The Degree

The Degree
Kemunculan IV



Arthur dan Virgo saling bertukar pukulan tanpa menggunakan pistol ataupun jenis senjata api lainnya. Bermodalkan pisau di tangan mereka, keduanya memiliki upaya keras untuk saling membunuh.


Virgo mengulurkan pisaunya menuju leher tetapi Arthur dengan gesit menghindar dan memberikan pukulan kuat diikuti tendangan kemudian.


“Kamu memiliki kemampuan yang hebat.” Virgo berkata selagi merasakan sakit di perutnya karena tendangan kuat Arthur.


“Meski begini aku memiliki sabuk hitam. Mengapa tak kamu gunakan Degree untuk menghadapiku? Bela dirimu takkan mampu menghadapiku.”


Arthur sangat percaya diri akan kemampuan bela dirinya. Ia tak menganggap dirinya yang terkuat namun orang yang bisa sejajar satu lawan satu dengannya terbilang sedikit.


Belum lagi ia memiliki faktor pendukung lain yang membuatnya nyaris tak terkalahkan dalam bela diri.


“Berbeda denganmu, Degree-ku tak banyak berguna untukku. Kamu bisa memastikan bahwa aku tak sungguh-sungguh bisa memanfaatkannya seperti Ordo ataupun Erina.”


Generasi pertama tak bisa melakukan hal-hal seperti membuat benda secara artifisial seperti generasi kedua. Paling jauh generasi pertama hanya mampu mempengaruhi tubuhnya sendiri seperti halnya peningkatan fisik Ordo.


“Kalau begitu ini akan jadi pemakaman untukmu.” Arthur tak memberikan Virgo waktu lagi dan melesat cepat.


Ia mengayunkan pisaunya dan berusaha menciptakan celah agar bisa menyerang Virgo. Namun orang ini tak lemah, bahkan jika kemampuan bela dirinya di bawah Arthur namun dalam refleks Virgo berada beberapa langkah di atasnya.


“Jika memang harus mati maka setidaknya kamu akan ikut bersamaku.” Virgo jelas menantang Arthur dan mulai melakukan serangan balasan kepadanya.


Keduanya bertarung dengan sengit. Arthur mulai merasa sedikit khawatir karena sampai saat ini ia belum berhasil menjatuhkan pukulan yang cukup kuat untuk memukul mundur Virgo. Bahkan, Arthur mulai meragukan apakah Virgo sungguh tak menggunakan Degree-nya saat ia mulai berhasil memberikan goresan di pipinya.


Di sisi lain Virgo sesungguhnya menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengimbangi Arthur. Jika bukan karena saraf motorik dan refleks tubuhnya yang cepat, Virgo tidak akan percaya diri bisa bertahan lebih lama lagi.


Situasi keduanya saat ini adalah menunggu salah satu dari mereka kelelahan karena pertarungannya hampir berimbang.


‘Aku harus melakukan sesuatu untuk mengatasi kebuntuan ini.’ Arthur takkan mau melakukan hal tidak pasti seperti bertaruh.


Ketimbang bertaruh Arthur lebih menyukai mencari opsi lain selagi bisa ia pikirkan.


Selagi keduanya bertarung dan mencari celah satu sama lainnya, dua pisau melaju dan memecah konsentrasi keduanya. Arthur dan Virgo mundur disaat yang sama.


Orang yang melemparkan pisau ini jelas tidak berniat membantu Arthur ataupun Virgo karena lemparan pisaunya bisa mengenai keduanya dan menyebabkan luka parah.


Arthur tak berpikir bahwa lemparan itu hanya kesalahan perhitungan belaka karena lintasannya jelas telah ditentukan dan sengaja dibuat untuk diketahui.


“Tamu tak biasa. Aku belum pernah melihatmu di manapun.” Virgo berkata dengan dingin, ia jelas tidak suka pertarungannya diganggu seperti ini.


‘Jadi wanita ini bukan anggota Rebellion?’ Arthur dapat menyimpulkan dengan mudah hanya melihat rekasi Virgo.


Orang yang melemparkan pisau sebelumnya adalah wanita dengan kacamata dan rambut hitam. Tubuhnya amat ramping dan seperti yang biasa dimiliki model ternama.


