Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Ku Pikir Kamu Berbeda



Entah asaku yang terlalu memuncak


Ataukah diri ini yang terlalu egois


Menggapai dirimu


Alby Dharmawan


****


Rena meluruhkan tubuhnya di lantai, seraya menangis tersedu-sedu, seusai kepergian suaminya yang ia sendiri tak ketahui entah kemana lelaki itu.


"Abang mau kemana, bang?" lirihnya. Rena meraung. Memukul dadanya yang terlalu sesak. Seiring dengan otaknya yang terus terbayang dengan pertengkaran sang suami tadi. Untuk pertama kalinya, Rena merasakan tatapan kecewa dari lelaki, seakan ada luka yang menyayat hatinya. Sebuah perasaan kecewa melebihi saat lelaki itu tengah merajuk karena cemburu. Bahkan Rena melihat Alby beberapa kali mengusap kedua matanya. Sungguh Rena lebih menyukai lelaki itu bersikap over lalu mengatakan segala keinginannya, daripada tiba-tiba berkata maaf lalu berlalu pergi meninggalkan kesedihan untuknya seperti ini.


"Pulang bang? Rena akan jelasin semuanya," lirihnya. Entah kenapa ia merasa menyesal telah berani berkata dengan begitu lantang dihadapan sang suami. Hal yang selama ini pantang untuk ia lakukan. Dan perkataan terakhir telah berhasil menancapkan rasa kecewa pada lelaki itu. Perkataan yang menimbulkan Alby berpikir ke arah yang lebih negatif. Rena mengaku salah. Tapi? Bukankah harusnya ia pun bisa marah, Alby yang lebih dulu memulai. Harusnya jikapun Alby menginginkan seorang anak. Ia bisa berkata lebih dulu pada Rena, tanpa membuat keputusan sepihak. Yang akhirnya menimbulkan pertengkaran seperti ini.


Rena terus menangis, seraya menyandarkan tubuhnya ke ranjang. Wajah dan rambutnya tampak begitu berantakan, karena ia belum sempat membersihkan diri. Seandainya tadi ia tidak ingat tubuhnya hanya berbalut selimut, tentu ia akan mengejar sang suami, mencegahnya pergi.


****


Alby terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan, dengan tujuan yang tak pasti.


"Tapi aku tidak ingin hamil???!!!"


Perkataan yang terlontar dari mulut istrinya, terus menggema menjadi bayangan untuknya sepanjang jalan. Hingga membuat dirinya tak fokus.


Tin...tin..


Kedua mata Alby terbelalak, mana kala ia hampir menabrak mobil yang melintas di depannya. Dan dengan cepat ia membanting stir kemudinya ke ke arah samping. Membuat mobilnya berhasil menghantam sebuah pohon kecil, hingga membuat mobilnya terhenti.


Citt... Brakk!


Nafas Alby memburu, beruntung ia bisa selamat. Ia mencengkram kemudinya. Menyandarkan kepalanya di stir kemudinya. Alby memijat kepalanya, matanya nampak memerah, dan tak lama ia merasakan lelehan yang hangat mengalir dari sudut matanya.


Ia terkekeh geli menyadari dirinya kembali menangis, seperti merasakan luka yang lama. "Aku pikir kamu berbeda, Re? Apakah ini hanya aku yang terlalu berharap?" lirihnya.


Alby merasa dadanya sesak, kepalanya terasa pusing. Kala perkataan istrinya terus terngiang, menjadi bayangan di otaknya.


"Tapi aku tidak ingin hamil???!!!" Lima kata yang mampu menggores hati Alby terasa perih, seakan jantungnya seperti ditikam belati yang teramat tajam. Sebuah perkataan yang sama sekali tak Alby inginkan. Kata-kata yang kembali membuat Alby seperti mengulang luka lama.


Lima tahun yang lalu


Suara tangisan seorang bayi begitu menggema di ruang operasi persalinan. Alby menangis haru ketika mendengar putrinya lahir dengan selamat berikut dengan ibunya.


Beberapa jam setelah dibersihkan, dan juga sang ibu dipindahkan ke ruang perawatan. Suster membawa bayi mungil yang masih berwarna merah itu kesana, karena sudah waktunya untuk menyusui. Alby dengan senang menerimanya, menggendongnya, lalu membawanya ke sisi Miranda-istrinya.


