
Mohon maaf Bab ada yang ketuker dari bab 168 bisa di baca ulang ya... kalau gak ya udah lanjut aja.. tunggu bab selanjutnya 🙏🙏
****
Mobil yang dikemudikan Miko tiba di pelataran sebuah gedung, di mana putri sambungnya itu tengah melakukan les piano. Saat itu gedung terlihat sepi, hanya terlihat beberapa kerumunan para ibu-ibu, yang ia duga tengah menunggu putra dan putrinya les piano.
Kedatangan Miko tentu saja menarik perhatian para ibu-ibu di sana. Mereka menjadi saling berbisik mengagumi sosok Miko.
“Duhh hot banget ya Papanya Misel!”
“Iya beruntung banget anak itu. Papanya ganteng, apalagi Ayahnya lebih keren.”
“Anak itu beruntung banget memiliki dua pasang orang tua yan sangat menyayanginya.”
“Kalau setiap hari liat yang begituan sih. Aku juga mau tiap hari suruh anak les piano.”
Bisik-bisik para ibu-ibu terdengar, sedikit membuat Miko merasa risih. Lelaki yang mengenakan kaos polo berwarna putih, serta celana sebatas lutut itu memilih menyandarkan punggungnya di sisi pintu mobil, seraya menatap ke arah pintu salah satu ruangan yang ia yakini tempat di mana putri sambungnya berada. Ia berharap Misel segera keluar, atau Miko akan merasa semakin risih melihat tatapan para ibu-ibu di sana.
Seingatnya, tadi Alby mengatakan sudah hampir terlambat menjemput. Tapi, kenapa sampainya ia di sana, Misel bahkan belum keluar dari ruangan.
Miko mengetuk-ngetuk jarinya di pintu mobil, mengusir rasa jenuh yang baru hinggap.
Tidak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Anak-anak berhamburan keluar, pandangan Miko jatuh pada gadis kecil dengan dua kuncir ekor kuda di beri pita. Ketika berlari ekor rambutnya itu bergerak mengikuti langkahnya.
“Papa?” panggilnya begitu tiba di depan Miko.
“Hai sayang?” sahut Miko balik.
“Kok Papa yang jemput. Ayah mana?” Misel melongok ke arah dalam mobil, mengira Alby pun ikut.
“Iya Papa yang jemput. Tidak masalah kan, tadi Ayah juga mau jemput Misel. Tapi Papa mencegahnya, karena tiba-tiba Papa ingin menjemput Misel gimana dong?” ujar Miko tersenyum hingga memperlihatkan gigi putihnya. Ia hanya berusaha menghibur putri sambungnya itu, karena Misel terlihat menunduk seperti tengah kecewa.
Lantas, Miko pun membukakan pintu untuknya, memintanya untuk segera masuk.
“Ayah dan Bunda lagi di rumah Papa lho, Misel kesana ya?” ujar Miko membuka obrolan ketika mobil telah melesat meninggalkan area les.
Misel hanya mengangguk tanpa suara, pandangannya mengarah ke arah luar. Jika Miko lebih rinci melihatnya, anak itu seperti tengah memendam sesuatu.
“Misel kok diam aja? Gak senang ya Papa yang jemput?” tanya Miko. Ada gelagat rasa tak enak melihat sikap putrinya, pasalnya ia merasa Misel tengah mengharapkan Alby yang datang.
“Tentu saja senang Papa,” sahut Misel tersenyum tipis.
“Tapi kenapa hanya diam saja. Misel gak mau cerita apa yang tadi Misel kerjakan di dalam sana.”
Misel menghela nafasnya. “Papa ini gimana? Tentu saja belajar main piano. Aku diam, karena aku bingung mau bicara apa."
Miko terkekeh. “Bukan karena ada yang tengah kamu pikirkan sayang? Kalau ada sesuatu kamu bisa cerita ke Papa. Misal ada teman kamu yang usil gitu, Papa siap membela.”
Miko melambatkan laju mobilnya, merasa putri sambungnya itu tengah membutuhkan teman bercerita. “Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu sayang?”
“Emm... Lupakan soal tadi Papa. Sepertinya itu hanya perasaan aku saja.”
