
“Maaf, apa kedatangan kami mengganggu?” tanya Ryan. Sementara, Alena hanya diam menunduk.
Rena tersenyum merekah, karena memang sejak tadi ia tengah menunggu kedatangan sahabatnya itu. “Tentu saja tidak!” jawabnya.
Alena mengangkat wajahnya, menoleh ke arah suaminya. Ryan membalasnya dengan senyuman, menautkan jemarinya, menggiring istrinya mendekat. Alena mengitari isi ruangan itu, hingga tatapannya bertemu dengan Alby. Lelaki itu menatapnya dengan perasaan malas, hal itu membuat Alena merasa tak enak hati, sisi lainnya juga merasa takut.
Sebenarnya, Ryan sudah membujuk istrinya agar nanti saja. Tapi, Alena merasa tak tenang. Jika hubungan persahabatan mereka kacau, bagaimana bisa ia tidur dengan nyenyak.
“Le, kemarilah.” Rena merentangkan kedua tangannya, meminta sahabatnya itu untuk mendekat memeluk dirinya. “Kau tidak ingin memberikan aku selamat. Karena ponakanmu lahir dengan selamat,” sambungnya.
Dengan rasa ragu, pelan Alena pun memeluk sahabatnya. Mendekapnya dengan erat, hingga beberapa saat kemudian terdengar isakan kecil dari mulut Alena. “Maafkan aku, Re,” bisiknya pelan tepat di dekat telinga Rena.
Rena terenyuh mendengarnya, ia membalas mengusap punggung Alena dengan lembut. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Le. Kamu itu tidak salah apa-apa.”
Mengurai dekapannya, Alena menggelengkan kepalanya. “Tidak, Re. Kamu celaka, pendarahan, semua karena aku. Seandainya aku tidak melayani keributan perempuan gila itu, tidak mungkin kamu jadi seperti ini.”
Rena menggerakkan tangannya, membingkai wajah Alena. “Tidak ada yang perlu disesali, Le. Semua murni kecelakaan, itu musibah. Aku tidak menyalahkan dirimu, yang ku lakukan kemarin hanyalah ingin melindungimu. Kau tahu? Kau itu bukan hanya seorang sahabat untuk aku, tapi sudah seperti adikku sendiri. Jadi, seorang kakak melindungi adiknya itu adalah hal yang wajar. Jangan terlalu dipikirkan, semua sudah berlalu. Kau harus ingat bayi dalam kandunganmu. Aku tidak ingin ponakan ku stres, karena Maminya terus bersedih.”
“Tapi, Re....”
“Tidak apa-apa, Le. Lupakanlah, toh kamu lihat kan aku baik-baik saja. Putraku juga lahir dengan selamat. Tuhan itu maha baik, Le. Ia tidak mungkin menguji hambanya melalui batas kemampuannya.”
Alena terdiam, melirik ke arah sofa di mana suaminya tengah duduk bersama Miko dan Alby. Mereka tengah mengobrol.
“Tapi, Re suami kamu–”
“Jangan dengarkan kata dia, Le. Dia itukan memang orangnya pemarah,” celetuk Rena menatap ke arah sang suami dengan malas.
Alby berdecak, beranjak dari tempat duduknya. “Sayang?”
“Apa?” seloroh Rena.
“Kamu kok malah jadi kesal ke Abang. Emang salahku apa?” tanya Alby berpura-pura polos.
“Salahnya Abang. Karena kemarin Abang marahin Alena kan. Abang pasti berkata-kata yang tidak-tidak."
Alby menghela nafasnya, menoleh ke arah Alena sekilas, sebelum kemudian menatap istrinya kembali. “Kamu gak ngerasain di posisi Abang kemarin sih, Re. Jadi nyalahin aku gitu. Abang panik, cemas, takut jadi satu sayang. Abang udah gak bisa berfikir jernih, ditambah Alena justru mengatakan kejadian sebenarnya. Tentu saja dia langsung jadi pelampiasan emosi Abang lah,” bela Alby.
“Emang Abang tuh–”
“Udahlah, Re. Kan emang aku yang salah. Siapapun di posisi Pak Alby kemarin, pasti akan melakukan hal yang sama, Re.” Alena menyela ucapan sahabatnya, ia tidak ingin keduanya terus ribut. Dan masalahnya justru semakin panjang. Ia menoleh ke arah suami sahabatnya itu. “Maafin aku kemarin ya, Pak Alby.”
