Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Asam Jawa Dan Rujak Bebek



Note:


guys mohon dibaca ulang bab sebelumnya ya. Aku baru sadar kalau babnya ketuker 😭. Mohon maaf guys, kadang suka gini ngelag. Harusnya ini tuh buat besok.. Tapi ya udah di update aja hari ini. Selamat Membaca guys. Jangan lupa mampir juga di novel baru aku yuk. Kawal Kisah Dave dan Alana.😚


****


Ryan baru tiba di rumah pukul tujuh malam. Sampainya di kamar ia bingung tak mendapati istrinya di sana. Setelah meletakkan tasnya ia membuka jendela juga pintu yang menghubungkan kamar dan balkonnya, ia kira istrinya itu tengah berada di sana. Namun, tak juga ia temukan.


“Kemana ya?” gumamnya. Biasanya Alena pukul segitu tengah berada di kamarnya. Kembali ke ranjang, Ryan mengeluarkan ponsel dalam sakunya untuk menghubungi istrinya nomor istrinya. Tersambung namun tak diangkat ternyata ponselnya berada di atas nakas. Ia tersenyum menyadari jika istrinya berarti ada di rumah. Mungkin saja tengah berada di kolam renang belakang.


Karena merasa tubuhnya sudah lengket, Ryan langsung berlalu ke kamar mandi membersihkan diri.


Lima belas menit setelah ia selesai membersihkan diri, ia masih bingung tak mendapati istrinya kembali ke kamar. Segera ia berlalu ke lemari mengambil pakaiannya. Setelahnya ia buru-buru kembali keluar dari kamar mencari istrinya.


“Lho udah pulang?” tanya Elena ketika berpapasan dengan putranya di lantai bawah.


“Udah dari tadi, Ma. Istriku kemana ya Ma?” tanya Ryan balik.


“Di dapur lagi makan asam.”


“Asam?” seru Ryan heran.


“Iya Asam Jawa. Tadi sore dia minta sendiri pas lewat rumah Pak RT.” Elena berucap seraya berlalu.


Ryan menggaruk tengkuknya, kemudian menyusul istrinya ke dapur. Ia melihat istrinya tengah duduk dengan begitu anteng di meja. Tiba di depannya, seketika ia bergidik ngilu melihat Alena tengah menikmati Asam Jawa dengan lahap.


“Sayang, kamu lagi makan apa?” tanya Ryan basa-basi padahal ia bisa melihat apa yang tengah dimakan istrinya.


Alena menunjuk asam Jawa di tangannya, lalu mengulurkannya pada sang suami. “Masry mau? Enak banget loh,” tawarnya.


Ryan menggeleng. “Gak lah, gak enak rasanya asam.”


“Orang enak kok seger. Kalau mau yang manis ya gula, yang asin garam, yang pedas cabe,” celetuk Alena.


Ryan terkekeh kenapa istrinya jadi menjabarkan bumbu dapur. Ia memangku kepalanya dengan posisi miring menatap Alena. “Kalau yang gurih apa dong sayang?”


“Kerupuk,” sahut Alena asal.


“Salahlah,” sergah Ryan.


“Terus?”


“Makan kamu juga gurih, kaya semalem itu.” Ryan menjawab dengan menggoda, mengingatkannya pada adegan suntik-suntikan semalam. Alena menjadi kesal mengingatnya, padahal ia sudah mengingatkan suaminya untuk libur karena ia tengah hamil muda. Namun, lelaki itu memang pandai merayu, dan sialnya Alena juga gampang terbujuk rayu manisnya. Maka terjadilah suntik-suntikan di ranjang itu. Meskipun lelaki itu memang melakukannya secara perlahan.


Alena sebenarnya paham tidak masalah, dan percaya pada suaminya. Mengingat profesi suaminya itu seorang dokter, tentu lebih paham tentang apa yang bahaya dan tidak.


“Di kira aku makanan,” celetuk Alena seraya mengerucutkan bibirnya ke depan.


“Makanan apapun juga kalah sama tubuh kamu sayang. Kamu itu kaya candu buat aku sayang. Kalau udah nyentuh kamu bawaannya pengen terus, gak mau berhenti. Sampai titik darah penghabisan,” seru Ryan.


“Itu namanya bukan candu, tapi Masry itu mesum. Udah tahu istri lagi hamil, masih aja diajak olahraga suntik-suntikan.”


Plak!


