
Dua ratus tempat yang memiliki kekurangan, orang-orang yang terluka jadi memiliki harapan. Mereka mulai mendekati Arthur dan hampir berdesak-desakan agar terpilih.
“Tuan! Tolong biarkan aku bergabung denganmu!”
“Aku juga, aku berjanji akan melayanimu dengan baik!”
“Biarkan aku bersamamu, nona! Aku berjanji akan melakukan apapun untukmu!”
“Kumohon, biarkan aku bergabung!”
Seperti yang diharapkan bahwa kekacauan sudah pasti akan terjadi, dengan ada banyaknya orang-orang di sini, bahkan Arthur mungkin akan sangat kewalahan.
“Kumohon diam dulu!” Arthur berkata keras, cukup kuat untuk membungkam mereka semua. “Aku berjanji tidak akan ada siapapun yang ditinggalkan. Aku bersumpah akan menyelamatkan kalian semua!”
Perkataan Arthur menenangkan beberapa namun tak sedikit juga yang sulit mempercayainya.
“Bagaimana caranya? Ini keadaan mendekati putus asa!”
“Aku memiliki satu cara yang bisa dilakukan. Hanya saja ini membutuhkan kepercayaan kalian padaku!”
Mereka diam dan mendengarkan, menempatkan kepercayaan. Maka artinya mereka harus menyerahkan hal lain kepada Arthur. Bisikan mulai terdengar diantara mereka.
“Kepercayaan? Apa kita bisa mempercayainya?”
“Ya, dia orang yang melakukan penembakan dan pengkhianatan secara terang-terangan.”
“Namun dia berusaha menyelamatkan kita, mungkin saja penembakan tersebut direncanakan.”
“Meski begitu Degree-nya adalah tokoh utama, kan? Mustahil orang seperti itu penjahat.”
“Tapi ada, loh. Tokoh utama yang memiliki kepribadian buruk.”
Pendapat pro dan kontra muncul. Mereka yang mempercayai Arthur dan mereka yang masih meragukannya. Bahkan ada juga orang-orang yang diam, mereka mungkin tak tahu apa yang menyebabkan kepercayaan pada Arthur luntur.
Arthur tentunya tak bisa mengatakan apa-apa, fakta yang ada di lapangan dia melakukan penembakan dam pengkhianatan. Hal tersebut memang harusnya umum namun tak pantas terjadi pada orang yang dianggap rekannya.
Saat itu seorang wanita sebelumnya yang merupakan ketua kelompok lima puluh melangkah maju.
“Apa kalian sebodoh itu?” kata-katanya jelas memancing sedikit emosi.
“Hah? Apa maksudmu, wanita? Kamu merendahkan kami?!”
“Memang benar. Jika kalian tidak bodoh maka kalian akan mempercayainya. Dari banyaknya orang, apakah ada yang lain selain dia yang mau mengulurkan tangan untuk kita?”
Semuanya menjadi diam dan mulai berpikir baik-baik terhadap pertanyaan tersebut. Ada lima puluh kelompok, dari banyaknya kelompok hanya Arthur dan Mona yang cukup peduli meletakkan perhatian kepada orang-orang yang terluka.
Apakah ada selain Arthur yang berinisiatif melakukannya? Tentu saja jawabannya adalah tidak.
“Dia membuatku memberanikan diri mengungkapkan bahwa aku adalah ketua. Alasanku tak melakukannya karena yakin kalian akan membuat keributan. Selain itu, jika dia berniat jahat, sejak awal dia takkan memulai dengan baik.”
Jika Arthur memiliki niat jahat maka dia tak perlu susah payah melakukan hal ini. Dia cukup memberikan kalimat ancaman tentang tidak mendapatkan kelompok dan semacamnya.
Dengan ancaman semacam itu maka akan ada orang-orang yang mau menuruti apapun perkataannya hanya demi keselamatan. Bahkan jika harus menjilat kaki, pastinya akan muncul orang yang rela melakukannya.
Tetap hidup adalah yang terpenting ketimbang harga diri. Terlalu meninggikan harga diri takkan membuat seseorang bisa tetap hidup. Bahkan jika harus terinjak, selama tetap hidup maka mereka adalah pemenang.
