
Beberapa bulan berlalu.
Beberapa hari menjelang persalinan, Miranda masih aktif di rumah, kadang di pagi hari ia akan melakukan olahraga ringan, seperti berjalan keliling komplek dengan di temani suami. Meski kaki perempuan itu terlihat membengkak. Namun, Miranda tetap merasa senang.
Malam ini seperti biasanya, Miko melakukan kunjungan rutin pada ketiga putranya yang masih berada di dalam perut Miranda. Seperti biasanya hanya satu kali permainan. Karena selain untuk menjaga kondisi istrinya, ia juga berfikir takut berpengaruh pada ketiga calon buah hatinya.
Beberapa hari belakangan Miko yang begitu sibuk dengan kerjaannya, menjadi sering tidur lebih awal. Seperti kali ini, usai percintaan panas keduanya, ia pun langsung tertidur dengan lelap, dengan posisi membelakangi Miranda.
Sejak tadi, Miranda bergerak dengan gelisah. Keringat dingin tampak membanjiri keningnya. Ia meringis karena merasa sakit pada perutnya. Ia memilih bersandar dengan tangan yang memegang erat selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Kadang ia akan mencengkeram selimut itu saat dirasa rasa sakitnya kembali datang.
“Sayang...” Miranda membangunkan suaminya. “Bangun... Sayang...”
Ia kembali meringis begitu rasa nyeri itu kembali datang. Tangannya terulur untuk menggoyangkan punggung suaminya. “Sayang, bangun!”
Miko menggeliat, membalikkan tubuhnya, menatap sang istri dengan mata sayu. “Kenapa?” tanya lelaki itu. Suaranya terdengar serak, bahkan matanya sulit terbuka. Karena sungguh Miko baru terlelap beberapa menit yang lalu.
“Perut aku sakit,” keluh Miranda.
Miko langsung beranjak mengubah posisinya menjadi duduk. Mengusap perut istrinya. “Sayang. Bukannya masih sepuluh hari lagi.”
Ia ingat penuturan dokter yang kemungkinan Miranda hanya bisa lahiran dengan jalan operasi Caesar mengingat, rentan usia juga bayi yang dikandung Miranda merupakan kembar tiga. Namun, bagaimana kalau rasa mulasnya justru datang lebih cepat. Miko masih tenang, ia pikir ini hanya kontraksi seperti biasanya, dan akan mereda seiring dengan usapan tangannya.
“Masih sakit juga?” tanya Miko.
“Iya.”
“Hah, tapi bukannya–”
“Tapikan bisa juga lebih cepat sayang,” sela Miranda.
Wajah Miko langsung berubah panik. Mengambil ponselnya ia hendak menghubungi dokter Eli. Tapi, Miranda menahannya. Ia meminta sang suami untuk mengantarkan ke ruang tamu. Akan lebih baik keduanya langsung bertolak ke rumah sakit. Karena Miranda sudah semakin sering merasakan sakit dan mulas pada perutnya.
Miko langsung memunguti pakaian mereka. Ia langsung mengenakannya, juga memakaikan istrinya.
“Aduh!” ringisnya.
“Sakit banget ya,” kata Miko cemas.
Namun, secepat itu Miranda tersenyum. Ia sudah pernah mengalami hal seperti ini dua kali. Jadi, ia tidak ingin membuat sang suami panik.
Namun, tetap saja hal itu tidak berlaku pada Miko. Melihat perubahan wajah istrinya saja ia sudah panik, bagaimana mungkin ia di minta tenang.
Karena rasa paniknya semakin membuncah. Miko langsung menghubungi Mama Amira, memintanya untuk datang ke rumah. Beruntung saat itu Amira memang belum tidur.
Lelaki itu langsung menyiapkan segala perlengkapan bayi mereka. Sementara menunggu orang tuanya datang ke rumah.
Tidak lama kedua orangtuanya pun datang. Mereka langsung membantu membawa Miranda ke rumah sakit.
🦋🦋🦋
Miranda sudah dibawa masuk ke ruang bersalin. Perutnya terasa mulas lebih sering. Ia berulang kali memanggil nama suaminya, juga menggenggam tangan lelaki itu.
