Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Mantap-mantap



“Akhirnya bangun juga, kan dari tadi udah sengaja aku gangguin,” kata Miko dengan suara seraknya.


Miranda masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. “Emang mau ngapain?” tanyanya dengan khas suara bangun tidur.


“Malam pertama. Mantap-mantap lah sayang.”


Miranda menoleh ke arah jendela terlihat suasana masih terasa sunyi, ia menduga ini pasti tengah malam.


“Kok jam segini? Bukannya–”


“Aku udah gak bisa nunggu lah sayang, kalau besok-besok ketunda terus, kamu gak tahu atas bawahku sudah berkedut.”


“Apanya?” goda Miranda tergelak lucu melihat wajah sang suami yang terlihat imut kala memasang wajah melas.


“Dihh ngeledek. Awas kamu ya,” ancamnya seraya mencoba mengukung tubuh istrinya.


Miranda berusaha menghindar dan mendorong tubuh suaminya. “Sayang aku belum sikat gigi. Belum cuci muka, dan pakaianku juga kan belum–”


“Gak perlu, begini saja sudah cukup. Kamu udah menggoda kok, gak perlu dandan dan rapi-rapi, nanti malah jadinya batal lagi.”


Miranda terdiam pasrah, membiarkan suaminya menguasai tubuhnya. Meloloskan satu persatu pakaiannya, hingga membuatnya dalam keadaan polos. Tampak Miko menatap takjub, kemudian melakukan hal yang sama pada tubuhnya, hingga keduanya kini sama-sama dalam keadaan polos.


Kemudian Miko kembali membungkukkan tubuhnya, mencium dan me lu mat bibir istrinya dengan rakus dan penuh gairah. Melepaskan pangutan bibirnya, ia tersenyum pada istrinya, kemudian ia kembali menelusuri leher jenjang istrinya, dengan benda lunak miliknya itu, meninggalkan jejak kebasahan yang hampir terlihat kemerahan.


“Nah kalau begini orang bakalan tahu kan kalau kamu udah ada suami,” ucap Miko bangga begitu berhasil membuat kreasi di leher istrinya.


“Iya suami berondongku,” sahut Miranda seraya tertawa geli, masih tidak menyangka jika ia akan mendapatkan suami yang lebih muda darinya.


“Dih nantangin ya. Lihat apa yang akan suamimu ini perbuat. Aku jamin kamu gak akan bisa melupakan momen malam ini, kita bergadang sampai pagi ya?” tantang Miko.


Miranda terkesiap. Namun, belum sempat ia membuka mulutnya sang suami sudah kembali membungkam bibirnya, kembali memangut dan memb belit lidahnya. Sementara kedua tangannya sibuk me re mas da da istrinya yang sejak tadi terlihat menantang dan membusung. Ia terus memberikan area itu pijatan dan re ma san yang lembut, sesekali akan me me lintir titik kecil yang berwarna pink di sana. Hal itu membuat Miranda bergerak dengan gelisah, layaknya cacing kepanasan. Ia ingin men de sah, tapi mulutnya tertahan akibat pangutan bibir sang suami yang tak kunjung lepas, justru semakin rakus dan menjadi, bahkan ia memberikan gigitan kecil di sana. Rasanya benar-benar nikmat. Miranda tak menyangka. Miko yang ia katakan adalah anak kemarin sore mampu membuatnya terbang melayang, menikmati setiap sentuhan lembut yang lelaki itu lakukan, padahal ia belum mencapai puncaknya. Namun, rasa nikmat itu telah ia rasakan.


Bahkan ia merasa tubuhnya meremang serta kepanasan seiring dengan peluh keringat mulai membanjiri tubuhnya. Melepaskan pangutannya, kini lidah Miko kembali menari di atas tubuh Miranda. Kemudian turun menuju dada, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, lelaki itu mulai mengecup titik berwarna merah muda di da da istrinya. Nyatanya tak cukup hanya mengecup, lelaki itu bahkan memberikan permainan yang lebih, memainkan lidahnya di sana lebih lama.


