Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Aku Menyesal



“Miranda?” teguran suara bariton membuatnya menoleh dan terkejut.


Seorang lelaki tampan, tinggi, dalam balutan jas rapi kini berada di depannya. “Mas Damian,” desisnya tak percaya kala melihat mantan suaminya tengah berada di sana. Bahkan Sandy yang berada di sisinya, pun hanya bergeming tak mengerti siapa lelaki itu. Ia hanya merasa bingung lantaran majikannya memanggil lelaki lain dengan sebutan – mas.


Tidak ada tatapan tajam dan kesal dari pancaran mata dan wajah lelaki itu. Miranda hanya melihat tatapan teduh, dan lembut sama seperti dulu, saat keduanya masih menjalin rumah tangga yang bahagia, sebelum penyakit leukimia merenggut nyawa Agatha.


Tidak ada dendam di hati Miranda. Jauh hari setelah perceraiannya dengan Damian selesai. Ia sudah sepenuhnya ikhlas dan memaafkan lelaki itu. Namun, bukan hal itu yang membuatnya terkejut. Ia hanya bingung dengan kehadiran lelaki itu di Indonesia.


Lelaki itu tersenyum semakin mengikis jaraknya dengan Miranda. “Kamu, apa kabar Miranda?” tanyanya.


“Ba–baik.”


Tampak Damian tersenyum masam, menyadari raut gugup mantan istrinya itu. Entah ada sesuatu yang menggores hatinya. Perih, itulah yang kini Damian rasakan.


“Mama!” panggil Misel setengah berteriak menghampiri Miranda. Anak itu langsung memeluk Miranda, tampak kedua kuncirnya bergerak seiring dengan gerakan tubuhnya.


Misel menatap ke arah Damian. “Mama dia siapa?” tanyanya.


“Emm ini–”


“Kalau dia orang jahat biar Misel panggilkan Papa,” sambungnya.


Eva pun mendekati Sandy, kedua matanya mengkode sebuah pertanyaan siapa lelaki itu. Tapi, Sandy hanya menggeleng.


“Kalau begitu cepat telpon Pak Miko. Aku gak mau disalahkan jika sesuatu terjadi,” pinta Eva. Sandy bergegas mengambil ponselnya.


“Bukan sayang... Bukan. Dia ini...”


Damian menatap ke arah Misel. Anak itu begitu cantik, raut wajahnya sedikit mirip dengan mendiang putrinya – Agatha. Kemungkinan karena gen ibunya pun sama. “Dia putrimu?” tanyanya pada Miranda, yang membuat perempuan itu mengangguk.


Damian pun menekuk kedua lututnya menatap ke arah Misel. “Hallo, adik manis. Namaku Damian, kamu boleh panggil aku Paman Damian. Paman ini temannya Mama Miranda,” ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


Misel menatap ke arah Mamanya, dan Miranda mengangguk, hingga akhirnya ia pun membalas jabatan tangan Damian.


“Namaku Misel, Paman,” balasnya.


Lelaki itu tersenyuh, melihat Misel seperti mengobati rasa rindu pada mendiang putrinya. Seandainya keadaan baik, ia mungkin akan menarik Misel ke dalam pelukannya. Namun, karena itu pertemuan pertama, ia tak mungkin selancang itu. Apalagi melihat tatapan Misel yang terlihat begitu takut padanya. “Kamu sangat cantik seperti Mamamu,” puji Damian seraya menatap ke arah Miranda, yang membuat perempuan itu memalingkan mukanya.


“Jadi, teman Mama itu gak cuma Bunda dan Tante Alena?” tanya Misel tangannya terpaut pada jemari Miranda.


Miranda mengangguk. ”Ya sayang.”


“Jadi, ada urusan apa Mas Damian di Indonesia?” sambungnya bertanya pada Damian yang kini sudah berdiri di depannya.


“Liburan."


Miranda mengangguk, berusaha paham meski terasa aneh, karena lelaki itu terus menatap ke arahnya.


“Sambil nyari kamu,” sambungnya membuat Miranda cukup terkejut.


“Aku? Memangnya ada apa?” tanya Miranda heran menunjuk dirinya sendiri. “Aku tidak membawa apapun. Saat keluar dari rumahmu, saat itu Mas.”


“Aku tahu,” sela Damian. “Namun, bukan itu tujuanku mencarimu,” sambungnya.