Miko mengangguk. “Ya benar. Itu hanya perasaanku saja, sayang. Tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya. Jangan hanya karena kamu berpikir Bundamu tengah mengandung adikmu, lantas kamu berpikir jika Ayah dan Bundamu mengabaikan dan tidak menyayangimu lagi. Percayalah mereka sangat menyayangimu. Begitupun dengan Papa dan Mama. Tidak akan ada yang berubah meski kamu akan memilik adik.”
Misel tersenyum, mendengar ucapan Miko ia sedikit merasa senang. “Aku percaya Papa. Dan lagi aku harus senang karena sebentar lagi aku akan punya banyak teman,” serunya girang.
“Nah begitu lebih bagus.” Miko mengusap rambut anak itu dengan lembut. Ia menolehkan kepalanya pada jalanan. “Mau beli ice cream tidak?” tawarnya kemudian.
“Emang boleh?”
“Boleh dong.”
“Emang Papa bawa uang?” tanya Misel. Miko terkekeh ia paham kenapa anak itu bertanya demikian. Pasalnya pernah ia mengajak Misel ke indo April dengan percaya diri, ia juga meminta anaknya itu untuk mengambil apa saja yang diinginkannya. Namun, ketika hendak membayar ia baru sadar tidak membawa uang sepeserpun, dompetnya tertinggal. Akhirnya, sebuah jam tangan bermereknya ia gadaikan, kemudian ia tebus setelah mengambil uang di rumah. Beruntung saat itu indo April yang ia datangi, letaknya tak jauh dari rumahnya.
“Bawa dong!” jawab Miko seraya membuka laci bagian mobilnya. Ada beberapa lembar uang yang sengaja ia letakkan di sana. Semua untuk jaga-jaga bilamana ia tidak membawa dompet.
Miko menghentikan mobilnya tepat di depan indo April. Keduanya lantas turun masuk ke dalam sana. Dengan membawa keranjang, ia mengikuti langkah putri sambungnya itu. Misel dengan semangat mengambil beberapa jajanan yang ia inginkan. Dari coklat, susu kotak, cemilan ringan, sampai ice cream hingga satu keranjang itu terlihat penuh.
Setelahnya, Miko membawa belanjaan putrinya itu ke meja kasir. Terlihat pegawai indo April itu mulai menghitung satu persatu belanjanya.
Misel berdiri di sisi Miko, tangannya bergerak meraih satu kotak kecil berwarna merah dengan merek fiesta.
“Papa ini nugget baru ya? Misel baru tahu ada bungkusan kecil seperti ini,” tanya Misel membuat Miko menoleh terkejut, mendapati putrinya tengah memegang dan bertanya perihal sebuah pengaman.
“Bukan sayang, itu bukan nugget.”
“Mereknya fiesta kok. Apa dong Papa? Permen ya.” Rasa penasaran anak itu semakin menjadi. Ia memutar bungkusan itu, mencoba membaca tulisan-tulisan di sana. Miko semakin terkejut, segera ia merebut barang itu lalu mengembalikannya di kasir.
“Papa kok diambil sih. Misel kan lagi baca biar tahu.” Misel mencebik kesal.
“Tidak perlu dibaca sayang. Itu bukan untuk anak kecil, itu khusus orang dewasa. Misel gak boleh lihat-lihat apalagi di pegang-pegang, sampai baca-baca,” tukas Miko.
“Kalau gak boleh di lihat kenapa di taro di sini? Papa ini aneh.”
Miko melongo melihat anak itu justru menyalahkan dirinya. Pegawai kasir tampak tersenyum mendengarnya. “Mbak tuh dengarkan ucapan anak saya. Saran tuh balon jangan di pajang di sana. Ribet jadinya.”
“Balon apa Papa?” tanya Misel lagi. Miko menghela nafasnya membayar tagihan belanjanya. Kemudian, mengambil kantong belanjaan itu, dan meraih tangan Misel.
“Balon untuk lolipop. Dah ayo kita pulang, Ayah dan Bunda pasti sudah menunggu.” Miko langsung menggendong putrinya keluar.
“Aku mau balon lolipop Papa,” rengek Misel.