The Degree

The Degree
Kremasi



Saat ini semua orang tergesa-gesa memindahkan mayat, memakai perlengkapan untuk berperang dan hal lainnya.


Berita bahwa kurang dari dua jam lagi Rebellion akan tiba telah tersebar dengan luas. Atas perintah Erina, para penyusup yang tertangkap akan diintrogasi dan selebihnya bebas diapakan asal nyawanya lenyap.


Tentunya semua kemarahan orang-orang akan tertuju kepada para penyusup yang tertangkap.


“Para bajingan ini yang telah membunuh kekasihku! Setidaknya, kematianmu takkan mudah!”


“Kawan, aku bersumpah akan membalas kematianmu berkali-kali lipat!”


“Karena kalian aku kehilangan teman-temanku! Aku akan menghabisi kalian dan membakar kalian saat tak ada tempat untuk babak belur lagi!”


Semua orang mengamuk dan secara bergantian memberikan pukulan menyakitkan. Mereka sungguh-sungguh menyiksa para penyusup tersebut hingga ada beberapa yang gila karena rasa sakitnya.


Ray yang sudah dalam perlengkapan penuh hanya mengamatinya dari kejauhan.


“Kemarahan sungguh mengerikan karena membutakan mata manusia.” kata Ray menggelengkan kepalanya. “Hati yang marah tidak memiliki tempat untuk cinta.”


Kata-kata tersebut ia kutip dari orang ternama dan saat ini Ray menyaksikan langsung kebenaran dari kalimat tersebut.


Semua orang-orang yang kehilangan rekan, kekasih maupun sahabat sangat bersungguh-sungguh untuk memberikan siksaan demi siksaan. Mulai dari mematahkan setiap tulangnya hingga ada bajingan yang tertawa saat menguliti salah satu penyusup.


Pemandangan tersebut seperti melihat gambaran dari neraka yang banyak diperlihatkan di buku cerita maupun film dokumenter.


Ray tak tahan lagi melihatnya, dia menghampirinya dan menembakkan dua peluru ke udara. Perhatian semua orang teralihkan padanya.


Dengan jelas terpampang wajah semua orang menggambarkan kemarahan yang terus membara. Bahkan meski tahu itu adalah Ray yang membuat tembakan wajah mereka tak melunak.


“Ada apa, komandan? Jangan bilang kamu ingin kami menghentikan ini semua?!”


“Nona Erina telah memberikan izin untuk melakukan apapun asalkan mereka berakhir dengan kematian!”


“Kamu mungkin petinggi namun kamu tidak punya hak untuk menghentikan kami!”


“Aku tak bisa menahan kemarahan dan kebencianku! Bahkan jika itu kamu, aku akan menghajar siapapun yang menghalangi—”


“KALAU BEGITU LAKUKAN SAJA!”


Ray menaikkan suaranya dan membuat wajah yang benar-benar marah. Tatapannya cukup untuk membungkam semua wajah dan mulut yang menyampaikan protes kepadanya.


Pria yang sebelumnya mengatakan akan menghajar siapapun yang menghentikannya kini terdiam membatu. Dia membisu seribu bahasa dan tubuhnya sedikit gemetar ketika melihat Ray.


Ray menghela napas panjang, “Aku tidak mencoba menghentikan kalian. Malah ini tindakan yang tepat meski tak manusiawi.”


Siksaan semacam ini memang amat mengerikan namun ini tidak seberapa. Sejauh yang Ray ketahui, ada satu cara lain yang dikenal sebagai cara mati paling menyedihkan.


“Aku hanya tidak ingin kalian kelelahan karena orang-orang ini. Selain itu, apa kalian sungguh akan puas hanya dengan mereka?” Ray memandang semua wajah orang di sekitarnya. Setiap wajah yang ia tatap matanya tampak tertegun dan tersedak napasnya sendiri.


Melihat mereka tak menjawab apapun sudah cukup untuk Ray, “Tentu saja tidak. Mereka takkan membuat kalian puas sama sekali. Pada akhirnya kalian akan merasa kurang dalam balas dendam dan mulai menyerang rekan sendiri. Ini kemungkinan yang bisa terjadi.”


Situasi yang harus dihindari adalah mereka lenyap karena rekan sendiri. Jika itu terjadi bahkan Ray sekalipun akan kerepotan di masa depan.


“Jika kalian ingin memuaskan dendam dan kemarahan, maka lampiaskan semua di peperangan yang akan datang! Rebellion! Mereka adalah penyebab semua ini. Jika mereka tidak hancur maka sama saja kita menghina kawan-kawan yang sudah gugur!”