"Ayo sayang. Ini putri kita namanya Misel, kayaknya haus. Kamu beri ASI dia dulu ya," ujar Alby lembut pada istrinya yang masih berbaring di atas brankar dengan malas.


"Itu putrimu bukan putriku!! Jadi kau susui saja sendiri. Aku tak sudi memberikan asi padanya," jawab Miranda acuh.


Lelaki berkaos navy itu terkejut mendengarnya, tak menyangka jawaban istrinya akan seperti itu. "Apa yang kau katakan? Dia juga putrimu. Ayo cepat beri dia ASI. Misel menangis," kekeh Alby, karena tak tega melihat putrinya terus menangis, seakan berusaha mencari sumber asi untuknya.


Miranda geram mendengarnya, ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk, menatap Alby dengan tajam. "Sudah ku katakan aku tak sudi untuk menggendong apalagi memberinya ASI. Kau ayahnya cari saja caramu sendiri. Cukup sembilan bulan ini aku menderita karenanya. Tubuhku menjadi jelek, wajahku juga kusam. Semua karena aku mengandung dia, aku membencinya!"


Alby memandang istrinya tak percaya. "Mir, dia itu putrimu, darah dagingmu tak sepatutnya kau berucap demikian!"


"Memang benar? Aku membencinya. Aku tak menginginkan kehadirannya. Bukankah sudah ku katakan sebelumnya aku tidak ingin hamil, karena dengan hamil tubuhku akan memudar dan jelek, dan itu akan mempengaruhi pekerjaanku sebagai seorang model. Dia hadir karena keinginan mu bukan inginku."


"Bukankah sudah ku katakan, aku akan bertanggung jawab menafkahi mu. Setelah anak ini lahir, kau bisa berhenti menjadi model," seru Alby.


Miranda tersenyum mengejek suaminya, "menafkahi ku? Kau yakin gajimu yang pas-pasan hanya seorang dosen mampu mencukupi kebutuhanku?"


Alby mengepalkan tangannya, mendengar ejekan istrinya. "Jaga ucapanmu Miranda. Meski aku hanya seorang dosen, tapi aku lelaki yang bertanggung jawab, tak mungkin aku membiarkan istri dan anakku kelaparan."


"Bulshit!! Kau tau setahun menikah denganmu, aku baru menyadari bahwa aku terlalu bodoh, berfikir bahwa menikah denganmu akan membuatku bahagia, hanya karena iming-iming cinta. Tapi, ternyata aku menderita, dan merasa malu memiliki seorang suami yang tak mempunyai apa-apa. Aku menyesal telah mau menikah denganmu!"


Lagi, Alby tak menyangka mendengar pengakuan istrinya. "Apa maksudmu? Bukankah itu juga pilihanmu, untuk menikah denganku?" pungkas Alby. Ia ingat bagaimana Miranda begitu kekeh untuk meminta di nikahi dirinya, meski sebelumnya telah mengetahui status pekerjaan Alby yang hanya seorang dosen.


Miranda tersenyum miring. "Itu semua ku lakukan karena aku tidak mau kalah dari Milea. Aku mau buat dia sakit hati, karena aku tau perempuan itu begitu mencintaimu. Saat aku tau kau justru menyukaiku, tentu saja aku menggunakan kesempatan itu, untuk membuatnya patah hati. Tapi, tak menyangka niatku itu justru membuatku ke dalam jurang derita, hidup denganmu penuh kekurangan. Belum lagi saat kau terus mendesakku ingin mempunyai anak. Aku membencinya! Aku tidak ingin hamil dan kau terus memaksa. Membuat aku harus berhenti dulu dari karierku, hanya karena mengandung anak pembawa sial itu!"


"Cukup!!!!" bentak Alby keras, membuat Misel kembali menangis.


"Kau!" tunjuk Alby pada istrinya.


"Apa? Semua yang ku katakan itu benar, dia hanyalah-"


"Sifatmu bahkan lebih buruk dari seorang binatang. Manusia yang tak pantas untuk di sebut seorang ibu," potong Alby dengan cepat.


"Tidak perlu ceramah, aku tidak peduli ocehanmu. Aku tidak peduli padamu dan juga dia!" Miranda menunjuk bayi dalam gendongan Alby yang terus menangis.


"Dan ingat! Setelah ini pun aku ingin kita pisah, aku mau kita cerai. Dan kau urus saja putrimu sendiri. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapnya!" tambah Miranda kemudian.