
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, dan kondisinya pulih dengan cepat. Kini Alena sudah diperbolehkan pulang.
Ryan mengambil cuti selama dua minggu untuk menemani istrinya. Kesibukannya sebagai dokter ahli bedah, membuat ia tak mungkin mengambil cuti dalam waktu yang lebih lama.
Mobil yang membawa Alena tiba di depan rumah. Alena hendak berjalan masuk ke dalam. Namun, Ryan tak mengijinkannya.
“Masry aku bisa jalan sendiri,” ujar Ryan saat sang suami membuka pintu mobilnya lalu menggendongnya ala bridal style, seperti seorang pengantin baru.
Para orang tua yang melihatnya hanya tersenyum.
“Jangan remehkan kekuatan suamimu, sayang. Kalau hanya menggendongmu sambil berlari keliling tujuh kali putaran Stadion Gelora Bung Karno aku juga sanggup,” jawab Ryan.
“Yakin ni sanggup?” tanya Alena seraya mengencangkan kedua tangannya di leher suaminya.
“Iyalah sayang. Masa aku bercanda.”
Alena memainkan kancing baju suaminya. “Ya udah nanti kalau aku ngidam pas anak kedua mau ngidam di gendong lari keliling tujuh kali putaran di Stadiun Gelora Bung Karno.”
“Jangan bercanda sayang. Jahitan kamu aja belum kering, anak kita juga masih merah. Ni leher Mas, juga belum kering akibat cakaran kukumu waktu melahirkan,” kata Ryan.
Kedua orang tau mereka hanya tertawa kecil, karena biasanya laki-laki yang lebih agresif soal menginginkan anak. Ini malah perempuannya.
“Aku gak bercanda Masry. Aku kan udah bilang mau punya anak yang banyak. Pokoknya sampai ada yang perempuan, biar bisa besanan sama Rena,” ucap Alena. Ryan hanya diam mendengarkan perkataan istrinya. Padahal ia yakin jahitan bekas melahirkannya saja masih terasa sakit, bisa-bisanya perempuan itu mengutarakan keinginannya untuk mempunyai anak lagi. Kebanyakan perempuan masih sedikit takut dengan drama melahirkan.
“Iya sayang. Nanti ya empat apa lima tahun lagi,” sahut Ryan menghentikan langkahnya. Saat menunggu Mama Elena membukakan pintu kamar bawah. Sementara, Alena diminta tidur di kamar bawah.
“Kelamaan. Pokoknya dua tahun udah cukup,” tegas Alena. Karena yang ia tahu asal Rey sudah bisa lepas Asi tidak masalah. Malah banyak yang baru beberapa bulan tapi sudah hamil lagi.
“Iya deh sayang. Kamu yang atur aja. Mas mah gampang kan tinggal tanam saham,” jawab Ryan asal. Ia memilih pasrah, karena berdebat dengan istrinya sama saja tak berguna. Ia akan dituntut untuk mengalah.
Pelan, Ryan membaringkan istrinya di atas ranjang. Mama Elena menidurkan Rey di ranjang bayi. Ia pun mengajak Mama Ayu untuk keluar dari sana.
“Tapi nanti aku pengennya kalau aku hamil lagi, Masry yang ngidam!”
Ryan mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Ternyata masih ada lanjut drama menambah momongan itu. Ia pikir sudah selesai.
“Iya kamu atur aja sayang,” jawab Ryan pasrah.
“Dasar aneh. Mana bisa ngidam kok diatur,” celetuk Alena. Ryan seketika menganga, ujungnya dia yang salah lagi. Padahal ia kan hanya menuruti ucapan istrinya.
Menghela nafasnya, Ryan menarik nafasnya kuat-kuat. “Ya maaf... Sudah ya nanti lagi ngobrolnya. Kita istirahat, mas ngantuk banget. Mumpung Rey juga lagi gak rewel.”
Ryan pun merangkak naik ke atas ranjang, membaringkannya dirinya di sisi istrinya, tak lama ia langsung terlelap.
Tiga puluh menit kemudian, Alena mengusap perutnya yang terasa lapar. Padahal dua jam yang lalu ia baru makan, tapi karena sebelum pulang, sudah menyusui Rey kemungkinan sudah lapar lagi. Ia menoleh ke arah suaminya, ingin minta tolong tapi kasihan melihat lelaki itu begitu nyenyak sepertinya Ryan begitu lelah. Alena paham sih, karena kebanyakan saat malam hari Ryan jauh lebih banyak bergadang menggendong Rey saat rewel. Alena hanya diminta untuk memberinya ASI saja. Tapi, kalau suaminya tahu dirinya keluar mencari makan sendiri, Ryan pasti akan marah.
