
Hari berlalu, kehamilan Rena dalam keadaan sehat. Sampai detik ini belum pernah perempuan itu masih menginginkan hal yang wajar. Di masa kehamilannya Rena lebih suka mengenakan pakaian sang suami, menurutnya perasaannya lebih tenang. Dan perutnya pun tak memberontak untuk mual. Alby bahkan sampai heran, pasalnya dulu Milea selalu mengatakan keinginan ibu hamil itu ribet, tapi Rena hanya ingin pakaiannya dan tidur sambil mengusap-usap perut Alby. Lelaki itu nampaknya mulai bisa membiasakan diri, untuk tak mudah baper saat sang istri mengusap perutnya, pasalnya ia menyadari kondisi istrinya yang tengah hamil muda tak memungkinkan dirinya untuk terus-menerus melakukan adegan once again.
"Ayo dong sayang bergaya dong jangan kaku begitu," perintah Rena sambil mengarahkan lensa kamera pada suaminya. Perempuan itu merasa kesal karena sang suami begitu kaku, sampai dirinya harus berkali-kali mencontohkan gaya.
"Sayang, ini tuh kebalik. Harusnya kamu yang foto, Abang yang ngambil gambarnya. Orang kamu yang wisuda kok," keluh Alby.
Saat ini, keduanya masih di area kampus karena baru selesai menghadiri acara wisuda. Rena berhasil lulus dengan tingkat terbaik. Perempuan itu terlihat cantik mengenakan kebaya yang diberi oleh Miranda saat itu. Dua jam yang lalu keluarga besar Rena dan juga kedua orang tua Alby, serta Davis dan Nadila pun datang menghadiri acara. Namun, saat ini mereka sudah kembali.
"Aku kan udah banyak Abang," kilah Rena.
"Hemm... Ini Bunda memang aneh ayah. Lihat tanganku penuh dengan bunga." Misel memperlihatkan genggaman tangannya yang memegang bunga, oleh pemberian dari teman-temannya.
Rena tertawa kecil. "Aduh sayang. Bunda lupa... Ayo letakkan saja di bangku!" ucapnya.
Membiarkan kameranya tergantung di leher, Rena melangkah mendekati putrinya dan menggiringnya ke bangku. Alby menghela nafas lega, karena dengan begitu artinya aktivitasnya yang sejak tadi di minta untu berselfie berhenti. Lelaki dengan jas lengkap yang nampak menawan itu, melangkah mendekati istrinya dan duduk di sana. Rena mengusap perutnya.
"Kenapa? Kamu lapar sayang?" tanya Alby.
Rena menggeleng. "Gak bang."
"Bunda, Dede bayi kapan keluar? Perasaan udah lama aku menunggu. Mau aku ajak main boneka," ujar Misel.
"Masih lama sayang. Yang penting Misel doain aja Bunda dan Dede sehat ya," sela Alby. Gadis kecil itu hanya mengangguk. Rena dan Alby tersenyum mengusap kepalanya, kemudian mendaratkan kecupan di pipi Misel.
Cekrek!
Bunyi sebuah bidikan kamera terdengar, Rena menoleh dan mendapati Alena tengah tersenyum ke arahnya. Gadis cantik dan mungil yang mengenakan kebaya berwarna kuning itu melangkah mendekat.
"Bagus loh, terlihat harmonis. Ah... Aku juga pengen," ucap Alena sambil memeluk kameranya.
"Sabar lah, kan bulan depan kamu udah otw halal," sahut Rena. Karena sahabatnya itu mengatakan jika tanggal pernikahannya dengan Dokter Ryan sudah ditentukan, setelah kedua orang tua Dokter Ryan melamarnya secara resmi.
Alena mengangguk. "Tuh kan... Jadi, kangen Pak Dokter. Tapi aku kesel, dia janji mau datang tapi gak datang-datang!"
"Sabar... Menjadi istri seorang Dokter itu harus banyak sabar. Karena tugas suamimu adalah menolong pasien." Rena berucap seraya mengusap lengan sahabatnya, karena ia tahu pemikirannya Alena kadang sependek itu.
"Aku kan masih calon, Re!" bantah Alena.
Rena mengangguk. "Iya! Tapi, anggap saja sambil belajar."
"Widihh pada kumpul-kumpul ini. Kok aku gak diajak," seloroh Miko yang tiba-tiba datang.
"Siapa kamu?" Cibir Alena.
"Heleh... Calon manten. Sombong amat," sergah Miko tak mau kalah. "Teganya kau melupakan diriku!" sambungnya memasang wajah melas.
"Curhat?" sindir Alena.
"Gak! Cuma bagi info," kata Miko.
Alby memijat kepalanya, lalu menoleh ke arah istrinya. "Sayang. Merasakan kedua temanmu ini, Abang jadi pusing. Perasaan kerjanya berdebat terus," keluh Alby.
Rena hanya tertawa mendengarnya. Padahal suaminya baru beberapa kali gabung dan mendengar keduanya berdebat, lalu apa jadinya jika seperti Rena yang hampir setiap hari mendengarnya. Di saat Rena terlibat obrolan dengan sang suami, Miko dan Alena masih saja asyik berdebat. Alby berharap ada seseorang yang datang lalu membungkam mulut keduanya untuk diam.
