
Persiapan dilakukan dengan cepat dan semuanya siap sebelum hari gelap. Orang-orang tampak dengan semangat menantikannya sehingga mereka bekerja lebih keras. Andaikan semua itu dilakukan saat tiba hari perang esok.
Moto dari 'Alkohol terasa nikmat sehabis kerja keras' tersebar diantara orang-orang sehingga mendorong mereka lebih berusaha. Ray tak benar-benar memahaminya karena dirinya pribadi tidak begitu tertarik minum alkohol.
“Ini mungkin akan jadi alkohol terakhirku, jadi aku akan menikmatinya sebaik mungkin!”
“Ya! Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi hari esok.”
“Aku serahkan hari esok kepada diriku di esok hari!”
Tentunya tak ada yang merasa tidak antusias terhadap hal ini. Jika ada maka itu adalah orang-orang yang menyadari bahwa ini hanya kedamaian sebelum kekacauan. Mereka paham dengan jelas kebahagiaan ini semata-mata untuk melupakan kengerian yang akan terjadi besok.
Dikarenakan ada banyak sekali orang-orang karena aliansi antara Redwest dan Blueeast. Mereka harus mencari tempat yang lapang dan luas serta persediaan pesta yang tak sedikit.
“Aku kagum mereka bisa menyelesaikannya dalam beberapa jam. Bahkan mereka membangun panggung untuk pertunjukan.” Leo berdecak kagum saat melihat lautan manusia duduk dengan gelas di tangan mereka.
Persiapan untuk pesta nyatanya jauh lebih cepat ketimbang perang. Ray sedikit bingung namun tak mengejar lebih jauh.
Ada lebih banyak orang-orang yang tertawa riang tidak seperti sebelumnya selagi menuang alkohol ke gelas.
Meski begitu belum ada yang coba mulai minum lebih awal. Secara kompak mereka menunggu pemimpin dan penyelenggara memulainya.
“Bukankah ini seperti di anime dan film lainnya? Semua orang mabuk di malam hari dan lupa bahwa besok adalah acara bunuh membunuh.” Terumi tersenyum pahit saat mengatakannya.
Ada sebagian orang berpikiran sama seperti dirinya dan tidak begitu larut dalam pesta. Bahkan ada juga orang-orang yang lebih memilih mengabaikannya dan istirahat untuk persiapan besok.
“Jangan bergosip. Tugas kita adalah memastikan keamanan pesta ini karena sekarang adalah waktu paling rentan yang kita miliki.” Ray datang dan memberikan peringatan.
Untuk malam ini Ray menggunakan rompi anti peluru berwarna hitam dengan kain biru di tangan kanannya. Kain itu menunjukkan bahwa dirinya adalah ketua regu keamanan saat ini.
Leo dan Terumi bergegas lari dengan riang saat Ray mulai memarahi mereka.
“Huh, mereka bertingkah seperti anak-anak.” Ray menghela napas panjang dan berjalan ke hutan dalam.
Ia bersandar di sebuah pohon dan mengamati pesta dalam diam. Orang-orang tampak sangat menikmati sampai tidak sadar bahwa perang bisa saja pecah. Mungkin, sekarang bisa saja terjadi perang.
“Hari-hari seperti ini akan segera berakhir. Bahkan jika Rebellion dihancurkan, Open World juga akan jatuh bersamanya.”
Tugas kelima adalah menghancurkan tugas. Tentu semua tahu tugas apa yang dihancurkan, sangat mudah untuk menerka bahwa pulau ini sendiri adalah tugasnya. Dan, tempat ini mau tak mau harus dikubur untuk keberlangsungan hidup mereka.
Saat Ray mulai memikirkan beberapa hal ia mendengar langkah kaki datang dari belakangnya namun Ray tak berusaha mengkonfirmasi siapa orang itu.
Langkah kakinya berhenti dan Ray merasakan bahwa orang ini juga bersandar di pohon yang sama tanpa coba mengkonfirmasi diri satu sama lain. Mereka berdua jelas saling membelai dan terlihat tidak merisaukan wajah satu sama lainnya.
“Ini terlalu bagus untuk sebuah kebetulan. Apa pesta ini juga kamu yang menyusunnya?”
