
Sore ini Ryan pulang kerja dengan wajah lesu tak seperti biasanya. Bahkan ia memarkirkan mobilnya secara asal.
"Ini kopinya, Pa." Elena meletakkan secangkir kopi di atas meja tepat di hadapan Bastian suaminya.
"Makasih cinta," sahut Bastian sambil menutup ponselnya, demi menikmati kopi buatan istrinya.
Elena mengangguk dan duduk di sisi suaminya. Perempuan itu sesekali akan menoleh pada suaminya. Membuat Bastian merasa heran.
"Ada yang ingin kamu katakan ma?" tanya Bastian. Ia tau kalau istrinya sudah mode seperti itu pasti akan ada yang diminta.
"Mama gak kehabisan uang kan," tambahnya kemudian, dan langsung mendapatkan tabokan dari istrinya. Bastian hanya terkekeh.
"Ijinin mama belajar nyetir mobil sendiri ya Pa?" pintanya sambil memijat lengan suaminya dengan mode merayu.
"Gak!" tegas Bastian.
Elena mengerucutkan bibirnya ke depan sebal. "Jahatnya anda Pak Bastian!"
"Ngapain sih? Lagian itu kalau kemana-mana kan udah Mang Agus yang ngantar, atau bisa sama sih Ryan. Aneh-aneh aja ini si Mama."
"Aneh gimana sih, Pa. Cuma mau nyetir aja gak boleh. Takut banget mama kelayapan ya. Udah tua masih aja cemburuan," omel Elena. Padahal ia tengah berfikir jika ia bisa menyetir sendiri ia bisa hang out bareng Alena nanti. Eh tapi ngomong-ngomong bagaimana caranya mau hang out bareng Alena, alamatnya saja ia tidak tau, apalagi nomor ponselnya. Ia pikir ini semua karena Ryan, gara-gara dia dirinya sampai lupa meminta nomor ponsel Alena.
"Bukan masalah cemburu loh Ma. Tapi Papa sayang aja dengan nyawa mama. Emangnya Mama gak ingat pernah beberapa kali belajar nyetir selalu berakhir mengenaskan. Kadang Mama hampir nabrak orang, kadang nabrak pohon milik tetangga, kadang nabrak warung di pinggir jalan. Kalau sudah begitu, Papa pusing ma. Makanya Papa gak mau ambil resiko lagi. Mama itu emang gak bakat nyetir, jadi udah kemana-mana diantar aja ya? Selain aman Mama juga kan ada temannya." Bastian berkata dengan lembut menepuk pipi istrinya. Elena hanya mengangguk meski sedikit terpaksa.
"Pacaran mulu ini orang," celetuk Ryan yang tiba-tiba sudah berada di sisi keduanya.
"Ya lah, udah halal ini. Iya kan Pa?" ujar Elena. Bastian hanya mengangguk.
"Makanya cepat nikah biar bisa ngerasain serasa dunia milik berdua, iya kan Pa. Halalin atuh Alenanya!" tambah Elena kemudian.
"Siapa Alena ma?" tanya Bastian.
"Calon mantu kita Pa."
"Ngaco. Dia udah punya calon sendiri, mama gak usah aneh-aneh deh." Mood Ryan mendadak kembali buruk mendengar nama itu disebut, ia jadi ingat cerita Alena di mall saat itu. "Balik kamar ah," sambungnya berlalu pergi.
"Yahh. Masa sih udah punya calon. Batal dong jadi kandidat mantu," keluh Elena.
"Siapa namanya tadi Ma?"
"Alena. Itu loh Pa, anak pemilik Mall AMF Pasific. Anaknya lucu pa, Mama udah klop banget dan yakin Ryan juga suka. Tapi masa iya dia sudah punya calon sih, Mama jadi sedih ini pa." Elena memasang wajah sedih.
'Perasaan Ryan biasa aja, kenapa jadi istriku yang uring-uringan.'
Ryan membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Kata-kata Alena terus terngiang dalam otaknya.
****
Los Angeles, California, Amerika Serikat
Miranda tengah menatap foto yang terbalut pigura sedang dengan wajah sembab, karena ia terus menangis.
