
Malam pukul 00.30 wib Alena terbangun dari tidurnya. Ia meraba kasur di sisinya, tertegun sejenak kala tak menemukan sang suami. Dengan buru-buru ia langsung mengubah posisinya menjadi duduk, kedua matanya mencari sang suami, terkejut kala menemukan suaminya tidur di sofa.
“Kok bisa ya?” gumamnya. Namun, ia mencoba mengingat lagi kejadian sebelum tidur. “Oh iya semalem kan aku mengusirnya,” sambungnya terkekeh geli. ia sendiri tidak tahu kenapa sifatnya suka berubah-ubah, kadang sebal banget sama suaminya, kadang ya gitu nyari-nyari.
Alena menyingkap selimutnya, kemudian menjuntaikan kakinya ke lantai, melangkah mendekati suaminya. Ia berjongkok di depan wajah suaminya. Lelaki itu tampak tidur dengan damai. “Tidur aja tampan apalagi kalau lagi suntik...” Alena segera menepuk bibirnya. “Eh, aku ngomong apa sih? Kok jadi ketularan mesum kaya Masry,” sambungnya tak habis pikir kala membayangkan tampannya wajah sang suami saat sedang main suntik-suntikan.
Alena mengulurkan tangannya mengusap wajah suaminya, dari kening turun ke hidung, pipi dan bibir. “Nanti anak aku mirip kaya dia gak ya?”
Grepp!
Alena terkejut kala tangannya kini sudah digenggam erat oleh sang suami. “Ehh...” pekiknya.
Ryan membuka kedua matanya, menoleh istrinya. “Kenapa pegang-pegang Hem? Kangen ya, tidur gak dipeluk?” tanya Ryan dengan percaya diri. Lelaki itu langsung mengubah posisinya menjadi duduk. “Makanya gak usah pake acara usir-usir, tahunya tengah malam bangun kan cari Mas. Untung Mas tidur di sini,” sambungan seraya menggiring istrinya untuk duduk di sisinya.
“Siapa bilang?” cetus Alena.
“Mas tadi,” sahutnya tergelak.
Alena mengerucutkan bibirnya ke depan. “Dasar PD.”
Ryan terkekeh sambil menggerakkan ototnya yang terasa kaku, akibat tidur di sofa. Kalau tidak khawatir istrinya akan mencarinya ia lebih memilih tidur di kamar lain, tapi mengingat istrinya lagi hamil muda, mana tega ia membiarkannya tidur sendiri. “Ada apa bangun sayang hemm? Masih tengah malam kok, tidur lagi yuk, Mas temenin,” ujar Ryan membujuk.
Alena menggeleng, menatap wajah suaminya dengan tampang melas. Ryan menelan ludahnya, tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak. “Emm kamu lapar?” tebaknya asal. Namun, tak ia sangka Alena justru mengangguk.
“Ya udah tunggu di sini. Mas ambilin makanan di bawah ya sayang.” Lelaki itu berniat beranjak ke dapur. Namun, Alena kembali menarik tangannya, memintanya untuk duduk, membuat Ryan merasa heran.
“Sayang, mau apa?” tanyanya dengan pelan.
“Masry aku pengen mie,” ucap Alena dengan wajah melas.
Ryan berpikir sejenak. “Ya udah Mas buatin ya? Kayaknya di dapur ada mie instan, gak apa-apa lah sekali-kali kan lagi pengen,” ucapnya seraya mengusap perut istrinya yang masih rata. Ia sendiri memang jarang makan mie instan, tapi seingatnya asisten rumah tangga Mama Elena kerap menyediakan mie instan, jadi ia yakin di dapur masih ada persediaan.
“Bukan mie instan Masry,” sergah Alena.
Ryan menghentikan gerakan tangannya, menatap istrinya, “Terus?”
“Pengen mie ayam Aa Samsul.”
“Apa?” Ryan terlonjak kaget, mendengar istrinya menyebut nama pria lain, siapa lagi itu kemarin para pria-pria asing di poster, sekarang Samsul. “Siapa itu Samsul sayang?” sambungnya nafasnya naik turun.
“Ihh Masry kok reaksinya segitunya?” kata Alena mencebik kesal.
