The Degree

The Degree
Masa Lalu Ray



Terumi mengangguk dengan canggung. Ia menenggak air liurnya karena situasinya tak berjalan seperti yang ia harapkan.


Awalnya Terumi berniat basa-basi namun siapa sangka pembicaraannya justru jadi berat dan terungkap fakta lainnya.


“Ya. Aku yakin kamu takkan berbohong tentang itu. Awalnya aku takkan mempercayai apa pun kata-katanya, namun saat kamu marah pemikiranku berubah.”


Takkan ada yang marah jika kata-katanya sangat jelas adalah sebuah kebohongan. Namun faktanya Ray benar-benar murka karenanya.


Tak ada langkah bagi Ray. Saat itu kepalanya tak benar-benar jernih sehingga ia menginjak ranjaunya sendiri.


Berbohong takkan membuat segala hal lebih baik. Di masa depan mungkin aku akan lebih sering bertemu dengan Virgo. Pikirnya.


Ray tak tahu siapa orang tersebut. Dalam hidupnya ia hampir tak pernah bertemu banyak orang karena harus mendekam di dalam kurungan pria itu.


Tampaknya tak ada langkah lain bagi Ray. Tentunya ia tak perlu menceritakan semua kebenarannya.


“Ini bukan sebuah kisah menyenangkan yang mungkin akan dialami banyak orang. Aku yakin ini bukan sesuatu yang orang sebaik dirimu pantas mendengarnya.”


Terumi tampaknya telah membulatkan tekadnya sehingga tak ada cara apapun untuk membuatnya mundur.


“Tenang saja, aku akan mendengarkannya. Dan, aku bersumpah akan merahasiakannya.”


Entah bisa dipercaya atau tidak, namun selama Ray tetap bersamanya maka takkan ada kesempatan untuk Terumi membocorkannya.


Ray berjalan menuju jendela. Tangannya memolesnya seakan-akan coba mengetahui ketebalan debunya. Ia butuh beberapa kesiapan karena kisah ini bukan sesuatu yang pernah ia bicarakan dengan siapapun.


Meski dirinya sudah terlatih dalam mengendalikan perasaan apapun yang ia miliki. Tetap saja Ray adalah manusia yang penuh dengan kekurangan.


“Yah, ini bukan sesuatu yang besar. Baik. Sekarang dari mana aku harus memulai ... .” Ray akhirnya menyerah dan memilih membeberkan segalanya.


“Pria itu— Ayahku adalah seseorang yang mempunyai posisi penting di dunia ini. Aku tak tahu secara pasti, namun ia mencari metode pendidikan yang bagus untuk mengembangkan manusia.”


Penelitian tersebut sudah berlangsung hampir sepuluh tahun lamanya. Ray tak tahu persis apa tepatnya yang mereka lakukan dan apa yang telah dicapai. Yang ia ketahui pria itu adalah peneliti seperti itu. Sampai di sana.


“Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, namun tampaknya ia dikeluarkan dari penelitian. Sampai akhirnya ia menikah dan melahirkanku. Segalanya berawal dari sana.”


Ray dibesarkan di sebuah panti asuhan bobrok tanpa pernah dibesarkan langsung oleh orang tuanya. Tentunya Ray tak ingat apakah orang tuanya pernah merawat atau tidak.


Namun sejak ia mulai bisa mengingat, hanya ada hal-hal tak indah yang ia dapatkan.


“Pria itu— mungkin, Ayahku. Ia selalu saja menyampaikan padaku ambisi besarnya untuk mendorong penciptaan manusia sempurna. Ia ingin menciptakan manusia-manusia cerdas yang akan membuat ilmuan genius di masa lalu mudah ditemukan di manapun.”


Sampai saat ini. Ilmuwan hebat seperti Albert Einstein, Isaac Newton, dan Nicola Tesla masih tak tergantikan. Tentunya ada banyak ilmuwan lain namun tiga orang ini yang mungkin paling banyak dikenal.


Tujuan Ayahnya Ray adalah menciptakan dunia seperti itu. Dunia di mana orang genius adalah hal yang umum.


“Itu tujuan yang besar. Apa mungkin kamu—” Terumi belum sempat menyelesaikan kalimatnya, karena Ray memotongnya.


