
Pagi ini Rena sama sekali tidak fokus dalam mata kuliah yang di isi Alby. Entah beberapa kali ia terus menguap, kadang memejamkan kedua matanya, hingga membuatnya hampir ngegeledak di atas meja. Semua ini akibat ulah suaminya, yang sedang senang-senangnya mengulang adegan once again, hingga membuat istirahat Rena berkurang.
Nella beberapa kali menepuk Rena , menyadarkan temannya itu untuk kembali konsentrasi, tetapi rasanya percuma Rena begitu ngantuk.
Alby yang tengah sibuk menerangkan materi di depan sesekali melirik ke arah Rena. Ada rasa kasihan melihat perempuan itu begitu mengantuk,
sadar semua itu pasti akibat ulahnya semalem.
Beberapa saat kemudian, kelas pun telah usai.
"Kamu yang sedari tadi tidur, ikut saya ke ruangan!" ujar Alby seraya menunjuk Rena.
Rena menggerutu kesal. "Kan udah aku bilangin Ren. Udah aku tabok kamu berkali-kali untuk konsen, tapi matamu mau merem terus. Heran dehh, bergadang apa ya semalem." Nella mengomel, sementara Nena hanya menganggukan kepalanya.
"Ck! Ya semalam bergadang aku. Ya udah deh aku susulin tuh dosen ke ruangannya ya." Rena beranjak ke ruangan Alby.
Ketika tiba di depan ruangan Alby. Rena mengetuk pintu hingga terdengar sahutan dari dalam. Pintu terbuka Rena mendengus melihat sang suami tengah sibuk dengan laptop di hadapannya.
"Ada apa sih bang? Mau ngasih aku tugas apalagi. Capek badan aku bang, maklumin aja sih aku tidur di kelas, ini semua juga kan gara-gara Abang. Coba Abang tuh tau waktu. Mana siang nanti juga kan aku harus ke rumah sakit." Rena datang-datang langsung mengomel seraya mendudukan dirinya di kursi berseberangan dengan sang suami.
"Datang tuh salam dulu, bukannya ngomel. Ini gak sopan banget," tegur Alby.
"Ya habis Abang tuh."
"Ya udah kalau mau tidur noh di sana," Alby menunjuk sofa di ruangannya. Rena mengikuti arah pandangnya, lalu menggeleng.
"Kenapa?" tanya Alby kemudian.
"Ck! Istirahat di ruangan Abang mah sama aja gak jadi istirahat. Lagian aku udah janji mau makan sama teman-teman."
"Siapa?" tanya Alby kemudian.
"Temanku lah bang, itu si Alena dan Miko."
Alby mengangguk, "jangan terlalu dekat dengan si Miko itu."
"Lho kenapa?"
"Aku masih kesal sama si Miko itu, seenaknya jidatnya aja klaim bini orang jadi calon bininya. Pake ngelarang Abang buat deketin kamu lagi."
Rena terkekeh geli, melihat wajah cemberut suaminya. "Abang cemburu?"
"Ya iyalah. Kamu ini gimana sih?"
Rena bangkit dari kursinya menghampiri sang suami, "gak usah cemburu lah bang. Dia bilang gitu kan karena gak tau Abang tuh suami aku. Tapi sekarang dia udah tau kok bang. Ya udah bang, Rena keluar ya. Makan yang pedas-pedas enak kayaknya biar mata melek."
Alby menunjuk pipinya ketika Rena menatap ke arahnya.
"Apaan?" tanya Rena kemudian.
Ck! Albu berdecak istrinya itu sungguh tak peka.
"Kasih aku vitamin dulu, cium sini." Alby kembali menunjuk pipinya, membuat Rena menggelengkan kepalanya. Ternyata suaminya itu tipikal lelaki yang tidak suka menyia-nyiakan kesempatan.
"Duh pak yang profesional dong," goda Rena yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang suami. Ren terkikik geli, ternyata ia sangat suka saat melihat wajah Alby dalam mode galak, itu mengingatkan pertemuan pertamanya.
"Oke kalau kamu minta saya profesional maka karena kamu telah tertidur di kelas saya maka sebagai hukumannya, kamu harus merangkum seluruh isi-"
Cup!
Alby tak melanjutkan ucapannya, saat dengan cepat bibir Rena telah mendarat di bibirnya, mengecupnya secara pelan. Alby membulatkan matanya, tak menyangka istrinya bisa sepandai itu mempermainkannya.
