
Properti rumah yang hancur terbakar, atap berlubang dan jendelanya pecah. Tempat itu sungguh ditinggali, sama persis dengan rumah angker yang kerap ada di film horor.
Rumah itu pernah terbakar oleh si jago merah, meski bangunannya kokoh dan masih berdiri dengan gagah, nyatanya tak ada apapun yang tersisa di bagian dalamnya.
Ruangannya sendiri sangat luas, saat pertama kali masuk mereka disambut oleh aula luas dan sebuah tangga besar untuk naik ke lantai selanjutnya. Ada banyak ruangan yang tak diketahui fungsinya, dindingnya dihiasi batu, bukan wallpaper tapi murni batu yang menjadi badan rumah.
“Luar biasa, ini seperti sebuah kastil kecil yang ditinggalkan,” gumam Indri selagi terkesima dengan rumah tersebut.
Ray di sisi lain hanya berwajah datar dan terus berjalan menaiki tangga. Dalam perjalanannya dia memperhatikan sekitarnya, ada perbedaan kontras dengan ketika ia berjalan mengelilingi rumah tersebut di masa lalu.
Dinding yang dulunya dihiasi lukisan dan beberapa vas kini hanya dibaluri sarang laba-laba dan bercak hangus karena api. Lantai yang awalnya dihiasi oleh karpet merah sepanjang mata memandang kini hanya diselimuti oleh sisa-sisa dari benda yang terbakar.
Sebuah tempat yang di masa lalu begitu terawat dan dijaga ketat, saat ini begitu sunyi, kotor dan kesepian. Ray tidak berpikir tempat itu pernah menjadi hangat, sejak kecil dia terus merasa kedinginan secara artifisial.
“Apa kamu merasa kesepian karena tak ada siapapun yang menyambutmu?” tanya Indri selagi merentangkan tangannya. “Aku bersedia menjadi sandaran dan memelukmu untuk bersedih.”
Indri mungkin berpikir bahwa Ray merasa kesepian dan sedih setelah melihat situasi rumahnya. Dengan betapa kacau dan ditinggalkannya rumah tersebut, cukup untuk mendapat kesimpulan bahwa tidak ada siapapun yang tersisa di rumah itu. Tidak ada orang-orang yang dulu menjadi bagian darinya tersisa.
Meski begitu Ray tidak sedih atau apapun itu yang dimaksud Indri. Ray tidak merasakan apapun setelah melihat pemandangan tersebut. Baik itu hancur atau tidak, bukan berarti Ray akan merasa kehilangan.
“Tak perlu khawatir, sejak dulu suasananya seperti ini. Baik ada orang yang merawatnya ataupun tidak. Ayo, akan aku tunjukkan hal menarik padamu dan alasan mengapa aku memilih tempat ini.”
Indri sedikit menaikkan alisnya, dia berpikir bahwa Ray mungkin hanya menyembunyikan kesedihannya saja, tetapi yang tidak terduga adalah Ray tampak sungguh tidak peduli dengan kondisi rumah itu.
‘Apa yang sebenarnya dia lalui di tempat ini? Aku yakin, setidaknya dia tak pernah dibesarkan seperti orang pada umumnya.’
Indri hanya bisa mengikuti Ray menyusuri lorong yang begitu lurus. Setiap kali dia melalui ruangan tertentu, Indri hanya menemukan beberapa hal yang menarik. Ruangan-ruangan tersebut tidak memiliki jejak digunakan untuk tidur.
“Apa kamu memiliki banyak anggota keluarga di tempat ini dulu? Ada begitu banyak ruangan namun aneh karena aku merasa ruangan sebesar itu tidak akan digunakan hanya untuk menjadi kamar tidur saja.”
Ray kagum dengan pengamatan tersebut. Hanya dengan sekali pandang Indri mengetahui bahwa fungsi setiap ruangan berbeda dari melihat sisa-sisa barang yang terbakar.
Meski tak perlu disembunyikan dan Ray tak masalah untuk memberitahunya namun ada kemungkinan Indri akan menyadari seberapa berbedanya Ray dibesarkan dengan orang pada umumnya.
“Persis seperti dugaanmu. Setiap ruangan di sini bukan kamar tidur atau semacamnya, tetapi ruangan yang ada di lorong ini memiliki fungsi berbeda.”
