Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Apakah Aku Bermimpi



Alby kembali menatap wajah cantik istrinya yang terlihat sembab, bahkan ia masih merasakan pipi perempuan itu basah, ternyata Rena habis menangis.


"Jaga dan sayangi Rena."


Pesan Rava -- ayah mertuanya kembali terngiang. Hari ini ia justru membuat istrinya sedih bahkan sampai menangis.


"Maafin Abang, Re. Abang egois," lirihnya, salah satu tangannya mengusap pipi istrinya, Rena sama sekali tak terusik. Tampaknya perempuan itu sudah benar-benar nyenyak.


Alby melihat istrinya yang hanya menggunakan pakaian tidur kimono, di atas lututnya, yang pasti terasa dingin karena Rena tidak menggunakan celana panjang. Menghela nafasnya, Alby beralih menggendong istrinya, berniat memindahkannya ke kamar.


Alby menapaki satu persatu anak tangga dengan pelan hingga sampai di lantai dua, dan tepat berada di kamarnya. Lelaki itu berbalik menggunakan punggungnya untuk membuka pintu kamar, beruntung pintunya tidak tertutup dengan rapat. Dengan pelan Alby membaringkan tubuh Rena di atas ranjang lalu menyelimutinya. Rena sama sekali tak terusik.


Alby segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian ia sudah selesai, dan langsung mengganti pakaiannya. Setelahnya Alby langsing berbaring di sisi istrinya, karena ia sendiri pun merasa sangat ngantuk.


****


Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari, Rena mengerjapkan kedua matanya saat jam Beker di atas nakasnya pun berbunyi dengan nyaring.


"Ya ampun aku kesiangan," pekik Rena yang langsung membuka kedua matanya dengan lebar, dan mengubah posisinya menjadi duduk. Rena kembali melirik ke arah sisi ranjangnya yang terlihat kosong.


"Berarti semalam aku cuma mimpi ya di peluk Abang, tapi kok kaya nyata ya. Padahal Abang belum pulang. Kamu kemana sih bang?" Rena kembali menunduk sedih. Ia pikir hari ini ia akan nekat mendatangi kantor suaminya, dan ia berniat untuk bolos kuliah, Rena berniat melihat jadwal kelas pagi ini, berharap tidak ada hal yang begitu penting. Ia mencoba mencari ponselnya di atas nakas, namun tidak ada. Rena berusaha mengingat kejadian semalam.


"Semalam kan aku ketiduran di sofa karena nunggu Abang. Terus kok aku bisa berada di sini?" serunya heran. Keningnya mengerut ketika tubuhnya mencium aroma parfum yang tak asing baginya, tepat di pakaian miliknya.


"Ini parfum bang Alby. Berarti semalam Abang beneran pulang, dan mindahin aku tidur di sini. Kok gak bangunin aku saja, terus kenapa pagi-pagi udah ngilang. Berarti Abang masih marah sama aku," lirihnya.


Rena menyingkap selimutnya, lalu menjuntaikan kakinya ke lantai, dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Rena berdiri di hadapan gedung yang menjulang tinggi di depannya. Ya saat ini ia sudah tiba di perusahaan milik suaminya, untuk pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di sana. Ia harap kedatangannya tak menimbulkan masalah.


Dengan dress berwarna merah sebatas lutut, di padukan tas selempang berwarna merah serta sepatu kets berwarna putih, Rena tampak cantik. Ia harap suaminya akan sudi meliriknya, bukankah tidak masalah mempercantik diri untuk suaminya. Rena bahkan sudah memikirkan cara bagaimana cara meminta maaf pada sang suami, meski harus bersikap agresif pun harus ia lakukan.


Rena tersenyum dengan semangat, ia pun melangkah masuk. Tapi sampai di depan pintu langkahnya terhenti ketika seorang penjaga menghentikannya.


"Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


Rena terdiam bingung, ia mengigit bibirnya bawahnya, ia bingung harus menjawab apa.


"Sebenarnya saya-"


"Rena?" Dari belakang Soraya terlihat memanggil dirinya, membuat Rena menoleh.


"Ibu?" sahutnya tersenyum, Soraya menghampiri menantunya, lalu menoleh ke arah penjaga dan berkata, "ini Rena, menantu saya. Istrinya Alby, lain kali kalau dia datang biarkan dia masuk saja ya."


"Baik Bu. Saya minta maaf karena saya tidak tau!"


Soraya mengangguk, "tidak masalah."


