
Mobil milik Alby melaju membelah jalanan padat ibu kota. Lelaki yang tengah fokus menyetir itu sesekali akan melirik ke arah istrinya, yang nampak berkali-kali menghela nafasnya, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Kenapa sayang? Apa ada yang kamu pikirkan? Atau justru kamu merasa tidak nyaman?" cecar Alby cemas.
"Bukan bang," sahut Rena lirih.
"Lalu? Ada apa gerangan, yang membuat istri Abang ini terlihat gelisah hemm. Ceritakan sama Abang sayang?" pinta Alby lembut sambil mengusap kepala istrinya. Ia hanya tidak ingin istrinya menjadi stress karena memendam sesuatu, sebisa mungkin ia hanya ingin Rena berbagi dan bercerita apapun yang tengah dihadapinya.
Rena memandang suaminya sendu. "Aku jahat apa licik ya bang?" keluhnya seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Sayang, Abang lagi nyetir," kata Alby pelan. Rena yang sadar pun langsung menjauhkan kepalanya, dan kembali bersandar di kursinya.
"Maksudnya Abang gak ngerti loh sayang. Licik dan jahat ke siapa?" tanya Alby kemudian.
Rena menghela nafasnya. "Itu loh... Sebenarnya tadi tuh aku cuma pura-pura mau nangis, cuma alasan aja kalau itu keinginan ibu hamil," ucapnya.
Alby menoleh ke arah istrinya sesaat. "Kenapa melakukan hal itu sayang?" tanyanya penasaran.
"Masa Abang gak tau sih! Tentu saja untuk mendekatkan keduanya," sergah Rena kesal.
Alby menarik nafasnya, apa yang salah dengannya. Padahal dirinya hanya bertanya, kalau sudah begitu. Laki-laki hanya dituntut untuk peka. Masalahnya Alby sendiri tidak mengerti apa yang tengah istrinya rencanakan untuk Miko dan Miranda.
"Emm maksudnya kamu itu mau nyomblangin mereka gitu," tebak Alby kemudian setelah beberapa saat ia mencoba berpikir. Rena hanya mengangguk.
"Kenapa sayang?"
"Kok Abang tanya kenapa sih? Tentu saja karena aku ingin keduanya bahagia tidak kesepian!"
Alby menggelengkan kepalanya, alasan apa itu pikirnya.
"Tapi sayang? Kamu kan tau usia keduanya bahkan terpaut jauh. Miko lebih cocok jadi adiknya ketimbang jadi pasangan Miranda. Dan lagi kamu juga mendengar sendiri ucapan Miranda, dia masih ingin sendiri, merasa trauma dengan gagalnya pernikahan," terang Alby.
"Kok Abang jadi gitu sih. Jangan-jangan Abang cemburu ya karena mbak Miranda jadi aku dekatin sama Miko?" tudingnya.
"Bukan sayang... Ya ampun masa kamu gak ngerti juga. Hati Abang cuma milik kamu," pungkas Alby.
Rena menunduk, entah kenapa tiba-tiba jadi sensitif begitu perasaannya. "Ya udah bang, kalau gitu biarkan saja mereka dekat. Aku hanya bantu sampai di sini. Toh masalah perbedaan umur bukan masalah dalam urusan jodoh kan. Kalau Tuhan sudah berkehendak kita bisa apa. Aku hanya ingin melihat Mbak Miranda juga bahagia, itu saja."
Alby mengangguk pasrah, "ya sayang!"
"Maaf ya bang. Jadi, nuduh yang enggak-enggak," seru Rena.
"Ya sayang. Gak apa-apa, stok kesabaran Abang masih banyak," jawabnya sambil tergelak lucu, Rena mengerucutkan bibirnya ke depan, merasa suaminya itu tengah mengejek dirinya.
"Mau sekalian beli makan gak sayang?" Alby menawarkan pada istrinya karena sebentar lagi mobil akan memasuki kompleks perumahannya.
Rena tampak berpikir sesuatu sebelum kemudian menggeleng.
"Yakin?" ujar Alby.
"Ya bang. Mau makan di rumah saja deh," sahut Rena.
Alby mengangguk pasrah, ia harap ucapan istrinya saat ini bisa dipercaya. Jangan sampai, ketika nanti sudah sampai di rumah ia di suruh kembali mencari makan.
Alby membelokkan mobilnya menuju gang komplek perumahannya, Rena terus terdiam menatap ke arah luar di mana kedai makanan nampak banyak berjejer.