“Memang kejadian yang membuatnya menembak rekannya sendiri sangat mengejutkan. Tak ada jaminan bahwa dia tidak melakukannya kepada kita. Namun bukankah ini tempat yang memang mengerikan?”
Mengerikan. Tentu saja, lingkungan yang diciptakan Secret adalah tempat di mana pembunuhan, siasat dan pengkhianatan adalah hal lumrah.
Tak ada satupun akan bisa membuat penyangkalan terhadap hal yang sudah mutlak dan diketahui secara umum.
“Pasti ada alasan khusus ia melakukannya. Berusahalah untuk tidak terlalu percaya dengan hal yang hanya kalian lihat. Seperti kacang yang terlihat jelek dan busuk di luar namun kita tak pernah tahu apa yang ada di dalamnya.”
“Kita sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, kemungkinan dia juga tak bisa menyampaikan apa-apa tentang hal itu. Meski begitu, bukan hal buruk mendengarkannya. Jika dia berniat mengambil keuntungan dari kita, maka kita harus melakukan hal yang sama.”
“Manusia diberkati dengan kecerdasan. Jika seseorang coba memanfaatkan maka kita harus melakukan hal yang sama. Di tempat ini ada kepentingan besar menjadi oportunis dan mutualisme.”
Berani mengambil kesempatan dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya, serta berusaha menguntungkan diri sendiri dan jangan sampai merugi. Hal itu dibutuhkan di tempat ini.
Arthur sangat terkesan dengan perkataan tersebut, dia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita ini pembicara yang baik, dengan luar biasanya tak ada lagi suara penentang.
Semua orang memahami apa yang disampaikannya dan memilih untuk mempercayai Arthur.
“Sekarang kamu bisa melanjutkan rencanamu,” ujar wanita itu dengan senyum lelah.
“Kamu sungguh banyak membantuku, terima kasih banyak.”
“Bukan masalah. Omong-omong namaku, Mirna. Mohon bantuannya di masa depan.”
“Arthur. Ya, sekali lagi terima kasih.”
Menyudahi percakapan kecil. Arthur kembali menatap orang-orang dan menyampaikan kalimatnya.
“Aku berterima kasih karena kalian mau mempercayai serta mendengarkanku. Seperti kata Mirna, jika aku memanfaatkan kalian maka kalian boleh memanfaatkanku dengan cara kalian sendiri. Aku menolong kalian untuk kepentinganku, dan kalian menerimaku untuk kepentingan kalian.”
Arthur akan memberikan lampu hijau terhadap hal itu. Tentunya ia takkan membiarkan adanya pengkhianatan dan orang-orang bodoh yang coba melampaui batas. Meski begitu sekarang hal tersebut bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan.
“Aku membutuhkan kepercayaan dari kalian untuk mencari tambahan ketua. Singkatnya, aku ingin kalian menyerahkan setidaknya paling banyak adalah separuh dari DP yang kalian miliki.”
Perkataan Arthur mengejutkan tidak hanya Mona dan Mirna, tetapi semua orang yang mendengarnya. Separuh bukan jumlah yang kecil tentunya.
“S-separuh?!”
“Itu jumlah yang gila!”
“Tidak harus separuh, setidaknya aku ingin kalian paling kecil memberikan 10% tabungan kalian. Ini demi kepentingannya kita bersama, mohon percaya padaku. Aku bersumpah akan menggunakannya untuk menyelamatkan kita semua.” Arthur menunduk dalam-dalam selayaknya memohon.
Tentunya orang-orang merasa bermasalah untuk menyerahkan DP mereka yang berharga. Meski begitu, mereka melakukannya dengan sedikit enggan.
Arthur menerima DP dari banyak orang satu-persatu. Jumlahnya mulai terkumpul dengan sedikit memuaskan. Tampaknya kebanyakan orang hanya memberikan sekitar sepuluh sampai dua puluh persen dari DP mereka.
Tentunya Arthur tak bisa memberikan paksaan karena pilihan ada di tangan mereka. Jika dia memaksakan keberuntungan lebih dari ini maka hanya akan timbul kekacauan yang tidak diperlukan.
