
“Di sana!” ujar Leo selagi menunjuk suatu tempat, “Tampaknya di sana adalah pusatnya. Aku melihat ada beberapa orang yang berdiri di puncak gedung tertinggi.”
Ray kagum betapa baiknya mata yang Leo miliki. Bahkan ia tak mampu melihat apa-apa di sana. Tampaknya Degree tak sekedar kekuatan dan umur panjang belaka.
Meski begitu hanya orang dengan Degree tertentu yang mampu meningkatkan pengelihatannya.
“Apa kita harus langsung menerobos ke sana?” Terumi tampak merogoh kantung besarnya dan siap mengeluarkan benda-benda yang dia bawa.
“Tidak. Jika kita muncul secara terang-terangan maka mereka akan melihatnya. Mereka bukan orang amatir yang akan mengabaikan kita.”
Jika mereka akan mengabaikan orang yang menuju tempat mereka maka Ray takkan perlu khawatir menghadapi orang bodoh macam itu.
“Masalahnya adalah penjagaan mereka ketat. Lihat berapa banyak orang yang berada di sekitarnya.”
Ada puluhan orang tersebar di sekitar gedung tersebut. Hal itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi mereka menunjukkan posisi mereka. Di sisi lain mereka membuat keamanannya lebih terjamin.
Ray tak menemukan celah di manapun, bahkan jika mereka coba menyusup maka dipastikan akan ada keributan besar.
“Setiap sisi memiliki orang. Tak ada satupun jalan yang membuat kita menyusup tanpa ketahuan.”
Bahkan Terumi memiliki pemikiran yang sama.
Selagi mengintip dari balik puing bangunan mereka mendiskusikan cara terbaik untuk menyusup.
“Kita kalah jumlah. Sulit melakukan penyusupan dan tak ada cara apapun menghindari keributan.”
Situasinya telah mencapai kebuntuan di mana tak ada cara selain menyusup dengan mencolok.
Hanya ada satu opsi saja dan mereka tahu bahwa harus ada satu orang yang berkorban.
“Kita membutuhkan orang untuk menjadi umpan. Maka aku akan melakukannya.” Leo tersenyum canggung, wajahnya jelas menunjukkan bahwa dia tegang dan senang diwaktu yang sama.
“Apa kamu yakin? Itu lebih berbahaya daripada menyusup ke dalamnya.” Terumi mengkhawatirkan Leo karena dia tahu betapa bahayanya jadi umpan.
Dengan orang sebanyak itu mustahil memenangkannya. Ini bukan kisah fantasi atau pahlawan yang mampu menghadapi puluhan orang sendirian.
Bahkan dengan Degree tetap saja akan mustahil melakukannya.
“Tenang saja. Aku hanya akan mengulur waktu untuk kalian masuk. Tentunya aku bukan orang bodoh yang akan memaksakan diri meski tahu kalah dalam jumlah.”
Bahkan jika dia mengatakan demikian lawannya juga pengguna Degree dan senjata api. Sulit untuk selamat dengan luka ringan.
“Untuk berjaga-jaga aku akan memberikanmu dua gas air mata. Meski aku memiliki beberapa lagi namun aku juga membutuhkannya untuk penyusupan.”
Ray menyerahkan dua gas air mata. Dia masih memegang tiga di dalam kantung yang tersembunyi di balik jubahnya.
Sebagai catatan Leo dan Terumi memiliki hal yang sama namun keduanya membawa waist bag yang cukup besar untuk menyimpan benda.
“Ya. Mendapatkan bantuan saja aku sudah bersyukur. Terima kasih. Kalau begitu sudah dipastikan. Aku akan menjadi umpan dan selama kekacauan itu kalian akan menyusup ke dalam.”
Ray mengangguk karena saat ini memang opsi itu yang paling bisa dilakukan.
“Ya. Saat kita masuk kamu bisa pergi secara perlahan untuk mengurangi kecurigaan. Toh, jika pemimpin mereka pintar aku yakin kami akan langsung ketahuan.”
Memang tampak sia-sia namun setidaknya mereka bisa mengurangi jumlah orang untuk ditangani.
“Jika ada kesempatan aku akan membawa bantuan. Lagipula musuh saat ini adalah Rebellion. Harap saja Ordo datang tepat waktu.”
Ray dan Leo mengangguk dan ingin melaksanakan tugasnya masing-masing namun Terumi segera menghentikannya.