Kalimat yang diucapkan Ray didengar dengan baik. Itu pemandangan menakjubkan di mana ribuan orang tak berbicara sedikitpun hanya untuk mendengar satu orang berbicara.


Dari perkataannya membuat mereka berpikir. Sebagian mulai merenungkan kata-katanya untuk menyadari bahwa kemarahannya tak berkurang dan justru meningkat. Sementara sebagian lainnya langsung mengangguk dan mengarahkan kebenciannya pada Rebellion seorang.


Ray sengaja meninggalkan jeda untuknya berbicara agar orang yang mendengarkan akan merenungkannya.


Andaikan Ordo dan yang lainnya adalah orang yang akan memadamkan api kecil maka Ray adalah orang yang akan memasukkan kayu ke dalamnya.


Emosi manusia yang bernama kemarahan amatlah luar biasa. Terkadang saat kemarahan menguasai seseorang, mereka akan melupakan belas kasih dan tak ragu menentang ataupun membunuh keluarganya sendiri. Pikir Ray.


Kenyataannya Ray pernah melakukannya dan memastikannya dengan dirinya sendiri subjek percobaannya.


“Menyiksa dan membunuh lima ratus orang ini tidak akan berarti apa-apa. Yang hilang takkan pernah kembali, itu benar. Namun setidaknya kita bisa mengirimkan orang-orang ini dan rekannya ke neraka sehingga mereka yang gugur bisa memberikan pembalasan di atas sana!”


Terlepas apakah ada atau tidaknya tempat seperti itu, Ray tetap menggunakannya untuk memperkuat kata-katanya.


“Ya!”


“Lima ratus orang ini tak berarti apa-apa! Fakta bahwa mereka ditinggalkan maka mereka tak berguna! Rebellion tak ragu kehilangan orang-orang ini.”


“Memberi kematian yang menyakitkan bagi mereka ... aku tentu punya saran. Ketimbang menghajar dan membuat kelelahan lebih baik menyiksa dan menyaksikan, serta mendengar jeritan mereka!”


“Bagaimana caranya?” Seseorang memberanikan diri untuk bertanya.


“Di kepercayaan tertentu ada sebuah adat di mana mengkremasi mayat untuk mengirim mereka kembali pada penciptanya. Kita bisa melakukannya pada mereka karena itu cara mati yang paling menyakitkan.”


Tentunya Ray tidak perlu menjelaskannya secara rinci karena orang-orang di sana memahaminya dengan jelas. Mereka mulai tersenyum saat memahaminya.


“Mari lakukan ini.”


“Ya. Tumpuk kayu, bawakan bensin ataupun minyak tanah!”


“Kita akan membakar hidup-hidup orang-orang ini!”


“Patahkan tangan dan kaki mereka agar tak bisa melarikan diri!”


Dalam sekejap mata perapian dari kayu yang ditumpuk dan barang-barang yang mudah terbakar siap. Orang-orang juga sudah memandikan para penyusup dengan bensin san minyak tanah.


Ray segera berjalan menjauhi lokasi tersebut tanpa menoleh ke belakang ketika jeritan menyakitkan datang dari belakangnya. Api besar terbentuk dan orang-orang bersorak senang, mengumpat juga saat mendengar jeritan tangis mereka yang memohon pertolongan.


Ray merasa itu bukan pemandangan yang layak dilihat meski sejujurnya ia cukup tertarik melihatnya. Namun disayangkan bahwa sekarang ada hal yang lebih penting untuknya lakukan.


Mengambil radio kecil dari sakunya dan menggunakannya di telinga, Ray menyusuri hutan yang gelap di mana tak ditemukan keberadaan siapapun.


“Ini aku.” kata Ray. “Aku sudah memasukkan lebih banyak batu bara ke dalam api. Sisanya hanya mengaktifkan benda-benda itu. Setelah ini semua maka kesepakatan kita berakhir.”


“Dimengerti. Kalau begitu mari anggap kerja sama ini tak pernah ada ketika semuanya selesai. Aku senang kita bisa membangun hubungan baik.”


“Sayangnya aku tidak. Sebisa mungkin jangan mengusikku lagi ke depannya.”


“Bagaimana jika aku mengabaikannya?”


“Tak masalah karena pada akhirnya kamu yang akan menyesal.”


“Fu fu fu, baiklah.”


Percakapannya keduanya sudah berakhir di sana dan Ray berniat berlari kencang namun ia dihentikan oleh pisau tajam yang diarahkan ke lehernya.


“Apa maksudnya ini? Kamu mencoba membunuhku?” Ray melirik dengan ekor matanya karena tak mengerti tindakan orang di belakang punggungnya yang mengacungkan pisau ke lehernya.


“Entahlah. Aku ragu kamu cukup bodoh untuk tidak memahaminya.”