
“Karena si tampan sudah berjanji maka mari kita lakukan itu, Rina.” Rani berkata dengan bosan, ia lebih tertarik dengan apa yang akan dia lakukan kepada Ray nantinya.
“Ya! Aku yakin kita memiliki pikiran yang sama tentang apa yang ingin kita lakukan padanya!” Rina berkata riang dan penuh senyum, berbanding terbalik dengan saudari kembarnya itu.
Ray merasa bermasalah karena telah mengucapkan hal yang mungkin akan ia sesali nantinya. Ada beberapa hal yang tak bisa ia tangani tentang dua bocah yang merepotkan.
Rani berjalan mendekati Erina, sebelum bertindak ia memberikan penutup telinga yang sengaja dirinya simpan, “Pakailah ini, tampan. Kamu terpengaruh oleh Degree ****** ini sehingga tak boleh mendengar kata-katanya. Kelemahan dasar kemampuannya, jika tak bisa di dengar apa perintahnya, maka itu tak berguna.”
Siapapun akan mampu memikirkan hal itu, namun Ray lebih terkejut tentang kenyataan bahwa bocah SMA sepertinya bisa memikirkan hal seperti itu, terutama di situasi mengerikan ini.
Jika dua gadis kembar ini memiliki mental dan pendirian yang lemah, mereka takkan bertahan sampai ke Open World. Setidaknya Ray amat yakin mereka telah membunuh orang untuk sampai ke sini.
“Ya, terima kasih.” Ray lekas memakai penutup telinganya.
Meski tak bisa mendengar apapun, Ray bisa memahami percakapan di sekitarnya dengan cara membaca gerakan bibirnya. Meski tak semuanya bisa ia ketahui, setidaknya inti pembicaraan mereka bisa dia dengar.
Setelah Ray memakainya, Rani segera melepas ikatan yang menutupi mulut Erina.
“Bajingan kalian! Apa yang sudah kalian perbuat sampai Ray melakukan hal-hal ini?!” Erina menolak fakta bahwa Ray bertindak dengan ketulusan hatinya.
Erina akan lebih bisa menerima bahwa Ray bertindak demikian karena ada sesuatu yang mengancamnya sehingga ia tak bisa menentangnya.
“Yah, tenang dulu. Pria tampan di sana takkan bisa diancam dengan cara apapun. Selain itu, kami bukan musuh, hal ini dilakukan untuk kebaikanmu.” Rani tersenyum dengan lembut.
Erina tentunya tak segera menempatkan kepercayaan sedikitpun, “Bocah, jangan coba mempermainkan orang dewasa. Aku tak cukup bodoh mempercayaimu.”
“Membodohi? Ayolah, aku hanya remaja yang cuma bisa main. Tak mungkin aku berani membodohimu.”
Setelah melihat bahwa Rani mengetahui cara mengatasi Degree-nya, Erina menjadi yakin bahwa bocah ini tak biasa.
“Tidak akan ada bocah biasa yang hidup sampai ke Open World.” Erina menatap sinis beserta kata-katanya.
Tugas satu hingga empat mungkin berbeda-beda, tetapi hal yang pasti adalah para kelinci percobaan diajarkan untuk terbiasa dalam pembunuhan.
Mereka yang sampai ke tanah Open World tak lagi memiliki tangan yang bersih. Tangan mereka yang mencapai Open World amat kotor dan penuh darah manusia.
“Itu mungkin benar adanya jika aku telah membunuh beberapa orang. Namun aku melakukannya secara tak sengaja. Jadi itu tidak dihitung.”
“Tak sengaja? Cara penyampaian yang cukup aneh.” Erina tersenyum tipis seakan memprovokasi.
“Ya, aku tak sengaja membiarkan beberapa orang mati. Seperti mereka berjalan sendiri meski tahu di depannya ada jurang, atau mereka yang tak bergerak sama sekali walaupun pisau mengarah ke lehernya.”
“Hah! Kamu bodoh dalam berbohong. Hal itu tak bisa disebut tak sengaja. Bahkan jika itu memang benar akan muncul pertanyaan tentang bagaimana caramu melakukannya.”
Rani mendekatkan wajahnya hingga tersisa beberapa centimeter dengan wajah Erina. Tatapannya yang mengandung misteri membuat Erina tak bisa berpaling.
Rani kemudian mengulurkan jari kanannya secara perlahan hingga Erina memperhatikannya dengan seksama.
“Aku melakukannya seperti ini!” Rani mempercepat gerakannya, tangannya mendarat tepat di keningnya dan membuat Erina terkejut, “Kamu akan merasa mengantuk namun sulit untuk tidur ataupun bergerak.”
“Apa yang kamu—” Erina mulai manggut-manggut kepalanya dan matanya menyipit. Bukan karena curiga namun karena mengantuk.
Ia juga tak bisa melakukan apapun seakan-akan tubuhnya menolak mengikuti perintahnya.
