
Ryan menatap istrinya yang makan mie ayam dengan lahap. Ia bersyukur karena sampai di rumah istrinya itu belum tidur dan masih menunggunya. Bisa bayangkan jika Alena sudah tidur, betapa tidak kesalnya dia, sudah jauh-jauh menganggu aktivitas Miko malam, menerima segala Omelan lelaki itu demi dirinya. Di saat seperti ini kadang Ryan merasa penasaran dan ingin bertanya perihal masa kehamilan ibunya selama mengandung dirinya dulu. Apakah sama seperti Alena yang tengah hamil anaknya.
“Kenyang gak sayang?” tanya Ryan seraya mengusap bibir istrinya yang sedikit belepotan. Alena menatap suaminya dengan kedua mata yang tak berkedip, lalu mengangguk.
“Kenyang Masry. Enak banget, pokoknya mie ayam Aa samsul mah juara.” Alena mengacungkan dua jempol tangannya, kemudian beralih meneguk es jeruknya.
“Ahh segarnya. Kaya disiram es,” celetuknya asal.
“Lha itu kan memang es,” tunjuk Ryan pada gelas yang dipegang istrinya.
“Oh iya ya.” Alena hanya meringis menatap gelas di tangannya, mendadak kenapa jadi seperti orang bo doh pikirnya.
“Kamu tahu gak sayang waktu Mas datang ke rumah Miko tadi dia lagi ngapain?” kata Ryan menceritakan kejadian tadi.
Alena menggeleng. “Ya enggaklah. Masry ini aneh, aku di rumah mana bisa tahu Miko sedang apa.”
“Maksudnya tuh tebak dong sayang. Kamu tebak dia lagi apa?”
“Tidur!” jawab Alena asal.
“Salah!”
Alena cemberut, tadi disuruh nebak pada akhirnya disalahkan apa gak buat kesal suaminya itu coba.
“Dia lagi main suntik-suntikan," sambung Ryan membuat Alena melongo.
“Kok Masry bisa tahu? Masry langsung nyelonong ke kamarnya ya? Gak sopan,” cecar Alena bahkan ia mendaratkan pukulan di paha sang suami.
“Sembarangan!” sergahnya seraya mengusap pahanya yang terasa pedih akibat tabokan istrinya yang tenaganya lumayan menurutnya. “Mas tetap tahu lah adab bertamu sayang, mana bis langsung nyelonong ke kamar orang. Ya mas minta pegawainya untuk memanggil Miko,” sambungnya.
“Terus kenapa Mas bisa tahu kalau mereka lagi suntik-suntikan?”
“Gimana Mas gak tahu. Sahabatmu itu menghampiri Mas dengan penampilan yang acak-acakan, kancingnya terpasang secara asal, terus dilehernya juga banyak bekas tanda cinta,” tutur Ryan menceritakan, Alena terdiam mendengarkan cerita suamimya. “Ganas banget ya itu istrinya. Mas juga mau dong sayang, dibuat tanda cinta di leher Mas sampai penuh, jangan cuma di tempat tertutup doang, biar Mas bisa pamer gitu,” sambungnya seraya mengedipkan kedua matanya menggoda istrinya.
“Masry norak ih,” tukas Alena.
“Kok norak sih sayang, itukan–”
“Masry itu dokter. Dan dokter itu terkenal dengan segi kebersihannya, aku gak mau ya Masry malah jadi gunjingan orang. Masry gimana sih katanya apa yang terjadi di ranjang kita tidak boleh diceritakan ke orang lain. Nah ini malah minta di buat tanda biar semua orang tahu gitu? Maksudnya apa? Begitu ngaku udah dewasa,” seloroh Alena membuat sang suami terdiam kalah telak. “Dah kenyang, mau balik kamar ah tidur,” sambung Alena beranjak dari meja makannya.
Ryan yang menyadari istrinya sudah berlalu, segera beranjak menyusulnya. Alena baru siap menapaki tangga, ia dengan cepat menggendongnya membuat perempuan itu terpekik.
“Masry ihh ngagetin aja? Gimana kalau Mama sama Papa sampai bangun.”
“Gak mungkin. Biar kamu gak capek sayang, mas gendong.”
“Aduh baiknya suamiku ini.” Alena mencubit gemas pipi suaminya. Ryan terus melangkah pelan menapaki satu persatu tangga.
“Hadiahnya mana dong?” pinta Ryan dengan pura-pura wajah melas.
“Mau minta apa?”
“Karena belum boleh main suntik-suntikan, cium dan peluk pas tidur aja deh. Bolehkan?” pintanya setelah berpikir beberapa saat.
“Hemm..”