‘Terkecuali Degree-ku, ada total 92.200 DP yang terkumpul. Aku harap ini jumlah yang cukup.’
Arthur mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah berpartisipasi menyumbang dan mengumumkan jumlah yang didapatnya.
“Apa yang akan kamu lakukan dengan DP sebanyak itu, Arthur?” tanya Mirna dengan rasa penasaran yang cukup kuat.
“Ya. Aku berniat—” Sebelum bisa menyampaikan niatnya dengan jelas, suara seorang wanita menghentikannya. Hal itu karena suaranya tak bisa ia abaikan.
“Sepertinya sesuatu yang menarik sedang terjadi di sini.”
Wanita itu adalah Indri yang datang dengan komplotannya. Mulai dari si badut, kembar, pembohong dan bocah chuunibyou berada bersamanya. Bisa dibiarkan dia lengkap satu tim.
Kedatangannya tentu tidak disambut baik oleh Arthur karena Indri adalah salah satu orang yang dia waspadai. Terutama saat Ben melemparkan bom asap dan memberi kesempatan untuk Erina menggunakan Degree-nya.
Hal itu membuat Arthur memunculkan kecurigaan bahwa Indri dan rekannya berkemungkinan besar terhubung dengan Ray. Tindakan mereka selama ini sangat absurd dan mungkin tak melakukan apa-apa sama sekali.
Meski begitu peristiwa terakhir kali menunjukkan bahwa sebenarnya Indri selalu bergerak namun mereka tak melakukannya dengan mencolok. Mungkin hanya melempar gas asap dan perampok di malam hari yang mereka lakukan.
“Apa maumu ke sini?” tanya Arthur dengan acuh tak acuh.
“Aku hanya melihat sesuatu yang menarik. Dari yang aku lihat, sepertinya kamu berusaha menyelamatkan mereka semua.” Indri menatap sekitarnya dengan tajam, seakan-akan tak ada yang bisa lolos dari tatapannya.
“Itu bukan urusanmu dengan apa yang akan aku lakukan. Kamu tak perlu mencampuri tanganmu di sini.” Arthur tak ingin berbicara lebih lama lagi dengan Indri karena sejujurnya ia tak tahan melakukannya.
“Kamu benar, rasanya cukup menjijikkan untuk meletakkan tangan di selokan penuh kotoran dan limbah manusia.”
Sarkasme miliknya selalu menyebalkan, karena itu Arthur tak ingin bertukar kalimat lebih banyak. Bercakap-cakap dengan Indri hanya akan memberikan rasa sakit di kepalanya.
“Namun kamu yakin ingin mengusirku? Aku mungkin tak tahan berada di sekitar kera namun jika kalian terlihat menginginkan sesuatu dengan memberiku emas maka aku akan mendengarkan.”
Arthur sedikit terkejut bahwa Indri telah menebak tindakan yang akan ia lakukan. Wanita ini tampaknya memiliki kemampuan analisis yang sama atau lebih hebat dari Mona.
“Aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan.” Pada tahap ini bermain bodoh diperlukan.
“Kamu lebih cerdas dari ini, Arthur. Trik seperti itu tidak akan berguna di hadapanku.”
“Aku tidak tahu apa yang coba kamu bicarakan.”
“Masih mau melanjutkan ini?”
“...”
Arthur tak bisa menang dengan permainan kata. Indri terlalu kuat dalam bidang itu seakan-akan di belajar banyak kalimat untuk hal semacam ini. Arthur mau tidak mau hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
‘Apa boleh buat. Aku akan menawarkannya pada dia terlebih dahulu.’
“Aku tak bisa menyembunyikan ini darimu, kah. Seperti yang kamu tahu bahwa kami kekurangan kolega untuk menampung semua orang di sini.”
Indri berekspresi seakan-akan dia terkejut, “Ho? Dari yang aku lihat kamu berhasil mengumpulkan empat orang ketua kelompok. Namun tampaknya itu tak cukup membawa semua orang, ya. Jadi apa yang akan kamu lakukan dengan DP itu?”
Pembicaraan mulai memasuki poin utamanya, ini percakapan menggelikan untuk negosiasi yang sudah jelas merugikan Arthur.