"Agatha, maafin Mama. Karena Mama tidak bisa berbuat banyak untuk kamu. Kenapa kamu harus pergi tinggalin Mama nak. Padahal Mama sudah berjanji jika kamu sembuh, mama akan menemukan kamu dengan kakakmu," kata Miranda pilu. Kedua matanya kembali mengeluarkan lelehan yang terasa hangat, kala mengingat putrinya kini telah kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Ya, kemarin lusa Agatha baru saja menghembuskan nafas terakhirnya, karena penyakit leukimia yang di deritanya semakin bertambah parah, hingga membuat nyawanya tak dapat bertahan.
Miranda mendekap erat pigura itu ke dalam dadanya, tangisnya terus berlanjut. Ia merasa separuh jiwanya pun saat ini ikut pergi. Dalam ruangan yang mewah itu, perempuan itu terus menangis meratapi kepergian putrinya, ia sadar kemewahan apapun yang saat ini ia miliki tak ada artinya, kala Miranda justru merasakan hatinya terasa kosong.
Brakk!!!
Miranda tersentak kala pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Sosok laki-laki tinggi, berkulit putih, memiliki badan yang kekar, kini berdiri di ambang pintu seraya menatap dirinya dengan tajam.
"Sayang?" Miranda meletakkan pigura itu ke tempat semula dan bangkit menghampiri sang suami, yang tak lain adalah Damian Marley.
Brugh!
"Aduh!" Miranda meringis kala tubuhnya di dorong dengan kasar oleh Damian, saat ia hendak menyentuh tangan lelaki itu.
"Apa yang kamu lakukan mas. Kenapa kau mendorongku hingga terjatuh?" tanya Miranda.
Damian menatap Miranda dengan wajah sinis bercampur marah. Lelaki itu melangkahkan kakinya mendekat, kemudian menekuk kedua lututnya. Salah satu tangannya terangkat untuk mencengkram dagu Miranda.
"Kenapa? Kau tanya kenapa? Itu hal yang wajar yang seharusnya kau dapatkan!" bentak Damian seraya melepaskan cengkeramannya. Miranda menggelengkan kepalanya tak mengerti, setelah dari kemarin sang suami hanya terdiam di kamarnya usai kematian Agatha, kini lelaki itu menghampiri dirinya dengan sejuta kemarahan. Miranda tak mengerti ada apa dengan lelaki itu.
"Wajar? Memangnya apa yang telah aku lakukan?" tanya Miranda bingung.
"Karena kau lah penyebab kematian Agatha!!" sarkas Damian marah.
Deg!
Miranda terhenyak mendengarnya. Dengan pelan ia pun kembali berdiri lalu menatap wajah suaminya yang nampak memerah karena marah. "Agatha tiada karena penyakitnya, bukan karena aku. Kau pikir aku ini pembunuh?" ujar Miranda.
"Ya bagi ku kaulah pembunuhnya. Seandainya kau berhasil membawa Misel putrimu yang di Indonesia itu kemari, Agathaku tentu masih ada. Tapi kau tidak berhasil Miranda!"
Miranda menitikkan air matanya. Apakah dalam hal ini hanya dirinya yang bersalah. Sementara sebelumnya ia telah melakukan segala upaya demi kesembuhan Agatha, bahkan ia nyaris mati di penjara semua demi Agatha. Ia tega mencelakai Misel demi Agatha. Bahkan selama ia berada di penjara, Damian sama sekali tidak peduli padanya, saat ia datang yang ditanyakan bukan keadaannya, melainkan Misel.
"Aku telah melakukan banyak hal. Dari yang baik maupun yang jahat, semua demi Agatha. Aku bahkan sampai mendekam di penjara. Dan kau tidak peduli padaku. Kemudian setelah Agatha tiada, pantaskah kau menyalahkan ku?" tukas Miranda.
"Tentu saja! Kau mendekam di penjara itu semua karena ulahmu yang ceroboh, karena kau bodoh!" Sentak Damian. Miranda memejamkan kedua matanya, jantungnya serasa di tikam dengan belati yang teramat tajam, bahkan sekalipun belati itu di ambil tetap akan meninggalkan sebuah luka. Ya Miranda merasa sangat sakit hati mendengar kalimat Damian yang mengatakan dirinya bodoh.