
Kini Alby menatap tajam ke arah perempuan yang berada di depannya. Rasanya ia ingin sekali mencekik leher Miranda. Mungkin jika tidak ada Rena sudah ia lakukan sejak tadi. Entah apa yang terjadi dengan istrinya itu, seharusnya tadi ia langsung mengusir Miranda saja, bukannya membawanya masuk lalu memberikan handuk untuk mengeringkan pakaian perempuan itu.
Kali ini Alby kesal dengan istrinya. Tapi berkali-kali Rena mengusap lengannya, memintanya untuk tenang. Seperti apa yang keduanya bicarakan semalam, jika sepertinya mereka perlu bicara baik-baik.
Tapi menurut Alby semua tidak akan ada gunanya. Hati Miranda itu memang jahat, mana mungkin ia datang dengan tujuan yang baik.
"Jelaskan maksud kedatanganmu Miranda?" tanya Alby tanpa basa-basi, pandangannya terlihat tajam. Tidak ada sisi Alby yang ramah.
Miranda menghela nafasnya, ia harus memasang wajah sesedih mungkin. "Sudah ku katakan Al. Aku kembali hanya demi putriku, aku ingin menjalin hubungan yang baik dengannya. Aku menyesal untuk kejadian lima tahun yang lalu Al!"
Alby menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya?" sergah Alby panas.
"Al, kenapa kau seegois ini. Seperti apapun aku di masa lalu. Aku tetaplah ibu kandungnya, aku berhak akan dirinya. Bukankah kau pernah mendengar pepatah mengatakan akan ada mantan suami dan mantan istri, tapi seorang anak kandung tidak akan pernah menjadi mantan anak."
Alby tertawa mengejek. "Kau benar. Tapi.... Hal itu tidak berlaku untuk kamu!"
Miranda mengepalkan kedua tangannya, ia marah tapi ia pun perlu menahan emosinya saat ini. Demi lancar jalannya rencana dirinya. Atau dirinya justru gagal dan akan kehilangan semuanya.
"Kenapa kau tidak mempercayai ku? Perlukah aku bersujud di kakimu?" ujar Miranda.
"Pergilah!" usir Alby seraya menunjuk arah pintu keluar.
Miranda menggeleng dan kekeh bertahan. "Tidak! Aku hanya akan pergi jika sudah bisa bertemu Misel."
Alby berdecak kesal. "Kau sudah melihat dan bertemu dengannya, bukankah itu sudah cukup. Dia bisa bahagia tanpa dirimu. Seperti dirimu yang bahagia tanpanya. Pergilah dan jangan pernah kembali lagi Miranda."
"Tidak Al. Aku mohon biarkan aku membawa Misel?" pintanya.
"Apa??!!" pekik Alby terkejut. "Membawanya?"
Miranda mengangguk. "Iya! Aku harus membawa Misel ke luar negeri. Ku mohon Al?"
"Kau gila!! Bahkan selangkah kau keluar membawa Misel saja tak ku ijinkan bagaimana mungkin kau hendak membawanya ke luar negeri?" Alby tak habis pikir dengan pikiran mantan istrinya itu.
"Al itu karena-"
"Karena apa??" tanya Alby.
Miranda meremas tangannya. "Karena aku sudah menyadari kesalahanku. Aku ingin memperbaikinya. Setidaknya aku ingin membawa dia jalan-jalan ke luar negeri," dustanya. Tidak mungkin ia mengatakan tujuan sebenarnya.
Rena hanya terdiam menyaksikan perdebatan keduanya.
Alby menggeleng. "Untuk alasan apapun aku tidak akan mengijinkannya. Pergilah Miranda dan jangan pernah kembali, jangan pernah mengusik kehidupan kami lagi."
"Al??"
Alby mengangkat tangannya meminta Miranda untuk berhenti bicara. Sungguh rasanya ia sudah muak mendengar perempuan itu berbicara, entah kenapa ia masih merasakan kepura-puraan dalam diri perempuan itu.
Miranda mengalihkan pandangannya ke arah Rena dengan tatapan melas.
"Rena?" panggilnya.
Membuat Rena menoleh dan menatap ke arahnya.
"Tolong aku Re. Bilang pada suamimu dan Misel bahwa aku sungguh menyesal, biarkan aku membawa Misel Re," pintanya mengiba. Rena hanya terdiam.
"Tutup mulutmu," seloroh Alby. "Jangan pernah pengaruhi istriku dengan kata-kata burukmu. Jangan pernah manfaatkan kebaikannya. Karena sekalipun aku bilang tidak ya tidak!" tambahnya.
"Al kau itu terlalu jahat. Aku sudah berubah, tolong ijinkan aku Al."
Alby terdiam tetap kekeh pada pendiriannya. Sementara, Misel berdiri di samping guci yang menghubungkan antara ruang tamu dan ruang tengah. Matanya berkaca-kaca, entah apa yang ada dalam pikiran anak itu.
"Misel?" seru Miranda kala tatapannya tak bertemu dengan putrinya.
Misel memalingkan mukanya. Rena merasa anak itu seperti mengerti sesuatu.