Dalam bernegosiasi penting untuk tidak membuat lawan mengetahui apa yang sebenarnya kamu butuhkan dan inginkan. Juga, sangat penting untuk mengetahui keinginan lawan negosiasi agar bisa meraup keuntungan lebih darinya.
Hal-hal berbau bisnis semacam ini selalu merepotkan karena siasat dan strategi harus dimanfaatkan. Memancing lawan untuk menunjukkan minatnya pada suatu barang adalah hal penting.
Namun hal itu telah percuma karena Indri sudah tahu bahwa Arthur membutuhkan orang untuk menampung orang sakit.
“Aku takkan basa-basi. Dengan DP ini, aku berencana membeli posisi ketua dari seseorang.”
Perkataan Arthur tak hanya mengejutkan bagi Mona, Mirna dan orang-orang di kubunya, tetapi hal tersebut membuat kelompok Indri juga sama terkejutnya.
Pernyataan Arthur mungkin bukan sesuatu yang bisa diprediksi oleh mereka dalam hal apapun. Tidak ada orang waras yang akan berani mengusulkan gagasan seperti itu.
“Fu fu, kamu membuatku terkejut. Benar, aku sangat terkejut karenanya,” ujar Indri dengan sedikit tawa kecil.
Arthur mengumpat dalam hatinya. Keparat itu pasti tidak terkejut sama sekali karena sejak awal dia muncul di sini, Indri semestinya tahu niatnya.
“Tidak ada orang gila selain kamu yang akan datang dengan usulan tersebut. Bahkan mungkin Ray takkan melakukannya.”
Menyebutkan nama Ray membuat Arthur sedikit kesal namun ia tidak berusaha menyampaikan apapun tentang itu. Indri terus berbicara.
“Meski begitu aku juga yakin akan ada orang bodoh yang rela menjualnya. Jika hal ini tersebar luas maka situasi di masa depan akan merepotkan.”
Arthur tahu apa yang dimaksud Indri. Jika jual-beli ketua tersebar secara luas maka akan sulit bagi masa depan. Kemungkinan mereka takkan melakukan pertarungan atau perburuan, justru akan muncul bajingan yang melakukan jual-beli terhadap ketua kelompok atau setidaknya kunci.
Jika ada orang yang memonopoli hal tersebut maka bahkan kekerasan tidak bisa diandalkan sama sekali.
“Karena kamu memahami risiko di masa depan jika informasi ini tersebar, maka cegahlah agar itu tak terjadi. Aku tak suka banyak basa-basi terhadap hal yang sudah jelas di pahami. Kamu memiliki seseorang dalam kelompokmu menjadi ketua, kan? Aku ingin membeli posisi tersebut dengan DP.”
Indri tentunya tidak menyangkal ada anggota kelompoknya yang juga menjadi ketua. Meski begitu dia tidak segera memberikan persetujuan untuk membiarkan Arthur membelinya.
“Kamu terlalu terburu-buru, Arthur. Memang benar akan merepotkan jika kamu pergi ke orang lain dan membiarkan hal ini tersebar secara luas. Namun tidak jauh lebih merepotkan dengan membiarkanmu membeli posisi ketua.”
“Apa yang kamu maksud?” tanya Arthur, tak memahami alasan Indri berkata demikian.
“Termasuk dirimu sudah ada empat orang ketua, yang artinya ada empat kunci di tanganmu. Jika aku membiarkan kamu membeli posisi ketua lainnya, maka kamu akan memiliki keunggulan tidak hanya anggota, tetapi juga kunci.”
Satu orang ketua memegang satu kunci, dan untuk membuka teka-teki terakhir adalah dengan mengumpulkan sepuluh kunci. Jika Arthur memiliki lima sejak awal, maka saka artinya dia sudah separuh jalan menuju keberhasilan.
“Dengan banyaknya orang-orang ini, aku takkan bisa pergi dengan ide mengambil kunci dari kolegaku. Jika itu terjadi maka tak ada artinya aku membeli sebuah kelompok.”
Kelompok yang kehilangan kunci akan hancur jika tak mendapatkan pengganti. Arthur takkan datang dengan gagasan yang berisiko besar seperti itu. Selain itu, aturan yang diberikan Secret jelas belum semuanya.
