The Degree

The Degree
Hadiah Tugas Bonus



Ray terlihat berantakan dengan pakaian yang compang-camping, tampak beberapa sobekan bekas timah panas menembus rompinya, tangan kanannya juga memiliki luka dari pisau yang menancap dalam.


Dari kepalanya darah mengalir dan matanya tertutup satu dikarenakan luka menggaris di mata kanannya.


Kondisinya lebih menyedihkan ketimbang saat pertama kali dirinya tiba di Open World. Melihat hal itu membuat semuanya panik dan terkejut bukan main.


“Apa yang terjadi padamu, Ray?!” Terumi menjadi yang pertama bereaksi dan menghampirinya. Ia lekas memapah tubuh Ray dan membaringkannya di sisi ruangan.


“Kondisimu sungguh menyedihkan. Mona, cepat ambil P3K!” Arthur segera memerintahkan Mona.


Mona mengangguk dan bergegas keluar dengan tergesa-gesa sementara Ray menarik napas dalam selagi Terumi menggunakan sapu tangannya untuk membersihkan wajah Ray yang penuh dengan darah.


“Apa yang terjadi padamu ... siapa— bajingan mana yang melakukan ini?!” Leo mengepalkan eratnya dan menjadi benar-benar marah atas apa yang menimpa Ray.


Mau bagaimanapun Leo sudah menganggap Ray sebagai sahabatnya sendiri dan bagaimana mungkin seseorang akan diam saja melihat sahabat baiknya terluka sedemikian rupa?


Leo berasumsi bahwa tampaknya ada pengkhianat lain yang masih bersembunyi, ia berniat menangkap dan menyeretnya langsung namun Arthur menahannya.


“Ada apa? Tidak mungkin kamu mengatakan akan melepaskannya, kan?!” Leo menatap Arthur dengan tidak senang.


Sementara Arthur masih setenang air dan tak ikut marah karena sikap Leo yang kelewatan, “Apa kamu pikir Ray orang yang akan babak belur dengan satu atau dua penyusup? Bahkan jika jumlahnya sepuluh kali lipat darinya Ray takkan sulit melarikan diri.”


Leo sedikit berpikir sejenak atas kata-kata tersebut. Meskipun belum melihat aksi Ray secara langsung namun nyatanya ia memiliki keyakinan bahwa Ray takkan mudah tumbang.


“Arthur benar, Leo.” Ray angkat bicara dan menatap langsung matanya, “Jika hanya penyusup biasa aku bisa melarikan diri. Namun disayangkan ini bukan penyusup, tetapi musuh yang lebih tersembunyi.”


Saat wajahnya tak lagi di lumuri darah. Ray masih tidak membuka mata kanannya, bukan berarti telah rusak namun bengkaknya belum menghilang meski Ray sudah sengaja melukai khusus bagian matanya.


“Tersembunyi? Apa bukan Virgo dan antek-anteknya?” tanya Erina ketika hanya bisa memandang Ray penuh simpatik.


“Aku tidak yakin namun kemungkinan besar, ya. Mereka jelas tidak tertarik ataupun berusaha mendapatkan hadiah utama dari tugas bonus.”


Hadiah utama dari tugas bonus membangun serikat terbesar adalah incaran semua pihak. Bahkan orang yang cukup bodoh untuk tak bisa menyelesaikan pertambahan akan mampu mengetahui manfaat mendapatkan hadiah bonus ini.


—Tugas Bonus. Bangunlah serikat terbesar di Open World.–


—Hadiah utama; Clue lima tugas yang akan kalian hadapi. Hanya pemilik dan atas izin pemilik yang mampu melihatnya.–


Baik Erina maupun Ordo tidak akan pernah bisa meninggalkan hadiah tersebut mengingat manfaatnya sangatlah luar biasa. Keseimbangan yang dimiliki semua orang akan segera menghilang saat ada satu individu yang mendapatkan hadiah bonus ini.


Bahkan Virgo sekalipun takkan cukup bodoh untuk melewati hal ini. Dikarenakan hal itu bisa dipastikan ada kelompok lain yang masih tersembunyi dan bergerak di bayang-bayang.


“Lalu mengapa kamu bisa babak belur seperti ini?” tanya Leo dengan penuh keprihatinan.


Ray mulai menceritakan saat di mana ia memilih mengunjungi pintu rahasia yang berada di air terjun.


Tujuan kedatangannya berdasarkan firasat buruk dan untuk memeriksa keadaan. Sejauh ini hanya orang-orang yang berjaga di sana yang mungkin tidak mendapatkan peran apapun.


“Aku ingin meminta mereka menghancurkan air terjun itu dan mengubur pintu ke dalam sana. Namun siapa yang menduga ketika aku tiba hanya ada mayat di sana.”