"Misel kamu-" Alby tak melanjutkan ucapannya kala istrinya meremas tangannya meminta untuk tak melanjutkan ucapannya.
"Diamlah mas. Kita lihat reaksi Misel seperti apa? Jangan sampai ia pun merasa tertekan padamu," bisik Rena.
Miranda masih setia merentangkan kedua tangannya, berharap putrinya akan berlari lalu memeluknya. Sayangnya semua hanya sebatas angan. Misel justru memalingkan mukanya, kemudian berbalik dan berlari naik ke tangga.
"Misel??" teriak Miranda menatap kepergian putrinya.
Alby tersenyum mengejek. "Kau lihat kan? Putrimu itu tidak membutuhkan dirimu jadi pergilah. Kehadiranmu sama sekali tak di butuhkan."
"Al?" panggil Miranda mengiba.
"Apalagi?" sentaknya marah. "Kau harusnya ingat ucapanku terakhir saat lima tahun yang lalu."
'Suatu hari nanti. Aku bersumpah kau akan mengemis kata maaf dari setiap kata yang kau lontarkan pada putrimu ini!'
Kata-kata itu kembali berputar dalam memorinya. Alby tersenyum mengejek, seakan memberi tahukan bahwa perbuatan yang dulu ia tanam saat ini telah ia tua karmanya. Terbukti, tak segampang itu ia meraih putrinya kembali.
****
Alby meremas rambutnya berkali-kali, rasanya ia sangat pusing memikirkan permasalahan ini yang tak kunjung usai. Rasanya ketenangannya terganggu. Seandainya Miranda datang dengan hati yang tulus, tak mungkin Misel akan menolaknya. Di sudut hatinya, Alby merasa ada sesuatu di balik kembalinya perempuan itu. Ia pantas curiga, apalagi dengan permintaan perempuan itu yang menginginkannya membawa Misel ke luar negeri. Rasanya ia pantas menyelidiki semua ini. Baiklah besok ia akan ke kantor Ardan, membicarakan permasalahan ini.
Ini sudah pukul sebelas malam, dan Alby tidak dapat memejamkan matanya. Sementara sang istri sudah terlelap, ia yang tak ingin menganggu Rena dengan kegelisahannya pun memilih keluar dari kamar menuju balkon kamarnya.
Tiba-tiba ia merasakan tangan mungil dan lembut melingkar di perutnya, dan di susul dengan kepala yang bersandar pada punggungnya.
"Bang?"
Albu tersenyum, kala menyadari istrinya yang kini memeluknya. Melepaskan kedua tangan Rena, dan Alby pun berbalik.
"Kenapa hemm?" tanyanya lembut.
"Ku kira Abang kemana," ujar Rena seraya merengkuh kembali tubuh suaminya.
"Hangat!" bisiknya kemudian kala dalam dekapan sang suami.
"Masuk lagi yuk. Udaranya sangat dingin, takutnya kamu masuk angin. Mana cuma pakai baju kaya gini," ujar Alby seraya menggiring istrinya masuk kembali, karena saat itu istrinya tengah menggunakan pakaian saringan santan kelapa. Meski hari sudah malam, ia pun juga khawatir akan ada yang melihat. Pasalnya di kompleks perumahan Alby itu masih pada para hansip yang suka beronda.
Keduanya kembali berbaring, bermaksud melanjutkan tidurnya. Tapi, Alby tetap tak dapat memejamkan kedua matanya. Rena yang menyadari hal itu pun semakin meringsek memeluk suaminya, membuat Alby kembali susah bernafas.
"Re?"
"Hem, ayo tidur bang. Abang dari tadi belum tidur kan."
Alby memijat kepalanya, kepalanya merasa pusing. Kali ini bukan karena masalahnya, tapi sesuatu di bawah sana kembali meronta meminta untuk dikeluarkan, karena tak sengaja kaki Rena justru menyentuhnya.
"Tidur bang. Kenapa sih gelisah gitu."
Bukannya menuruti ucapan sang istri, Alby justru bergerak mengukung tubuh istrinya.
"Abang?" pekik Rena.
"Abang gak bisa tidur, Re. Kita olahraga dulu ya," pintanya parau.
Rena menelan ludahnya gugup. "Bang tadi kan udah?"
"Kurang. Ini ronde kedua, biar sangat capek abangnya."
"Ta- emmmmhhhhh.... " Rena tak lagi melanjutkan ucapannya saat dengan cepat, Alby menyambar bibirnya memangutnya secara lembut. Sementara tangannya bergerak dengan cepat, merobek pakaian isterinya. Rena terkejut melihatnya. Memikirkan banyaknya gaun malam miliknya yang sudah Alby rusak.
"Besok Abang ganti," ucapnya di sela-sela pangutan bibirnya. Ia seakan mengerti apa yang tengah istrinya pikirkan.
Kini Alby terus melanjutkan permainannya. Saling bergumul, dan menyalurkan hasratnya. Rena hanya terdiam pasrah di bawah kungkungan sang suami. Membiarkan Alby menguasai tubuhnya kembali. Meski sesekali ia akan men de sah, dan me nge rang nikmat kala Alby menyentak-nyentak tubuh bagian bawahnya.