Unexpacted Wedding

Unexpacted Wedding
Di Mana Alena?



Keesokan harinya. Mendengar kabar jika Rena sudah sadar. Miranda dan Miko tentu merasa bahagia, lantas keduanya memilih menjenguk sahabatnya itu. Dan di sinilah kini keduanya berada.


“Aku senang, Re. Kamu udah sadar, kemarin itu aku takut banget. Apalagi Alena, dia nangis terus,” kata Miranda menceritakan kepanikannya usai tragedi Rena mengalami pendarahan.


“Iya mbak makasih ya dah jenguk,” sahutnya. Namun, matanya tak lepas memandang ke arah pintu, seperti tengah mengharapkan seseorang.


“Cari siapa sayang? Kan aku udah bilang, Misel akan datang nanti setelah pulang sekolah,” ujar Alby yang tengah duduk di sofa memandang ke arah istrinya.


“Alena bang. Kok dia gak datang ya?” seru Rena dengan sendu.


Miranda mengigit bibir bawahnya, mengingat kembali kejadian kemarin tentu membuat Alena sadar diri. Perempuan itu pasti tengah menyalahkan dirinya.


“Sibuk kali,” jawab Alby asal. Wajahnya yang bertekuk kesal, membuat keadaan terasa tak enak. Miko paham, mungkin Alby masih merasa sedikit jengkel dengan Alena.


“Tapi dia baik-baik saja kan? Aku khawatir kemarin itu perempuan melukai Alena,” cecar Rena khawatir.


“Kenapa sih? Kamu justru lebih mengkhawatirkan kondisi sahabatmu itu. Padahal gara-gara dia kamu itu ter–”


“Cukup bang,” sela Rena cepat. “Bukan karena dia aku terluka. Tapi, karena diri aku sendiri,” sambungnya.


“Yang cari masalah sama orang lain kan Alena. Sampai akhirnya kamu datang buat ngelindungi dia kan.” Alby beranjak mendekati istrinya, masih dengan wajah yang kesal.


“Tapi kemauan aku sendiri bang. Seandainya, aku yang di posisi Alena. Dia juga pasti akan melakukan hal yang sama.”


Alby hanya tertawa dengan kecil, raut wajahnya menunjukkan jika ia tidak percaya. “Sudahlah buat apa kamu pikirin dia!”


“Bang? Alena itu bukan hanya sekedar sahabat buat aku. Tapi dia udah kaya adik aku sendiri. Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenal Abang. Aku sangat menyayanginya. Mana mungkin aku biarkan dia terluka. Aku tahu Abang kecewa, Abang marah. Tapi Abang gak boleh benci sama dia. Dia sahabat aku. Abang gak mungkin kan, melakukan sesuatu yang membuat aku sakit hati?” seru Rena mulai terisak pelan. Alby terdiam, menatap sorot tatapan istrinya yang mulai mengembun matanya.


“Kalau Abang marah, karena kemarin aku terluka. Bahkan hampir membuat Alka tak terselamatkan. Aku minta maaf bang, tapi jangan benci Alena. Apalagi sampai Abang ngelarang aku dekat dengannya,” pinta Rena, perlahan lelehan hangat mulai mengalir dari kedua sudut matanya. “Dia juga lagi hamil muda bang? Aku gak mau dia tertekan apalagi stress. Lagian aku dan Alka kan baik-baik saja,” sambungnya.


Alby hanya diam dengan wajah memerah, Rena tahu sang suami tengah menahan amarah. Siapapun yang di posisi Alby pasti juga akan merasakan hal sama. Rena tak sepenuhnya menyalahkan suaminya. Semua terjadi murni musibah, hanya saja ia juga tidak ingin suaminya memiliki sifat yang benci.


Pelan, tangannya bergerak mengusap tangan sang suami. “Ya bang. Jangan khawatir aku baik-baik saja. Abang gak boleh marah sama Alena ya?” pintanya dengan wajah sendu.


Masih dengan wajah yang masam, Alby menatap istrinya. Kemudian tatapannya beralih pada putranya yang masih tertidur dengan lelap. Ia menghela nafasnya, kalau istrinya sudah memasang wajah seperti itu. Mana mungkin Alby membiarkan sifat keras kepalanya itu menguasai egonya. Ia terlampau menyayangi istrinya, apapun akan ia berikan padanya.