“Sebelum itu bisakah kita melakukan tos? Lagipula kita ini teman!”
Ray tak tahu tos seperti apa yang dimaksud Terumi. Ia tak pernah mempelajari hal itu dan tidak ada buku yang mencatatnya.
Terumi mengambil tangan kanan Ray dan Leo. Dia menumpuk tangan keduanya, bersama tangannya dan mengucapkan:
“Kita akan kembali dengan selamat! Oo!” Terumi dengan semangat mengangkat tangannya ke atas.
Ray dan Leo yang masih menumpuk tangannya hanya melihat Terumi dalam diam. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan sama sekali.
Terumi yang bersemangat sendirian mulai merona dan terlihat ingin menangis.
Leo merasa bersalah dan mengambil inisiatif, mengangkat tangan dan berseru, “O-ow!”
Tatapan Leo kepada Ray seakan mendesaknya untuk bertindak serupa. Dari hal itu tampaknya ia ingin menyampaikan bahwa harus melakukan hal yang sama.
“Oww... .” Ray akhirnya melakukannya.
Mereka berpisah setelah hal itu. Meninggalkan Ray dan Terumi yang menutup wajahnya sedikit terisak.
“Aku benci betapa bodoh dan tidak pekanya kalian.”
Ray mengernyitkan alisnya. Ditinggalkan dengan suasana tak mengenakan ini cukup menyebalkan.
Dalam suatu buku yang pernah dia pelajari. Wanita itu seperti kucing. Kadang manja, menyebalkan dan sulit dimengerti sikapnya. Tindakannya juga acak.
Kesamaannya tak sampai di sana. Seperti halnya kucing yang akan senang dielus dan dimanjakan, wanita juga makhluk lembut seperti itu.
Ray menepuk kepala Terumi dan mulai mengacak-acak rambutnya, “Yos-yos, wanita cantik tak patut bersedih.”
Terumi mengangkat sedikit wajahnya da. menatap Ray.
“Ada apa?” tanya Ray.
Terumi merona kemudian menjaga jarak dari Ray selagi dengan terbata-bata mengatakan, “B-bukan apa-apa!”
Sampai akhir aku takkan memahami wanita. Apa dia sebegitu benci diperlakukan seperti hewan? pikirnya.
Mengabaikan hal itu Ray memutuskan untuk mengamati situasi Leo.
Leo dengan hati-hati berjalan sembunyi-sembunyi dan mendekati lokasi yang bagus untuknya membuat kekacauan.
“Dilihat dari kepercayaan dirinya. Itu seperti Degree-nya cocok untuk ini.” gumam Ray saat memperhatikan dengan seksama.
Ray ingat Degree-nya adalah Singa Tidur. Entah apa maknanya namun pasal berburu, menerkam dan bergerak pastinya seperti singa.
Hanya saja Ray tak mampu menentukan apakah itu singa jantan atau betina. Ada yang mengatakan bahwa betina lebih pandai berburu sementara pejantan hanya menikmati hasil buruan para betina.
Kehidupan mereka sangat terbalik dengan manusia. Manusia memiliki sistem di mana pria bekerja setengah mati. Dan, wanita menghabiskannya selagi mengeluh lelah karena belanja banyak barang tanpa menggunakan otak tentang seberapa sulit pria mendapatkan uangnya.
“Kamu sepertinya belum pernah melihat Leo beraksi. Aku tak tahu bagaimana dengan hutan-hutan namun di tempat terbuka seperti ini adalah keahliannya.” Terumi yang sudah baik-baik saja memberi informasi yang tak diketahui.
“Jadi begitu, ya ... .”
Namun aku tak percaya bahwa dia memiliki Degree semacam itu. Ada
dua opsi. Dia menyembunyikannya dengan menipu atau memang benar seperti itu Degree-nya. Jika harus memilih, pilihan pertama terdengar meyakinkan. Pikirnya.
Sebelum melihat bukti bahwa dia tak berbohong maka Ray takkan seratus persen percaya.
Selain itu, terlepas dari Degree-nya. Ray masih tak mempercayai apa yang ditemukan Leo. Ia tidak berpikir Leo akan membuat kebohongan mengerikan seperti itu.
Setelah semua ini berakhir, aku harap ada kesempatan bagiku untuk melihatnya secara langsung. Pikirnya.