Tiba di lantai atas, Ryan tak menduga jika istrinya tiba menangkup kedua pipinya, memberikan kecupan kecil di sana.
“Cukup kan?” ujar Alena.
“Iya deh daripada tidak sama sekali.” Ryan membuka pintu kamarnya dengan pelan, lalu membaringkan istrinya di ranjang. Setelahnya ia pun ikut berbaring di sisinya, memeluk Alena dengan lembut.
****
Pagi ini Miranda tengah melayani sang suami sarapan. Perempuan itu menyiapkan berbagai makanan yang sehat untuk suaminya. Tiba-tiba Yanto menghampirinya.
“Pagi juga Yanto,” jawab Miranda ramah sementara Miko hanya diam. “Sudah sarapan belum?” sambungnya bertanya.
“Belum Bu,” jawab Yanto sambil tersenyum.
“Ya udah sini ikut sarapan. Sebentar aku ambilin piring ya,” ujar Miranda meminta asisten suaminya itu untuk duduk. Lelaki itu tampak menatap takjub menu sarapan di atas meja yang terlihat menggugah selera. Sampai akhirnya Miranda kembali dengan membawa piring untuknya.
“Makasih Bu. Kebetulan saya memang sangat lapar.” Yanto dengan malu-malu mulai mengambil makanan di atas meja meletakkannya di piringnya.
“Buseet deh Yanti. Kamu makan gak kira-kira, gak ada malu-malunya gitu. Banyak banget, kaya gak makan sebulan aja,” cetus Miko menggelengkan kepalanya menatap heran porsi makan asistennya yang begitu banyak.
“Ya maklum Pak Bos mumpung ada makanan enak, gratis. Kalau makan banyak segini kan bisa sampai siang. Bos kan tahu ini tanggal tua belum gajian, dompet kena kanker.”
“Kanker?” tanya Miranda.
“Kantong kering maksudnya, Bu. Saya kan juga harus berhemat supaya bisa mempersunting Neng Cla–”
“Ngomongin adik ku, mulutmu ku sumpel pake piring entar,” sergah Miko kesal. Masalahnya adiknya itu baru kelas satu SMP, masa iya asistennya yang sudah berumur 27 tahun itu bisa-bisanya mengincarnya.
Miranda menenangkan suaminya, menganggap jika ucapan Yanto hanya bercanda.
“Ya udah nanti aku bungkusin buat bekal ya Yanto, buat suami ku juga,” tawar Miranda.
“Boleh banget bu.”
“Dasar muka gratisan!” cibir Miko.
“Emang,” sahut Yanto seraya melanjutkan makanannya kembali.
“Kakak bagi duit dong!” teriak seorang gadis remaja berseragam SMP di ambang pintu. Miko dan Yanto sontak menoleh.
Yanto terkesima melihat pujaan hatinya ternyata menghampirinya. “Mimpi apa semalem di datangin bidadari.”
“Kamu kira kakak bank apa?” cetus Miko karena kebiasaan banget adiknya itu kerap meminta uang padahal di rumah pun ia tahu Mama Amira dan papanya pasti sudah memberikan uang sakunya.
“Nanti kan ada extra kurikuler, masa gue cuma di kasih gocap. Mama ini pelit banget gak kaya Papa. Kan tahu Papa lagi di luar kota, uang saku gue terbatas. Ayolah bagi duit, masa sama adik kamu yang cantik jelita ini pelit sih.”
“Gue-gue apaan tuh. Ubah gaya ngomongmu,” sergah Miko yang merasa panas akan gaya bicara adiknya itu.
“Iya deh gu... Eh aku maksudnya, minta duit sama kakak, ayolah Soekarno Hatta kak,” rengeknya. “Kalau gak aku minta Kakak ipar deh pasti dikasih,” sambungnya.
Miko menghela nafasnya, kemudian membuka dompetnya mengambil satu lembar Soekarno Hatta lalu berdiri menempelkan di kening Clara. “Bocil itu kalau jajan gak usah banyak-banyak.”
Clara tersenyum sumringah mengambil lembaran uang di keningnya. “Makasih kakak.” Clara memeluk Miko dengan erat.
“Jangan peluk-peluk, aku udah ada bini. Sono berangkat,” usir Miko.
“Iya-iya.”
Clara menyalami tangan kakaknya dengan takjim. Kemudian tatapannya beralih pada lelaki di sebelahnya. “Eh ada Bang Yanto.”
“Neng Clara, makin bening aja neng,” puji Yanto membuat Clara bingung namun tak urung ia pun tersenyum.
“Duluan ya bang,” pamitnya.
“Ku colok matamu kalau natap adikku lama-lama ya,” ancamnya.
.
.
.
mampir di novel baruku yuk Guys.. update setiap hari juga..