
Hari berlalu, sudah seminggu Alby berada di kota Bandung. Saat ini lelaki itu dalam perjalanan pulang, tanpa memberi tahu Rena, ia berniat memberi kejutan. Sebelumnya Alby memang mengatakan pada istrinya kemungkinan urusan di Bandung dua Minggu baru bisa beres. Tapi, karena dorongan semangat dari Rena, ia tak menyangka jika urusannya selesai lebih cepat.
Pukul empat sore, Alby baru tiba di Jakarta, ia berniat untuk langsung menghampiri istrinya. Lebih tepatnya mungkin menjemputnya karena sebentar lagi istrinya itu akan pulang.
Mobil Alby memasuki pelataran rumah sakit, ia sengaja tak turun dari mobil. Karena sebenarnya ia pun merasa lelah, sambil menunggu Rena ia pikir bisa istirahat sebentar. Tapi... Baru ia hendak menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya terbelalak kala melihat Rena keluar dari rumah sakit bersama Dokter Ryan, ia kesal karena istrinya itu tengah tertawa bahagia dengannya. Alby merasa tak rela, Rena berbagi tawa dengan pria lain.
Lalu, Alby buru-buru keluar dari mobilnya, dan menghampiri istrinya.
"Re?" panggilnya membuat Rena menolah.
"Abang?" pekiknya. Ia terkejut melihat suaminya sudah berada di depannya. "Lho, kapan Abang pulang? Katanya masih lama di Bandung?" cecar Rena kemudian.
Alby merenggut kesal, menatap Dokter Ryan dengan tajam. Hal itu membuat Dokter Ryan merasa canggung, bahkan sampai merinding.
"Sore Pak Alby?" sapa Dokter Ryan ramah.
"Hemmm. Sore juga," balasnya meski terdengar malas.
Suasana di sana mendadak menjadi horor, Dokter Ryan pun memilih untuk berlalu. "Duluan ya Re, Pak Alby!"
"Ya Dokter!" Rena masih melihat arah perginya Dokter Ryan. Dan hal itu lagi-lagi membuat Alby merasa kesal.
"Udah pergi, ngapain masih diliatin? Gak rela banget kayaknya, aktivitas ketawa bahagianya berakhir karena Abang ganggu," celetuk Alby hal itu membuat Rena terkekeh, menyadari bahwa suaminya tengah mode cemburu. Lihat saja wajahnya sudah berubah manyun.
Cup!
Tak disangka, Rena justru mendaratkan kecupan singkat di pipi lelaki itu, membuat Alby terkejut dengan keberanian istrinya. "Jangan cemburu gitu bang? Baru pulang masa udah masang muka jelek begitu. Ayo bagi aku senyum biar makin ganteng suaminya Rena," rayunya.
Alby pun memaksakan diri untuk tersenyum toh memperpanjang hal sepele tak ada gunanya. Rena melingkarkan tangannya di lengan suaminya. "Aku tadi sama Dokter Ryan lagi ngobrolin soal Alena bang, makanya kami ketawa-ketawa."
"Memangnya kenapa dengan Alena?" tanya Alby.
"Kemarin kan anak itu sakit, terus di bawa ke rumah sakit sama ibunya. Pas mau di periksa oleh Dokter Ryan dia langsung menjerit katanya takut jarum suntik, dan bilang kalau aku udah sehat. Lucu ya bang, aku kok punya teman begitu," ujar Rena.
Alby tersenyum, mengusap kepala istrinya seraya menggiringku ke mobil. "Emm mobil aku gimana bang?"
"Biarin aja di sini, hari ini spesial Abang pengen jemput kamu, harus cepat-cepat sampai rumah!" ujar Alby setelah duduk di kursi kemudi, dan mulai melajukan mobilnya.
Rena mengangguk. "Abang pasti rindu masakan Rena ya?"
"Gak! Rindu sama yang masak."
Beberapa menit kemudian, keduanya sudah tiba di rumah. Begitu masuk mereka disambut oleh Misel yang saat itu tengah bermain. Anak itu langsung berlari memeluk ayahnya, seminggu tak jumpa cukup membuatnya rindu juga.