“Ya. Aku adalah korban dari ambisi mustahil tersebut. Sejak dilahirkan yang aku temukan hannyalah meja belajar dan alat tulis. Sejak aku hidup yang aku lihat hannyalah layar pembelajaran dan buku. Aktifitas sehari-hariku adalah belajar. Belajar. Dan, belajar. Baik itu teori, bela diri, hingga beberapa praktik kecil untuk tak memiliki belas kasih.”


Tentunya itu bukan ruangan yang penuh dengan kenyamanan. Tempat yang sangat kumuh dan makanan tak sehat setiap harinya. Ia juga harus menguasai seni bela diri yang diajarkan. Dan, di usia ke-10 ia harus belajar membunuh seseorang.


Pengalaman menyakitkan dan entah ada berapa banyak orang yang telah ia jagal dengan tangannya sendiri.


“Sejak saat itu hal-hal lain yang takkan bisa kamu bayangkan terjadi. Hingga aku tak lagi bisa merasa kasihan dan mengampuni orang yang melawanku. sampai pada hari itu, ketika umurku tujuh belas tahun. Aku memberontak.”


Tujuh belas tahun adalah fase pemberontakan bagi para remaja. Tak peduli di tempat seperti apa seseorang dibesarkan. Mereka takkan mampu melawan takdir.


“Aku membakar tempat itu. Membunuh orang-orang yang ada di dalamnya. Sampai tiba di saat terakhir, di mana aku menghadapi Ayahku.”


Pemandangan itu. Sebuah tempat yang berada di tengah hutan. Rumah dan pepohonan sekitarnya yang dilalap jago merah. Di tengah kobaran api tersebut ada Ray yang mengangkangi seorang pria dan memukulinya dengan penuh kemarahan.


“Ini atas semua yang kamu lakukan padaku. Terlepas apakah kita terima hubungan darah atau tidak. Kamulah yang mengajarkan padaku. Ikatan apapun tak berguna. Dan, tak masalah membuangnya!”


Ray memukul wajah pria yang sudah setengah hancur dengan segenap tenaga.


“Jangan berpikir bahwa aku adalah korban ambisimu. Justru sebaliknya. Kamu korban dari ambisimu sendiri!”


Lagi dan lagi ia memukul tanpa menunjukkan apa itu yang namanya belas kasih. Meski tulang wajahnya hancur, meski giginya patah, dan meski tangannya berdarah. Tak pernah Ray memiliki rem untuk menghentikan tindakannya.


“MENGAPA KAMU TERTAWA?! CEPAT MENANGIS, MENDERITA DAN MOHON AMPUN!” Ray memiliki kemarahan yang memuncak dalam dirinya.


“Ku ha ha ha ha! HA HA HA HA!”


“Berhentilah tertawa!”


“HA HA HA! HA HA HA!”


“Ini menyenangkan! Bahkan walau aku mati, jika dunia ini mati. Ambisiku akan tetap hidup! Melalui pemberontakanmu ini, langkah menuju masa depan pasti akan terjadi! Terima kasih karena terlahir sebagai putraku, Ray Morgan!”


Ray merasa sia-sia untuk terus memukuli dan menyiksanya. Mau bagaimanapun orang itu telah mengotori tangannya hanya untuk ambisinya. Mustahil ia akan menyerahkan diri terhadap rasa sakit.


Ray saat itu mengambil sebuah batang kayu yang terbakar. Dalam prosesnya kepalanya tergores dahan yang jatuh dan terluka.


Dengan dahan yang terbakar di tangannya, Ray menginjak dada pria yang bisa ia panggil Ayahnya.


“Akan aku hancurkan wajah sombong itu. Akan aku hancurkan wajah bangga dan senang itu. Akan aku hancurkan semua wajahmu dalam ingatanku!”


Ray menusukkan dahan tersebut ke mata, dan membakar seluruh wajah pria itu di akhir langkahnya sebelum menembak tepat di kepalanya.


Kembali ke masa kini.


Ray yang bercerita mengepalkan tangannya. Sampai saat ini rasa sakit di dadanya tak terobati sama sekali. Bahkan setelah hari-hari itu dia mencoba berbagai kesenangan, namun tak satupun meringankannya.


“Sampai akhir pria itu menjadi hantu bagiku. Aku tak lagi bisa menjadi orang normal sepertimu. Seperti Leo. Dan, seperti yang lainnya.”