"Ayo sayang. Kamu mau menemui Alby ya." Soraya menarik tangan menantunya membawanya ke dalam.


"Iya Bu! Tapi-"


"Temui saja. Dia ada lantai sepuluh, kamu datang saja ke ruangannya ya. Ibu masih ada pekerjaan," potong Soraya dengan cepat.


"Baik Bu. Terima kasih!"


Sepeninggal Soraya, Rena pun berlalu masuk ke dalam lift dan menekan tombol sepuluh. Hingga beberapa saat kemudian pintu kotak besi itupun terbuka, Rena keluar dengan perasaan gugup.


'Ngapain kamu datang kesini? Sana keluar aku tak sudi melihatmu lagi.'


Rena bergidik ngeri kala bayangan kata-kata itu justru menghiasi otaknya, ia memukul kepalanya. "Ini nih gara-gara Mommy, suka ngajarin nonton drama ikan terbang, pikiranku jadi enggak-enggak. Abang gak mungkin kan berkata seperti itu."


Rena yang terus memukul kepalanya membuat orang-orang yang lewat menatap Rena dengan pandangan aneh.


"Rena?"


"Eh, Kak Mil?" sahut Rena menghampiri Milea yang tengah duduk di kursinya.


"Milea dong Rena. Kok Mil sih, yang lengkap kalau manggil. Jangan buat aku kesal dong onty." Milea mengusap perutnya yang masih datar.


"Abang bilang nama kakak mie rebus. Masih bagusan akulah Kak Mil." Rena terkekeh, lalu beralih menatap ke arah perut Milea. "Serius kakak lagi hamil?" tanyanya kemudian.


"Iya, Re. Baru enam Minggu, senang deh aku. Aku yang hamil bang Ardan yang ngidam. Jadi aku tetap enjoy," ujar Milea senang, membuat Rena tersenyum. "Eh ngomong-ngomong kamu kesini mau ketemu Alby ya? Tumben. Ya udah sana masuk gih, soalnya sebentar lagi ada rapat," ujar Milea.


"Iya Kak. Bay the way selamat ya buat kehamilannya."


"Iya semoga cepat nular ke kamu ya. Biar kita bisa janjian ngidamnya," seru Milea.


Rena menggelengkan kepalanya, seraya terkekeh kecil, ada-ada saja ngidam masa janjian. Sekretaris suaminya itu memang kadang aneh.


Tok! Tok!


"Masuk!"


Rena membuka pintu ketika terdengar sahutan dari dalam. Ia masuk dan melihat suaminya tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Ada apa lagi Mil? Berkasnya udah siap semua kan?" tanya Alby tanpa menoleh ke arah pintu, fokusnya tetap pada apa yang di tangannya.


"Bang?" lirih Rena seraya memegang erat selempang tas miliknya.


Alby mengangkat kepalanya, dan terkejut mendapati istrinya kini berada di ruangannya. "Rena?"


Pandangan keduanya bertemu saling memaku di tempat. Rena menatap wajah suaminya dengan sendu. "Bang aku-"


"Kamu sama siapa kesini, Re?" tanya Alby seraya bangkit dari kursinya menghampiri istrinya, membuat pikiran negatif Rena buyar, ternyata sambutan sang suami tak seperti apa yang ada dalam pikirannya tadi.


"Sendiri," balas Rena.


Alby mengangguk, seraya melirik arloji di tangannya


"Bang, aku kemari karena aku ingin bicara sama Abang. Aku mau minta-"


Tok! Tok!


"Maaf pak, meeting hampir di mulai dan anda sudah di tunggu," ujar salah satu staff Alby. Membuat Rena tertunduk lesu.


"Ya sebentar!"


"Bang? Sebentar saja," pinta Rena membuat Alby tak tega, pasalnya meeting kali ini juga penting, Alby tak mungkin membatalkannya.


Alby mengangkat tangannya mengusap rambut istrinya, lalu tersenyum. "Abang meeting dulu ya. Tunggu Abang pulang ya, Re."


Rena menggeleng matanya berkaca-kaca, "Abang nanti bohong gak pulang?" lirihnya, ia masih takut suaminya kembali pergi lagi.


Alby menggeleng, "enggak. Abang pasti pulang. Tunggu saja, setelah ini Abang masih ada survei lokasi soalnya, kamu gak mungkin nunggu Abang di sini sampai selesai kerja kan."


Rena mengangguk lesu. "Ya udah aku tunggu di rumah," lirihnya seraya menatap kepergian suaminya yang berlalu dari hadapannya.