"Ayah dan Bunda bersih-bersih dulu ya, sayang." Alby berkata seraya mengusap kepala putrinya. Percayakah arti bersih-bersih dari yang Alby ucapkan? Artinya membersihkan seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya dan istrinya, hingga membuatnya polos.
Kata yang membuat Rena merasa merinding, paham jika arti kangen yang Alby ucapkan itu mengandung hal yang lain.
"Lengket bang. Kita kan belun mandi," kilah Rena berusaha melepaskan tangan suaminya, tatkala tangan lelaki itupun perlahan mulai menjalar meraba ke arah lain.
"Gak apa-apa. Udah kangen berat. Lagian nanti juga kotor lagi," sahut Alby.
Rena berhasil melepaskan tangan suaminya. "Kita mandi dulu ya, aku punya kejutan buat Abang. Tapi kita harus bersih-bersih, dan makan malam dulu. Kasihan Misel di bawah, dia juga kangen sama Abang loh. Paling tidak ajakin dia ngobrol dulu. Oke sayang." Rena mengecup pipi suaminya, seraya berlalu pergi sebelum Alby kembali menahannya.
****
Rena tersenyum mana kala melihat suaminya masih dengan telaten membacakan buku dongeng untuk putrinya yang hampir tertidur. Perempuan itu pun bergerak dari sisi ranjangnya, kemudian berbisik pada sang suami. "Kalau udah tidur langsung ke balik ke kamar ya bang. Rena tunggu!"
Alby mengangguk, tanpa mengetahui apa rencana sang istri. Fokusnya saat ini hanya ingin membuat putrinya cepat tertidur.
"Ayah ayo baca lagi, sampai aku tidur," pinta Misel.
"Iya sayang. Tapi Misel harus segera tidur."
"Memangnya kenapa?"
"Katanya mau adik bayi, tapi gak tidur-tidur gimana mau hadirnya itu si bayi," ucap Alby pelan.
Misel berpikir sesaat mencoba mencerna ucapan ayahnya bagaimana cara adik bayi hadir, sayangnya otaknya tak mampu berfikir ke arah sana, pun demikian dirinya memang sudah ngantuk. "Aku mau adik bayi!" Hanya kata itu yang terdengar seiring dengan kedua matanya yang mulai terpejam.
"Ya sayang. Makanya tidurlah," pintanya.
****
Setelah memastikan bahwa Misel benar-benar terlelap, Alby pun kembali ke kamarnya. Ketika pintu berhasil terbuka, ia terkejut mendapati apa yang di kenakan istrinya kini. Lingerie berwarna merah yang sangat kontras dengan tubuhnya. Ini bukankah yang kemarin Alby inginkan, jangan lupakan pose Rena yang tengah duduk di atas ranjang dengan gerakan mengggoda, membuat Alby menelan ludahnya secara kasar.
"Re, kamu sedang em..." Alby merasa gagal fokus saat melihat tubuh istrinya yang perlahan bangkit dari ranjang, kemudian menghampiri dirinya dengan gerakan yang menggoda.
Lalu dengan gerakan cepat, Rena langsung memeluk suaminya. Mengusap dadanya di balik pakaian sang suami, dan hal itu berhasil membangkitkan hasrat dalam diri Alby. Tapi, sekuat tenaga ia berusaha menahannya agar tak lepas kendali, ia ingin melihat seberani apa istrinya terhadapnya.
"Aku mau penuhin janji buat kasih hadiah ke Abang. Jadi, Abang diam aja ya oke," pinta Rena.
Alby melototkan kedua matanya, memasang telinga lebar-lebar, apakah ia tak salah mendengar? Baiklah kalau begitu coba lihat bagaimana permainan istrinya.
"Hemmm.. oke sayang. Lakukanlah, Abang pasrah," sahut Alby parau.
Rena mulai mendekatkan wajahnya, sedikit berjinjit demi menggapai bibir sang suami. Kemudian memangut nya secara lembut, namun terkesan menuntut. Tangannya sibuk bergelya di dada sang suami, seraya perlahan membuka kancing piyama Alby. Taukah apa yang Alby pikirkan saat ini? Ia tak menyangka istrinya sekarang jauh lebih pandai, tapi ia sangat menyukai hal ini.