Alena memukul pelan lengan suaminya. Kesal karena suaminya itu justru memojokkan dirinya. Tapi, memang iya dibandingkan dengan suaminya, semalem dirinya justru yang lebih mendominasi permainan. Ia sendiri tidak tahu, padahal sebelumnya ia menolak, tapi begitu libidonya kian meningkat akibat sentuhan lembut suaminya. Alena merasa tak dapat mengendalikan tubuhnya. Apakah itu juga pengaruh hormon kehamilan? Kalau memang iya, bisa kesenangan suaminya.


“Kok dipukul sih aku sayang?” protes Ryan.


“Ya lagian ngapain Masry itu ngomong begituan. Buat aku bad mood aja.” Alena merenggut kesal, melipatkan kedua tangannya di dada.


“Gitu aja masa ngambek. Udah makan lagi asamnya,” ujar Ryan.


“Gak maulah Asam.” Perkataan Alena seketika membuat Ryan melongo, namanya Asam ya asam rasanya, masa manis kaya gula.


“Namanya asam ya rasanya asam. Ya kali berubah manis kaya gula,” celetuk Ryan heran. Lama-lama istrinya itu kaya pandai ngelawak, kalau saja tidak melihat istrinya sedang mode masam, Ryan ingin tertawa.


“Bosan Masry. Aku pengen yang lain,” keluh Alena seraya menjatuhkan kepalanya di atas meja. Kemudian memiringkan kepalanya, menoleh ke arah suaminya.


“Hemm mau apa sayang?” tanya Ryan dengan prasangka yang tak enak.


“Pengen rujak–”


“Ya udah Mas belikan.” Ryan hendak beranjak menarikan rujak untuknya. Namun, tangannya terasa ditahan oleh Alena, hingga membuatnya kembali duduk. “Apalagi sayang? Katanya mau rujak, ini Mas mau nyari,” keluh Ryan.


“Pengen rujak bebek Masry. Tapi, Masry yang buatin,” rengek Alena.


“Apa rujak bebek? Ada-ada aja deh.”


“Masry kok gitu sih. Keberatan gitu?” Alena merenggut kesal.


“Bukan begitu sayang. Masalahnya jam segini nyari bebek di mana? Masa Mas harus nyuri bebek orang. Kita kan gak ada pelihara binatang,” keluh Ryan.


“Ihh rujak bebek kok jadi binatang sih. Mana ada rujak binatang, ngaco ini orang.”


“Lah tadi bilangnya–”


“Rujak bebek itu rujak tumbuk Masry. Kaya gini loh.” Alena mengambil telapak tangan suaminya, mengibaratkan jika tangan lelaki itu adalah sebuah cobek dan tangan dirinya adalah ulekan, dan ia mulai memperagakan mengulek. Dari pelan hingga sedikit kasar dan cepat, membuat Ryan seketika paham istrinya masih dalam mode kesal karena ia tak kunjung paham.


“Iya sayang. Mas udah paham sekarang.” Ryan menarik tangannya yang sedikit kebas. “Ya udah mas cari bahannya dulu ya. Terutama buahnya. Mas tak beli di supermarket,” sambungnya.


“Ngapain beli?” seru Alena.


“Lha terus? Jangan bilang kamu suruh Mas nyuri ya sayang. Gak! Mas gak mau masa anak aku dikasih makan barang curian sih,” protes Ryan. Berbekal pengalaman rekan kerjanya di rumah sakit, saat istrinya mengandung meminta untuk mencuri buah milik tetangganya, Ryan jadi was-was saat istrinya meminta sesuatu yang aneh. Bayangkan saja kalau ketangkap bisa-bisa di katakan maling. Ryan jadi berpikir masa masih di dalam perut udah ngajarin ayahnya menjadi maling.


“Ihh suudzon aja.”


“Terus apa? Buruan sayang. Keburu Mas lapar ini,” kata Ryan seraya mengacak rambutnya yang masih terlihat basah, karena ia belum sempat mengeringkannya. Niatnya mencari istrinya itu karena kangen seharian belum melihatnya, tak tahunya ia jadi diminta aneh-aneh.


“Masry petik lah. Itu di belakang ada beberapa jenis buah. Ada jambu, mangga dan lainnya. Ayo Masry anak kita kan pengen juga lihat Papinya manjat pohon,” kata Alena seraya menarik tangan suaminya menuju kebun belakang.