Orang itu, dari suaranya seorang pria dewasa karena pembawaannya yang serak dan berat. Ia berbicara tanpa coba menutupi apa yang ingin disampaikannya.
“Tentu saja tanpa cacat. Semuanya sesuai permintaan. Aku terkejut bahwa itu benar-benar berhasil. Kamu memang benar-benar orang yang mengerikan.”
Ray coba menebak bahwa pria di belakangnya ini tulus memuji atau hanya ingin melihat reaksinya saja. Meski Ray tak butuh keduanya namun sejujurnya ia tertarik mengetahui beberapa hal secara tak langsung.
“Melihat bahwa kamu melakukannya dengan baik ... sepertinya tak ada penentangan dari pihak sana, kan?”
Mengetahui bahwa semuanya berjalan semulus ini tentunya akan membuat Ray curiga mungkin ada kebusukannya dibalik semua ini. Meskipun sudah memikirkan langkah antisipasi namun tetap saja ini bukan pilihan mudah.
“Semua seperti yang kamu pikirkan. ‘Ini tawaran yang bagus namun sangat merugikan dibeberapa tempat. Yah, tak ada masalah menyesuaikannya’ begitu kata bos. Ia tampaknya tak meragukannya langkahmu dan berani bertaruh.”
Pria itu mengulurkan tangan kirinya, layar jamnya jelas menyala dan Ray tak perlu melihatnya secara langsung.
Ray akhirnya berbalik namun tak berusaha melihat pria yang tersembunyi dalam bayangan pohon. Ray hanya menempelkan jam tangannya ke milik pria itu.
“Itu bagus, aku harap kita mempertahankan ini dan berusaha tak saling mengusik.”
Untuk pertama kalinya pria itu tertawa, “Fu ha ha ha, kamu adalah orang yang berbahaya. Menjadikanmu musuh tidak mungkin menjadi kabar baik, kata bos.” Setelah menyelesaikan urusannya pria itu mulai melangkah pergi dan menyatu dengan gelapnya malam. Diakhir ia menyampaikan kalimat lain.
“Sampai jumpa dihari esok. Baik Redwest, Blueeast, dan Rebellion akan saling berkonfrontasi. Mari pastikan semuanya lenyap dan akhiri tugas ini.”
“Jaga perkataanmu. Ada beberapa orang di sini yang memiliki pendengaran tajam.”
“Fu ha ha ha, tak masalah. Lagi pula mereka mungkin akan lenyap esok hari.”
Ray tak lagi mengatakan apapun dan hanya melirik tempat pria itu pergi. Orang itu jelas tak menghentikan langkahnya dan berjalan dengan acuh. Suara beratnya semakin mengecil namun Ray masih bisa mendengarnya dengan jelas.
“Berusahalah untuk tidak mabuk. Sekali mencicipinya kamu takkan bisa berhenti. Aku telah melihat banyak orang tergila-gila karena alkohol.”
“Itu kalimat yang abu-abu untuk dikatakan,” gumam Ray selagi menghela napas panjang.
Ray memutuskan melihat jam tangannya dan memeriksa sesuatu yang baru saja ia terima.
“DP-nya sesuai kesepakatan. Aku telah menebarkan banyak benih dan hanya butuh satu langkah terakhir. Sebaiknya aku tidak mengacaukannya.”
Meskipun Ray tak ingat pernah mengacaukan sesuatu mengingat setiap langkahnya selalu sempurna. Namun Ray tak bisa mengatakannya dengan lantang di tempat ini.
Untuk berjaga-jaga ia akan meningkatkan kewaspadaannya dua kali lebih banyak dari biasanya.
“Sekarang, mari lihat seberapa gila pesta ini. Setelahnya, mari temui Erina.”
Ray sedikit memperhatikan keributan di tengah-tengah pesta saat Ordo naik ke panggung untuk memulai acara. Meski tampak menarik namun Ray tidak terlalu menyukai keramaian seperti itu.
Selain itu ada hal yang lebih penting ketimbang meningkatkan moral. Ray selalu yakin bahwa ini bukanlah kisah indah di mana membentuk lingkaran pertemanan.
“Aku yakin tempat ini bukan untuk menceritakan kisah pertemanan maupun percintaan. Hanya akan ada pengkhianatan dan pembunuhan. Itu saja.”