Tepat saat itu sebuah mobil Mercy melintas, dan berhenti tepat di depan kampus. Dokter Ryan turun dari mobil sambil membawa sebuket bunga beserta sebuah kotak kado.
"Tuh calon suami datang," ucap Rena.
Alena menoleh, dan melambaikan tangannya. "Ayang beb? Aku di sini," teriaknya memanggil Dokter Ryan sontak hal itu membuat orang-orang yang berada di sana menatap aneh kepadanya. Begitupun dengan reaksi Dokter Ryan yang merasa aneh dengan calon istrinya itu.
Rena menepuk keningnya. Miko menggelengkan kepalanya. "Untung saja, bukan aku calon suaminya. Semoga aku dikaruniai seorang istri yang kalem, lemah lembut, keibuan, penyayang apa lagi ya?" seru Miko.
"CK! Gak apa-apa deh, asal cantik, baik, keibuan, tentunya sayang sama aku. Beneran janda itu lebih pengalaman," sahut Miko tak mau kalah.
"Amin!" sahut Rena.
"Selamat ya. Maaf ya aku telat datang, soalnya ada jadwal operasi hari ini," ujar Dokter Ryan sambil memberikan barang bawaannya.
"Gak apa-apa, aku ngerti kok Pak Dokter," sahut Alena.
"Ngerti-ngerti. Halah, tadi aja udah mau ngambek tau Dokter Ryan!" adu Rena. Membuat lelaki itu menatap ke arah calon istrinya dengan serius. "Serius?" Tanyanya pada Alena.
Alena menggeleng. "Gak kok!"
"Maaf ya. Beneran ada operasi jadinya telat deh datang. Sebagai gantinya, aku ajak kamu jalan-jalan ya," ujarnya seraya mengusap rambut Alena.
Miko berdecak kanan kiri temannya bersama pasangannya. "Pamer kemesraan terus. Hargai aku yang jonblo kenapa?" celetuk Miko kesal. Namun, justru membuat kedua temannya itu terbahak.
"Makanya cari gandengan dong. Truk aja gandengan masa kamu enggak!" cibir Alena.
"Ya Mik, tuh perempuan di kampus banyak," ujar Rena menyarankan.
"Males lah. Masih gimana gitu rasanya. Aku tuh kaya-"
Miko menghentikan ucapannya, ketika melihat seorang perempuan yang terlihat dewasa, turun dari sebuah taksi, melangkah ke arahnya dengan anggun.
"Selamat ya Re. Maaf ya telat datang, kebetulan butik tadi lagi rame," ujar Miranda.
"Gak apa-apa mbak," sahut Rena ramah. Ya, Miranda memilih membuka usaha dalam bidang pakaian. Ia mendesainnya sendiri, semua ia mulai dari nol, perempuan itu menjual apartemen miliknya sebagai modal. Sementara dirinya memilih tinggal di sebuah kontrakan yang jauh dari kata mewah. Tapi meski begitu ia bersyukur, perlahan usahanya mulai maju. Sebelumnya, Alby memang menawarkan pinjaman modal. Tapi Miranda menolak, ia tidak ingin berhutang. Dengan diijinkannya bertemu Misel dan berteman dengan Rena saja ia sudah bersyukur.
Dokter Ryan dan Alena berpamitan untuk pergi, membuat Miko tersadar dari lamunannya karena sejak tadi terus menatap ke arah Miranda.
"Mama katanya mau ajak aku ke kebun binatang," ujar Misel sambil menggoyangkan lengan Miranda.
Miranda tersenyum mengusap rambut putrinya. "Tanya dulu sayang, sama Ayah dan Bunda dibolehin gak?" titahnya.
"Boleh kan Ayah, Bunda?"
"Iya boleh!"
Misel bersorak girang.
"Mik, minta tolong boleh?" Rena mengusap perutnya yang memang nampak sedikit membuncit.
Perasaan Miko tiba-tiba jadi tidak enak, tapi kalau ia tidak menurutinya, pasti Rena akan ngambek. "Iya boleh dong Rena sa-"
Ehem!
Alby langsung berdehem membuat kalimat Miko terhenti.
'Tau aja aku mau godain bininya, ni orang,' gumam Miko.
"Temenin mbak Miranda dan Misel kebun binatang ya. Soalnya kan aku sama Bang Alby gak bisa ikut. Ini juga kan udah sore, aku khawatir kalau mereka pakai taksi," ujar Rena seraya mengusap perutnya. Miko menelan ludahnya.
"Re gak perlu. Aku bisa jaga Misel!" tolak Miranda.
"Tapi aku khawatir mbak. Ayolah mbak ini kan keinginan ibu hamil, masa mbak mau lihat aku menangis. Lagian Miko juga mau kok, iya kan Mik?" Rena mulai terisak. Alby melongo menatap istrinya tak percaya.
"Ohh... i-iya!" balasnya.
"Ya udah deh. Yang penting kamu jangan sedih ya," sahut Miranda pasrah. Meskipun sebenarnya ia tidak enak hati pada Miko, karena keduanya bahkan tidak saling mengenal.