
Alby melangkah pelan, kemudian memegang bahu istrinya, lalu mengusapnya pelan.
"Gak dingin emangnya? Hujan-hujan gini mandi kok keramas?"
"Gak bang. Aku kan tadi emang sempat kehujanan sebentar." Rena menjawab seraya menyemprotkan parfumnya ke leher lalu ke pergelangan tangannya.
"Abang baru pulang ya?" tanya Rena kemudian seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Iya sayang!"
"Ya udah bersihkan diri dulu, katanya lapar. Rena buatin mie instan pesanan Abang tadi ya," ujar Rena hendak berlalu pergi. Tapi dengan cepat Alby mencekal pergelangan tangan istrinya, menahannya untuk pergi.
Rena tersentak saat sang suami justru menarik tangannya mendekat, kemudian mendekapnya dari belakang. Lalu mencium rambut basah istrinya yang begitu harum.
"Wangi," bisiknya tepat di telinga sang istri.
"Bang, lepasin dulu. Rena ke dapur dulu, buatin makan buat Abang, sementara Abang bersih-bersih. Katanya tadi lapar."
Rena berkata pada sang suami, tapi Alby seakan tak peduli. Berpura-pura tak mendengar, lelaki itu justru semakin mengeratkan dekapannya.
Kemudian, Alby mulai mencium leher istrinya, setelah sebelumnya ia sibakkan ke samping rambut istrinya yang masih basah. Lalu mulai mengincar leher putih itu, namun ia kecewa ketika melihat kalung yang di pakai Rena mulai menyusahkan.
"Kenapa sih ini kalung gak dilepas aja. Abang jadi susah nyiumnya," decak Alby.
Rena memutar bola matanya jengah, mendengar ucapan suaminya, perkara kalung diprotes padahal kalung itu juga pemberiannya. Kalau suaminya udah memasang mode seperti itu, Rena pun paham detik selanjutnya akan mengarah kemana. Maka ia pun menepuk tangan suaminya yang kini mulai merambat ke atas.
"Ck! Abang ih, kebiasaan. Lepasin sih, aku harus keluar katanya Abang mau dibuatin mie," ujar Rena.
Alby menggeleng, "nanti saja. Sekarang ada hal yang lebih penting dan ini darurat. Sangat darurat malah."
"Tau, Abang lapar kan. Makanya buruan lepasin." Rena kembali menepuk tangan suaminya yang terus merambat-rambat naik. Bahkan tak segan mere mas kedua gundukan di balik mini dress yang di kenakan Rena saat ini.
"Iya lapar. Tapi bagian yang lain juga lapar, dan sekarang butuh makan."
Rena tak mengerti kemana dengan jalan pikiran sang suami. Tadi ia buru-buru mandi karena harus buru-buru menyiapkan makanan untuknya, tetapi begitu pulang bukannya minta makan, lelaki itu justru menempel padanya, dan meminta hal yang lain. Ingatkan Rena, untuk menyetok kesabaran yang luar biasa, kala menghadapi kemesuman sang suami dengan level tingkat dewa. Bayangkan saja saat ini lelaki itu bukannya melepasnya pergi, justru semakin mengeratkan dekapannya, tak lupa tangannya terus menjalar, merambat menyusuri tubuhnya. Kemudian, lelaki itu juga membuka jas dan pakaiannya. Membuat badannya kini dalam keadaan setengah polos yang hanya menyisakan celana bahan panjangnya saja.
"Emm bang, gak gini loh. Misel udah nungguin aku dari tadi." Rena berusaha memberontak.
"Sebentar saja. Just ten minutes, baby." Alby menjawab seraya terus meneruskan aksinya, memutar tubuhnya istrinya menghadap ke arahnya. Hah? Sepuluh menit? Apa tak salah lelaki itu meminta waktu sepuluh menit untuk ber cinta. Rasanya Rena tak percaya, mengingat betapa buasnya gairah sang suami.
"Eugh, bang jangan-"
Rena men de sah, mana kala Alby berhasil membuka mini dress sang istri dan melemparkannya secara asal. Kemudian lelaki itu mulai me re mas da da nya yang masih terbungkus bra.
"Jangan apa?" tanya Alby setengah menggoda.
"Jangan.... berhenti, Pak."
