
Tiba di loby utama Misel masuk dengan girang, sesekali akan melompat-lompat sambil berhitung. Sementara Rena salah satu tangannya menggenggam tas, tangan sebelah kanannya ia tetap menggandeng Misel.
"Bunda, ayo buru. Aku mau pencet tombol kotak itu!" Misel menunjuk ke arah lift yang tertutup.
"Sabar sayang. Tombolnya tidak akan lari!" ujar Rena lembut.
"Tapi nanti keburu nutup."
Rena mempercepat langkahnya, tapi sampai di sana lift terlihat sudah penuh. Rena mengurungkan niatnya untuk masuk, sebelumnya karyawan sang suami berniat untuk keluar dan membiarkan Rena masuk lebih dulu. Tapi Rena menolaknya. Tiba-tiba Intan yang merupakan karyawan di bagian customer service menghampiri Rena.
"Ibu pake lift yang sebelah saja. Itu lift khusus untuk atasan," ujar Intan sopan.
"Oh tidak apa-apa memangnya?" tanya Rena.
"Tentu saja tidak masalah. Ibu ini kan istrinya Pak Alby pemilik perusahaan ini," balas Intan lembut. Rena gak menyangka bahkan karyawan sang suami pun sudah mengetahui siapa dirinya.
"Ayo Bunda. Misel mau pencet-pencet!" Misel menarik-narik pakaian Rena, membuat Rena pun memilih memakai lift khusus itu.
"Satu sama nol kan Bunda?" tanya Misel ketika sudah berada di dalam lift.
"Iya sayang!"
Misel dengan semangat menekan tombol dalam lift yang akan mengantarkan ke ruangan sang suami.
Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka Misel langsung berlari keluar.
"Tante??!!!" teriak Misel begitu tiba di depan meja Milea.
"Eh, si cantik!" Milea menoleh lalu mencubit pipi Misel dengan gemas. Berharap kalau anaknya perempuan muda-mudahan secantik Misel.
"Misel, tantenya sedang kerja. Ayuk masuk ke ruangan ayah yuk," ajak Rena.
Misel menggeleng, "Misel di sini saja Bunda, kangen Tante Mil."
"Udah gak apa-apa, Re. Dia akan anteng kok di sini, gak ganggu aku. Nanti kalau bosen juga pasti dia nyusul kamu ke dalam. Ya udah kamu masuk sana," ujar Milea.
Rena berlalu mengetuk pintu ruangan sang suami.
Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Alby dari dalam.
Ceklek!
"Bang?" seru Rena begitu ia membuka pintu, membuat sang suami yang saat itu tengah membaca suatu berkas mengangkat wajahnya menatap ke arahnya, lalu tersenyum.
"Ada apa sayang? Tumben kesini?" tanya Alby seraya bangkit dari tempatnya menghampiri Rena, kemudian membawa duduk di kursi tepat di depan mejanya.
"Iya bang. Aku ganggu ya?" seru Rena tak enak melihat tumpukan berkas di atas meja sang suami begitu banyak, ia menduga kerjaan sang suami masih banyak.
"Gak kok."
"Kebetulan Rena hari ini pulang cepat, dan juga jadwal di rumah sakit kosong. Kita makan siang yuk bang, sama Misel juga. Pengen makan di restoran yang ada di dalam mall depan bang," seru Rena.
Alby mengusap rambut istrinya, kemudian kembali ke tempat duduknya seraya mengambil bolpoin. "Emang pengen banget?"
"Iya bang."
Alby membubuhkan tanda tangan di berkas itu, lalu menatap ke arah istrinya sejenak. "Jangan-jangan kamu lagi ngidam lagi?" goda Alby.
Rena cemberut, "gak bang. Rena lagi datang bulan!" lirihnya yang memang tadi pagi ia baru kedatangan tamunya.
"Oh..."
Alby terkekeh lalu menutup berkas itu dan meletakan bolpoinnya. Kemudian melangkah mendekati istrinya. "Gak sayang. Lupakan kejadian kemarin."
Rena mengangguk, tersenyum haru. Lalu memeluk lengan suaminya. "Makasih ya bang. Jadi, makin cinta."
"Hemm.. Abang juga Re. Cinta kamu banyak-banyak!"
