
“Ya. Tidak ada yang masuk akal di sini. Hanya saja kamu berada dua tingkat di atasnya.”
Leo menjadi perisai untuk dirinya sendiri. Tak lagi berkeliaran lari seperti orang gila. Diam menjadi patung dan akan bergerak lincah bagai rusa yang menghindari pemangsa.
Lawannya bukan orang remeh seperti yang sudah-sudah. Pergerakan yang sama seperti sebelumnya tidak akan mampu menghadapinya.
Aku butuh lebih dari sekedar cepat untuk melawannya. Pikirnya.
Jika kekuatan dipegang oleh lawannya maka kecepatan dipegang olehnya. Ia tak bisa hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan yang mana lawannya di tempat pertama soal itu.
“Aku tak tahu siapa kamu. Seperti kata, Leader, kamu bukan orang dalam daftar.”
Suara berat nan lantang seperti orang berteriak meski dia berbicara santai. Tidak ada teknologi apapun atau dibuat-buat untuk menciptakan suara tersebut. Singkatnya itu murni.
“Daftar? Apa mungkin Delapan Rookie Berbahaya?” Leo mengangkat alis sedikit terkejut dan senyum meremehkan. “Tampaknya kalian tak menganggapku sampai-sampai aku tidak termasuk ke dalamnya.”
Ia yakin kekuatannya cukup kuat untuk memiliki kualifikasi masuk ke dalam daftar.
Namun jangankan masuk, namanya saja tidak diingat atau diketahui lawannya. Sangat jelas bahwa sejak awal ia tak masuk dalam pertimbangan.
“Salahkan dirimu karena lemah.” Pria itu berkata rendah namun mengejek. “Namaku Alexis Sanchez. Setidaknya kamu perlu tahu namaku. meski kamu Rookie lemah yang tak masuk dalam daftar. Kamu cukup berbahaya untuk mengancam kami di masa depan. Maaf, tetapi matilah di sini.”
“Persetan daftar konyol apapun yang kalian buat. Aku akan menghancurkannya tak lama lagi!”
Leo mengambil bom asap yang sengaja dia simpan dan segera melemparkannya.
Asap mengepul layak kabut di pagi buta. Leo mungkin berkata hebat seperti ingin melakukan penyerangan dan menghancurkan daftar atau apapun. Nyatanya dia tak berniat melakukannya.
Takkan pernah dia akan melupakan tugasnya. Hanya cukup mengulur waktu sampai Ray dan Terumi masuk. Melangkah lebih jauh akan membuat dia kehilangan nyawanya.
Leo memilih melarikan diri selagi asapnya masih tebal. Melawan Alexis dengan Degree-nya yang tak diketahui pasti adalah hal yang berbahaya.
Lebih baik orang seperti Terumi atau sekaliber Ray yang cocok menghadapinya.
Dia mungkin orang bar-bar namun tak cukup bodoh melawan musuh seperti itu.
“Setelah berkata-kata sombong kamu malah melarikan diri. Yah, aku takkan menganggapmu pengecut. Dikalangan pembunuh tak ada istilah pengecut.”
Melarikan diri adalah salah satu bagian dari pertempuran. Jika dia berhasil tetap hidup dari pertempuran maka itu bisa disebut sebagai kemenangan.
Definisi menang tak selamanya berhasil mengalahkan musuh. Kemenangan adalah ketika seseorang berhasil selamat hidup-hidup di tempat pertama.
“Yah. Ini bagus bagiku karena aku juga berlatih melempar tanpa melihat target.”
Alexis mengambil lebih banyak kelereng di kantungnya. Empat kelereng besi pertama diambilnya.
Memejamkan matanya, menarik napas dalam dari balik masker yang menutupi separuh wajahnya. Alexis mengambil ancang-ancang melempar.
Di timing tertentu dia akhirnya memberikan tembakan pertama. Asap di sekitarnya terhempas karena ayunan yang begitu kuat.
Kelereng besi melesat cepat. Seperti halnya peluru yang ditembakkan namun ini lebih kuat karena bobot dan kekuatan hempasannya.
Leo takkan menyadari kedatangan peluru berkecepatan tinggi tersebut. Sekalipun instingnya bagus namun refleks tubuhnya takkan mengimbangi.
Kelereng besi melesat namun sayangnya akurasinya kurang dan hanya mengenai beberapa helai rambut Leo.