Alby mengangguk. “Iya sudah lupakan,” jawabnya. Rena tersenyum merasa lega, karena masalahnya sudah selesai.
Meski hatinya masih dongkol, terbayang kejadian kemarin. Alby harus membuang sisi egoisnya, ia tidak ingin mengedepankan sifat keras kepalanya, hingga mempengaruhi kondisi Rena. Apalagi sampai detik ASI istrinya belum juga keluar, entah kenapa.
“Makasih, Pak.”
“Karena masih ada kalian di sini. Aku tinggal dulu mau jemput Misel,” ujar Alby karena Soraya tengah menghandle kantor. Sementara sopir pribadi yang mengantar jemput Misel tengah pulang kampung.
“Iya bang.”
Alby berlalu pergi, setelah sebelumnya mengecup pelan pipi istrinya.
Miranda masih betah menggendong baby Alka. “Le, kamu gak mau lihat baby boy ni?"
Alena menoleh, “Boy?”
Alena langsung beranjak menghampiri Miranda, menoel pipi lembut bayi itu. “Siapa namanya?”
“Alka.”
Alena mengangguk. “Hallo, baby Alkaline. Ini Mami nak, calon mertua kamu,” ucapnya dengan percaya diri. Miranda dan Rena melongo, sementara Miko dan Ryan yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya, sudah tak heran dengan tingkah Alena yang suka mengganti-ganti nama.
“Alka, Le. Jadi Alkaline sih,” dengus Rena.
“Gak apa-apa sama aja. Orang cuma tambahin sedikit, biar bermerek,” balasnya tergelak.
“Terus ngapain, suruh panggil mami-mami?” cibir Rena.
“Kan calon mertua. Makanya sejak dini juga harus diajarin sopan dong, Re. Biar dia terbiasa.”
“Emang kamu yakin. Anakmu perempuan?”
Alena menghela nafasnya, lalu menggelengkan kepalanya. “Enggak!”
Rena menyentak nafasnya, kembali mengubah posisinya menjadi bersandar. Membiarkan sahabatnya itu bermain dengan putranya. “Awas kalau anakku lecet ya, Le. Kamu cubit-cubit gitu?” ancamnya dengan nada bercanda.
“Gaklah. Masa anak mami, dibuat lecet ya,” sangkal Alena. “Aku mah nanti kaya Mama Elena, kalau punya menantu bisa sayang banget,” sambungnya percaya diri.
Rena hanya menghela nafasnya. Alena leluasa berbicara seperti itu, tapi kalau ada Alby mana berani.
🦋🦋
“Bunda?”
Suara Misel menggema, begitu pintu ruangan terbuka. Sontak Rena dan Alena menoleh dengan tersenyum.
“Hallo sayang?” sahut Rena. Misel berlari ke arah Rena. Alby menyapu ruangan itu, di sana memang hanya terlihat Rena dan Alena.
“Ke mana yang lain sayang?" tanya Alby.
Melepaskan dekapan putrinya, Rena tersenyum lalu menjawab. “Miko dan Mbak Miranda udah pulang, soalnya mereka kan harus kerja. Begitu juga dengan Dokter Ryan. Ya udah hanya ada aku dan Alena.”
Alby mengangguk paham. “Sudah makan sayang?" tanyanya.
“Udah. Tadi disuapin Alena,” jawab Reba seraya menoleh ke arah Misel yang berlalu ke ranjang Alka. “Oh ya bang. Tadi dokter udah meriksa aku. Katanya aku udah boleh pulang,” sambungnya.
Alby menarik kursi sisi ranjang istrinya, kemudian mengambil tangan Rena, dan mengecupnya. “Yakin ni? Kamu udah sehat?" tanyanya.
“Yakin bang. Cuma kok ASI aku gak keluar ya bang,” keluhnya.
“Sabar aja. Nanti Abang bantu. Lagian kalau gak, di kasih formula gak apa-apa sayang.”
Rena menyentak nafasnya. Sebenarnya tidak masalah sih, cuma sebagai seorang ibu ia pun juga ingin memberikan anaknya ASI.
“Bunda, kenapa dedeknya laki-laki?” tanya Misel mengeluh. “Gak bisa aku ajak main Boneka dong,” sambungnya mengerucut.
“Gak apa-apa laki-laki. Nanti bisa jagain Misel, kalau Misel di ganggu orang jahat.”
“Misel kan kakaknya, jadi mana bisa dedek bayi jagain Misel. Kebalik bunda.”
“Maksud Bunda nanti kalau udah besar sayang."