Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Pacar Bayaran



Entah apa yang terjadi dengan Miranda. Hingga siang hari pun nomor ponselnya tak dapat di hubungi. Ia sudah mencobanya berulang kali dan hasilnya tetap sama. Beruntung kondisi Misel sudah membaik. Hari ini Rena sengaja tidak masuk kerja, demi menemani Misel di rumah. Padahal niatnya saat ia masuk nanti ia akan mengecek kondisi Papa mertuanya. Tapi berhubung putrinya sakit, mana mungkin ia meninggalkannya.


Berkat nasehat dari Rena. Alby sudah memutuskan untuk mencoba membuka pintu maaf untuk Galih. Tapi ia ingin menemuinya bersama Rena.


Rena tengah duduk di bangku di teras rumah sambil mengerjakan skripsi di laptopnya. Sesekali ia akan memandang ke arah Misel yang asik bermain sepeda di halaman rumahnya. Ia bersyukur karena Misel perlahan sudah lupa akan niatnya. Meskipun ia merasa heran lantaran Miranda yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi, tapi ia berharap perempuan itu tetap baik-baik saja di sana.


****


Setelah hampir seharian ia berada di makam Agatha. Miranda akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sana. Perempuan itu melajukan mobilnya ke sebuah apartemen miliknya.


"Untunglah aku tidak jadi menjual apartemen ini. Jadi, dengan kejadian ini aku tidak perlu bersusah payah mencari tempat tinggal," ujar Miranda.


Apartemen itu memang tidak terlalu mewah, tapi baginya itu cukup untuk menjadi tempat tinggal untuknya. Sambil menentukan langkah kehidupan selanjutnya.


"Sekejam itu kau padaku, Mas!" seru Miranda. Turun dari mobil perempuan itu menatap bangunan yang menjulang tinggi. Ia mengeluarkan barang-barangnya, dan berusaha untuk membawanya masuk meski dengan susah payah.


Miranda mendudukkan dirinya di sofa yang hampir berdebu, karena beberapa kali tempat itu memang tidak ia bersihkan. Ia kembali tertunduk dan menangis.


"Tuhan, sekejam inikah takdir padaku. Kau sudah mengambil putriku, kemudian kau menjauhkan ku dari suamiku. Tidak cukupkah karma yang aku terima ini. Bahkan karier ku pun hancur, aku tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Pada siapa aku harus mengadu," ucap Miranda pilu. Ia bahkan bingung untuk kehidupan sehari-hari selanjutnya. Ia tidak bekerja bagaimana ia harus memenuhi kebutuhannya.


Haruskah ia kembali ke Indonesia dan meminta bantuan Alby. Miranda menggeleng, ia tidak mungkin melakukan hal itu. Bahkan ia sengaja mematikan ponselnya, dan membuang SIM card nya demi menjauhi keluarga itu. Miranda memilih jalannya sendiri, ingin menepati janji yang telah ia ucapkan pada Alby. Sudah cukup penderitaan yang ia alami akibat kejahatannya. Ia takut jika terus melihat kebahagiaan yang tercipta dari mantan suaminya itu, akan kembali timbul niat jahatnya.


Semula ia kembali berniat untuk memulai kehidupan yang baru dengan Damian. Ia pikir meski setelah kematian Agatha pernikahan itu pun akan berlangsung, namun tak ia sangka Damian justru memilih menceraikannya.


****


Ini adalah Malam Minggu, malam yang di tunggu-tunggu bagi kedua orang tua Alena untuk memperkenalkan putrinya itu pad salah satu anak sahabatnya. Alena sudah tampil cantik dengan dress berwarna silver, rambutnya di hias dengan pita rambut yang senada.


"Nah kakak udah cantik kan," puji Sena yang sejak tadi sibuk mendadani Alena.


"Sepupu lak nat. Bukannya bantu kabur malah paling dukung," celetuk Alena kesal. Karena ia yang berniat kabur dari perjodohan itu selalu gagal, karena Sena selalu mengikuti dirinya.


"Aku udah bosan lihat kakak jomblo soalnya," sahut Sena. Gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA itu tak ingin kalah dari kakaknya.


"Enakan jomblo dari pada kamu kecil-kecil banyak pacar," tukas Alena. Mengingat Sena ini memang tipikal perempuan playgirl.