“Hemm...”


“Cuma hemm sih? Ayo dong ngomong?” desak Rena seraya menaikkan kedua alisnya.


Alby menyentak nafasnya, “iya.”


“Iya apa bang?” tanya Rena seraya mengusap dagu sang suami.


“Iya gimana kamu aja sayang.” Alby menepis pelan tangan istrinya yang menyentuh wajahnya. “Jangan-jangan goda, Re. Abang harus puasa ini empat puluh hari,” lanjutnya.


“Pokoknya jangan pasang wajah melas, puple eyes begitu sayang. Aduh Abang jadi gak tahan. Badan Abang jadi panas,” ujar Alby yang langsung mendapatkan cubitan dari istrinya. Miko dan Miranda yang tengah duduk di sofa pun hanya menggelengkan kepalanya, ternyata Alby yang kaku itu bisa bucin juga dengan istrinya.


“Abang kira aku setan apa?” katanya mencebik kesal. “Lagian ya bang. Aku kan lahirannya Caesar, kayaknya lebih dari empat puluh hari deh Abang puasanya. Tiga bulan ya bang?”


Alby menganga mendengarnya. “Empat puluh hari aja lama banget. Ini nyuruh tiga bulan, yang benar aja deh kamu sayang.”


“Demi istri apa sih yang gak?” seru Rena. Alby menghela nafasnya pasrah. “Iya deh. Kamu menang.”


🦋🦋🦋


Miranda tengah menggendong baby Alka. Rena masih duduk setengah berbaring di ranjang. Sementara Alby tengah mengobrol bersama Miko di sofa.


“Oh ya. Aku belum ngomong ya. Kalau pelaku yang mendorong Rena, udah ditangkap polisi,” kata Miko.


“Serius? Aku belum bertindak apa-apa padahal,” sahut Alby lemah. Karena kemarin ia hanya sibuk memikirkan kondisi istrinya, tidak terpikirkan hal yang lain.


“Udah ada yang urus. Kemarin aku sama Pak Dokter langsung bergerak cepat. Tapi, memang dari keamanan pihak mall, sudah langsung bergerak cepat saat itu juga,” terang Miko. Alby mengangguk menghela nafas lega. “Ternyata perempuan itu memang memiliki sedikit gangguan mental,” sambungnya kian membuat Alby terkejut.


“Pasien rumah sakit jiwa yang kabur gitu?” tanya Alby.


Miko menggeleng. “Bukan. Dari hasil yang ku selidiki, memang dia itu depresi setelah di tinggal kekasihnya. Kekasihnya mengkhianatinya. Nah ia menggunakan alasan, kalau Alena yang membuatnya putus, paska kejadian dulu Alena membantu cleaning servis di supermarket. Padahal itu hanya alibi kekasihnya saja, yang mengatakan mempunyai kekasih yang memalukan membuat keonaran di mall. Karena ternyata kekasihnya itu sudah berselingkuh dari jauh hari.”


“Heran, putus cinta kok sampai segitunya? Gila itu cewek. Kaya gak ada cewek lain aja,” sambungnya seraya menggelengkan kepalanya. Badannya ia sandarkan di sofa.


“Ehem!” Miranda berdehem memberi kode sang suami juga untuk sadar diri. Seingatnya, Miko jauh lebih gila. Hampir saja melakukan tindakan pelecehan karena Miranda putusin, kemudian tak tanggung-tanggung ia juga mengalami kecelakaan.


“Kamu juga kan begitu,” cibir Miranda.


Miko berdehem membenarkan posisi duduknya. “Beda lah sayang. Kalau kamu pantas di perjuangkan, lah dia laki-laki pengkhianat buat apa dibela sampai segitunya. Parah dah...” belanya seraya beranjak mendekati istrinya. Ia menoel pipi halus Alka. “Calon mantuku ini sayang,” sambungnya terkikik geli tak peduli tatapan tajam Alby.


“Malas,” celetuk Alby yang hanya ditanggapi tawa kecil oleh ketiganya.


Tok! Tok!


Pintu diketuk dari luar.


“Masuk!” sehat Rena.


Ceklek!


Begitu pintu terbuka sontak pandangan semua orang mengarah ke arahnya.


“Alena?”