"Abang jangan ngomel-ngomel ah, kan makin ganteng. Rena jadi makin cinta," seru Rena seraya menjauhkan tubuhnya dari sang suami yang masih terdiam.
"Dah ya bang. Lunas kan hukuman aku. Mau balik dulu ke teman-teman. Abang semangat kerjanya, awas jangan genit nanti kualat sama istri." Rena berlalu pergi seraya terkikik geli, mengingat ucapannya. Karena memang benar setelah ini Alby akan ke kantor, di sana tentu banyak perempuan yang cantik, jadi Rena hanya mengingatkan apa salahnya coba.
Alby mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. "Dasar bocah. Bisa aja lagi buat aku salah tingkah."
Dorrr!
Rena mengagetkan Miko dan Alena yang tengah duduk berdua di bangku taman kampus.
"Untung jantung masih aman Ren," celetuk Alena seraya mengusap dadanya.
Rena terkekeh, "segitunya Le. Emang aku malaikat Izrail apa?" dengusnya kemudian.
"Mirip!"
"Gaklah. Cantik gini, Pak Alby aja bucin banget sama aku." Rena menepuk dadanya dengan percaya diri.
Alena mencibir. "Ye lah. Jangan lupa pajaknya. Traktir makan," pinta Alena lalu menoleh ke arah Miko yang sejak tadi terdiam malas. "Kamu juga kan Kiko, minta traktir Rena kan."
"Ogahh. Aku mentahnya aja deh!" jawab Miko seraya menengadahkan tangannya. "Sini Ren, bagi aku lima puluh ribu aja," pintanya kemudian.
"Lho kok gitu. Biasanya juga kamu demen banget ngintilin Rena."
"Malas, nanti hatiku panas dengar kalian ngomongin Pak Alby."
"Wahh jadi kamu beneran patah hati ni?" ejek Alena.
"Gak ada kamusnya aku patah hati ya. Sorry, aku cuma lagi males aja. Lagian ya, kalau jodoh gak akan kemana. Siapa tau aja nanti Rena sama Pak Alby cerai kan," celetuk Miko.
"Miko!!!!" gertak keduanya bebarengan.
"Bercanda kali. Ya kali masa aku doain teman aku gitu. Dah lah mana Ren bagi duit. Aku mau traktir anak fakultas ekonomi, anak baru. Mau ajak dia makan bakso Pak Samsul aja yang murah." Miko tersenyum meskipun dalam hati entah apa rasanya.
"Anak baru?" tanya Alena.
Miko mengambil uang seratus ribu yang baru diberikan Rena. "Iya. Bening dan polos gitu mukanya, jadi demen."
"Kembaliannya?"
"Nanti lah Ren. Aku balikin kalau masih sisa," sahut Miko seraya berlalu pergi.
Alena memandang kepergian Miko dengan sendu, hal itu tak luput dari tatapan Rena.
"Kenapa Le?"
Alena menggeleng, seraya memalingkan mukanya ke arah lain. "Tidak apa-apa!"
Rena menghela nafasnya. "Kamu demen ya sama Miko?"
Alena terkekeh, lalu bangkit dari kursinya, "ngomong apa sih Ren. Ngaco kamu. Dah ah yuk kita makan, cafe depan ya. Aku mau makan yang banyak."
"Jujur deh Le. Jangan bohong gitu sama aku. Lagian-"
"Tapi kamu lihat kan Ren. Dia itu hanya nganggap aku teman, baik dulu maupun sekarang. Dia hanya menyukai kamu. Bahkan setelah tau kau sudah menikah, dia tidak pernah melihat aku. Dia justru mencari pelampiasan lain," lirih Alena.
Rena menepuk bahu Alena. "Sabar ya Le. Miko hanya belum sadar aja."
Alena menggeleng, "aku gak apa-apa Re. Aku baik-baik saja. Selama dia bisa bahagia, aku akan bahagia. Toh nanti kalau dia sedih dia bakal balik lagi kan dekat sama aku. Aku tidak masalah menjadi tempat berkeluh kesah baginya. Setidaknya ia mau berbagi kesedihannya saja, aku sudah senang."
Rena terenyuh, tak menyangka perasaan Alena terhadap Miko ternyata sedalam itu.
"Ya udah Ayuk kita makan. Kamu boleh makan sepuasnya deh."
"Serius?" Pekik Alena.
Rena mengangguk.
"Gas! Ayuk Ren, mau makan yang banyak ini. Untuk perbaikan gizi, biar badan ku berisi dikit kali ya."
Rena tergelak mendengarnya.