Hal itu membuat Miranda men de sah nikmat. Salah satu tangannya menekan kepala sang suami, seperti meminta untuk memperdalam permainannya. Miko tentu saja dengan senang hati melakukannya, ia mengecup kedua bukit itu secara bergantian.


Nafas Miranda tampak terengah, ia baru merasakan lidah sang suami pun sudah seperti ini. Apalagi jika benda yang di bawah sana, yang sejak tadi terus menggesek-gesek miliknya di masukan ke dalamnya. Akan seperti apa rasanya ya? Eh. Mendadak kenapa ia jadi sangat mesum dan tak sabaran, tapi mesum dengan suami sendiri tidak masalah kan.


“Emhh... Sa–sayang,” de sah Miranda dengan nafas naik turun.


Miranda berdecak, mengumpat dalam hati. Iseng banget ternyata suaminya itu, bisa-bisanya saat sedang enak-enaknya ia menghentikan permainannya.


“Buruan, ngapain malah berhenti?” sergah Miranda.


Miko justru terkekeh geli, menikmati raut kesal istrinya. “Tenang sayang. Jangan buru-buru, kan udah aku bilang kita mainnya pelan membuat momen yang tidak akan terlupakan. Aku jamin kamu akan puas.”


Miranda hanya mencoba menghela nafasnya sabar, meski rasanya ia begitu kesal. Memangnya begitu rasanya menikah dengan berondong ya, sukanya goda-goda, di saat mau mantap-mantap saja bisa-bisanya masih terpikirkan untuk menggoda.


Lelaki itu kembali menelungkupkan badannya, menyelusuri setiap inci tubuhnya dengan lidahnya. Kecupannya turun dan terus turun hingga sampai pada pusat intinya.


Miko tersenyum merekah kala menatap tubuh bawah istrinya. Miranda mengerutkan keningnya heran, kala tak merasakan apapun pada tubuhnya, mungkinkah permainan sang suami telah usai.


Namun, di saat ia hendak mengangkat kepalanya, ia tersentak mana kala merasakan sesuatu barang yang kecil masuk ke dalam pusat intinya. Nafasnya tampak terengah, seiring dengan gerakan jari sang suami di bawah sana yang mampu memberikan sensasi yang luar biasa. Miranda bahkan sampai memegang seprei kasurnya.


“Sa–sayang?”


“Apa sayang? Ayo men de sah saja, aku suka mendengar suaramu,” ujar Miko.


Miranda menurut, tak peduli akan rasa malu yang sebelumnya sempat ia pikirkan. Ia mengeluarkan suara-suara merdu akibat gesekan jari sang suami di bawah sana. Beruntunglah kamar yang ia tempati kedap suara, jika tidak. Tak bisa ia bayangkan jika putrinya mendengar suaranya yang berteriak, menjerit dan men de sah memanggil nama suaminya.


“Sayang aku mau–”


“Emm.... Keluarkan!” titah Miko yang mengerti jika istrinya telah sampai pada puncaknya. Miko segera melepaskan jarinya, tampak tubuh Miranda gemetar seiring ia mendapatkan pelepasan. Nafasnya tampak terengah, tubuhnya tampak mengkilap akibat keringat yang membasahinya.


Miko tersenyum puas, mana kala melihat istrinya terlihat puas. Miranda masih mencoba mengatur nafasnya, saat tiba-tiba ia kembali tersentak, saat merasakan sesuatu yang lebih besar dari jari suaminya masuk ke dalam miliknya di bawah sana.


“Aduh, kok gak bilang-bilang sih!” omel Miranda.


“Kejutan. Emangnya sakit?” tanya Miko seraya menghentikan gerakannya.


“Sedikit. Aku hanya kaget, aku kan bukan perawan.”


"Ssstt...” Miko meletakkan jarinya di bibir istrinya, memintanya untuk tak mengatakan hal seperti itu. “Jangan bahas soal status? Aku tahu kamu yang terbaik. Meski begini, kamu tetap kaya perawan kok,” ujar Miko kembali berfikir sejenak. “Sempit dan legit,” sambungnya.


Miranda mendengus, memukul pelan dada suaminya. “Emang kamu pernah nyobain perawan?” tanya Miranda dengan selidik.