The Degree

The Degree
Bagaimana Harus Mengakhiri?



“Apa kamu menyadari fenomena aneh barusan? Itulah Degree-nya.”


Meski Erina mengatakannya dengan bangga, dan Mein yang membusungkan dada dengan bangga, sama sekali, sedikitpun tidak Ray pahami.


Apa yang coba keduanya sampaikan? Itu sangat absurd bagiku.


“Aku tak memahami apa yang coba kamu lakukan. Namun aku tahu ada perubahan kepada ketebalan kulitnya.”


Secara samar ada percikan api seakan-akan dua logam saling bertubrukan. Dari hal itu Ray tahu bahwa Mein mampu membuat kulitnya menjadi sekeras baja.


Degree-nya pasti sangat unik dan ada beberapa kesimpulan yang bisa Ray tarik darinya.


“Kamu pasti telah memiliki asumsi tentang Degree-nya. Namun tahukah kamu? Bahwa Mein memiliki Degree Aktris.”


“Hah?” Ray tak mampu menahan suara dari keterkejutannya.


Habisnya Degree tersebut sama sekali tidak pernah Ray pikirkan. Aktris, sesuatu yang sangatlah umum di dunia ini.


Seakan untuk membuktikannya, Mein mendekatinya dan menunjukkan Card Name-nya sebagai bukti bahwa Erina tidak berbohong.


Ray tidak berpikir bahwa Name Card bisa dimanipulasi namun tetap saja dia tidak mampu memikirkan mengapa Degree dari sesuatu yang benar-benar umum bisa melakukan hal itu.


“Aktris memiliki karakteristik pemain peran. Dan umumnya seseorang harus benar-benar mendalami peran yang dia mainkan.”


Misal saja seseorang mendapat peran sebagai pelayan maka orang itu akan berusaha yang terbaik untuk menjadi pelayan pada umumnya.


Contoh lainnya ketika seseorang memiliki peran sebagai vampire, maka orang itu akan menggunakan taring, memakai riasan yang membuat kulitnya seakan pucat dan berbagai hal lainnya untuk membuatnya benar-benar mirip.


“Kemampuan Mein memungkinkannya menjadi sosok yang akan dia perankan dan Degree akan membantunya sebaik mungkin. Demonstrasi sebelumnya adalah contoh nyata dari kekuatannya.”


Jika begitu adanya maka Mein adalah orang yang sangat berbahaya. Jika dia bisa menjadi apa saja dan Degree akan mengubah karakteristik tubuhnya menjadi seperti peran yang dia mainkan, tidak salah lagi. Mein akan jadi orang setelah Erina yang akan Ray waspadai.


“Jadi itu arti dari kamu memintanya menjadi manusia kulit baja. Jika dia mengambil peran tersebut maka tubuhnya akan menyesuaikan diri sesuai peran yang dia ambil. Namun tetap saja, ada banyak hal aneh yang sulit diterima akal sehat.”


Ray tak mempercayai sepenuhnya penjelasan Erina. Hal semacam itu melebihi sesuatu yang bisa diciptakan oleh teknologi manusia. Jauh lebih bisa diterima bahwa kemampuan tersebut pemberian Dewa.


“Fufu, kehadiran Degree sendiri sudah melampaui akal sehat. Kamu mungkin tidak mempercayainya, itu hakmu. Singkatnya, sesuatu yang kamu anggap benar-benar umum dan remeh nyatanya bisa menjadi sesuatu berbahaya jika dijadikan sebagai Degree.”


Ray mulai memikirkannya dengan kritis kata-kata Erina.


Memang, faktanya Terumi bisa bertahan hingga titik ini meski Degree-nya terkesan aneh dan tak berguna. Aku tak tahu apa yang bisa dia lakukan dengan itu. Bahkan milik Leo terkesan bodoh. Pikirnya.


Ray mengecam betapa sempitnya dia berpikir dan meremehkan Degree.


Untuk kali ini penilaian Ray tentang Degree meningkat drastis.


Ada banyak hal yang masih misteri di sekitarnya, tetapi untuk saat ini lebih aman berasumsi bahwa Degree apapun sangat berbahaya.