Mayat orang-orang yang ditugaskan berjaga di sana telah berserakan dan saat Ray hendak memasuki ruangan nuklir namun tugas dari Secret muncul. Bersamaan dengan itu seseorang keluar dari air terjun.


“Orang itu menggunakan pakaian hitam ketat namun aku yakin ia adalah wanita.”


Tak mungkin ada seorang pria memiliki pinggul dan dada besar yang menonjol.


Ray menjelaskan bahwa tak hanya satu orang namun ada dua orang lain mengikutinya. Dengan total tiga orang. Satu wanita dan dua pria.


Mereka muncul di waktu yang sama. Ray menjelaskan bahwa setelah melakukan beberapa percakapan mereka akhirnya mulai berdebat dan bertarung.


“Seperti yang kalian lihat, akhirnya adalah aku dipukuli hingga sedemikian rupa. Meski aku berhasil memberikan mereka luka namun itu tak seberapa.”


Berhasil membuat Ray terluka sampai separah itu cukup untuk menjelaskan bahwa Degree ketiga orang ini tidak lemah. Mereka pasti juga ahli dalam pertarungan dan terbiasa dengannya.


Setelah beberapa saat Mona datang dan membawa kotak P3K namun luka Ray tak bisa ditangani hanya dengan pertolongan pertama sehingga mereka memindahkannya ke ruang medis.


Mona memiliki kemampuan kedokteran sehingga ia yang akan menanganinya sementara sisanya melanjutkan diskusi.


“Ini memang tak pantas namun apa kalian tak meragukan kisah?” tanya Arthur seketika memandang raut wajah semua orang secara bergantian.


Leo mengerutkan alisnya, “Apa maksudmu? Jangan bilang kamu meragukan Ray.”


“Akan kuberitahu bahwa aku tidak akan pernah meragukan keraguanku. Dan, nyatanya aku ragu bahwa kisah Ray adalah buatan belaka.”


Mendengar hal itu jelas membuat Leo dan Terumi naik darah. Lagi pula Ray terluka parah seperti itu sehingga mustahil ia membual tentangnya. Tidak mungkin ada orang yang memiliki kegilaan cukup untuk memberikan luka pada tubuhnya sendiri.


“Kamu pikir Ray melukai diri sendiri untuk berbohong? Ada batas di mana kamu bisa mencurigai seseorang, Arthur!” Terumi tak bisa menahan emosinya dan menatap dengki Arthur.


Arthur hanya menanggapinya dengan santai tanpa rasa takut, “Jujur saja, kalian pasti pernah merasakan ingin membantuku dalam hal apapun. Itu pasti karena salah satu pengaruh Degree-ku secara tidak langsung. Bisa disebut juga sebagai kharisma.”


“Lalu apa?” Erina masih tak memahami garis besar apa yang coba disampaikan Arthur.


“Dibeberapa kasus ada orang dengan Degree tertentu atau memiliki keinginan kuat yang tidak terpengaruhi oleh kharisma ini. Salah satunya adalah Ordo, Erina dan Ray.”


Arthur tak menyebutkan orang lainnya namun tiga orang yang ia sebutkan harusnya cukup jelas. Baik Erina maupun Ordo memiliki keinginan kuat atas tujuannya dan juga Degree mereka mungkin berpengaruh. Namun yang tak bisa diketahui Arthur adalah Ray..


Apakah itu dikarenakan ia memiliki keinginan kuat atau pengaruh Degree-nya.


“Lalu apa? Kamu tidak senang karena Ray tidak terpengaruh olehmu?” Leo berkata dingin, “Itu terlalu kekanak-kanakan.”


Arthur hanya menghela napas panjang dan membalas tatapan ini, “Orang-orang yang tidak terpengaruh biasanya amat berbahaya. Seperti halnya Erina dan Ordo yang selalu aku waspadai, Ray juga sama dengan mereka.”


“Kita tak pernah tahu apakah Ray hitam atau putih. Ia berdiri di garis tengah sehingga tak ada cara untuk kita memastikan apakah ia putih atau sebaliknya.”


Arthur juga menekankan bahwa tidak seorangpun di sini yang mengenal Ray dengan baik. Siapapun di sini tak ada yang telah bersama Ray di empat tugas sebelumnya.


“Jika begitu apa kamu ingin memastikan posisinya, maka katakanlah bagaimana caranya.” Erina mencoba tetap netral dan tak memihak meski ia ingin berada di sisi Ray, “Selain itu aku juga cukup tertarik dengan Mona. Dari informasi yang aku dapat, wanita itu menebak Degree Sebastian dalam sekali lihat.”


Arthur tahu bahwa cepat atau lambat akan ada pembahasan tentang hal tersebut. Meski ia tak mempedulikannya namun ini adalah hal yang penting.


“Sayang sekali bahwa pada tahap ini baik Degree-ku ataupun Mona tak bisa diungkapkan kepada dunia.”