“Ya habis kamu itu aneh, dari kemarin yang diminta aneh-aneh,” keluh Ryan merendahkan nada bicaranya.
“Ikhlas sayang, mana mungkin enggak sih buat istri apa yang gak.” Ryan kembali mendudukan dirinya di sisi istrinya. “Emang siapa Samsul sayang?” imbuhnya, kali ia merendahkan nada bicaranya.
“Penjual Mie Ayam di kampus. Pokoknya aku mau makan itu malam ini, pake sayurannya yang banyak, minumannya es jeruk.”
Ryan melemas mendengar permintaan istrinya. “Sayang, kenapa harus Samsul? Di dekat komplek sini kan penjual mie ayam banyak. Kalaupun mereka udah pada nutup, Mas bisa kok mengetuk pintu mereka untuk membuatkannya,” protes Ryan. Karena hari yang sudah malam kemana ia harus mencari Samsul, tidak mungkin si Samsul jualan mie ayam di kampus tengah malam. Wajahnya saja ia tidak tahu, apalagi alamat rumahnya.
“Aku pengen mie ayam itu Masry. Gak tahu kenapa tiba-tiba rindu mie ayamnya, kayaknya anak kita kepengen tahu makanan favorit Maminya deh,” ucap Alena lirih dan mulai terisak. Kalau sudah seperti itu Ryan merasa gusar dan bingung.
“Kamu tahu alamat rumahnya?” tanya Ryan.
Alena menggeleng pelan.
“Terus gimana Mas bisa menemukannya sayang. Mas saja tidak pernah tahu wajahnya, kenal juga enggak,” keluh Ryan beranjak dari tempat duduknya dengan wajah bingung, mengacak-acak rambutnya.
“Tapi Miko tahu. Masry minta anterin aja sama Miko, soalnya Miko itu sangat akrab sama penjual kantin,” tutur Alena memberi saran. “Ayo dong Masry, aku pengen banget. Gak bisa nunggu besok,” sambung Alena mendesak mengguncang lengan Ryan.
Ryan masih terdiam bingung. Sementara Alena menatap suaminya dengan wajah melas. "Atau gak, Masry minta tanya Pak Alby?” sarannya membuat Ryan melongo.
“Yang benar saja lah sayang, masa Pak Alby, lihat wajahnya kalau lagi kaku begitu aja udah ngeri, apalagi ini suruh gangguin tengah malam cuma perkara nanya mie ayam Samsul,” decak Ryan. Alena tertawa kecil, ternyata tidak hanya dirinya yang suka takut sama suaminya Rena. Lelaki itu melirik ke arah istrinya yang justru tertawa senang kala mendengar ucapannya.
“Mending aku minta tolong Miko aja deh.” Ryan berbalik mengambil kunci mobil di laci nakas. Sebelum berlalu ia menoleh ke arah istrinya. “Tunggu ya, jangan tidur dulu. Awas saja kalau Mas pulang bawa mie ayam Samsul kamu udah tidur,” ancamnya.
“Ihh iya enggak. Kok pake ngancam sih,” celetuk Alena bersungut kesal. “Gak ikhlas ini. Terus mau hukum aku kalau aku ketiduran. Namanya orang ngantuk ya tidur, tinggal bangunin aja kalau aku tidur apa susahnya sih,” sambungnya.
“Iya nanti dihukum kalau sampai tidur. Aku hukum sampai pagi main suntik-suntikan.”
“Masry, gak ingat kata Dokter Eli?” tegur Alena.
“Iya-iya, begitu aja marah. Ya udah Mas keluar dulu cari si Samsul. Eh mie ayam Samsul maksudnya,” sahutnya.
Setelah itu Ryan keluar dari kamarnya, di lantai bawah ia berpapasan dengan Elena yang saat itu baru saja dari dapur membawa segelas air putih.
“Mau kemana Yan?” tanya Elena.
“Cari mie ayam ma.”
“Kok bawa kunci mobil, orang tinggal jalan aja dekat.” Elena mengira putranya itu akan membeli mie ayam di tetangganya.
“Bukan itu, aku mau cari mie ayam Samsul. Alena maunya itu, dah lah aku pergi dulu ma.” Ryan berlalu pergi.
“Samsul?” gumam Elena bingung.