Begitu tiba di rumah Alby dan Rena langsung turun dari mobil. Ketika hendak melangkah masuk, langkah Rena terhenti di ambang pintu kemudian menengok ke arah luar.
"Sebentar Abang!" Rena menepis tangan suaminya. "Aku kaya keingetan sesuatu," sambungnya kemudian. Rena mengusap perutnya, membuat Alby menelan ludahnya kalau Rena udah memasang sikap begitu perasaannya menjadi tidak enak.
"Apa sayang? Perasaan barang-barang kamu udah Abang bawa semua kok ini!" Alby menunjukan barang bawaannya di salah satu tangannya, termasuk tas kecil milik istrinya.
"Bukan itu," ucapnya menggeleng-gelengkan kepalanya, perempuan itu menatap suaminya penuh harap.
"Katakan sayang, ada apa hemm?" tanya Alby.
"Abang tahu kan warung nasi Padang di ujung sana, yang sebelah lampu merah bang," ujar Rena.
"Tahu kah sayang. Kan itu juga langganan kamu," sahut Alby.
"Kayaknya makan nasi Padang, sama rendang terus kasih sambal hijau, dan sayur daun singkong enak ya bang," kata Rena seraya menelan ludahnya kedua tangannya mengusap perutnya.
Alby menghela nafasnya, ternyata firasatnya sama sekali tidak meleset. Padahal sebelumnya ia kan sudah menawarkan istrinya makan, katanya tidak ingin, mau makan di rumah saja, sampai di rumah beda lagi.
"Kamu mau?" tanya Alby.
"Iyalah bang. Masa gak ngerti juga aku kodein," tukas Rena.
"Ya udah Abang beliin, kamu tunggu di dalam aja ya sayang," titah Alby seraya mengeluarkan kembali kunci mobil miliknya.
"Eh itu mau ngapain?" tanya Rena seraya menunjuk kunci mobil di tangan sang suami.
"Katanya kamu mau nasi Padang, ya Abang ngeluarin kunci, kan mau mau ngeluarin mobil dari garasi juga sayang," ujar Alby.
Rena menggelengkan kepalanya, mengambil alih tas miliknya di tangan sang suami. Tak lupa juga merebut kunci mobil suaminya, membuat Alby merasa heran. Mungkinkah istrinya berubah pikiran.
Rena mengeluarkan ponselnya tampak mengetik sesuatu di sana.
"Sayang, kok kuncinya diambil. Ini gak jadi ya. Ya udah Abang masuk ya," ujar Alby senang.
"Jadi dong," jawab Rena sambil menatap ke arah luar, karena pintu gerbang rumahnya memang masih terbuka. "Tunggu kang ojolnya datang bang," sambungan kemudian.
"Hah? Ojek online?" pekik Alby.
"Iya bang. Rena udah pesenin kok, lagi di jalan bentar lagi sampai."
"Ngapain sayang? Kan Abang punya kendaraan sendiri, itu juga motor di garasi ada kok," tutur Alby tak habis pikir.
"Tapi aku pengen lihat Abang pake helm ijo-ijo. Aku kan belum pernah lihat Abang naik ojek. Masa Abang gak mau sih nurutin keinginan aku," ucap Rena lirih wajahnya tampak menunduk sedih. Kemudian ia melangkah ke kursi dan duduk di sana.
Alby jadi tidak tega melihatnya, ia menghampiri istrinya dan menekuk kedua kakinya. "Iya deh sayang. Abang mau kok naik ojek online. Jangan sedih lagi ya, ibu hamil kan harus happy," ujar Alby.
"Beneran? Abang mau?" desaknya. Alby mengangguk.
"Makasih ya bang. Tuh Abang ojolnya udah datang," ujar Rena menunjuk ke arah tukang ojek online yang baru tiba.
"Ya udah tunggu di sini, Abang beliin nasi Padang dulu ya," ujar Alby sambil beranjak dari tempatnya. Setelah sebelumnya ia pun melepaskan jas yang melekat pada tubuhnya.
Begitu Alby sudah duduk di atas motor memakai helm berwarna hijau. Rena tersenyum girang, dan mengeluarkan ponselnya.
"Abang senyum dulu, aku mau ambil fotonya. Mau aku abadikan di sosmed," kata Rena membuat Alby melongo, begitupun dengan tukang ojeknya yang merasa heran. Alby pun mengikuti perintah istrinya.
"Maklumin istri saya ya Pak, dia lagi hamil," ucap Alby.