“Aku tidak memintamu mengungkapkan Degree-mu. Namun apapun yang kamu miliki, yakinlah bahwa itu tidak lemah. Tergantung bagaimana caramu memanfaatkannya dan menggunakannya, orang yang menerima Degree penjahit bisa saja lawan terburukmu.”


Sedikit tidak tahu diri karena Ray harus menetap di kediaman orang yang sama sekali tidak lagi dia hargai. Meski begitu Ray tidak memiliki pilihan tersedia untuk saat ini.


“Mein, antar dia ke tempatnya.”


Mein mengangguk dan memimpin jalan. Tak butuh waktu lama bagi keduanya tiba di sebuah kamar kosong yang cukup luas.


Terdapat jendela yang menghadap ke luar dengan pemandangan bulan dan bintang yang indah.


“Aku yakin kamu sudah memikirkannya bahwa melarikan diri hanya akan membuatmu menjadi buronan. Tolong jangan lakukan hal-hal bodoh. Selain itu, kamu seharusnya sudah sedikit memahami Degree milikku.” Selesai memberi peringatan itu Mein lekas pergi tanpa banyak berkata.


“Sedikit, ya? Itu artinya ada hal lain yang masih kamu sembunyikan.” Ray mengatakan kecurigaannya dengan sengaja.


Mein hanya berjalan dengan acuh seakan-akan tak mendengar perkataan Ray.


Ray kemudian menghela napas dan menutup pintunya. Dia duduk di tepi jendela untuk merasakan angin malam segar yang sudah lama tidak dirasakannya.


Dengan tatapan acuhnya Ray menatap bulan yang indah beberapa saat sebelum menatap Name Card miliknya.


“Yang lemah bukan berarti lemah. Seperti itulah Degree. Jika Degree dipilih berdasarkan tujuan hidup dan karakteristik dari seseorang, maka ... ini benar-benar tidak cocok denganku.”


Ray tidak merasa dirinya memiliki keterkaitan erat dengan Degree miliknya. Selama hidupnya Ray hanya berusaha untuk tetap hidup saja. Sementara Degree yang dia miliki sama sekali tidak berhubungan dengan perjuangan atau apapun.


“Aku lebih bisa menerima jika Degree-ku adalah survival.” Ray hanya bisa menghela napas lelah dan kembali menatap bulan.


Setiap kali melihat bulan Ray terbayang akan dirinya kala itu.


Ketika dia dirantai disebuah ruangan kumuh yang hanya berisi buku-buku tak terhitung jumlahnya. Tempat dingin yang tak manusiawi di mana nyawanya bisa saja hilang jika dia lengah.


Sebuah tempat di mana Ray menjalani hari-harinya dengan kesedihan dan penderitaan. Hari di mana dia tak lagi mempercayai siapapun dalam hidupnya.


Itu adalah hari di mana Ray selalu menatap bulan dan bintang dengan hanya memiliki satu harapan kecil untuk bebas.


“Huh, aku mengingat hal-hal yang tidak perlu. Sudah aku duga, aku benci bulan karena membuatku teringat masa lalu yang seharusnya terkubur.”


Ray kemudian mengalihkan pandangannya dan menutup jendela, menyisakan ruang dengan lampu yang sedikit redup.


“Aku benci digunakan oleh orang lain dan karena itu aku menerima undangan organisasi ini. Pada akhirnya aku hanya masuk ke sangkar yang lebih besar. Meski tempat ini tak membuatku bosan namun ini menyebalkan ketika mengetahui ada tikus yang bisa mengendalikanku.”


Dalam hidupnya Ray takkan pernah mengampuni siapapun yang mencoba memanfaatkan dirinya untuk keuntungan pribadi.


Siapapun yang mencoba melakukannya maka akan selalu memiliki sebuah akhir yang sama dengan cara berbeda-beda.


Ray berbaring di kasurnya dan menatap langit-langit. Dengan tatapan dingin yang tidak seperti biasanya dia mulai menyusun berbagai hal di kepalanya.


“Sekarang ... dengan cara seperti apa aku harus mengakhirinya?”


Siapapun yang coba menggunakanku maka mereka harus mendapatkan karma. Baik itu Erina, Secret, bahkan orang-orang itu, takkan ada satupun yang bisa lolos.