The Degree

The Degree
Open World



Ray berjalan melalui orang-orang yang sama sepertinya yakni baru tiba di tempat bernama Open World.


Istilah itu pernah dia dengar saat di tugas ketiga sebelumnya namun dia tak pernah mengerti apa maksudnya.


Sekarang setelah mencapai dan melihatnya secara langsung Ray segera memahaminya. Entah berapa kali dia melihatnya Ray tak pernah berhenti takjub.


“Apa ini berada di tengah lautan atau suatu tempat tak terjamah?”


Dalam perjalanannya Ray memutuskan untuk bertanya. Erina sedikit melambatkan langkahnya seraya ingin jalan berdampingan dengan Ray.


Sementara pelayannya Mein memimpin jalan menuju suatu tempat.


“Begitu adanya. Aku sudah berada di tempat ini lebih dari dua tahun dan tak ada tanda-tanda adanya pesawat lewat atau komunikasi dengan dunia luar. Tempat ini rupanya sangat tersembunyi karena tidak pernah ada kejadian orang luar datang berkunjung.”


Singkatnya hanya orang-orang yang pernah menerima undangan dan mengikutinya saja yang berada di tempat itu. Kerahasiaannya sangat dijaga sampai-sampai kesannya menakutkan.


“Meski begitu tampaknya ada cukup banyak orang di sini.”


Ray memandang sekitarnya dengan tertarik. Tak peduli ke mana dia menoleh akan selalu ada hal yang membuatnya tertarik sehingga tidak akan pernah bosan menatap ke sana-sini.


Bagian yang menarik minat Ray adalah orang-orang yang membuat kios dan berdagang. Mulai dari makanan hingga perlengkapan persenjataan.


Bahkan ada juga rumah yang sepertinya dijadikan villa untuk menginap.


“Orang-orang ini telah ada di sini sama sepertiku, bahkan tampaknya ada yang lebih lama dariku.”


Ray menatap dengan sedikit terkejut, “Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa dirimu adalah generasi pertama?”


Erina menatapnya balik dan meraih dagu Ray dengan lembut, “Fufu, wajahmu sangatlah manis saat terkejut. Aku sangat ingin memilikimu sekarang ini.”


Ray segera menepis tangannya dengan acuh tak acuh, “Kamu tidak menjawab pertanyaanku.”


“Tidak perlu tergesa-gesa, lagipula tugas takkan muncul begitu saja seperti sebelumnya.” Erina menutup bibirnya dengan kipas lipatnya.


“Tampaknya orang-orang yang lebih lama di sini bahkan dariku adalah subjek percobaan Degree yang telah gagal. Mereka dipaksa menerima Degree yang belum sempurna sehingga bisa dibilang mereka saat ini adalah manusia cacat. Perhatikanlah baik-baik.”


Ray diam-diam menurutinya dan memperhatikan pedagang sate di dekatnya.


Sekilas tidak ada hal apapun yang terlihat aneh darinya. Namun jika diperhatikan lebih teliti setiap kulit pedang sate itu memiliki duri-duri kecil yang keluar.


Duri tersebut tidak akan mampu terlihat dari jauh ataupun jika tidak diamati dengan teliti.


Ray mengamati pedagang lainnya. Ada yang kulitnya menjadi sisik, meleleh bahkan ada yang terlihat tidak memiliki tulang sehingga membutuhkan orang lain untuk merawatnya.


Ada banyak hal aneh yang tidak bisa diterima oleh akal sehat terjadi. Kini Ray memahami maksud Erina.


“Mereka adalah orang-orang yang menjadi subyek percobaan terhadap Serum D yang belum sempurna.”


“Itu benar,” Erina tak menyangkal kesimpulan Ray, “Generasiku dan kamu telah memiliki Serum D yang sempurna berkat mereka. Meski begitu Secret membutuhkan data tentang Degree karena Serum D berhasil disempurnakan.”


Ada kemungkinan bahwa Degree bisa jadi cacat meski Serum D telah sempurna. Karena hal itulah Secret mengadakan uji coba lainnya.


“Aku tidak tahu banyak perbedaan antara generasi pertama dan kedua. Namun bisa aku pastikan bahwa generasi pertama tak mampu membuat benda apapun secara artifisial. Kami hanya memiliki kemampuan dari hal-hal yang bisa dilakukan.”