“Misalnya ruangan di sebelah kiri kita yang dibangun untuk menjadi tempat berlatih berbagai seni bela diri. Ruangan selanjutnya berupa dapur, perpustakaan, lab, ruang praktek, dan terakhir ...”
Mereka tiba di ruangan terakhir yang menjadi satu-satunya tempat dengan pintu utuh. Wajar saja karena hanya ruangan itu yang memiliki pintu dari besi.
“Yah, aku tak perlu menjelaskan tentang ruangan terakhir ini.”
Ray melanjutkan perjalanannya tanpa xoba menjelaskan ruangan tersebut karena tujuannya adalah akhir dari lorong itu. Di sana terdapat pintu yang memiliki patung elang dengan mulut terbuka lebar.
Dari banyaknya properti hanya patung tersebut yang terlihat utuh dan memiliki bentuk.
Indri yang terpaku dan diam di depan pintu besi tersebut menatap punggung Ray dan tersenyum.
“Apa tak masalah jika aku menghancurkan pintunya dan melihat ke dalam?”
Ray berbalik dan memasukkan tangannya ke dalam saku dengan acuh tak acuh, “Lakukan sesukamu. Meski begitu aku menyarankan untuk tidak melakukannya.”
“Jika aku hidup di sebuah cerita yang dibuat oleh seseorang, maka aku akan menurutimu dan tak melakukannya, namun sangat disayangkan karena ini bukan cerita ataupun dongeng.”
Indri dengan sigap mengambil langkah kuat dan menendang pintu besi tersebut beberapa kali sampai terjatuh. Dikarenakan rumah itu pernah terbakar dan tak terawat, bahkan pintu besi yang kuat mudah dijatuhkan dengan dorongan keras.
Tak ada apapun yang bisa dilihatnya, begitu sedikit cahaya yang masuk ke dalam ruangan tersebut namun Indri bisa memastikan bahwa ruangan itu bukan tempat yang menyenangkan.
Ada banyak tumpukan buku yang sudah berdebu, beberapa rak menghiasi pojokan dinding.
“Apa ini juga ruang perpustakaan? Sungguh tidak terawat. Buku dan kertas berserakan di mana-mana.”
Indri menendang beberapa buku dan kertas saat masuk ke dalamnya. Dia menemukan terdapat sebuah meja belajar lengkap dengan alat tulisnya di tengah ruangan tersebut.
“Ho? Jadi kamu belajar di sini, Ray,” ujar Indri dengan senang seakan-akan baru menemukan sesuatu yang mengejutkan. “Ada coretan di mejanya. Fu fu, dia rupanya pernah menjadi anak nakal yang mencoret-coret meja belajar.”
Indri menggunakan layar jamnya untuk menerangi meja tersebut. Dia menemukan beberapa tulisan yang dibuat dengan kasar. Meski bukan berasal dari Indonesia, Indri mengetahui sedikit-banyaknya tentang bahasa. Selain itu, coretan di meja juga memiliki beberapa kalimat bahasa Inggris.
“Apa-apaan ini semua ...”
Bukan kalimat iseng seperti yang akan ditulis anak kecil ataupun orang pada umumnya. Biasanya, meja belajar yang dicoret-coret akan membuat orang tertawa atau semacamnya. Namun ini berbeda, tak ada kalimat ataupun coretan kesenangan. Hanya satu yang Indri temukan di sana.
Dari banyaknya umpatan tersebut, ada satu yang ditulis begitu besar dan dalam.
“‘Aku mau mati’.”
Itu bukan sesuatu yang akan ditulis anak kecil ataupun orang dengan sengaja untuk candaan semata. Kata tersebut ditulis dengan perasaan yang sebenar-benarnya. Tidak salah lagi, itu keputusasaan yang membuat seseorang menginginkan kematian.
Indri menyodorkan jamnya dan membuat cahayanya lebih terang untuk menerangi seisi ruangan tersebut. Sekali lagi dia terkejut akan banyak hal.
Mulai dari buku dan kertas-kertas yang ditulis dengan kata umpatan, sampai pecahan gelas dan piring yang berhamburan di ruangan tersebut.
Setiap dinding yang dilapisi beton kuat memiliki coretan tinta yang berisi keputusasaan. Indri yakin bahwa kekacauan ini bukan terjadi karena rumah yang terbakar. Tidak mungkin karena hal itu.
“Apa kamu melalui semua ini ... Ray?” gumam Indri dengan tidak percaya. “Neraka seperti apa yang pernah kamu lalui?”
