
Mobil mercy milik Dokter Ryan tiba di kediaman Anggara. Turun dari mobil lelaki itu memutar tubuhnya untuk membukakan pintu Alena.
"Makasih. Manisnya, kesannya kaya di drakor-drakor itu loh Pak Dokter," kata Alena begitu menurunkan kakinya dari mobil.
Dokter Ryan menaik turunkan alisnya, menatap wajah calon istrinya di bibirnya masih membentuk senyuman tipis. "Mau yang lebih manis gak?" tanyanya sambil menutup pintu mobilnya, begitu Alena sudah keluar. Perempuan itu masih bersandar di pinggiran mobil.
"Apa Pak Dokter? Gula apa coklat? Ahh... Aku lagi gak mau." Alena mengibaskan tangannya sebuah tanda penolakan.
"Bukan!" sahut Dokter Ryan cepat.
"Apa Pak Dokter? Ih aku penasaran?" tanya Alena dengan wajah polosnya.
Dokter Ryan tersenyum penuh arti, sebelum kemudian berucap. "Kalau gitu tutup matamu. Nanti kamu akan mendapatkan dan merasakan hal yang manis."
"Beneran?" pekik Alena.
"Hemm."
Dengan bibir yang membentuk sebuah senyuman, perlahan Alena mulai memejamkan kedua matanya. Otaknya masih membuana memikirkan kejutan apa yang akan lelaki itu berikan padanya.
Dokter Ryan tersenyum menatap wajah Alena dalam jarak yang kian dekat. Tatapannya terpatri pada bibir ranum Alena, yang nampak sedikit menggoda akibat diberi polesan lipbalm yang cukup tipis. Perlahan lelaki itu semakin mengikis jaraknya, sedikit membungkukkan kepalanya, mensejajarkan kepalanya pada Alena. Kedua tangannya memegang sisi mobil, seperti tengah mengunci tubuh Alena.
Kemudian, secara perlahan lelaki itu mulai menyambar bibir Alena, membuat perempuan itu membuka kedua matanya terkejut.
"Emmmhh...."
Alena ingin bersuara. Namun, Dokter Ryan terus memangut bibirnya secara lembut tapi menuntut. Hingga membuat naluri dalam dirinya menuntunnya untuk membalas, meski masih terasa kaku.
Alena meremas kemeja lelaki itu hingga menjadi terlihat kusut, saat merasakan manisnya perpaduan bibir keduanya. Nafasnya memburu. Namun, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, seakan-akan ia baru saja diberi sebuah mantra yang mampu membuat dirinya hanyut dalam permainan calon suaminya itu.
Inikah ciuman sebenarnya? pikir Alena.
Merasa mendapatkan respon dari Alena, membuat Dokter Ryan merasa senang. Kedua tangannya yang semula berpegangan pada mobilnya, kini beralih merengkuh pinggang ramping Alena. Hingga membuat tubuh keduanya saling bersentuhan. Ciuman Dokter Ryan semakin rakus, hingga membuat tubuh Alena terhuyung ke belakang, terpatuk sisi mobil miliknya.
"Ehemm!"
"Paman lagi ngapain?"
Sebuah suara deheman seorang perempuan dewasa, di susul suara anak kecil membuat keduanya tersadar. Alena sontak mendorong tubuh Dokter Ryan dengan kuat, membuatnya terjatuh.
Brugh!
"Aduh!" ringisnya.
"Kamu kok malah dorong aku sih, Alena?" sambung Dokter Ryan menatap calon istrinya kesal. Alena terdiam merapikan penampilannya, wajahnya tampak merona mengingat adegan tadi terpergok keluarga calon suaminya.
"Rasakan! Pantas saja ya, Mama suruh jemput Alena tapi gak sampai-sampai. Mama sampai mikir kamu jemputnya ke Arab! Eh tak taunya, lagi live di depan rumah!" omel Elena membuat Bastian menggelengkan kepalanya, dan Viana hanya tertawa.
Alena sungguh merasa malu, pun ia sendiri salah telah hanyut dalam permainan bibir Dokter Ryan. Habis gimana ya, orang rasanya enak. Eh?
"CK! Mama kaya gak pernah muda aja sih," decak Dokter Ryan seraya berdiri menepuk tubuh belakangnya.
"Heh! Kamu ya Mama bilangin. Kalau main patok-patokan halalin dulu, jangan main sosor aja. Anak orang itu," sergah Elena kesal.
"Mama, Alena minta maaf," cicit Alena tak enak hati.