"Ya habis gimana ya, Kak. Aku kan hanya berniat baik, menyelamatkan anak-anak cowok dari status yang namanya jomblo. Jadi, aku terima aja kalau mereka suka. Toh pacarku itu pada akur kok," ujar Sena bangga.


Alena memutar bola matanya jengah, pusing kalau ngadepin sepupunya itu berbicara. Selalu pandai menyangkal.


Tok! Tok!


"Alena sudah siap belum? Ayo berangkat," ujar Ayu selalu mama kandung Alena di balik pintu.


"Sudah Tante. Siap cuss berangkat." Sena dengan semangat menjawab. Ia melirik ke arah Alena dengan tatapan mengejek, karena sepupunya itu sudah tidak bisa lari. Sena menggiring Alena keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.


"Duh ma, tiba-tiba Alena merasa mulas ini perutnya. Batalin aja ya," keluh Alena seraya memegang perutnya, seolah-olah ia beneran sakit.


"Duh kok bisa sih?"


"Yakin?" tanya Roby.


"Yakin lah, Om. Tenang saja!"


Roby dan Ayu pun percaya. Keduanya berlalu. Alena tersenyum senang, tanpa menyadari bahwa gerak-geriknya di pantau oleh Sena.


Sena menyeringai. "Udah kan sakitnya?"


"Loh?"


"Ayo kita berangkat kak. Siap ketemu calon suami," ujar Sena.


Alena menggeleng. "Please ya, jangan paksa kakak. Kita di rumah aja."


"Kakak mau buat om dan Tante malu. Janganlah kak, toh ini baru perkenalan apa salahnya kak datang. Tenang saja Sena temanin kali ini. Anggap saja, sebagai ganti kesalahan Sena saat meminta kakak datang sendiri ke acara kencan buta itu," ujar Sena menggiring Alena keluar dari rumahnya. Meskipun dengan wajah cemberut, Alena tetap mengikuti langkah Sena ke mobil yang ternyata keduanya memang sudah di tunggu sopir.


Alena duduk dengan gelisah selama dalam perjalanan menuju restoran tempat di mana nanti akan diadakan pertemuan. Ia bahkan sudah mengacak-acak rambutnya, membuat Sena ngomel karena dandanannya jadi berantakan.


Mobil memasuki pelataran restoran bintang lima. Alena dan Sena di turunkan tepat di loby utama.


Alena meremas pakaiannya, ia gugup dan bingung. Ingin kabur tapi pikirannya sudah buntu.


"Ayo kak!" ajak Sena.


"Sebentar, aku mau tarik nafas dulu." Alena berusaha mengulur waktu untuk masuk. Ia memejamkan matanya kemudian membukanya seiring dengan tarikan nafas yang ia buat. Sena merasa hampir gila dibuatnya, karena Alena memejamkan kedua matanya sambil mulutnya berkomat-kamit seperti membaca doa. Hal itu menjadi tontonan orang-orang di sekitarnya.


Ketika Alana membuka kedua matanya, pandangannya langsung tertuju pada sebuah mobil mercy yang baru saja tiba dan terparkir di halaman restoran itu. Seorang lelaki dalam balutan jas hitam yang rapi, keluar dari sana melangkah mendekati ke arahnya.


"Pak Dokter?" Alena menyapa menghampiri Dokter Ryan yang baru saja tiba dengan wajah berbinar.


"Alena... Kamu di sini?" tanya Dokter Ryan balik.


Sena tak mengerti yang terjadi. "Kak ayo buruan masuk. Tante dan Om udah menunggu loh."


Alena kembali mengingat tujuan datang ke restoran itu. Membuat Dokter Ryan heran.


"Pak Dokter ikut aku sebentar yuk?" ajak Alena yang langsung menyeret lengan Dokter Ryan.


"Eh ini ada apa Alena. Saya tuh kesini sebenarnya-"


"Pokoknya Pak Dokter harus bantu aku dulu. Pak Dokter harus berpura-pura jadi pacar ku di depan orang tuaku. Please Pak Dokter aku gak mau nikah sama orang yang gak aku kenal," rengek Alena.


"Alena-"


"Pokoknya harus mau. Aku gak terima penolakan. Sekarang aja deh, anggap aja aku nyewa jasa Pak Dokter, nanti bayarannya aku transfer lewat ovo ya," cerocos Alena seraya terus menggiring Dokter Ryan masuk.