“Wuoh!” Leo sedikit terhempas ke samping karena angin kuatnya.
Meski hanya rambut yang jadi korban namun kepalanya terasa pening dan cairan merah anggur darah keluar darinya.
“Sial! Apa-apaan dengan lemparan tak masuk akal tersebut?!”
“Bagaimana bisa dia melempar tepat sasaran di tengah kepulan asap tersebut?”
Leo tak yakin bahwa orang itu menggunakan semacam alat tertentu karena tak menggunakan perlengkapan apapun di bagian mata.
Maka artinya orang itu, Alexis Sanchez terbiasa melempar tanpa melihat ataupun pandangan yang jelas.
“Sedikit meleset, ya? Meski samar aku mampu mendengar dia mengeluh dan darah keluar dari kepalanya.”
Alexis kembali memejamkan matanya dan ancang-ancang untuk melempar. Dalam waktu singkat dia kembali melemparkannya.
Leo yang kali ini sudah siap sepenuhnya mencoba merasakan, namun dia gagal karena benda tersebut mungkin lebih cepat dari instingnya.
Dikarenakan Leo terlalu fokus merasakan dia tak memperhatikan langkahnya dan tak sengaja menendang batu. Kehilangan keseimbangan dam jatuh dengan wajahnya.
DUAR!
Bertepatan dengan kejatuhannya kelereng melesat tepat di atasnya. Leo menatap heran perisitiwa ini.
“Apakah ini yang disebut kesialan membawa keberuntungan?”
Biasanya orang akan marah atau mengumpat ketika jatuh, namun hanya di kasus seperti Leo saja takkan ada siapapun mengeluh tertimpa kesialan kecil tersebut.
Mengesampingkan keberuntungannya, Leo mulai bertanya-tanya tentang bagaimana orang itu memprediksi pergerakannya.
Sekalipun itu Degree, ia takkan percaya bahwa ada sesuatu yang mampu melihat menembus apapun.
“Hanya satu jawaban memungkinkan.”
Alexis berkemungkinan besar mengandalkan suara untuk memprediksi benda di sekitarnya pada jarak tertentu.
Saat Leo hendak mencoba menahannya secara langsung, asap mulai menghilang, dan Alexis tak menunjukkan tanda-tanda akan melempar apapun.
“Keberuntunganmu bagus, bocah. Andaikata aku tak menerima panggilan ini kamu mungkin akan mati dalam dua atau tiga tembakan lainnya.”
“Jadi, kamu menyerah membunuhku di sini?” Leo berkata rendah dengan sedikit suara gentar, tetapi suaranya menyimpan ejekan juga.
“Ya. Ini kemenangan untukmu. Sebagai Assassin ini adalah hal yang memalukan, namun tak jarang kegagalan terjadi. Kalau kamu berkenaan katakanlah namamu.”
Leo enggan karena mungkin dia akan masuk dalam daftar orang yang patut diwaspadai. Namun jika memikirkan keadaan ke depannya bukan hal yang buruk masuk ke daftar.
“Namaku Leo. Leo Anggara.”
“Rookie, Leo Anggara. Aku akan mengingatnya baik-baik. Namamu mungkin akan segera terkenal mulai dari esok hari. Sampai waktunya tiba, kita akan bertemu lagi. PASUKAN MUNDUR!”
Alexis melempar empat bola aneh ke tanah. Asap warna-warni keluar dan setelah beberapa waktu berlalu keberadaannya benar-benar menghilang di telan bumi.
Bersamaan dengan semua anggota serikat Rebellion melarikan diri ke suatu tempat yang tidak dia ketahui.
Selesai setelahnya Leo menatap langit dan menemukan sebuah helikopter sedang lepas landas.
Dari helikopter tersebut seseorang bertopeng dan berpakaian lengkap menyerukan sesuatu dengan amat lantang.
“Ini semua belum berakhir! Kalian akan melihat bagaimana neraka menghiasi tempat ini. Di tanah terkutuk ini. Open World akan hancur. Peperangan besar akan dimulai saat hari bulan purnama! Persiapkanlah diri kalian!”
“Siapa orang gila itu? Apa mungkin pemimpin Rebellion?”
Mari singkirkan pemikiran tersebut. Leo tak lagi mampu menahan lelah dan ketegangannya sampai kini. Perlahan terhuyung-huyung, mata ngantuk, kolaps terjatuh tanpa sadarkan diri.