Rena mencubit perut suaminya, "ih kok jadi lebay."
Alby terkekeh lalu mengacak rambutnya, geli sendiri mendengar ucapannya barusan yang ala anak ABG baru mengalaminya kasmaran.
"Ya udah ayuk makan siang. Penasaran rekomendasi restoran dari ibu negara ini, seenak apa sih makanannya," ujar Alby.
"Sebenarnya Rena ingin kesana karena di sana sedang ada diskon bang. Nah Rena punya ni vouchernya ni buat makan!" Rena mengeluarkan tiga lembar voucher makan gratis di dalam tasnya, yang ia dapatkan dari Alena.
Alby menepuk keningnya, ternyata jiwa emak-emak dalam diri Rena pun sama seperti ibunya, yang suka sekali diskonan. "Gak pake Diskon Abang juga bisa bayar Re?"
Rena menggeleng. "Gak bang. Ini harus dipakai sayang kalau mubadzir, besok kalau habis gampang tinggal minta lagi sama Alena. Restoran ini kan milik orang tuanya. Nah pagi tadi ia memberikan voucher ini, katanya buat hadiah pernikahan kita. Baik banget kan sahabat aku itu, tau aja aku suka gratisan!"
Alby menggelengkan kepalanya, tak percaya Rena yang notabennya dari keluarga terpandang pun tetap sama seperti perempuan pada umumnya. Bahkan menurutnya Rena bukan perempuan yang boros, pandai mengelola keuangan. Hal ini pun membuat Alby merasa salut dan beruntung memilik istri seperti Rena.
"Ya udah ayuk berangkat," ajak Alby.
Rena bangkit dari kursinya, menggandeng lengan sang suami, keluar dari ruangannya. Sebelum pergi keduanya pun memanggil Misel yang masih betah bersama Milea. Melihat orang tuanya hendak pergi, tentu saja anak itu berlari menghampirinya. Seraya membawa sebuah coklat di tangannya, sementara mulutnya masih terisi dengan makanan. Rena jadi tau pantas saja Misel begitu senang diajak ke kantor, ternyata Milea itu begitu baik dengan putrinya itu.
"Abang serius mengundurkan diri jadi dosen?" tanya Rena saat berada dalam lift.
"Iya sayang. Ibu udah desak terus, karena kerepotan di perusahaan. Gak apa-apa kan, Re?"
"Ya gak apa-apa dong. Aku mah dukung aja keputusan Abang."
"Tunggu di sini, Abang ambil mobil dulu!" titah Alby ketika ketiganya telah tiba di loby.
Sebenarnya dari depan perusahaan Alby pun mall itu terlihat, hanya saja memang harus nyebrang, jadi Rena tak mencegah ketika sang suami berniat membawa mobil, mengingat saat ini ia pun sedang bersama Misel.
****
"Bang, aku ke toilet dulu ya. Abang sama Misel makan aja duluan," ujar Rena ketika sudah tiba di restoran, dan pesanan telah tersaji di atas meja.
"Ya sayang!"
Rena berlalu, perempuan itu berjalan dengan pelan sesekali menunduk.
Brugh!!
Rena hampir terjatuh ketika tubuhnya tiba-tiba ditabrak oleh seseorang, beruntung ia sigap menahan tubuhnya.
"I'm sorry. Aku tak sengaja. Apa kamu baik-baik saja," suara perempuan yang tadi menabrak Rena. Perempuan itu terlihat sedikit panik.
Rena mengangkat wajahnya, ketika tatapan matanya bertemu ia terkejut, mana kala merasa tak asing dengan bentuk bola mata itu. "Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Rena langsung buru-buru mengenyahkan pikirannya.
"It's okay. Sekali lagi saya minta maaf, karena terburu-buru."
Rena mengangguk.
"Saya permisi!"
Sementara perempuan itu berlalu pergi. Ia masih setia menatap punggung perempuan itu yang perlahan menghilang.
"Kaya gak asing? Tapi siapa ya?" lirihnya mencoba mengingat sesuatu. Tapi gagal, mungkin karena kurang asupan hingga otaknya tak dapat berfikir. Rena memilih kembali melanjutkan niatnya ke kamar mandi.