Alby tersenyum nakal, ia merogoh bagian belakang punggung sang istri, melepaskan tali pengikat kedua aset milik Rena tersebut. Lalu me mi lin titik merah jambu itu sedikit cepat.
"Hemm seperti ini?" tanya Alby membuat Rena membusungkan dadanya, semakin membuat Alby gelap mata. Hingga tak lama ia merunduk dan melingkupi puncak itu dengan lidahnya yang panas.
Rena, istrinya yang cantik dan berhasil menguasai hatinya.
Tak ia duga gadis yang paling menyebalkan selama di kampus, ternyata adalah jodohnya. Dan ekspresi wajah Rena yang tengah bergairah seperti inilah yang paling Alby sukai. Rena memegang bahu sang suami karena rasa geli di bawah sana yang sang suami ciptakan.
Alby menggunakan salah satu tangannya untuk memegang pinggang istrinya, sementara salah satu tangannya terus bermain di bawah sana, membuat Rena merasa frustasi.
"Abang please...." Rena merengek bak anak kecil kala meminta ice cream.
"Please apa hemm?" Alby menyeringai menggoda.
Rena merasa tersiksa mana kala Alby justru menarik jarinya, disaat sebentar lagi dirinya akan sampai. Kakinya bahkan sudah merasa gemetar, mana kala ia bersiap melakukan pelepasan. Kini Rena mendesah kecewa, saat Alby justru menyudahi kegiatannya.
Da da nya naik turun, dan terlihat begitu menggairahkan di mata sang suami. Rena mengatur nafasnya yang masih terputus-putus. Ia memaku pandangannya pada sang suami. Dengan posisi berdiri, nyaris dalam keadaan polos, hanya tertinggal kain segitiga di bagian pusatnya, rambutnya yang terlihat basah, yang semula telah ia sisir rapi, kini pun terlihat begitu berantakan. Nafasnya masih naik turun, sementara kakinya masih terbuka lebar, berharap agar sang suami kembali mengulang kegiatannya tadi. Namun, Alby tak juga melanjutkannya. Membuat Rena merasa kesal karena telah dipermainkan, sungguh kepalanya justru terasa pening. Ia sendiri tak menyangka jika tubuhnya serasa sangat menyukai permainan panas sang suami, seakan semua menjadi candu. Apakah dirinya telah tertulis virus mesum dari suaminya? Jika iya, mungkin tidak masalah. Mesum dengan pasangannya sendiri tidak apa-apakan.
"Abang... Lagi?"
Alby tertawa kala mendengar ucapan istrinya. Ia memang sengaja menggoda istrinya, karena ia paling tahu Rena itu orangnya malu-malu tapi mau sebenarnya. Bilang tidak juga nanti lama-lama men de sah keenakan, bahkan mungkin sampai ketagihan. Alby merasa senang kala melihat wajah istrinya yang merona seperti ini.
"Apanya yang lagi?"
"Yang tadi."
"Yang tadi apa, emangnya?"
Rena merasa ingin menangis, dan menjitak kepala sang suami di depannya kini. Setelah berhasil membuatnya dalam keadaaan nyaris polos, lelaki itu justru mempermainkannya.
Katanya only ten minutes. Apaan semua hanya ucapan belaka. Di tengah permainannya Alby justru menghentikannya. Rena kecewa ia juga merasa takut jika tiba-tiba Misel masuk ke dalam kamarnya, mendapati keadaan dirinya dan sang suami seperti ini. Pikiran Rena kali ini hanya ingin cepat selesai. Sebenarnya bisa saja ia langsung pergi meninggalkan suaminya begitu saja, tapi hasratnya yang belum tuntas membuat ia merasa kepalanya pusing. Mungkin seperti inilah yang Alby rasakan dulu.
"Try it," ucap Alby nakal seraya menggiring tubuh istrinya.
.
.
.
.
cuma mau kasih tau caranya kasih tip/ hadiah buat author barangkali ada yang wlum tahu.heheh
Nah kalian bisa tekan bagian yang ada tulisannya hadiah itu atau votenya ya.
Setelahnya kalian tinggal pilih deh mau kasih hadiah apa, iklan, bunga, apa kopi... poin bisa di dapat dari misi ya guys bisa lihat di profil. Kalau koin harus top up, artinya menggunakan duit, jadi gak usah. sementara vote akan kalian dapatkan setiap hari Senin.
yuk guys bagi hadiahnya biar aku semangat. wkwkkwkw