadapi perempuan seperti dirimu itu memang harus dengan hati yang tega dan penuh kesombongan. Sudahlah pergilah sana, jangan pernah temui aku dan putriku. Karena aku tak pernah percaya padamu. Kebaikanmu itu selalu menyimpan maksud terselubung di dalamnya." Alby mengibaskan tangannya untuk meminta Miranda keluar.
Miranda mengepalkan kedua tangannya, "sombong kau sangat sombong Alby. Kau bukan Alby yang dulu ku kenal!"
"Ya memang, Alby yang dulu itu sudah mati!"
"Ingat, Al. Aku tidak akan berhenti sampai di sini. Bahkan jika aku harus melakukan tahap jalur hukum pun akan aku tempuh, demi mendapatkan putriku kembali!" sentak Miranda sebelum berlalu keluar.