Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Semua Karena Papa



Rena dan Alena tengah makan bersama di kantin rumah sakit. Alena yang memang dasarnya hanyalah menjadi ibu rumah tangga, saat itu berniat untuk menjenguk suaminya yang sedang bekerja, karena ia mengeluh bosan. Sementara kedua mertuanya sedang berada di luar kota.


"Miko, apa kabar ya? Aku kok gak pernah dengar kabarnya, setelah aku menikah," ujar Alena yang tiba-tiba merindukan sahabatnya yang sedikit tengil itu.


"Ya lah pengantin baru mana tau kabar sahabatnya," celetuk Rena.


"Masry itu keterlaluan, Re. Masa selama dia cuti ponsel aku disembunyikan. Katanya biar aku fokus ke dia, apaan coba!" kata Alena mendengus.


Rena terkekeh. "Ya wajar dong namanya manten baru, masih hangat-hangatnya."


"Kok bahasa kamu sama sih kaya Masry."


Rena menaikkan alisnya. "Tapi berhasil kan. Gimana kado aku udah di pakai?"


Alena berdecak, namun tak urung mengangguk. "Udah. Kata Masry buat susah aja, akhirnya disobek deh gaunnya."


Rena terbahak mendengarnya, karena ia memang memberi kado pada Alena sebuah lingerie yang sama persis seperti dulu ia pakai.


"Aduh keceplosan. Padahal kata Masry aku gak boleh cerita-cerita beginian. Jangan ngadu ya, Re?" ujar Alena.


Rena hanya mengangguk, seraya mengusap perutnya yang tampak begah. "Terkahir aku Miko mengabari aku waktu di Bali, katanya ada kerjaan di sana. Maklumlah wakil Direktur pasti sibuk. Tapi, kok ini tumbenan ya anak itu gak chat," ujar Rena.


Alena mengangguk, karena ponsel miliknya itu sepi. "Mungkin lagi kerja Re. Positif thinking aja deh, atau gak lagi gangguin mbak Miranda," ujar Alena yang membuat Rena mengangguk.


"Re nanti kalau aku punya anak. Kita jodohin ya anak-anak kita?" tawar Alena.


Rena menggeleng membuat Alena mencebik kesal.


"Aku gak mau nentuin hal begituan, Le. Karena aku ingin yang terbaik untuk anakku nanti. Siapapun jodohnya nanti, aku akan mendukungnya."


****


Miranda merasa jengah. Saat lagi-lagi ia harus menghadapi sikap Miko yang sejak tadi terus mengikuti pergerakannya. Ia pikir setelah kejadian semalam, Miko akan berhenti mengejar dirinya. Namun, semua praduganya salah, lelaki itu justru tak hentinya menyerah. Bahkan sejak pagi ia sudah berada di sana, mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Miko berhentilah bersikap kekanak-kanakan!" sergah Miranda kesal. Karena lelaki itu terus mengikut dirinya yang sedang merapikan butiknya. Bahkan Eva sampai menggeleng heran, namun ia berpura-pura tak peduli tak ingin ikut campur permasalahan Miranda.


"Terserah apa katamu. Aku gak akan berhenti sampai kamu itu benar-benar kembali padaku!" kekeh Miko.


Miranda menghela nafasnya menoleh ke arah lelaki itu. "Kamu itu egois!"


"Mbak juga egois. Seenaknya saja memutuskan hubungan kita, tanpa aku tahu kesalahanku itu apa?" sahut Miko tak mau kalah.


Miranda meremas salah satu pakaian yang terpajang rapi di sana. "Bukankah sudah ku katakan alasannya kemarin?"


"Aku tidak percaya. Aku yakin mbak itu menyembunyikan sesuatu dari ku."


Miranda tertegun sejenak, wajahnya menggelap, ia menunduk menyembunyikan keadaan hati sebenarnya. "Pergilah Miko. Tidak ada apapun yang ku tutupi darimu. Semua yang ku katakan itu benar adanya. Sadarlah... Bahwa kita itu berbeda."


"Apa yang berbeda? Kita bahkan berpijak pada bumi yang sama. Mempunyai langit yang sama, tuhan yang sama. Tidak ada yang membedakan antara kita!"


"Banyak! Banyak perbedaan antara kita Miko. Kau itu hanya terlalu berambisi padaku. Pergilah cair kebahagiaanmu. Banyak gadis di luar sana yang jauh lebih baik dariku. Jangan kau habiskan waktumu hanya untuk perempuan seperti diriku. Kau harus sadar aku bukan yang terbaik. Aku ini mantan napi Miko. Tolong pergilah!" pinta Miranda. Ia hampir putus asa kala menghindari lelaki itu.


"Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Bisakah kau lihat ketulusan aku?" ujar Miko dengan tatapan mata sendu.


Miranda menoleh menatap lelaki itu sesaat. Ia pun paham tidak ada kepura-puraan dalam diri Miko, sebuah pancaran ketulusan tersirat di matanya. Namun, sekali lagi ia harus segera menghempaskannya pikirannya jauh.


"Aku tidak takut di pecat Papa, tapi aku lebih takut kehilanganmu mbak. Aku tidak peduli dengan semuanya."


Miranda tersenyum getir, sebesar itukah perasaan Miko untuknya. Sesaat ia merasa sama sekali tidak pantas.


"Mik-"


"Mbak?" Miko mengangkat tangannya kanannya berniat mengusap wajah Miranda. Namun, gerakannya terhenti saat dengan cepat perempuan itu menangkap tangannya.


"Kenapa dengan tanganmu? Kenapa bisa sampai di perban seperti ini?" cecar Miranda dengan wajah cemas.


Miko tersenyum menikmati gurat wajah khawatir Miranda, jujur ia merasa tersentuh dan yakin bahwa perempuan itu memiliki perasaan yang sama. "Kenapa kau malah tersenyum?" tanya Miranda lagi.


"Karena aku senang, ternyata kau masih peduli padaku. Berarti semua yang kau katakan tadi adalah-"


"Itu fakta Miko. Pergilah!" Miranda menyentak tangan Miko mengusirnya lelaki itu. Kemudian, ia berlari dengan cepat menuju ruang kerjanya, menguncinya dari dalam. Miko berusaha mengejar dan memanggil namanya. Tak peduli sekalipun saat itu ada beberapa customer yang tengah berbelanja.


Beberapa menit kemudian, ia tak membuahkan hasil. Lelaki itu memilih pergi dari sana. Di sisa kewarasannya ia masih menjaga usaha Miranda, untuk tak menciptakan kebisingan akibat teriakan dirinya. Miko berjanji akan segera kembali.


****


Irawan tiba di rumahnya dengan wajah memerah, ia merasa marah dan kecewa saat lagi-lagi putranya kembali berulah. Miko bahkan sengaja tak datang ke kantor. Amira datang membawa secangkir teh untuk menenangkan suamimya.


"Kemana anak itu? Kenapa justru masuk ke kantor?" seru Irawan kesal.


Amira menggeleng. "Mungkin dia sedang lelah, Pa."


"Tidak, dia pasti sengaja. Anak itu benar-benar keterlaluan, membuatku malu saja. Aku hampir gagal mendapatkan proyek, gara-gara dia tidak datang ke kantor!"


Amira terdiam mengingat sikap putra sambungnya sejak semalam. "Kayaknya dia lagi ada masalah, Pa. Aku lihat wajahnya lesu gitu, kaya orang putus asa dan patah hati."


Ucapan istrinya membuat Irawan menghentikan gerakan minumnya. Lalu ia tersenyum tipis.


"Kenapa Papa malah tersenyum?" tanya Amira heran.


Irawan meletakkan cangkir minumannya kembali ke atas meja. "Tentu saja. Itu berarti Miranda menuruti perintahku."


"Maksudnya?"


"Aku memintanya untuk menjauh dari Miko. Kamu tau sayang, usia Miko dan dia itu begitu jauh. Lagian aku juga tidak mau mempunyai menantu seorang mantan napi!"


Amira terperangah mendengarnya, menatap sang suami tak percaya. Ia menggelengkan kepalanya. "Pa? Kau serius melakukan hal itu?"


"Tentu saja sayang. Bukankah itu yang terbaik untuk Miko."


"Salah!" sergah Amira cepat.


"Bagaimana bisa kau tega memisahkan putramu dari kekasihnya itu. Miranda adalah sumber kebahagiaan Miko, karena perempuan itu putramu bahkan mau menginjakkan kakinya di kantormu, karena Miranda ia mulai menerimaku. Lalu, kau dengan teganya melepaskan sesuatu yang menjadi sumber kebahagiaannya? Kenapa kau justru memisahkan mereka Pa?"


Prang!!!


Sebuah guci tepat di ruang tamu pecah. Membuat keduanya serentak menoleh, dan terkejut.


"Jadi, semua ini karena Papa?"