"Diam kamu sayang. Mama tau kamu itu juga pasti dipaksa sama anak Mama ini. Maklumlah bertahun jadi jomblo karatan sekalinya punya calon istri, gak sabaran, bawaannya main serobot aja!"
"Ma, udah sih gak usah ngomel-ngomel. Malu tau, tuh Crystal aja sampai bingung begitu," kilah Dokter Ryan menunjuk keponakannya.
"Ngomong sama ember sono!" jawab Elena. Membuat semua orang di sana menghela nafasnya.
"Oma, yang patok-patokan itu siapa? Memangnya ada ular ya? Kok aku tidak lihat?" tanya Crystal polos.
"Bukan apa-apa sayang. Kita masuk ya, katanya Crystal lapar, tuh Bibi Alena udah datang," ucap Viana berusaha mengalihkan pikiran putrinya.
"Aku marah sama Pak Dokter!" bisik Alena.
"Lho kenapa?" tanya Dokter Ryan lirih.
"Yang tadi. Malu aku tuh, Pak Dokter itu modusin aku."
Dokter Ryan menarik kursi untuk Alena, mempersilahkan perempuan itu duduk. Kemudian mengusap pucuk kepala perempuan itu. "Ya udah. Maaf ya. Besok-besok gak lagi deh!" ucap Dokter Ryan kemudian.
"Beneran ya?" desak Alena.
Dokter Ryan mengangguk. "Iya!"
'Tapi kalau tidak khilaf,' sambungnya dalam hati.
Makan malam berlangsung.
"Melihat kelakuan kalian yang seperti ini, membuat Mama jadi takut," ujar Elena seraya menarik tisu di atas meja untuk membersihkan bibirnya.
"Lho kenapa, Ma?"
"Takut aja, anak Mama ini jadi buntingin anak orang!" celetuk Elena kemudian.
"Astaga, Ma. Ryan gak sebejat itu kali ma, jauh banget sih mikirnya," bela Dokter Ryan tak terima. Begitupun dengan Alena yang hanya diam menyimak.
"Halah. Gak-gak, tadi aja kalau gak kepergok kami, tuh tangan kamu pasti udah kemana-mana. Mama gak bisa percaya lagi, apalagi melihat Alena yang masih polos begitu. Mau kamu bolak-balik juga dia bakalan diam aja!"
"Ma?" Bastian merasa pening mendengarkan perdebatan anak dan istrinya itu.
"Alena, bilang pada kedua orang tuamu. Minggu depan, kami akan datang melamarmu untuk Ryan," timpal Bastian kemudian.
"Bagus itu Pa. Mama tadi rencananya kan mau ngomong itu eh udah keduluan Papa," kilah Elena.
Bastian hanya menghela nafasnya. Percayalah kalaupun ia menyangkal pasti akan menjadi perdebatan yang tak ada ujungnya, jadi lelaki itu hanya tersenyum.
"Bagaimana Alena?" tanya Bastian lagi.
Alena mengangguk. "Baik Om!"
****
Rena berbaring di rumah sakit dengan gelisah. Ia merasa tubuhnya itu sudah membaik, dan ingin pulang. Tapi suaminya belum mengijinkannya.
Dia yang biasanya terbiasa memeriksa pasien dan kini berganti menjadi pasien di rumah sakit itu, tentu saja merasa bosan. Dokter sudah mengatakan kondisi Rena sudah baik. Sore tadi Alby dan Rena juga sudah melakukan USG, memastikan kondisi janin dalam perut Rena.
"Kamu kenapa?" tanya Alby menghampiri istrinya yang sejak tadi duduk di sofa.
"Jenuh bang. Pulang yuk," rengek Rena.
"Besok pagi ya sayang," ujar Alby lembut.
Rena menghela nafasnya kesal. Padahal ia sudah bilang, ia baik-baik saja. Tapi suaminya tetap kekeh meminta dirinya dirawat sampai besok pagi.
"Ya bang!" jawab Rena pasrah.
"Ada yang kamu inginkan?" tanya Alby. Biasanya orang hamil kan ada masa ngidam, ia pikir istrinya menginginkan sesuatu.
Rena menggeleng dan menepuk sisi ranjangnya. "Abang tidur sini?" pintanya. Alby menatap ranjang itu dengan bingung. "Muat kok muat. Ini kan ranjangnya cukup besar. Ayo bang aku gak bisa tidur ini," sambung Rena kemudian dengan tatapan memohon.
"Masalahnya kamu kan lagi hamil sayang. Abang takut nanti dede bayinya kegencet," cicit Alby khawatir.
Rena menyentak nafasnya kesal, lalu berbalik meninggalkan sang suami. "Ya udah aku gak akan tidur."