“Bahkan jika itu benar, aku akan menjadi orang bodoh ketika datang dengan gagasan menjual kelompok di sisiku. Tak hanya kehilangan kelompok, aku akan kehilangan sebuah kunci.” Indri menggelengkan kepalanya dengan rumit.
“Aku sendiri sebenarnya tak masalah dengan kehilangan satu kunci. Toh, bukannya aku kekurangan kekuatan untuk mendapatkan yang lainnya.”
Arthur sedikit berharap dan bernapas lega diam-diam karena Indri tampaknya memberikan lampu hijau untuk membiarkan posisi ketua dari anggotanya dibeli.
Meski begitu dia tak bisa senang dulu. Permasalahan sebenarnya justru baru saja dimulai.
“Jadi, berapa harga yang kamu pasang untuk itu?” tanya Arthur dengan tatapan tajam.
“Dua juta D Point.”
“Hah?”
Arthur berpikir dirinya salah mendengar namun melihat Indri tak mengkoreksi maka telinganya tidak salah. Dia menggertak giginya dengan kesal karena jumlah tak masuk akal tersebut.
“Jangan bercanda. Sejak awal kamu tak berniat menjualnya!” Arthur mengerang dan masih menahan emosinya.
“Mengapa kamu marah? Itu wajar bagiku mematok harga tinggi karena betapa berharganya sebuah kelompok,” Indri terlihat senang ketika melihat wajah Arthur.
Memang hal yang sangat wajar menjual berlian dengan harga yang puluhan kali lebih mahal dari emas. Nilai kelompok dan kunci di sini sangat berharga.
Namun masalahnya adalah harga yang ditawarkan Indri jelas tidak masuk akal.
“Aku sangat percaya diri bahwa tidak ada orang yang akan memiliki jumlah DP sebanyak itu. Kamu hanya membuang-buang waktuku. Maaf, aku akan mencari orang lain.”
Arthur berniat pergi dan melewati Indri.
Indri tidak tampak akan menghentikannya, sebagai gantinya dia mulai bicara.
“Orang pemarah takkan disukai, loh. Mungkin saja mereka takkan mau mendengarkanmu. Benar kan, Guren?” Indri menatap Guren penuh makna dan tersenyum sinis.
Guren memahaminya dan mulai mengerutkan alis, “Apa maksudmu, nona? Hal itu belum pasti!”
Guren menaikkan suaranya agar semua orang bisa mendengar apa yang disampaikannya.
“Selain kita yang tak mau mendengarkan, aku yakin semua orang pasti akan mendengarkan apa yang dikatakan Arthur!”
Hal tersebut membuat semua orang memperhatikannya, bahkan Arthur tak terkecuali. Awalnya dia berpikir apa yang coba dilakukan oleh Guren dan mengabaikannya ketika tak ada apapun yang terjadi.
Namun ketika Arthur mencoba berbicara dengan orang lain, mengejutkannya tak ada yang mau mendengarkan. Bahkan mayoritasnya pergi meninggalkan Arthur sendirian.
‘Jadi begitu, ini Degree yang dimiliki bajingan itu, si penipu.’
Pda suatu waktu Arthur mendengar bahwa Guren memiliki Degree sebagai pembohong ulung. Awalnya Arthur sedikit ragu bahwa ada orang yang mempunyai Degree bodoh seperti itu namun nyatanya orang itu sungguh ada.
“Araa? Padahal aku sangat yakin semuanya mau mendengarkan Arthur, loh!” Guren berbicara dengan wajah yang mengejek dan merendahkan.
Semakin dia berbicara maka semakin kecil kesempatan Arthur bernegosiasi denhan orang lain. Maka satu-satunya yang bisa ia ajak diskusi adalah Indri.
“Kamu sangat menyedihkan. Aku mungkin akan menangis.”
“Tutup mulutmu. Jika kamu tak berniat menjualnya padaku, lantas apa untungnya bagimu melakukan hal ini?” taya Arthur dengan nada dingin.
Indri memegang bibirnya dan tersenyum, “Sejak kapan aku bilang takkan menjualnya? Kamu tak boleh asal mengambil kesimpulan. Aku datang menemuimu dengan gagasan ingin menjualnya, loh.”