Seperti halnya Jack yang mampu mewujudkan palu, Diana dengan gunting dan Jane dengan pensilnya. Mereka mampu membuat benda-benda yang berkaitan erat dengan Degree dan mewujudkannya secara misterius.


“Jadi artinya Degree-mu juga seperti itu, ya.”


“Apa orang-orang yang menerima serum cacat tak mencoba menyelesaikan tugas? Barangkali dengan menyelesaikan tugas mereka dapat keluar dari tempat ini atau mendapatkan serum yang lebih baik.”


Pemikiran tersebut wajar adanya namun jika tidak satupun dari orang-orang itu mencobanya maka alasannya pasti ada halangan tertentu.


“Aku juga pernah menanyakan hal yang sama. Namun tampaknya satu orang hanya akan menerima satu Serum D. Organisasi ini pernah mencoba menyuntikkan Serum D dua kali kepada orang yang sama.”


“Apa yang terjadi setelahnya?” Ray cukup tertarik dengan orang yang menerima serum dua kali.


Dari kelihatannya hasil yang didapatkan bukanlah sesuatu yang baik.


“Orang yang menerima suntikan dua kali mati dengan menyedihkan. Aku tak perlu menjelaskannya namun hasilnya jelas bukan hal baik untuk diceritakan.”


Entah apa yang terjadi namun Ray tak ingin memperjelasnya. Selama dia sudah mengetahui fakta bahwa seseorang tak bisa menerima suntikan dua kali maka itu cukup.


Ray memiliki kekhawatiran tentang orang yang menerima suntikan dua kali dan mewarisi dua Degree.


“Lalu ke mana kita akan pergi?” tanya Ray karena dia sama sekali tidak mengetahui Open World.


Erina tersenyum dengan misterius yang membuat Ray curiga tentang niatnya.


Dengan pertukaran yang telah dia lakukan selama ini sudah cukup jelas bahwa Erina adalah orang yang patut diberikan kewaspadaan.


“Kita akan pergi ke kediamanku. Tidak baik membahas banyak hal dalam perjalanan. Percakapan ini akan panjang karena aku tahu kamu ingin mengetahui banyak hal tentang Open World.”


Dia memahami Ray dengan baik. Mungkin Erina sudah menebak bahwa Ray takkan melakukan banyak hal di tempat yang sama sekali tidak dia ketahui.


“Begitu, kah.”


“Ya, aku akan menjamu dengan keramah-tamahan, bahkan aku bersedia menyerahkan diriku jika kamu menginginkannya.” Erina mendekap tangan kanan Ray ke pelukannya.


“Justru itu membuatku curiga. Lepaskan tanganku, kamu membuatku gerah.”


“Itu bagus karena malam hari akan sangat dingin. Bagaimana jika kita bermain semalaman ini?”


“Aku akan menolaknya untuk saat ini.”


“Itu artinya kamu akan menerimanya suatu saat nanti?”


“Entahlah. Ada banyak masa depan tidak pasti yang aku harapkan.”


“Omong-omong tentang itu, aku penasaran dengan perkataanmu bahwa datang ke tempat ini takkan membuatmu bosan. Apa di luar sana kamu sangat merasa bosan?”


“Kamu tak perlu mengetahuinya. Namun jika harus menjelaskan hidupku tak seperti orang pada umumnya. Ada banyak hal yang telah terjadi sampai aku tiba pada titik di mana semuanya jenuh.”


Erina terdiam dan tak bisa berkata-kata. Bukan karena terkejut melainkan memikirkan makna dari perkataannya.


“Sepertinya kamu telah melalui berbagai hal. Aku juga telah menyaksikan berbagai hal menyakitkan dalam hidup ini hingga tiba pada suatu titik bahwa kehidupan adalah tempat yang dipenuhi oleh rasa sakit.”


Untuk beberapa alasan Ray sepakat dengannya.


“Ya. Kehidupan ini adalah hukuman untuk Adam dan Hawa. Tentunya akan berisikan hal pedih untuk dirasakan.”


...[***]...


Arc 1 — Tutorial ... Selesai.