Pakaian ketatnya jelas sengaja digunakan untuk tujuan melindungi diri sekaligus memperlihatkan tubuhnya yang aduhai. Jika situasinya tidak seperti ini, Arthur akan menganggap wanita itu ingin menggoda pria dengan lekuk tubuhnya.


“Pilihlah, tetap bertarung dan berakhir mati karena nuklir, atau mundur dan mengungsi. Aku tak masalah kalian mau memilih yang mana namun akan membosankan jika kalian mati.”


Bibirnya yang tipis tersenyum, dan matanya yang cantik sedikit menyipit. Gambaran nyata dari wanita cantik yang pendiam namun memiliki sifat seram di dalamnya.


“Hah! Siapa kamu berani mengatakan itu di depanku?” Virgo jelas tidak menyukai apa yang dikatakan wanita itu.


”Aku? Sederhana saja. Aku adalah orang yang kamu khawatirkan, pemimpin dari kelompok kecil yang selama ini coba kamu endus namun gagal karena kurang pintarnya dirimu.”


Virgo terdiam seribu bahasa. Ia bahkan sama sekali tidak bergerak seakan benar-benar terkejut oleh hal itu.


Tentunya Arthur tidak memahami apa yang dimaksud wanita itu. Namun satu hal yang bisa Arthur yakini adalah orang-orang ini yang berkemungkinan besar menjadi pelaku yang melukai Ray.


“Apa mungkin kamu orang yang mengaktifkan nuklir?” tanya Arthur.


Wanita itu melirik Arthur sebelum tersenyum tipis, “Kamu bisa menganggapnya demikian. Aku tak suka bermain-main di sini lagi, terutama mengetahui sekelompok monyet berperang untuk memperebutkan pisang.”


Arthur hendak mengeluh namun ia tak bisa mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Bahkan jika nuklir tak diaktifkan, akan tetap ada banyak orang mati karena perang.


Bahkan mungkin dampak yang ditimbulkan perang jauh lebih buruk dari pada nuklir ini.


“Apa maksudmu?” tanya Virgo.


Wanita itu mengangkat bahunya dengan malas. Wajahnya mungkin terlihat tak berdosa namun dipastikan wanita ini memiliki banyak kebusukan di dalam dirinya.


“Yah, dua kelompok besar bergabung menjadi satu, dan puluhan kelompok kecil bergabung menjadi satu. Dua kelompok besar yang tersisa mulai saling berperang dan berniat meraih hadiah bonus berupa clue tugas yang akan datang.”


“Bukankah ini menarik? Kalian hampir seperti sekelompok anak SMA yang bekerjasama untuk mendapatkan kunci jawaban dari ujian nasional. Dan aku, sebagai guru yang kejam menghancurkan kunci jawaban yang kalian incar dengan ancaman nyata.”


Ancaman nyata yang ia maksud adalah nuklir yang akan meledak dalam beberapa menit lagi. Tidak bisa dihindarkan bahwa wanita ini bermaksud tidak membiarkan siapapun memilikinya dan membiarkan hadiah itu terkubur bersama Open World.


“Apa kamu tak tertarik sama sekali dengan hadiah itu?”


“Tentu saja, namun apa gunanya hal tersebut? Aku tak membutuhkannya dalam hal apapun. Meski menguntungkan mendapatkannya namun tak pernah ada jaminan aku bisa menggunakannya dengan baik. Secret takkan sebaik itu memberikan clue yang mudah.”


Dengan premis bahwa Secret akan membuat Clue berupa teka-teki yang amat rumit seperti yang terjadi di tugas kelima.


Arthur tak menganggap bahwa wanita itu salah namun ia tak menilai benar juga. Segala tentang Secret dan uji coba ini masih abu-abu sehingga tidak ada yang bisa dibilang benar atau salah.


“Sekarang, apa jawaban kalian? Waktu takkan diam dan menunggu kita berbicara. Apakah kalian ini mati di sini, atau mati di tempat lain. Pilihlah tempat kalian untuk mati.” Wanita itu merentangkan kedua tangannya seakan dua pilihan itu ada dimasing-masing tangannya.


Baik Virgo atau Arthur tak lekas menjawabnya karena mungkin ada perangkap yang sudah disiapkan.