Arthur hampir tak mempercayai setiap kalimat yang datang dari wanita ini sekarang. Kebanyakan dari apa yang dia katakan adalah sebuah kebohongan dan permainan kalimat sekarang ini.
“Bagaimana dengan ini, aku akan membiarkanmu membeli kelompoknya dengan harga yang wajar. Namun kuncinya akan tetap di tanganku.”
“Persetan denhan usulanmu! Tak ada bedanya jika aku membeli kelompok yang pada akhirnya tetap akan hancur.”
Arthur mungkin akan mengambilnya jika sungguh tak ada cara apapun yang bisa diandalkan. Namun untuk sekarang ia tak perlu terburu-buru memutuskan itu.
Jika ia membeli kelompok yang akan hancur nantinya, sama saja dia memberikan DP kepada Indri secara gratis. Itu ide yang sangat konyol bahkan jika tak ada jalan lain.
“Dasar pria yang tidak bisa diajak bercanda,” Indri sedikit kecewa akan hal itu. “Kalau begitu yang bisa aku tawarkan adalah kursi kosong yang kami miliki.”
Arthur awalnya ingin mengumpat dan memberikan penolakannya. Namun ia memilih menahan napas dan mencari tahu lebih dulu.
“Apa maksudmu?”
“Aku memiliki banyak slot kosong untuk kursi keanggotaan. Sejak awal aku hanya mempunyai segelintir orang bersamaku. Dan, sekarang ada banyak tempat kosong yang hanya akan membusuk.”
“Oleh karena itu aku berpikir mengapa tidak membuatnya jadi berguna? Di saat aku memikirkannya, aku menemukanmu dengan gagasan serupa.”
Sejak awal Indri sama sekali tidak berniat memberikan kelompok yang sudah ada di tangannya. Itu sama saja ia melepaskan emas demi sebuah permen.
Namun ada hal lain yang menjadi tujuannya. Indri sejak awal berniat menjual kursi kosong yang ia miliki.
“Jika kamu mau membayar dengan jumlah DP tertentu maka aku akan membiarkan para kera itu memasuki tempatku. Tentunya mereka akan bergerak bersamaku nantinya.”
Arthur diam cukup lama untuk memikirkan hal tersebut. Menurutnya sendiri tidak ada opsi lain selain ini untuk bisa ditempuh. Bahkan dia tak lagi percaya diri akan mendapatkan solusi lain yang lebih baik dari ini.
‘Meski begitu, dia terlalu serakah! Ada lebih banyak kerugian yang diberikan padaku ketimbang keuntungan.’
Pertama adalah Arthur akan memperkuat kubu Indri dengan membiarkan beberapa lebih dari seratus orang menjadi anggotanya. Kedua, dia harus membayarkan sejumlah DP kepada wanita itu untuk kursi. Dan terakhir, tak ada jaminan Indri tidak akan membuang mereka begitu kesepakatan berakhir.
“Itu akan bermasalah. Pada akhirnya sangat mungkin bagimu untuk membuang mereka beberapa hari setelah kesepakatan dibuat.”
Hal tersebut tak terbantahkan. Janji secara lisan bahkan jika Indri bersumpah, Arthur takkan datang untuk menempatkan kepercayaannya. Pedagang yang baik adalah mereka yang menganggap janji lisan hannyalah omong kosong.
Selama tak ada penjamin dari kesepakatan tersebut, semuanya hannyalah omong kosong. Lebih sulitnya lagi di sini surat perjanjian juga tidak bisa diandalkan.
“Ku hu hu hu, aku pikir kamu akan terperangkap di dalamnya namun kamu lebih cerdas dari dugaanku,” ujar Indri. “Ini memang sedikit merepotkan namun bagaimana jika aku menyewakan kursi keanggotaan daripada menjualnya?”
Arthur mengerutkan alisnya, “Maksudmu aku harus memberikan DP secara berkala padamu sampai hari yang ditentukan?”
“Kamu menangkapnya dengan cepat. Benar. Aku akan menyewakan kursi yang tersedia di pihakku padamu. Dengan cara ini kamu tak perlu khawatir seseorang menghilang. Kamu bisa mengutus orang untuk memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.”