
“Bang, apa gak sebaiknya kita jemput Misel aja ya?” ujar Rena kala sang suami baru tiba di rumah.
Lelaki yang tengah melepaskan arloji di tangannya itu menoleh pada istrinya yang tengah duduk di pinggir ranjang. ”Lho kenapa? Misel kan lagi kangen sama Mamanya biarin aja,” serunya seraya mendekati istrinya lalu memeluknya dari samping. “Mendingan kita pacaran aja. Mumpung gak ada yang ganggu,” sambungnya seraya menaikan alisnya menggoda.
Rena segera mendorong tubuh suaminya. “Apaan sih Abang ini. Baru juga pulang pikirannya udah kesana aja.”
Alby tertawa kecil, seraya beranjak melepaskan jas di tubuhnya. “Aku mandi dulu deh, nanti baru aku tengok.”
“Nengok siapa? Misel ya bang.”
Lelaki itu kembali duduk, kemudian mengusap perut buncit istrinya. “Nengok yang di dalam sini lho sayang.”
Rena terperangah mendengarnya. “Ihh Abang mah aku lagi ngomongin Misel juga. Kirain mau jemput dia,” cetusnya.
“Buat apa sih? Misel kan lagi di rumah Mamanya, biarin aja. Orang lagi senang-senangnya punya Papa baru, biarin aja ngerecokin Miko.”
“Nah justru itu bang. Aku takutnya ganggu kebersamaan Miko dan Mbak Miranda. Abang kan tahu mereka pengantin baru.”
“Gak ada orang tua yang keganggu dengan kehadiran anaknya sayang.”
“Tapi bang. Miko kan baru sembuh, dan beberapa hari ini mereka sangat sibuk, pasti jarang menghabiskan waktu. Mungkin saja kan mereka lagi senang-senangnya ehem-ehem.”
Alby terbahak mendengar ucapan istrinya. “Apa itu ehem-ehem?” godanya.
“Tahu ah. Abang kok jadi ngeselin gini, sana mandi,” usir Rena dengan kesal. Padahal ia yakin suaminya itu tahu apa yang ia maksud. Perempuan itu memilih berniat beranjak, namun Alby dengan cepat menahan tubuhnya. Hingga membuat Rena terjatuh di atas pahanya.
“Iya Abang ngerti kok. Udah gak usah ngambek-ngambek. Daripada mikirin ehem-ehem orang lain, mendingan kita ehem-ehem sendiri gimana?”
Rena melototkan kedua matanya, kemudian memukul dada sang suami. “Ehem-ehem aja sendiri. Aku lapar mau makan, dari tadi nungguin Abang juga. Sampainya rumah bukannya langsung mandi malah goda-goda.”
Rena beranjak dari pangkuan sang suami menuju lemari, ia menyiapkan pakaian Alby. “Mandi bang. Rena tunggu di bawah ya.”
“Iya sayang!”
****
Miko mengerucutkan bibirnya kesal. Lelaki itu tengah duduk di sofa seraya memangku laptop miliknya, sesekali pandangannya akan mengarah ke arah ranjang. Di mana sang istri masih setia bermain, bercanda dengan Misel. Sudah pukul sepuluh malam, namun anak itu gak kunjung terlelap. Bahkan tanda-tanda ngantuk saja belum terlihat. Kalau begitu acara praktek mantap-mantapnya bisa gagal lagi.
“Benar-benar deh ini Pak Alby mah gak ngerti juga, pengantin baru itu sukanya apa. Aku bukannya gak suka Misel datang. Hanya saja, rencana mantap-mantapku jadi gagal lagi. Mana gak tidur-tidur lagi,” keluhnya jari jemarinya terus menari di atas keyboard, pandangannya terus tertuju ke arah ranjang, sementara mulutnya terus mendumel.
Hingga saat matanya kembali tertuju pada monitor laptopnya langsung terbelalak. “Astaga!” pekiknya terkejut mendapati tulisannya berantakan.
“Kenapa sayang?” tanya Miranda dengan wajah terkejut.