Mau mengambil ponsel untuk meminta tolong Mama Elena, pun ia lupa entah di mana ponselnya berada.
Tega atau tidak tega, akhirnya perempuan itu lebih memilih membangunkan suaminya. Ia mengguncang lengah lelaki itu. “Masry... Masry...”
Ryan tetap bergeming tak kunjung membuka matanya. “Masry aku lapar.”
“Masry ayo dong buka matanya, minimal kasih tahu aku di mana ponselnya, biar aku bisa hubungi Mama.”
Hal itu berhasil membuat Ryan langsung membuka matanya. “Iya sayang ada apa sih kok teriak-teriak kaya di hutan?” sahut Ryan dengan nada lemah. Matanya bahkan terasa begitu berat untuk ia buka, seperti ada lem yang menempel di sana. Kalau saja Alena tidak teriak, ia pasti masih tidur.
“Aku lapar, Masry.”
Mendengar istrinya mengatakan lapar, ia pun langsung membuka kedua matanya dengan sempurna. Seolah kesadarannya langsung pulih. Bahkan ia lama mengubah posisinya menjadi duduk.
“Iya sayang. Mau makan apa? Biar Mas ambilkan,” tanya Ryan. Ia harus paham seorang ibu menyusui itu doyan makan. Selain karena ia pun dokter ia juga sering melihat Rena sedikit-sedikit makan, karena harus pumping. Dan ia sudah mewanti-wanti suara saat istrinya pun akan melakukan hal yang sama.
🦋🦋🦋
Kandungan Miranda yang sudah memasuki trimester kedua, membuat ia sedikit demi sedikit mulai membeli keperluan calon buah hatinya. Miko semakin sibuk dengan jadwal kerjanya. Hingga membuat dirinya jarang me time berdua, karena Miko akan mengambil cuti lebih banyak nanti saat istrinya melahirkan.
Hari ini Miranda tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan. Ia sengaja mampir ke sana setelah menjemput putrinya di sekolah. Besok hari weekend jadi, Misel sudah meminta ijin Bunda dan Ayahnya untuk menginap di rumahnya.
Sambil mencari kado untuk Rey, putranya Alena dan Dokter Ryan. Juga mencari keperluan kedua calon buah hatinya.
Miranda tak hanya berdua dengan Misel di sana. Akan tetapi, ia juga bersama Eva dan Sandy – sopir pribadi yang memang sudah ditugaskan Miko untuk mengantarkan ke mana pun istrinya pergi.
“Mama Misel pengen pipis,” kata Misel tiba-tiba. Anak kecil itu masih mengenakan seragam sekolahnya.
“Ya udah ayo kita ke kamar mandi,” ajaknya.
“Mbak biar bersama saya saja.” Eva mencoba memberi penawaran, pasalnya ia merasa ngeri melihat Miranda harus masuk ke toilet umum dengan kondisi perut yang begitu besar.
“Iya Nyonya. Biar Misel di antar Mbak Eva saja. Anda menunggu di sini,” timpal Sandy.
“Mbak mbak... Sejak kapan aku jadi kakakmu,” celetuk Eva sewot.
Miranda tertawa mendengarnya, apalagi melihat wajah Sandy yang salah tingkah. “Anu itu maksudnya–”
“Udahlah,” tukas Eva lalu menatap ke arah Misel. “Sama aunty Eva aja ya sayang. Kasihan Mama,” tawarnya.
“Baik Aunty,” jawab Misel.
“Ahh lucunya. Jadi pengen cepat punya anak. Tapi, gak punya pasangan.”
“Udah ada kok di sebelah kamu,” sahut Miranda menunjuk ke arah Sandy. Sontak Eva melotot ke arah lelaki itu.
“Dia.” Eva menggelengkan kepalanya, “Aku gak mau mbak.”
“Emang kamu pikir saya juga mau apa?” balas Sandy kesal.
“Aunty ayo buruan. Keburu aku ngompol,” sela Misel menggoyang-goyangkan lengan Eva.
“Oh ya sayang.” Eva pun berlalu pergi.
Miranda hanya tertawa, sudah tak asing kalau Eva dan Sandy itu berdebat. Entah bagaimana awal mulanya pertemuan pertama mereka. Tersenyum tipis, Miranda kembali memilih perlengkapan bayi.
“Miranda?” teguran suara bariton membuatnya menoleh, dan terkejut.