“Bagus. Rina, dari titik ini adalah tugasmu. Lakukanlah dengan benar agar si tampan mau mengabulkan permintaan kita.” Rani berkata dengan sedikit malas, tetapi ia menekankan kepada Rina untuk mengerahkan yang terbaik.
“Tak perlu khawatir. Aku tak pernah gagal melakukannya dan kamu tahu itu.”
Rani beranjak pergi dari Erina, dan Rina sekarang berada di posisi Rani sebelumnya. Untuk beberapa hal, Rani tak membiarkan Ray melihat apa yang akan dilakukan Rina.
“Tampaknya kamu bisa membaca gerakan bibir. Bukan bermaksud lancang namun sebaiknya kamu tak mendengar atau mengetahui apa yang dikatakan Rani, tampan.”
Bocah biasa seperti mereka takkan mungkin bisa mengamati hal-hal seperti ini.
“Mengapa?” tanya Ray.
“Mungkin saja secara tak sengaja kamu akan terpengaruh olehnya. Seperti yang telah kamu ketahui, Rani mampu mencuci otak orang dengan Degree-nya dan ia tak bisa membatasi siapa targetnya. Singkatnya, semua orang bisa saja terkena dampaknya.”
Seakan untuk membuktikannya Rani memasangkan telinganya penutup.
Ray kemudian berbalik karena tak ada alasan untuknya mengambil risiko terkena cuci otak Rina. Bahkan jika itu kebohongan, takkan ada keuntungan yang didapatkan mereka.
Meski begitu, memang kebenaran bahwa Rina memiliki Degree cuci otak karena saat pertama kali bertemu regu kecil ini, Ray sudah mengetahui semua Degree anggotanya karena mereka menunjukkan Name Card.
‘Tak ada orang normal di kelompok ini. Pembohong, pantomim, ronnin, hipnotis dan bahkan cuci otak. Masih ada beberapa anggota dengan Degree aneh namun berbahaya. Jelas sekali. Memang tak ada orang normal di sini.
Ray yakin bahwa kelompok ini mampu menghancurkan Redwest, Blueeast, bahkan Rebellion karena pemimpin mereka memiliki kemampuan yang memungkinkannya melakukan hal-hal yang terlihat mustahil.
Indri Calista, wanita yang berada di tugas kursi yang sama dengan Ray. Tak disangka-sangka bahwa selama keberadaannya tak diketahui ia membangun kelompok berisikan orang-orang berbahaya.
Alasan Ray mau bekerja sama dengannya amatlah sederhana meski cara mereka memperkenalkan diri amat mencurigakan.
‘Aku menerima kerja sama ini karena tak merugikanku. Belum lagi saat itu aku butuh rekan yang mampu melakukan hal-hal kotor dan keji. Namun, apa Indri sungguh-sungguh ingin berada di sisiku?’
Alasan aneh yang dimaksud adalah Indri menawarkan bantuannya dengan syarat dirinya bisa bertarung di sisinya. Ray tak mempercayai alasan sederhana itu dan meski ia menerimanya, kepercayaan sepenuhnya tidak ada di tempat.
Ray berniat mengawasi bagaimana mereka bertindak namun tampaknya itu menjadi tindakan salah. Mulai dari titik ini akan sulit bagi Ray memisahkan diri dengan kelompok kecil ini.
Rina kemudian datang menepuk bahu Ray dan Rani sebagai tanda bahwa ia sudah selesai melakukannya.
“Aku sudah melakukan seperti yang kamu instruksikan, tampan. Mulai sekarang wanita itu sepenuhnya menurutimu dan akan menjadi boneka yang bisa kamu gunakan sesuka hati.”
Berbicara tentang tidak normal, Ray mungkin akan menambahkan dirinya ke dalam kategori tersebut. Di dunia ini, atau setidaknya di Open World. Ray yakin tidak ada orang yang akan menjatuhkan kasta manusia dan membuatnya seperti hewan peliharaan yang akan melakukan apapun untuk pemiliknya.
...****************...
Nama: Rani.
Umur: 17 tahun.
Asal: Malaysia.
Degree: Hipnotis.
Mampu melakukan hipnotis melalui percakapan maupun tindakan dengan syarat mutlak targetnya menatap langsung ke matanya dan pemilik mampu memberikan kejutan pada otak target. Hipnotis akan lepas paling lama setelah 24 jam.
...****************...
Nama: Rina.
Umur: 17 tahun.
Asal: Malaysia.
Degree: Cuci otak.
Mampu membelokkan kepribadian dan idealisme seseorang dengan beberapa kalimat sugesti. Syarat penggunaannya target harus dalam kondisi pikiran kosong agar pencucian berhasil dengan mutlak.
Ada separuh kemungkinan orang yang tak ditargetkan sebagai target pencucian otak terkena hanya dengan mendengar kata-kata yang terucap.