Indri selalu bertanya-tanya tentang mengapa Ray bisa melalui banyak hal tanpa kepanikan, bahkan saay rencananya hancur dia telah memiliki rencana cadangan. Pria berdarah dingin yang tak ragu mengorbankan dan memanipulasi orang.
Dia adalah pria yang tangannya berlumuran darah dan dosa, sungguh aneh bahwa dia menjalani hidupnya seperti orang suci yang tak pernah berbuat dosa.
Indri selalu merasa penasaran mengapa ada orang seperti Ray, sekarang dia mengerti jawabannya. Itu karena orang yang telah merasakan keputusasaan tidak akan bisa dihancurkan dengan mudah.
“Fu fu, pria menyedihkan,” ujar Indri dengan senyuman tipis dan terlihat simpati, “Apakah dia mau menceritakannya jika aku bertanya?”
...****************...
Ray hanya berdiri di depan patung elang tersebut selagi menunggu Indri yang memeriksa ruangan tersebut. Alasan utama Ray tidak ingin pergi ke dalamnya adalah ia takut.
Ray takut untuk merasakan keputusasaan yang membuat seseorang berpikir bahwa bunuh diri sekalipun tidak berguna. Hanya di tempat itulah Ray merasa berada di titik terendah dari dirinya. Bukan hal yang mudah untuk keluar dari semua hal itu.
‘Sekarang aku berpikir betapa diberkatinya diriku. Aku tidak menjadi gila setelah semua hal tersebut adalah hal luar biasa, meski akhirnya aku trauma pada tempat sepi, berantakan dan penuh dengan kegelapan.’
Alasan Ray tak mau masuk adalah dia memiliki sedikit trauma dan bahkan memiliki ketakutan besar terhadap tempat yang penuh buku berserakan, gelap, kumuh dan begitu sunyi. Mungkin ini adalah salah satu kelemahannya yang paling fatal.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Indri keluar dari ruangan tersebut, wajahnya terlihat kaku dan canggung. Ray cukup yakin bahwa Indri setidaknya bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu.
“Kamu sudah puas melihat-lihat?” tanya Ray dengan acuh tak acuh.
“Ya,” Indri tampak murung. “Aku tak pernah membayangkan ada orang yang melalui sesuatu seperti itu.”
“Ada banyak hal di dunia ini yang takkan pernah bisa dibayangkan. Bahkan keberadaan Secret sama dengan ini.”
Mystery of life, Ray percaya akan hal ini. Kehidupan mengandung banyak misteri yang tidak pernah terduga. Keberadaan Secret yang selama ini tidak diketahui dan tak terpikirkan nyatanya benar ada.
Bahkan mungkin jauh di suatu tempat di bumi ini, ada berbagai hal yang tak bisa diterima akal sehat sedang bersembunyi, menunggu waktu untuk menunjukkan dirinya.
“Yah, aku takkan menanyakan apa yang terjadi kepadamu dan akan merahasiakannya,” ujar Indri. “Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Tak mungkin kita datang hanya untuk memandang elang bodoh ini.”
Tentunya tidak mungkin, Ray takkan melakukan tindakan sia-sia tersebut. Ada alasan utama mengapa dia pergi ke tempat ini. Meski awalnya ketika ia meninggalkan tempat ini, Ray akan membiarkan segala hal di dalamnya terkubur.
Namun Ray tak pernah berharap akan ada organisasi seperti Secret muncul. Berkat hal itu tempat tersebut akhirnya akan dibuka kembali.
“Ada sebuah tempat rahasia di sini. Alasanku memilih datang ke sangkar ini karena di dalamnya ada harta yang akan berguna untuk ke depannya.”
“Harta? Maksudmu seperti uang atau bahkan emas?” tanya Indri dengan tertarik.
“Tidak. Kamu akan tahu begitu melihatnya. Untuk sekarang mari samakan timing untuk membuka pintu rahasia di balik ini.”
Ray membawa Indri ke sini untuk membantunya. Ketimbang Terumi dan yang lainnya, Indri takkan membuat banyak masalah dengan mengetahui hal ini lebih awal. Selain itu, Ray bisa melenyapkan beberapa hal bersamanya.
“Sepertinya ini akan menjadi sesuatu yang rumit, ya? Yah, aku tak masalah. Aku juga cukup penasaran tentang apa yang ada di dalamnya. Rumah yang memiliki ruangan rahasia bukanlah hal yang mudah untuk ditemukan.”