“Gak apa-apa sayang. Kamu lanjutin aja. Ini cuma ada kesalahan sedikit, aku kembali ke kamar aja.” Miko menutup laptopnya dan beranjak menuju kamarnya. Karena barusan ia memang tengah berada di kamar Misel. Ia pikir bekerja memang membutuhkan keadaan yang tenang.
“Bisa-bisanya aku malah ngetik adegan mantap-mantap, dikira mau nulis novel esek-esek. Untung istriku gak tau,” sungut Miko tak habis pikir jika otaknya ternyata begitu mesum.
Hingga waktu beranjak semakin malam, tak terasa jam Beker di atas nakas sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Miko menoleh ke arah pintu yang masih tertutup rapat, istrinya tak kunjung kembali ke kamar, ia menduga istrinya pasti tertidur di kamar Misel.
Namun, sudah setengah jam kemudian ia tak kunjung dapat memejamkan kedua matanya.
“Sial! Perkara tidur sendiri aja ini mata gak mau merem,” umpatnya seraya mengubah posisinya menjadi duduk. Bahkan ia sampai memukul kepalanya dengan bantal. Kemudian menenggelamkan kepalanya di atas bantal. Namun, tetap saja tak kunjung terpejam.
“Ah gak bisa. Kalau begini caranya, aku bisa kesiangan,” katanya seraya beranjak dari tempat tidurnya. Lelaki itu memilih kembali menghampiri istrinya. Sampai di sana ia melihat Miranda sudah terlelap dengan posisi yang tak beraturan, begitu juga dengan Misel yang terlelap tanpa selimut, bahkan banyak mainan di atas ranjang belum di bereskan.
Miko memilih membereskan mainan Misel lebih dulu, mengembalikannya ke tempat semula. Setelahnya ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Misel.
Kemudian ia beranjak ke sisi istrinya, Miko mengangkat tubuh istrinya berniat memindahkannya ke kamar.
“Eughh...”
“Tidur lagi aja,” seru Miko kala kedua mata istrinya hendak terbuka akibat guncangan yang ia lakukan saat menggendongnya. Miranda pun kembali memejamkan kedua matanya.
Miko membaringkan tubuh istrinya dengan pelan, ia pikir keinginan mantap-mantapnya bisa di tunda, masih ada waktu besok.
Namun, pikirannya itu buyar kala melihat pakaian istrinya tersingkap hingga memperlihatkan paha mulusnya, putih tanpa noda. Tak sadar ia menelan ludahnya sendiri. Hingga kemudian ia merasakan tubuhnya memanas, seiring sesuatu dalam celananya meronta untuk keluar.
“Sialan. Cuma lihat pahanya, si Joni udah bangun aja,” umpatnya gusar. Ia masih mencoba menahannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, dan ia memaksa mencoba memejamkan kedua matanya.
Namun, gagal saat otaknya justru terus berfantasi liar, membuat ia bergerak dengan gusar, tapi sang istri tetap saja tidak terganggu. Miranda tetap saja terlelap.
“Tega banget sih Yank. Suamimu tersiksa ini,” keluhnya.
Beberapa detik kemudian terbesit sebuah ide dalam otaknya. Dengan senyum smirk ia mulai menjalankan idenya.
Miko merapatkan tubuhnya, menghujani istrinya dengan kecupan, sengaja agar Miranda terganggu. Namun, bukannya membuka matanya, Miranda justru berbalik memunggunginya.
Ia tak kunjung menyerah, kali ini ia menyibakkan rambut istrinya, mengecup bagian lehernya. Kemudian tangannya bergerak untuk menarik resleting pakaian istrinya yang di belakang, hingga membuat pundak putihnya terkespos. Miko tersenyum senang, dan mulai melabuhkan kecupan dan sentuhan lembut di sana.
Miranda yang merasakan hawa dingin dari pundak dan punggungnya akibat telusuran lidah sang suami, pun menggeliat dan membuka matanya.
“Sayang, kamu–”
.
.
.
.
.
Tahan dulu oke tahan dulu.. Jangan lupa tekan like, vote, hadiah, dan beri komentarnya. Biar aku semangat, terima kasih