“Sana buruan, cepat masuk!” usir Amira pada putra sambungnya itu. Perempuan itu sedikit kesal, pasalnya Miko sudah berdiri di ambang pintu ruang bersalin. Namun, enggan masuk karena ia merasa takut melihat istrinya melahirkan. Apalagi mengingat sejak tadi istrinya itu merintih kesakitan.
“Mama, aku gak bisa lihat istri aku kesakitan begitu,” ucap Miko panik juga takut. Ia bahkan memilih berjongkok di ambang pintu, sambil menangis. Hal itu membuat Irawan merasa geram. Ia bahkan sampai heran. Bagaimana dulu ia bisa memiliki anak seperti Miko. “Aku sungguh takut Ma, Pa!”
“Lalu kamu berpikir hanya kamu yang takut? Mama tahu Miranda memang pernah melahirkan sebelumnya. Tapi, tetap saja dia pun di sana merasa takut dan butuh dukungan, Mik. Masuklah ke dalam, dampingi dia,” ujar Mama Amira.
“Harus ya Ma?” tanya Miko lemah.
“Harus dong!”
“Buruan Mik, masuk. Jangan cuma tahunya buatnya doang. Kamu tahunya enak-enaknya saja. Giliran istri mau melahirkan ketakutan,” timpal Irawan yang sejak tadi sudah geram dengan putranya. Miko pun berlalu masuk menemani istrinya.
“Heran deh aku. Dulu tutorial buat Miko itu gimana sih, kok bisa istrinya mau melahirkan dia yang pucat begitu. Kayaknya dulu aku baca doa dulu deh,” sungut Irawan berdecak pinggang.
Amira tersenyum sinis. “Yakin?”
“Yakinlah, Ma.”
“Ngomong sana patung Sono. Kamu lebih parah Pa. Pas aku melahirkan Clara kan kamu yang pingsan,” kata Amira telak.
Irawan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Jangan jujur-jujur Napa sih, Ma.”
“Jadi, Miko itu tidak seperti siapa-siapa. Tapi sama seperti ayahnya. Dan jangan salahkan bunda mengandung,” tukas Amira berlalu ke kursi tunggu.
“Iya deh iya Ma.”
Sementara itu Miko menatap wajah istrinya dengan cemas. Bulir keringat tampak mengalir dari keningnya. Jantungnya berdetak lebih kencang, ketika matanya menatap wajah istrinya yang memucat, kala menahan rasa sakit.
“Sayang?"
“Kamu dari mana aja sayang? Aku kan minta di temani. Ini sakit banget,” rintih Miranda tangannya menjangkau lengan suaminya.
Miko terdiam, sedikit merasa bersalah karena tadi sempat menolak menemani istrinya melahirkan. Padahal dulu Alby yang berencana dan berantusias banget menemani Rena melahirkan saja tak kesampaian. Kenapa dirinya malah ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Kamu kuat sayang. Kamu kan Mama yang hebat.” Miko mengecup pelan kening istrinya penuh sayang.
“Kamu juga Papa yang hebat. Jangan nangis ya,” ujar Miranda kala melihat mata suaminya yang memerah.
“Aku gak nangis sayang. Cuma–”
“Mengeluarkan air mata,” tukas Miranda lirih. Lucunya Miko mengangguk hal itu membuat Miranda sedikit tertawa dalam menahan sakitnya. Sungguh Miko merasa terharu di sisa menahan rasa sakitnya, istrinya bahkan masih bisa tertawa.
Dokter Eli mulai memberikan aba-aba pada Miranda. Sempat beberapa kali perempuan itu terhenti. Namun, ketika mengingat ketiga buah hatinya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia. Ia menjadi semangat.
Hingga tangisan bayi pertama terdengar yang berjenis kelamin laki-laki. Lalu jeda lima menit bayi kedua berjenis kelamin laki-laki lagi. Dan yang ketiga seorang perempuan.
“Kamu hebat sayang. Terima kasih telah memberi ku gelar seorang Papa,” kata Miko haru.