Sandy dan Eva masih was-was, kedua tak berani berbuat macam-macam, karena Miranda sudah mengisyaratkan lewat tangannya untuk diam. Namun, Sandy yang memang bekerja untuk Miko, tentu saja segala sesuatu yang terjadi dengan Miranda tak pernah lepas dari laporannya. Sempat mencoba menelepon Miko, tapi tak kunjung diangkat. Membuat ia akhirnya memilih mengirim pesan beserta foto Miranda kini.


Damian mencoba menoleh ke arah sekitar, seperti tengah mencari sesuatu. Hingga matanya terhenti pada salah satu cafe yang tak jauh dari jangkauannya.


“Bisakah kita bicara berdua sebentar sambil minum teh,” tawarnya.


“Kenapa tidak di sini saja,” ujar Miranda.


“Ayolah, ini sangat penting,” desak Damian memohon.


”Aku tidak bisa jika hanya berdua, karena aku pun seorang perempuan yang bersuami. Akan sangat tidak pantas jika sampai teman suamiku sampai melihat aku hanya berdua dengan lelaki lain,” jawab Miranda.


Damian terdiam, menatap Miranda. Fokusnya teralihkan pada tangan perempuan itu yang tengah mengusap perutnya yang membuncit. “Jadi, kamu sudah menikah lagi?” tanyanya sedikit terkejut.


Miranda mengangguk. “Iya. Dan sekarang aku sedang mengandung anak dari suamiku.”


“Kembali dengan Alby?” tanyanya menebak.


Miranda terkekeh, lalu menggeleng. “Tidak! Hubunganku dengan mantan suamiku memang sudah membaik, tapi bukan berarti kami harus rujuk. Hubungan kami murni hanyalah orang tua Misel, selebihnya hanya teman biasa. Dan kami sudah memiliki pasangan masing-masing.”


Terlihat pancaran bahagia di wajah Miranda. Rona bahagia yang dulu sempat ia lihat saat Miranda masih bersamanya. Sebelum kemudian ia sering bertikai perkara penyakit yang diderita Agatha.


“Ya sudah kalau begitu kamu bisa ajak putrimu,” tawar Damian kemudian.


Miranda mengangguk. “Bukan hanya putriku. Aku juga akan membawa kedua temanku,” ucapnya menoleh ke arah Sandy dan Eva.


🦋🦋


“Jadi, hal penting apa yang ingin kamu katakan, Mas?” tanya Miranda.


Saat ini mereka tengah berada di salah satu cafe yang tadi dituju oleh Damian. Seperti permintaan Miranda, di sana pun ada Misel, Sandy, dan Eva. Meski sebenarnya Damian merasa tak nyaman, tapi apa boleh buat. Ia tak mungkin memaksa Miranda. Ia harus menghargai keputusan Miranda.


“Intinya aku mau minta maaf sama kamu, Mir.”


Miranda menatap lelaki itu sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku sudah memaafkan mu, Mas. Aku sama sekali tidak pernah membenci mu. Masalah rumah tangga kita yang berakhir, semua murni memang sudah takdirnya kita tidak berjodoh.”


“Terima kasih."


Dari kalimat yang diucapkan oleh Miranda, seketika Sandy dan Eva pun paham siapa lelaki yang tengah berada di depan majikannya.


“Boleh ku katakan jujur kalau aku menyesal telah menceraikan dirimu. Setelah perpisahan kita, aku merasa sangat kesepian. Aku berpikir bagaimana jika saat itu kita masih bersama. Sebelumnya, aku berniat kembali ke Indonesia untuk mencarimu, selain untuk meminta maaf. Aku juga ingin memperbaiki kisah kita.”


Kalimat Damian membuat semua yang berada di meja itu terkejut, kecuali Misel yang sibuk Menik ice cream di tangannya.


Miranda menggelengkan kepalanya, “Itu tidak mungkin,” pungkasnya pelan.


“Aku tahu, Mir. Itu hanya pemikiran ku saat belum mengetahui kau sudah menikah. Kau tahu aku kan, sejahatnya aku. Tak mungkin aku merebut istri orang lain. Dengan mendapatkan maaf darimu pun aku sudah senang, hatiku sudah lega. Aku merasa salah satu beban ku terangkat. Dan aku bisa menikmati sisa hidupku dengan tenang.”


“Sisa hidup?” tanya Miranda.


Damian mengangguk. “Iya Mir. Maksudku–”


Bugh!


Tiba-tiba sebuah tonjokan mendarat di tubuh lelaki itu.