The Degree

The Degree
Masa Lalu Ray II



Terumi yang mendengarkan dengan seksama menutup mulutnya dengan tak percaya. Ia tentu sangat terguncang bahwa sesuatu seperti itu benar-benar bisa terjadi dalam kehidupan nyata.


Apakah ada orang tua yang begitu kejam kepada anaknya sehingga mampu melakukan hal itu? Tidak.


Memang bukan berarti tidak ada sama sekali orang tua yang kejam, dan Ray bukan satu-satunya. Namun poin pentingnya adalah orang tua yang mengorbankan anaknya demi ambisi.


Seperti hal yang dialami Ray dari masa lalunya. Pada akhirnya orang tua yang mengorbankan anak untuk ambisinya kelak akan menjadi korban dari ambisinya sendiri.


Tanpa pernah ia sadari bendungan air matanya runtuh dan mengalir begitu saja. Tanpa henti, dadanya ikut merasakan sakit dan ia mulai terisak.


Aku hanya mendengarnya saja sudah merasakan sakitnya. Apa jadinya jika aku ada di posisinya? Mungkin aku mampu bertahan. Mungkin juga mati. Pikirnya.


Jika menjalani kehidupan seperti itu maka amatlah menyedihkan. Di dunia ini, tidak ada yang lebih menyedihkan. Selain orang yang tak mengenal cinta orang tuanya, ataupun kehangatan manusia.


“Peristiwa itu dianggap sebagai kecelakaan. Aku mengaturnya sedemikian rupa dan menghilangkan segala bukti. Bahkan aku menghanguskan mayat pria itu sehingga tak bisa diidentifikasi.”


Ray bercerita tanpa menyadari bahwa Terumi tak lagi bisa mendengarkannya lebih jauh.


Saat itu sangatlah segar di dalam ingatannya seakan-akan baru saja kemarin. Ray ingat betul bagaimana ia tertawa riang menyambut kebebasan.


Pada akhirnya aku bisa melihat dunia luar. Namun, karena aku mengetahui banyak hal, semuanya jadi membosankan. Sampai aku mendapatkan undangan ke tempat ini dan kembali ke dalam sangkar raksasa.


Ray seakan-akan tak pernah merasakan kebebasan sejati. Sebenarnya, ia selalu mencari-cari arti sebuah kebebasan.


“Itu adalah hal yang ingin kamu ketahui, kan? Tentang alasanku melakukannya. Ini mungkin sulit dipercaya, namun—”


“Cukup, Ray.”


“Hm?”


“Aku tak perlu mendengarnya lagi. Terlalu sakit rasanya.”


Ray tak menoleh selagi dalam balutan hangat pelukan Terumi. Sesuatu yang lembut menempel di punggungnya. Lembut dan juga hangat. Sangat hangat.


“Apa yang kamu lakukan? Dan, mengapa menangis?”


Ray sadar begitu merasakan punggungnya terasa dialiri cairan yang hangat. Setetes demi setetes.


“Dari pelukan manusia belajar sebuah kehangatan. Dan, dari pelukan manusia dimabukkan kasih sayang.”


Terumi mulai berbicara. Hal-hal yang mungkin selama hidupnya tak pernah Ray pahami. Tidak. Mungkin seumur hidup ia akan sulit memahaminya.


“Berpelukan, saling bertukar kehangatan, adalah sebuah cara bagi manusia mempelajari hati. Hati tak bisa dipelajari melalui buku manapun. Hati tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.” Terumi terus berbicara tanpa peduli sekitarnya.


“Dan, lisan tidak bisa mengungkapkan seperti apa bentuk hati.”


Bagian paling rumit yang dimiliki manusia adalah hati. Hati selalu saja dan selalu sulit untuk dimengerti.


Ray merasakan kehangatan tersebut. Meski ada beberapa kekhwatiran karena mengungkapkan masa lalu. Tampaknya ganti hal itu ia bisa mempelajari sedikit demi sedikit tentang hati manusia.


Entah mengapa ... dadaku terasa sedikit ringan. Seakan-akan sesuatu dihilangkan. Pikirnya, selagi memegang tempat hatinya berada.


“Aku rasa ... kamu benar. Meski aku mampu membenci banyak hal. Hanya ini. Sebuah pelukan yang tak mampu aku benci. Sepertinya aku sedikit memahami apa maksudmu.”


Saat Terumi melepaskan pelukannya. Ray berbalik untuk menemukan wajah cantik itu menangis.


Satu hal membuat Ray penasaran. Pria ketika menangis akan selalu terlihat jelek dan membuatmu ingin menginjak wajahnya. Namun, wanita yang menangis selalu tampak imut dan nyaman dilihat.


“Terlepas dari hal yang sudah kamu lalui. Aku takkan membencimu. Tidak akan pernah. Masa lalu dan semua rasa sakit, bisa kamu bagikan. Setidaknya hal itu akan membuatnya ringan.” Terumi melakukan usaha yang terbaik untuk tersenyum.


Senyumannya indah. Andaikan situasinya sama seperti beberapa menit lalu. Ray, untuk pertama kalinya. Mungkin akan merasakan jantungnya berdegup kencang. Sesuatu yang orang namakan jatuh hati.


Namun sayangnya situasinya tak lagi sama. Itu karena selagi Terumi terus berbicara, pintu sudah terbuka. Di sana ada lima orang mengintip dengan senang. Satu wanita, tiga pria, dan satu pria tua lainnya.


Ray yakin orang-orang itu tak mendengar saat ia menceritakan masa lalunya, jadi masalah lain takkan timbul. Peristiwa yang ia lakukan saat itu akan lebih dari cukup mampu memberikan gambaran samar dari Degree-nya.


Menyadari bahwa Ray tak memperhatikannya, Terumi merengut dan memajukan bibirnya dengan marah.


“Aku tahu bahwa kamu cuek. Namun, tidak bisakah kamu melihatku saat aku mengatakan hal memalu—” Mengikuti ke mana Ray menatap, Terumi bungkam seribu bahasa.


Tubuhnya diam tak bergeming. Seakan-akan baru saja ia mendapat kutukan untuk menjadi sebuah patung.


Meski begitu, ke lima orang tersebut cukuplah dewasa untuk pura-pura tak mengetahui apapun.


Ordo dan Leo tersenyum tipis, saling menatap sebelum melangkah menghampiri. Keduanya saling berhadap-hadapan, dan bergandengan tangan seperti yang dilakukan Terumi dengan Ray sebelumnya.


Leo berlutut dan membuat wajahnya semirip mungkin dengan gadis. Ia bahkan mampu menciptakan air mata palsu degan begitu cepat.


“Terlepas dari semua hal yang terjadi kepadamu. Aku tak membencinya, kok. Malah, aku sangat mencintaimu!”


Ordo membuat wajah seakan-akan tersipu. Ia dengan sengaja membuang muka ke Terumi dan menggigit kukunya selagi berkedip centil.


Dengan tubuhnya yang gemetar Terumi bergerak dan mengambil sesuatu di sakunya.


Ray mengambil langkah darinya dan menempatkan dirinya di jarak aman. Arthur dan seorang gadis yang tak ia kenal juga melakukan hal sama. Sementara Sebastian menyiapkan kotak P3K.


“Oh, Ray. Pujaan hatiku. Aku, Terumi yang bar-bar ini amat mencintaimu!” Leo berkata dengan nada sarkasme yang lembut.


“Ya. Aku juga mencintaimu, bidadariku.” Ordo memainkan peran yang sama dengan nada mengejek yang sama.


“Euu ... Euwahhh!” Terumi menangis semakin jadi dan berlari menghampiri keduanya.


Dengan kedua kunai di tangannya. Terumi berteriak selagi menangis dan mengejar dua orang tersebut.


“Mati kalian!” Terumi mengejarnya dan benar-benar berusaha membunuhnya.


Leo dan Ordo berlari berdampingan. Kecepatan mereka seperti pelari maraton dan sesaat mereka merasa bangga takkan terkejar.


“Heh, kamu takkan— O-oi, apa apaan itu?!!” Leo berteriak tak percaya.


Terumi meriam berisi bola besi yang diberikan Sebastian entah dari mana. Ordo dan Leo berlari lebih cepat, namun Terumi tak kalah cepat. Dari jauh Ray mampu mendengar suara benturan dan teriakkan menyakitkan dari Leo.


“Ordo Maguire. Aku tak sangka dia memiliki sisi konyol sebagai sifatnya. Aku pikir ia orang yang tenang dan ketat.” ujar Arthur saat memandang dengan heran.


Jujur saja. Ray memiliki suara persetujuannya dengan kata-kata Arthur.